Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Barisan Belakang dan Peringatan
Senin pagi di SMA Garuda Kencana selalu identik dengan terik matahari yang menyengat dan barisan kaku di lapangan utama. Upacara bendera kali ini terasa lebih panjang karena adanya pengumuman pemenang lomba voli antar sekolah yang baru saja selesai akhir pekan lalu.
Karline berdiri di barisan paling belakang kelas XI-IPA 2. Ia tetap setia dengan "seragam" tambahannya, jaket kebesaran yang tudungnya terpaksa ia turunkan karena aturan upacara, masker hitam yang menutupi wajah, dan topi yang kini ia ganti dengan kaitan rambut yang rapi. Rambut hitamnya yang panjang disanggul tinggi, memperlihatkan tengkuknya yang putih bersih, meski sebagian besar tertutup kerah jaket.
"Anak-anak, mari kita beri tepuk tangan untuk tim voli putra kita yang sekali lagi membawa pulang piala juara pertama!" seru Kepala Sekolah dari atas podium.
Karline hanya bertepuk tangan pelan, sekadar formalitas. Di depan sana, di barisan kelas dua belas, serombongan siswa maju dengan langkah percaya diri. Dean memimpin di depan. Tubuhnya yang tinggi tegap, sekitar 187 senti, membuatnya terlihat menonjol bak gapura kabupaten di antara siswa lainnya. Kulitnya yang tan berkilau terkena keringat tipis di bawah sinar matahari pagi. Ia menerima piala itu dengan wajah datar, tanpa senyum berlebihan, seolah kemenangan adalah makanan sehari-harinya.
"Ganteng banget ya, Kak Dean," bisik Sarah yang berdiri di samping Karline. "Sayang, cueknya minta ampun. Katanya sih nggak pernah pacaran sama sekali."
Karline tidak menyahut. Ia lebih sibuk menahan panas yang mulai menusuk kulit pink pucatnya.
Setelah upacara selesai, barisan dibubarkan. Namun, bukannya langsung masuk ke kelas, kerumunan siswa justru tertahan di pinggir lapangan karena ada pengumuman tambahan mengenai teknis kegiatan ekstrakurikuler. Karline mencoba mencari celah untuk keluar dari kerumunan, namun langkahnya terhalang oleh sekelompok siswi kelas dua belas.
Mereka adalah geng "paling populer" di angkatan Dean. Pemimpinnya, seorang gadis bernama Clarissa, menatap Karline dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan.
"Eh, ini ya anak baru yang katanya sok misterius itu?" tanya Clarissa dengan suara keras, sengaja agar didengar orang sekitar.
Karline diam, mencoba melewati mereka dari sisi kiri.
"Duh, dibilangin jangan pakai jaket kalau upacara, malah makin jadi. Lo budek atau gimana?" Clarissa menghadang jalan Karline. "Atau jangan-jangan badan lo banyak korengnya ya, makanya ditutupin terus?"
Teman-teman Clarissa tertawa cekikikan. Karline tetap tenang, matanya menatap lurus ke depan seolah Clarissa hanyalah benda mati.
"Minggir," ucap Karline singkat.
"Wah, berani ya lo merintah kakak kelas?" Clarissa mulai naik pitam. Ia merasa harga dirinya jatuh karena diabaikan oleh adik kelas yang berpenampilan seperti "ninja" ini. "Gue pengen tahu, rambut lo ini asli atau wig sih?"
Tanpa aba-aba, Clarissa mengulurkan tangan. Ia menyentuh bahu Karline, lalu dengan kasar mencoba menarik sanggul rambut Karline.
Itu adalah kesalahan besar.
Karline paling tidak suka tubuhnya disentuh sembarangan, apalagi rambutnya. Baginya, itu adalah pelanggaran privasi tingkat tinggi.
Sret!
Dalam satu gerakan cepat yang bahkan tidak sempat ditangkap mata orang awam, Karline menangkap pergelangan tangan Clarissa. Dengan teknik yang presisi, ia memelintir tangan itu ke belakang dan memberikan sedikit tekanan pada titik saraf di pergelangan tangan.
"Aakh! Sakit! Lepasin!" jerit Clarissa seketika. Tubuhnya terdorong jatuh ke depan, berlutut di atas aspal lapangan karena menahan sakit di tangannya yang terkunci.
Suasana yang tadinya bising mendadak hening. Siswa-siswa yang hendak kembali ke kelas serentak berhenti. Bahkan Dean dan gengnya yang sedang berjalan menuju gedung kelas dua belas ikut menoleh.
"Ada apa tuh?" tanya Raka, matanya membelalak melihat Clarissa berlutut di depan anak baru.
Dean menghentikan langkahnya. Ia melihat Karline berdiri dengan posisi sangat tenang, tangan kirinya masih memegang pergelangan tangan Clarissa yang meronta-ronta. Wajah Karline di balik masker tidak menunjukkan emosi apa pun, bahkan napasnya pun tidak memburu.
"Jangan pernah sentuh saya lagi," ucap Karline dengan suara dingin yang menusuk.
Ia melepaskan tangan Clarissa dengan sentakan pelan. Clarissa memegangi pergelangan tangannya yang memerah, wajahnya merah padam antara menahan sakit dan malu karena dilihat banyak orang.
"Lo... lo kurang ajar ya!" teriak Clarissa gemetar.
Karline tidak meladeni. Ia merapikan kembali kerah jaketnya yang sedikit bergeser, lalu berjalan santai melewati kerumunan orang yang menatapnya dengan mulut ternganga. Ia tidak menoleh ke kanan atau kiri, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil seperti mengusir lalat.
"Gila... itu tadi teknik apa?" bisik Rio di sebelah Dean. "Clarissa yang galak gitu langsung tumbang sekali pegang."
Dean tidak menjawab, tapi matanya terus mengikuti punggung Karline sampai gadis itu menghilang di balik pintu gedung kelas sebelas. Ada sesuatu dalam gerakan gadis itu yang terlihat sangat terlatih. Bukan hanya sekadar marah, tapi Karline tahu persis apa yang dia lakukan.
Di kelas XI-IPA 2, Sarah langsung mengejar Karline dengan wajah pucat sekaligus kagum.
"Karline! Lo gila ya? Itu tadi Clarissa! Dia anak donatur sekolah, bokapnya punya perusahaan gede!" seru Sarah setengah berbisik saat mereka sudah duduk di bangku.
Karline mengeluarkan botol minumnya, menyesap air pelan dari balik maskernya. "Terus?"
"Terus? Dia bisa aja laporin lo atau bikin hidup lo susah di sini!"
"Dia yang pegang duluan. Saya cuma membela diri," jawab Karline enteng. Ia kemudian membuka buku teks Fisika, seolah tidak baru saja menjatuhkan ratu sekolah di tengah lapangan.
Sarah menggeleng-gelengkan kepala. "Lo beneran beda ya. Tapi serius, tadi itu keren banget. Gue baru kali ini lihat ada yang berani lawan dia."
Beberapa saat kemudian, guru masuk dan pelajaran dimulai. Karline kembali fokus pada angka-angka di papan tulis. Namun, ia bisa merasakan beberapa pasang mata dari jendela kelas yang memperhatikannya. Ternyata, beberapa siswa kelas dua belas sengaja lewat hanya untuk melihat "siapa" adik kelas yang berani mencari masalah dengan angkatan mereka.
Di jam istirahat, Karline memilih untuk tetap di kelas. Ia tidak nafsu ke kantin setelah kejadian tadi. Namun, tiba-tiba pintu kelasnya diketuk.
Dean berdiri di sana. Sendirian. Tanpa gengnya yang berisik.
Seluruh penghuni kelas XI-IPA 2 mendadak hening. Seorang Dean, kapten tim voli yang cueknya selangit, mendatangi kelas XI untuk pertama kalinya?
Dean berjalan lurus ke arah meja paling belakang. Ia berdiri di depan meja Karline, membuat bayangan tubuhnya yang tinggi menutupi cahaya di meja gadis itu.
Karline mendongak. Ia menatap Dean datar. "Ada perlu apa?"
Dean terdiam sejenak, memperhatikan buku Fisika Karline yang dipenuhi coretan rumus rumit yang bahkan bagi anak IPA kelas dua belas pun terlihat memusingkan.
"Clarissa nangis di ruang OSIS," ucap Dean tanpa ekspresi.
"Lalu? Saya harus minta maaf karena dia mencoba menjambak saya?" balas Karline tenang.
Dean sedikit terkejut dengan keberanian bicara gadis di depannya ini. Biasanya, adik kelas akan gugup bicara dengannya, tapi Karline? Dia bahkan tidak berkedip.
"Enggak. Gue cuma mau bilang, hati-hati. Temen-temennya nggak sesantai gue kalau soal harga diri angkatan," kata Dean. Ia kemudian meletakkan sebuah bungkusan kecil di meja Karline sebuah es batu yang dibalut kain bersih. "Tadi tangan lo kena kuku dia kan? Ada goresan sedikit di punggung tangan lo."
Setelah mengatakan itu, Dean berbalik dan pergi begitu saja sebelum Karline sempat bertanya lebih jauh.
Karline tertegun. Ia melihat punggung tangannya yang memang sedikit lecet karena kuku tajam Clarissa saat insiden tadi. Bagaimana cowok itu bisa melihat detail sekecil itu dari jarak sejauh itu di lapangan tadi?
"Ciee... Karline diajak ngomong Kak Dean!" sorak beberapa teman kelasnya yang mulai berani menggoda.
Karline hanya menatap es batu itu dengan bingung. "Orang aneh," gumamnya, namun ia tetap mengambil es itu dan menempelkannya ke tangannya yang mulai terasa perih.
Di luar kelas, Dean berjalan sambil memasukkan tangan ke saku celana. Ia sendiri heran kenapa ia repot-repot membawakan es batu. Mungkin karena ia tidak suka melihat perundungan, atau mungkin... karena ia mulai penasaran dengan rahasia di balik masker dan jaket kebesaran itu.