Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Aku Masih Manusia Biasa
Kekalahan itu terasa pahit, mengendap di kerongkongan seperti lumpur. Angka-angka yang diucapkan Ratri—10, 100, 1.000.000—terus bergema di kepalaku, sebuah pengingat yang kejam tentang betapa tidak signifikannya aku dalam hal kekuatan fisik murni. Aku berbaring di lantai rumah kami lama setelah Ratri dan Eveline masuk, menatap langit-langit kayu yang gelap, tenggelam dalam rasa malu dan keputusasaan.
Tapi, seperti biasa, keputusasaan itu tidak pernah bertahan lama bersamaku. Aku bukan tipe orang yang bisa lama-lama terpuruk. Api itu, meski redup, masih ada. Berjuang semampuku. Itu saja. Aku mungkin tidak akan pernah menyamai Eveline, apalagi Ratri. Tapi aku bisa menjadi versi terkuat dari diriku sendiri. Aku bisa memastikan bahwa angka "10" itu suatu hari nanti menjadi "15", lalu "20", dan seterusnya. Itu bukan tentang menang, tapi tentang tidak menyerah.
Keesokan harinya, tubuhku masih ngilu, tapi aku sudah berdiri di depan Ratri dan Eveline saat fajar.
"Kita ubah jadwal," ucapku, suaraku masih serak tapi penuh tekad. "Pagi untuk latihan fisik bersamamu, Ratri. Siang untuk bertahan hidup dan merawat kebun. Sore... untuk proyek rahasia ku."
Ratri memandangku, ada rasa lega dan kekaguman di matanya. Dia mengerti bahwa aku tidak patah, hanya terbentur. "Aku akan melatihmu, Rian. Tapi dengan ritmemu, bukan ritmeku."
Eveline hanya mengangguk. "Aku akan mengikuti."
Hari-hari berikutnya punya pola baru. Pagi-pagi, di padang rumput yang sama, Ratri tidak lagi mengajariiku cara menahan pukulannya. Sebaliknya, dia mengajariku dasar-dasar: kuda-kuda yang stabil, cara menyalurkan tenaga, cara membaca lawan, dan yang paling penting—cara menghindar. "Terkadang, kekuatan terbesar adalah tidak terkena pukulan sama sekali," katanya, tubuhnya menghilang dan muncul di belakangku dengan lembut menepuk pundakku sebelum aku sempat bereaksi.
Aku juga melatih kekuatan dasar dengan Eveline. Dia akan memegang balok kayu besar, dan aku akan mendorongnya dengan sekuat tenaga. Atau, aku akan mencoba melompati rintangan yang dia buat, berusaha meningkatkan kelincahan dan daya ledak ototku. Itu melelahkan, menyiksa, dan seringkali membuatku ingin menyerah. Tapi setiap kali aku melihat Eveline berdiri di sana, tanpa ekspresi, tanpa keringat, siap kapan saja, itu memacuku untuk memberikan satu usaha lagi.
Dan sore hari, ketika matahari mulai turun, aku akan masuk ke dalam rumah, mengambil sebuah buku catatan kulit yang kubuat dari kulit kayu dan arang. Inilah "proyek rahasia"-ku.
Aku membuka halaman pertama, yang sudah penuh dengan coretan-coretanku. Judulnya: "Senjata Api - Konsep & Desain Awal."
Aku bukan ahli persenjataan. Pengetahuanku datang dari game, film, dan sedikit dokumenter yang pernah kutonton. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku mulai dengan yang paling sederhana: Pistol.
Aku menggambar sebuah bentuk dasar, sebuah gagang, laras, dan pelatuk. Aku ingat konsep dasar: bubuk mesiu dalam ruang tertutup akan meledak, mendorong proyektil keluar melalui laras. Tapi detailnya yang rumit. Pegas untuk mengembalikan pelatuk, mekanisme untuk memutar kamar peluru, sistem picu... aku menghabiskan berhari-hari hanya untuk menggambar dan mencoret-coret mekanisme single-action dan double-action yang kuingat samar-samar.
Setelah pistol, aku beralih ke sesuatu yang lebih kompleks: Marksman Rifle. Senjata ini, dalam pikiranku, adalah kunci untuk melawan penyihir jarak jauh. Jika aku tidak bisa mendekati mereka, aku harus bisa menyerang dari kejauhan dengan presisi dan daya henti yang besar.
Aku menggambar bentuk senjata panjang dengan popor, laras yang lebih panjang, dan teleskop sederhana yang kubayangkan bisa dibuat dengan lensa kristal dan tabung kayu. Mekanismenya jauh lebih rumit. Sistem bolt-action yang harus dioperasikan manual setelah setiap tembakan, magazen untuk beberapa peluru, dan yang paling sulit—perhitungan untuk akurasi jarak jauh. Aku bahkan menuliskan rumus-rumus fisika sederhana tentang gravitasi dan hambatan udara yang kuingat dari sekolah dulu.
Suatu sore, Ratri mengintip dari balik pundakku. "Apa yang kau gambar, Rian? Bentuknya... aneh."
Ini pertama kalinya aku menunjukkan proyek rahasiaku pada siapa pun. "Ini adalah senjata dari duniaku," jelasku, menunjuk gambar pistol. "Disebut pistol. Dan ini," aku menunjuk gambar marksman rifle, "adalah senjata panjang untuk menembak dari jarak yang sangat jauh."
Eveline juga mendekat, menatap gambar dengan kepala miring. "Senjata... jarak jauh? Seperti panah?"
"Seperti panah, tapi lebih cepat, lebih kuat, dan lebih mematikan," jawabku. "Dengan ini, bahkan seseorang dengan kekuatan fisik sepertiku bisa mengancam musuh dari tempat yang aman."
Ratri memandangiku, lalu kembali pada gambarku. Aku bisa melihat roda-roba di kepalanya berputar. "Kau berencana untuk... membuatnya?"
"Suatu hari nanti, ya," aku menganggak. "Tapi ini sangat rumit. Aku butuh logam yang tepat, perkakas yang presisi, dan yang paling penting—bubuk mesiu."
"Bubuk mesiu?"
"Campuran khusus yang bisa meledak," jelasku singkat. "Itu jantung dari semua senjata ini."
Ratri terdiam sejenak. "Aku... bisa membantumu mencari bahan-bahannya. Aku bisa merasakan komposisi mineral di dalam tanah."
Itu adalah tawarannya yang tidak mengejutkan lagi. Tapi kali ini, aku menerimanya. "Nanti. Untuk sekarang, biarkan aku menyelesaikan desainnya dulu. Dan..." aku menatap mereka berdua, "suatu hari nanti, ketika senjata ini sudah jadi, aku akan mengajari kalian cara menggunakannya."
Mata Ratri berbinar penuh rasa ingin tahu. Eveline hanya mengangguk, siap menerima perintah apa pun.
Itulah rencanaku. Aku tidak akan pernah menjadi dewi atau mayat hidup sempurna. Tapi aku punya sesuatu yang tidak mereka miliki: pengetahuan dari dunia lain. Aku akan menggunakan kelemahanku—fisik manusiawiku—sebagai motivasi untuk menciptakan sesuatu yang bisa menyeimbangkan permainan. Senjata api itu bukan hanya untukku. Itu akan menjadi kekuatan baru bagi kami bertiga. Sebuah kekuatan yang tidak bergantung pada sihir atau kekuatan fisik bawaan, tapi pada kecerdikan, pengetahuan, dan teknologi.
Malam itu, sambil memandangi bintang-bintang dengan tubuh yang lelah namun puas, aku tersenyum. Aku punya tujuan lagi. Bukan hanya sekadar bertahan hidup, tapi berevolusi. Secara fisik, melalui latihan yang menyiksa. Dan secara teknis, melalui proyek rahasia yang suatu hari nanti, kuharap, akan mengubah segalanya. Aku mungkin hanya "10" saat ini, tapi aku memiliki otak dan tekad untuk menjadi lebih dari sekadar angka. Aku akan bertaruh dengan caraku sendiri.
Hari-hari bergulir dengan ritme baru yang hampir mekanis. Pagi untuk latihan fisik yang masih membuatku terpelanting. Siang untuk bertahan hidup. Tapi sore hari adalah waktuku menyepi dengan buku catatan kulit kayuku, mencoba menerjemahkan ingatan tentang senjata api ke dunia tanpa bubuk mesiu.
Masalah terbesar adalah presisi. Membuat bagian-bagian kecil yang presisi dengan perkakas seadanya adalah mimpi di siang bolong. Saat frustrasi hampir memuncak, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Beberapa bulan sebelum terdampar di sini, algoritma media sosial sempat memperlihatkanku video-video pendek dari Pakistan—para pengrajin senjata di daerah perbatasan yang membuat pistol dan senapan laras panjang hanya dengan perkakas sederhana. Mereka menggunakan teknik-teknik tradisional, memanfaatkan besi bekas, dan yang paling penting—mereka membuatnya part by part.
"MAC-10..." gumamku, mata berbinar. Aku ingat jelas salah satu video menunjukkan proses pembuatan pistol mesin sederhana yang bisa memuntahkan peluru dengan cepat. Desainnya yang sederhana, cocok untuk produksi terbatas dengan alat seadanya. "Ini dia! Kita mulai dari yang paling sederhana dulu."
Dengan semangat baru, aku segera mengubah rencana. "Kita bikin MAC-10 dulu," kataku pada Ratri dan Eveline. "Setelah ini berhasil, baru kita lanjut ke Marksman Rifle."
Ratri mengerutkan kening. "Kenapa tiba-tiba berganti?"
"Karena aku baru ingat," jelasku dengan antusias, "di duniaku, ada pengrajin yang bisa bikin senjata hanya dengan perkakas sederhana. Mereka membuatnya bagian per bagian. Kita tiru caranya—part by part dengan teknik besi cor."
Aku membagi tugas: Ratri mengontrol suhu dan melelehkan logam, Eveline membantu menempa dan menyatukan bagian-bagian. Awalnya semuanya berjalan lancar. Wajahku dipenuhi senyum antusias setiap kali menuangkan logam cair ke dalam cetakan tanah liat. Rasanya seperti main game crafting favoritku dulu.
Tapi kegagalan mulai datang bertubi-tubi.
Receiver pertama gagal—bentuknya melengkung dan bergelembung.
Bolt mechanism kedua gagal—terlalu kasar dan tidak presisi.
Barrel ketiga gagal total—lubangnya bengkok seperti sosis panggang.
"Tidak apa-apa, kita coba lagi," kata Ratri untuk kesekian kalinya.
Tapi kali ini wajahku sudah berubah dari antusias menjadi tegang. "Coba lagi? Kita sudah coba tiga kali! Logamnya tidak murni, cetakannya tidak sempurna..."
Minggu kedua. Kegagalan keempat, kelima, keenam. Senyum telah hilang dari wajahku, digantikan kerutan di dahi. Tangan yang dulu mantap sekarang gemetar setiap kali menuangkan logam cair.
Minggu ketiga. Kegagalan ketujuh sampai kesepuluh. Suaraku mulai meninggi. "SIALAN! Kenapa tidak bisa-bisa?!" Aku melempar cetakan yang gagal ke tumpukan besi tua.
Puncaknya terjadi di akhir minggu ketiga. Setelah kegagalan kedua belas—sebuah receiver yang retak tepat di tengah—aku benar-benar meledak.
"BODOH! SEMUANYA BODOH!" teriakku, menghajar receiver gagal itu dengan palu batu. BRUK! BRUK! BRUK! "UNTUK APA SEMUA INI?!"
Aku menghancurkan semua cetakan, menendang tumpukan besi bekas, merobek beberapa halaman buku catatanku. "AKU MENYERAH! LEBIH BAIK AKU TERIMA JADI ORANG LEMAH YANG DILINDUNGI SELAMANYA!"
Ratri mendekati dengan wajah prihatin. "Rian, sudah. Cukup untuk hari ini."
"JANGAN BILANG CUKUP!" sergahku, napas tersengal. "KAU TIDAK MENGERTI! AKU HARUS CEPAT BERHASIL!"
"Kau bukan karakter utama dalam cerita isekai klise yang kau tonton di YouTube itu, Rian."
Kalimatnya membuatku terdiam. "Apa maksudmu?"
"Aku lihat bayangan ingatanmu," katanya lembut. "Kau menonton video-video dimana semuanya terlihat mudah—orang membuat senjata dalam hitungan menit, pahlawan menjadi kuat dalam beberapa episode. Tapi ini realita. Di realita, kegagalan adalah bagian dari proses."
Dia menatapku dalam-dalam. "Kau terobsesi untuk cepat kuat karena ketakutan. Tapi kekuatan sejati tidak dibangun dalam semalam. Kau manusia, bukan mesin. Tubuh dan pikiranmu punya batas."
Tangannya yang dingin menyentuh pundakku yang bergetar. "Beristirahatlah. Jangan dipaksakan."
Perkataannya seperti air dingin di tengah amarahku. Aku berdiri dan pergi meninggalkan bengkel yang berantakan, menuju tebing di tepi laut.
Duduk di sana, angin laut menerpa wajahku yang kotor. Dia benar. Aku seperti kecanduan— Tapi hidup ini bukan video YouTube yang bisa dipotong-potong sesuka hati. Ini juga bukan anime yang selalu berakhir sesuai harapan
Aku melihat ke bengkel dari kejauhan. Mungkin Ratri benar. Aku butuh istirahat. Bukan menyerah, tapi berhenti sejenak. Memberi waktu untuk pulih.
Kekuatan sejati tidak dibangun dalam semalam, gumamku dalam hati. Aku menarik napas dalam, merasakan sedikit kelegaan. Aku memang bukan karakter utama cerita klise. Aku cuma manusia yang tersesat, belajar bertahan dengan caranya sendiri.
Hari ini, aku belajar bahwa bagian dari bertahan hidup adalah tahu kapan harus berhenti—sebelum kita menghancurkan diri sendiri.
Rasa lelah yang begitu dalam akhirnya membawaku tertidur di atas tikar anyaman di dalam gubuk. Aku tidak menyadari bahwa tubuh dan pikiranku yang kelelahan telah membawaku masuk ke dalam sebuah mimpi yang begitu nyata.
Aku membuka mata. Langit-langit kamar kontrakan yang kekuningan karena noda dan lampu neon yang redup menyambutku. Aku terbaring di atas kasur busa tipis yang sudah berlekuk, bau apek dan sedikit berdebu terasa familiar. Suara kendaraan lalu lalang, klakson, dan hiruk-pikuk kota Jakarta yang tak pernah tidur bergema di luar jendela.
"Gue... gue pulang?" gumamku tak percaya. Dadaku sesak oleh gelombang rasa lega yang begitu besar. Air mata meleleh tanpa kusadari. Tidak ada hutan belantara, tidak ada ancaman Kekaisaran Aethelgard, tidak ada latihan fisik yang menyiksa, tidak ada kegagalan membuat senjata api. Hanya kehidupan membosankan, aman, dan normal sebagai Rian Saputra, mantan buruh pabrik pengangguran.
Tiba-tiba, ponsel tuaku yang tergeletak di samping bantal bergetar dan mengeluarkan ringtone lagu pop lama. Nama yang terpampang di layar membuat jantungku berhenti berdetak: Neng Yuni.
Dengan tangan gemetar, aku mengangkatnya. "H-Halo?"
"Rian?" suara Yuni, manis dan polos seperti yang kuingat, tapi kali ini terdengar rapuh dan penuh penyesalan. "Aku... aku mau minta maaf. Aku nggak jadi nikah sama dia. Ortu marah besar, tapi... tapi aku nggak bisa. Aku sadar, ternyata hatiku masih sama kamu."
Dunia seolah berhenti berputar. Kebahagiaan yang begitu besar, begitu sempurna, membanjiri seluruh keberadaanku. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Segala penderitaan di dunia fantasi seolah terbayar lunas.
"A-Apa bener, Yun?" suaraku serak, nyaris tak percaya.
"Bener, Sayang. Aku serius. Ketemuan yuk, kita urus semuanya dari awal."
Aku tergagap-gagap mengiyakan, perasaan berbunga-bunga seperti anak SMA yang baru dikasih tau doi suka padanya. Saat aku hendak berdiri untuk bersiap, suara keributan keras dari luar kontrakan memecah konsentrasiku. Terdengar suara perempuan berdebat, saling menyela, dengan suara yang... sangat tidak asing.
Dengan hati was-was, aku membuka pintu kontrakan yang reyot.
Dua sosok perempuan berdiri di lorong sempit dan kumuh kontrakanku. Keduanya terlihat begitu tidak lazim di lingkungan seperti ini.
Yang pertama adalah Eveline. Rambut pirangnya yang biasanya tergerai alami sekarang ditata rapi, dan alih-alih gaun tua, dia mengenakan blazer warna krem yang elegan dipadukan dengan celana panjang hitam yang sleek, membuatnya terlihat seperti model atau eksekutif muda. Tapi tatapan matanya yang biru pucat tetap sama: kosong dan intens.
Di sampingnya berdiri Ratri, bukan dalam wujud remaja, tapi dalam wujud dewawinya yang sebenarnya. Tingginya sekitar 180 cm, rambut peraknya yang panjang terurai sempurna, dan dia mengenakan dress sutra warna lavender yang sederhana namun sangat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Wanita berpenampilan matang sekitar 35 tahun dengan kecantikan yang tak tersentuh zaman itu, dengan mata emasnya yang memancarkan wibawa sekaligus kecemasan.
"Dancook, apaan ini?!" teriakku spontan, mata melotot. Mereka berdua terlihat seperti alien yang mendarat di lingkungan kumuh Jakarta.
"Kenapa kau meninggalkan kami tanpa sepatah kata, Tuanku?" tanya Eveline dengan suara datarnya yang khas, namun ada getar halus yang tak biasa.
"Kau menghilang begitu saja, Rian. Kami... khawatir," tambah Ratri, suara dewasanya yang merdu terdengar gemetar.
Aku menggeleng, mencoba mencari logika. "Apa kalian nggak ngerti? Ini dunianya gue! Gue mau balik ke kehidupan gue yang normal! Gue nggak mau lagi dikejar-kejar, diburu kayak binatang, nggak mau latihan sampai babak belur, nggak mau gagal terus bikin senjata! Gue capek! Gue cuma pengen hidup biasa aja!"
"Tapi 'kehidupan biasa'-mu ini adalah ilusi, Rian," balas Ratri, matanya menyipit. "Kau sedang tertidur lelap di gubuk kami. Ini semua hanya mimpi."
"Aku dibangkitkan untuk melindungimu, Tuanku. Tanpa dirimu, aku tidak memiliki tujuan," ujar Eveline, langkahnya mendekat.
"Tujuan? Gue nggak minta dilindungi ! Gue nggak minta jadi 'Pembangkit'! Gue cuma orang biasa yang kesasar!" bantahku, suara meninggi oleh frustrasi. "Di sini, dengan Yuni, gue bisa bahagia. Gue nggak perlu kekuatan, nggak perlu berjuang tiap hari cuma buat bertahan hidup!"
Mereka berdua saling memandang, lalu kembali menatapku. Argumen mereka berputar-putar. Kewajiban. Ikatan. Tujuan. Tapi semua kata-kata itu hanya membuat kepalaku pusing. Amarah, rasa bersalah, dan kerinduan akan kehidupan normal bertempur di dalam dadaku.
Tiba-tiba, napasku tercekat. Seperti ada tangan tak terlihat mencekik leherku. Aku terbatuk-batuk, mencoba menarik napas, tapi udara tidak mau masuk. Pandanganku berkunang-kunang. Wajah Eveline dan Ratri yang khawatir mulai buram. Suara Yuni dari telepon seolah terdengar sangat jauh. Dunia di sekitarku retak seperti kaca.
Aku tersentak bangun dengan teriakan yang tercekik di tenggorokan. Dadaku berdebar kencang, berkeringat dingin. Cahaya matahari sore yang hangat menyelinap melalui celah-celah dinding kayu gubuk. Aku masih di dunia ini.
Ratri sedang berlutut di sampingku, tangannya yang dingin namun menenangkan terasa di dahiku. Wajahnya yang dewasa dan cantik dipenuhi kecemasan yang dalam.
"Rian! Akhirnya kau siuman!" napasnya terengah, terdengar lega. "Aura-mu... tiba-tiba seperti menghilang perlahan. Kau berhenti bernapas selama hampir tiga menit. Wajahmu pucat sekali... Aku sangat khawatir."
Aku mencoba duduk, tapi kepala terasa sangat pusing, seluruh tubuh lemas tak karuan. Langkahku oleng saat mencoba berdiri, dipaksakan oleh sisa-sisa panik dari mimpinya.
"Jangan dulu," Ratri menahanku dengan lembut. "Duduklah. Santai dan rehat sejenak."
Dia menatapku dengan penuh perhatian. "Tadi... kau seperti terjebak dalam mimpi yang sangat dalam. Begitu dalam hingga jiwamu hampir saja terlepas. Apa yang kau alami?"
Sebelum aku bisa menjawab, Eveline mendekat dengan cangkir kayu berisi cairan hangat yang menguap wangi. "Teh herbal, Tuanku. Dari bunga yang menenangkan."
Aku menerimanya dengan tangan masih sedikit gemetar. Aroma teh yang hangat dan lembut memang menenangkan. Aku menyesapnya perlahan, mencoba mengusir sisa-sisa rasa sesak dari mimpi dan kenyataan pahit yang harus kuhadapi.
Mimpiku... begitu manis, begitu sempurna. Tapi Ratri benar. Itu hanyalah ilusi. Kenyataan adalah aku terdampar di dunia asing, dengan kekuatan yang tidak kuminta, dan dua makhluk luar biasa yang entah mengapa terikat padaku. Aku menarik napas dalam, mencoba menerima sekali lagi bahwa jalan pulang mungkin tidak akan semudah yang dibayangkan dalam mimpinya. Untuk saat ini, yang bisa kulakukan adalah bertahan, dan perlahan-lahan, mencoba menemukan caraku sendiri di dunia yang gila ini.