NovelToon NovelToon
Ya Mungkin Besok

Ya Mungkin Besok

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Slice of Life
Popularitas:283
Nilai: 5
Nama Author: Budiarto Consultant

Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.

Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”

Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.

Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”

Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Ini, Bukan Besok

Pagi itu terasa berbeda.

Langit Yogyakarta berwarna biru pucat, dengan awan tipis yang bergerak perlahan seperti sedang menonton sesuatu yang penting terjadi di bumi.

Raka berdiri di depan cermin kamar kosnya.

Sudah hampir sepuluh menit dia menatap dirinya sendiri.

Kemeja putih.

Celana hitam.

Sepatu yang sudah ia bersihkan semalam.

Dia menarik napas panjang.

Hari ini bukan hari biasa.

Hari ini adalah hari dimana ia memutuskan satu hal yang selama ini selalu ia tunda.

Bukan besok.

Bukan nanti.

Hari ini.

Raka menatap dirinya di cermin.

“Kalau hari ini gue masih bilang ‘ya mungkin besok’... berarti gue emang pengecut.”

Ia mengambil jaketnya.

Lalu keluar dari kamar kos.

Di sisi lain kota, Lala sedang duduk di balkon rumahnya.

Tangannya memegang secangkir kopi.

Tatapannya kosong.

Sudah beberapa hari ia tidak bertemu Raka.

Sejak kejadian di acara pernikahan Dina.

Sejak Raka menghilang tanpa kabar.

Padahal waktu itu...

Hampir saja.

Hampir saja semuanya terucap.

Lala menghela napas.

“Raka itu aneh banget,” gumamnya.

Kadang dia datang seperti badai.

Kadang dia hilang seperti kabut.

Dan entah kenapa...

Selama ini Lala selalu menunggu.

Ia tersenyum pahit.

“Ya mungkin besok dia muncul lagi...”

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Nama di layar membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Raka.

Lala menatap layar itu beberapa detik.

Lalu mengangkat telepon.

“Hallo?”

Suara Raka terdengar di ujung sana.

Agak gugup.

“Lala... kamu di rumah?”

“Iya.”

“Aku boleh ketemu kamu?”

Lala diam sebentar.

“Kapan?”

Raka menarik napas.

“Sekarang.”

Sekitar tiga puluh menit kemudian.

Raka berdiri di depan rumah Lala.

Tangannya berkeringat.

Padahal ini bukan pertama kalinya ia datang ke sini.

Tapi hari ini rasanya berbeda.

Hari ini ia membawa sesuatu yang tidak pernah ia bawa sebelumnya.

Keberanian.

Ia menekan bel.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Lala berdiri di sana.

Kaos putih sederhana.

Rambut diikat asal.

Tapi entah kenapa...

Di mata Raka, Lala selalu terlihat luar biasa.

Mereka saling menatap.

Beberapa detik tanpa bicara.

Lala akhirnya tersenyum kecil.

“Kamu akhirnya muncul juga.”

Raka menggaruk belakang kepalanya.

“Iya... maaf.”

“Menghilang lagi?”

Raka mengangguk pelan.

Lala menyilangkan tangan.

“Jadi sekarang kamu datang buat bilang apa?”

Raka menelan ludah.

“Boleh kita jalan sebentar?”

Lala menatapnya curiga.

“Serius?”

“Iya.”

“Gak bakal tiba-tiba kabur lagi kan?”

Raka tersenyum kecil.

“Enggak.”

Lala menghela napas.

“Yaudah.”

Mereka berjalan di Malioboro.

Tempat yang sudah berkali-kali mereka kunjungi bersama.

Tapi hari ini suasananya terasa berbeda.

Penjual angkringan.

Lampu jalan.

Suara musik dari pengamen.

Semua terasa seperti latar film.

Raka berjalan di samping Lala dengan gugup.

Akhirnya Lala yang bicara dulu.

“Kamu aneh hari ini.”

“Kenapa?”

“Kamu diem.”

Raka tertawa kecil.

“Lagi mikir.”

“Mikir apa?”

Raka berhenti berjalan.

Lala ikut berhenti.

Raka menatap Lala.

“Lala.”

“Iya?”

“Kamu tau gak... kenapa judul playlist di HP gue selama ini ‘Ya Mungkin Besok’?”

Lala mengangkat alis.

“Karena kamu pemalas?”

Raka tertawa.

“Bukan.”

“Terus?”

Raka menarik napas panjang.

“Karena selama ini gue selalu nunda banyak hal.”

Lala menatapnya dengan bingung.

“Contohnya?”

Raka menatap langsung ke mata Lala.

“Perasaan gue.”

Jantung Lala berdetak lebih cepat.

Raka melanjutkan.

“Gue selalu bilang ke diri gue sendiri...”

“Besok aja.”

“Besok bilangnya.”

“Besok jujurnya.”

“Besok beraninya.”

Ia menggeleng pelan.

“Tapi besok itu gak pernah datang.”

Mata Lala mulai berkaca-kaca.

Raka tersenyum kecil.

“Sampai akhirnya gue sadar sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau gue terus bilang ‘ya mungkin besok’...”

“Gue bisa kehilangan orang yang paling penting di hidup gue.”

Lala menatapnya tanpa berkedip.

Suasana Malioboro tiba-tiba terasa sunyi bagi mereka.

Padahal di sekitar mereka ramai.

Raka melangkah satu langkah lebih dekat.

“Lala.”

“Iya?”

“Gue suka sama kamu.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Setelah puluhan episode hidup mereka.

Setelah ratusan keraguan.

Setelah ribuan pikiran.

Lala tidak langsung menjawab.

Air matanya jatuh perlahan.

Raka panik.

“Eh... jangan nangis dong.”

Lala tertawa kecil sambil menghapus air mata.

“Bodoh.”

“Kenapa?”

“Kamu tau gak...”

“Apa?”

Lala menatapnya.

“Aku nunggu kalimat itu hampir setahun.”

Raka melongo.

“Serius?”

Lala mengangguk.

“Serius.”

Raka menepuk dahinya.

“Ya ampun.”

Lala tertawa.

“Kenapa?”

“Berarti gue telat banget.”

Lala tersenyum.

“Iya.”

Raka menghela napas.

“Terus sekarang gimana?”

Lala menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum hangat.

“Ya mungkin besok.”

Raka terdiam.

“HAH?”

Lala tertawa keras.

“Bercanda!”

Ia kemudian memegang tangan Raka.

Untuk pertama kalinya.

“Jawabannya iya.”

Raka menatap tangan mereka yang saling menggenggam.

Lalu tertawa lega.

“Serius?”

“Iya.”

“Beneran?”

“Iya.”

Raka mengangkat tangannya ke langit.

“AKHIRNYAAA!”

Beberapa orang di Malioboro menoleh.

Lala menutup wajahnya malu.

“Raka! Malu tau!”

Raka tertawa.

“Biarin!”

Ia menatap Lala lagi.

“Terima kasih.”

“Buat apa?”

“Udah sabar nunggu orang bodoh kayak gue.”

Lala tersenyum.

“Gapapa.”

“Kenapa?”

“Karena akhirnya kamu gak bilang ‘besok’ lagi.”

Raka mengangguk.

“Iya.”

Ia menggenggam tangan Lala lebih erat.

“Kali ini... hari ini.”

Mereka berjalan lagi menyusuri Malioboro.

Bersama.

Lampu-lampu kota mulai menyala.

Dan di tengah keramaian itu...

Dua orang yang selama ini selalu menunda perasaan akhirnya menemukan jawabannya.

Bukan besok.

Bukan nanti.

Tapi hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!