Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Karena hari sudah semakin malam, Kazuki dan beberapa warga pamit untuk pulang.
"Hari sudah hampir malam. Beristirahatlah… sampai jumpa besok."
Ucap Kazuki yang masih merangkul kai.
Di suatu tempat, dewa itu terlihat mengamati kehidupan Kai, yang kini jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Semoga kamu bisa lebih bahagia… Kai."
Keesokan paginya, Kai bangun meregangkan tubuhnya di atas kasur.
"Ahh… tidurku sangat nyenyak."
Ia bangkit dari tempat tidur dan membuka jendela kamarnya.
"Aku merasa lebih segar setelah tidur."
Kai pergi ke kamar mandi.
"Aku tidak akan bisa bangun sepagi ini jika masih berada di duniaku dulu."
Kini Kai memiliki rumah sendiri, lengkap dengan beberapa furnitur yang ia susun rapi.
Meskipun sebagian furnitur itu diberikan oleh Paman Kazuki dan istrinya.
Setelah selesai dari kamar mandi, Kai pergi ke ruang makan. Di sana terdapat keranjang berisi roti.
"Aku tidak akan bisa seperti ini tanpa bantuan warga."
Kai mengambil sepotong roti.
"Roti buatan Marsha enak sekali."
"Aku harus berhati-hati dengan tingkah lakuku."
Marsha adalah istri Kazuki. Ia diminta Kazuki untuk membawakan makanan untuk Kai setiap hari.
Jadwal hari ini adalah pergi ke pertambangan bersama Paman Biggo.
Kai langsung bergegas menuju tempat Paman Biggo. Sesampainya di sana, terlihat sebuah tambang terbuka yang cukup luas.
"Area ini merupakan lapisan besar."
"Ini adalah tambang terbuka," ucap Paman Biggo menjelaskan.
Paman Biggo mengeluarkan alat-alat pertambangannya.
"Gunakan saja alat-alat ini."
Kai mengambil salah satu alat tersebut.
"Terima kasih sudah meminjamkannya."
Setelah membagikan alat, mereka berdua berjalan menurun menuju area tambang.
Sambil berjalan, Paman Biggo menjelaskan beberapa hal.
"Pacul ini sudah tua, tapi masih bisa digunakan dengan baik dan mudah dipakai."
"Kau bisa membuat alat yang lebih bagus dengan material yang kau temukan di sini."
Sesampainya di area pertambangan, Paman Biggo menyuruh Kai mencari tempat yang cocok untuknya.
Mereka mulai menambang. Kai beberapa kali menemukan material dengan kualitas tinggi.
"Sepertinya kau mendapatkan banyak!" teriak Paman Biggo dari belakang.
"Tidak peduli berapa banyak material, mari ambil sebanyak mungkin!"
Kai terus menggali, menggali, dan terus menggali.
"Sepertinya dia semangat sekali," gumam Paman Biggo.
Tanpa terasa, matahari sudah berada tepat di atas kepala.
"Huh… Kai, sudah waktunya istirahat."
Mereka duduk bersama. Kai mengeluarkan bekal yang disiapkan oleh Marsha.
"Kita sudah menggali sangat banyak sampai-sampai aku hampir tidak bisa mengangkat lenganku lagi," ucap Paman Biggo sambil tertawa.
"Ngomong-ngomong, Kai, apakah kau tetap bisa melihat jelas dengan mata tertutup begitu? Bukankah katamu matamu sedang sakit?"
"Hahaha… aku mengerti maksudmu."
"Tapi pandanganku sama sekali tidak terganggu kok."
Mereka melanjutkan makan siang mereka.
"Maaf, Kai, karena bertanya seperti itu."
"Tapi kau tahu, aku sangat suka menambang."
"Berkatmu aku mendapatkan banyak material."
"Kau hebat, padahal masih pemula."
Setelah selesai makan, mereka melihat hasil tambang yang terkumpul sangat banyak.
"Hmmm… bagaimana kita akan membawa semua ini?"
"Kita mungkin harus bolak-balik untuk mengangkutnya."
Kai langsung menjawab,
"Tenang saja…"
"Aku bisa membawa semuanya."
Pertama-tama, mereka mengumpulkan semua material itu menjadi satu tumpukan besar.
Setelah semua material terkumpul, Kai mengeluarkan sihir Item Box miliknya. Batu-batu itu menghilang seolah ditelan bumi.
"Mari kita pulang."
Paman Biggo yang masih takjub langsung bertanya,
"Kai, kamu bisa menggunakan Item Box?"
"Iya, ini sangat praktis."
Paman Biggo kembali bertanya,
"Bukankah Item Box memakan sangat banyak kekuatan sihir?"
Kai menjawab santai,
"Tidak, aku bahkan tidak perlu menggunakan kekuatan sihir sedikit pun."
Setelah mengucapkan itu, Kai tiba-tiba teringat isi buku yang ia dapatkan. Di dunia ini, Item Box tanpa batas tidak pernah ada.
Yang ada hanyalah tas sihir dengan kapasitas penyimpanan terbatas.
Menyadari ucapannya barusan, Kai segera mencoba mengoreksi dirinya.
"Umm… itu… mungkin punyaku berbeda."
"Oh begitu kah?"
"Yah, kalau begitu aku serahkan padamu," ucap Paman Biggo yang tampak mempercayainya.
Setelah selesai, mereka berjalan pulang. Di perjalanan, Paman Biggo berkata,
"Kau tahu, Kai, kemampuanmu sangat menarik."
"Sihir yang waktu itu kau pakai juga mengejutkan."
Kai hanya menanggapi dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Yah… aku hanya ingin mencoba banyak hal."
Di dalam hatinya, Kai tahu sudah terlambat. Warga desa kini mengetahui tentang Item Box miliknya.
"Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati," gumamnya.
Sesampainya di rumah Paman Biggo, Kai mengeluarkan kembali semua material tambang dari Item Box, lalu pamit untuk kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Kai langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
"Hah… sangat melelahkan."
Langit-langit kamar menatap balik ke arahnya dalam diam.
Pandangan Kai perlahan bergeser ke arah buku yang tergeletak di atas meja.
"Aku harus mencari tahu tentang mata ini…"
Keesokan paginya, Kai diundang ke rumah Kazuki untuk sarapan bersama.
Suasana pagi itu terasa damai. Hangat. Sinar matahari masuk dari celah jendela kayu, aroma roti dan sup memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya setelah bereinkarnasi, Kai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan—
Kehangatan keluarga.
Mereka berbincang tentang banyak hal. Tentang desa. Tentang tambang. Tentang rencana Kai ke depan.
Setelah selesai makan, Kai berdiri dan membungkuk sopan.
"Oke, Paman Kazuki, Bibi Marsha… terima kasih atas makanannya."
Salah satu topik yang mereka bicarakan tadi adalah rencana Kai membuat potion, dan mereka mengizinkannya menggunakan bahan desa selama tidak berlebihan.
Kai berjalan santai menyusuri desa untuk mencerna makanannya. Anak-anak berlari, para ibu berbincang, suara palu dari bengkel Biggo terdengar dari kejauhan.
Desa ini damai.
Dan tanpa sadar, Kai menggenggam tangannya.
"Aku ingin melakukan sesuatu untuk desa ini…"
Sesampainya di rumah, Kai langsung mulai membuat potion.
Ia memilih beberapa tanaman yang tumbuh di sekitar desa, menilainya dengan sihir Penilaian, memastikan kualitas dan efeknya.
Ia memasukkan bahan-bahan itu ke dalam wadah, mengaduk perlahan.
Warna cairan berubah… dari hijau pucat menjadi biru muda.
Kai menatapnya serius. Konsentrasinya penuh.
Beberapa saat kemudian, cairan itu memancarkan kilau lembut.
Kai menggunakan sihir Penilaian sekali lagi.
--- Potion Penyembuhan ---
Dapat menyembuhkan berbagai penyakit ringan dan luka ringan.
"Berhasil…"
Ada senyum kecil di wajahnya.
"Tapi ini belum sempurna."
Nada suaranya berubah. Ambisi mulai terlihat.
Ia menuangkan potion itu ke dalam wadah kaca dengan hati-hati.
Setelah selesai, Kai berdiri.
"Aku harus mencari bahan tambahan…"
"Aku ingin pergi ke pinggir sungai. Aku ingin mencoba sesuatu."
Sesampainya di tepi sungai, angin berhembus pelan. Air mengalir jernih, memantulkan cahaya matahari.
Kai berdiri diam.
Lalu perlahan, ia mengangkat tangannya.
Satu per satu sihir ia keluarkan.
Api.air.Angin. Tanah. Petir.ice.kegelapan.cahaya.lava.
Ledakan kecil mengguncang sekitar. Tanah retak. Air sungai terbelah sesaat sebelum kembali menyatu.
Ia menggenggam katananya.
"Kali ini… aku akan menggabungkan sihir dan pegang."
Sihir mengalir ke bilah pedang. Cahaya menyelimuti katana itu.
Kai mengayunkan pedangnya ke udara.
SUARA DESINGAN TAJAM memecah keheningan.
Dalam sekejap—
Bukit di kejauhan terbelah.
Potongannya begitu rapi. Seolah diiris dengan presisi sempurna.
Angin berhenti.
Burung-burung terbang menjauh.
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin