NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:29.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Linggar menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya setelah aksi pukul-pukulan kecil tadi.

Ia masih duduk di kursi dengan tangan yang terikat bandana pada pergelangan tangan Rangga.

"Dengar ya, Pasien Cerewet," ucap Linggar dengan nada lebih serius namun tetap ketus.

"Hasil rapat tadi memutuskan kalau mulai besok, aku dan kamu jadi satu tim. Aku yang akan mendampingimu meninjau lokasi proyek sampai tuntas. Pak Richard dan Fabian akan fokus mengurus vendor di luar kota."

Mata Rangga berbinar mendengar kabar itu. Sebuah kemenangan kecil yang terasa seperti hadiah besar baginya.

"Jadi, kita akan berdua saja di atas bukit itu? Hanya ada aku, kamu, dan angin perbukitan?"

Rangga terdiam sejenak, menatap mata Linggar dengan dalam.

Senyum jahilnya perlahan memudar, berganti dengan sorot mata yang penuh kenangan.

"Linggar, aku jadi ingat perkataanmu dulu, sesaat sebelum kamu benar-benar menghilang dari Jakarta," bisik Rangga pelan.

"Kamu bilang, 'Kalau kita jodoh, pasti akan bertemu lagi'. Dan lihat sekarang? Kita tidak hanya bertemu, tapi kita terikat secara harfiah." Rangga mengangkat tangan mereka yang masih terikat bandana.

Linggar tertegun. Ia tidak menyangka Rangga masih mengingat kalimat yang ia ucapkan sambil menangis di bandara waktu itu.

Kalimat yang sebenarnya ia ucapkan hanya untuk menghibur dirinya sendiri yang sedang hancur.

Merasakan suasana menjadi terlalu emosional dan dadanya mulai sesak oleh kenangan, Linggar segera membuang muka.

Ia menarik sedikit tangannya yang terikat, membuat Rangga ikut tertarik ke arahnya.

"Mimpi!" cetus Linggar ketus, meski sudut matanya sedikit basah.

"Itu cuma kalimat klise supaya kamu tidak merasa terlalu bersalah sudah membiarkanku pergi. Jangan dianggap serius. Sekarang, cepat habiskan buburmu sebelum aku berubah pikiran dan meminta Pak Richard menukar posisiku dengan Fabian."

Rangga hanya terkekeh pelan, ia tahu Linggar hanya sedang membentengi hatinya yang mulai melunak.

"Kalau Fabian yang mendampingiku, aku bisa pastikan besok dia akan aku dorong ke jurang," canda Rangga yang langsung disambut tatapan tajam dari Linggar.

Di balik candaan itu, Rangga membatin dalam hati. Tuhan, terima kasih sudah mempertemukan kami lagi.

Beri aku waktu sedikit lebih lama untuk membuktikan kalau perkataannya bukan sekadar mimpi.

Malam di rumah sakit Yogyakarta itu terasa begitu sunyi.

Karena ikatan bandana yang belum dilepas, Linggar terpaksa melipat lengannya di pinggiran ranjang sebagai bantal.

Posisi yang sangat tidak nyaman, namun entah mengapa, kehangatan dari tangan Rangga yang menggenggam jemarinya membuat rasa kantuknya terasa lebih tenang.

Rangga, yang juga tidak bisa tidur, menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya menoleh ke arah Linggar.

"Linggar..." panggilnya lirih.

"Hmm?"

"Dulu, waktu kamu kecil. Kamu, sakit apa?" tanya Rangga tiba-tiba.

Linggar sedikit tersentak, ia menoleh dan menatap mata Rangga yang tampak sangat serius di bawah temaram lampu tidur.

"Tahu dari mana?"

"Nadya yang cerita," tambah Rangga singkat.

Linggar menghela napas, bayangan masa kecil yang penuh dengan aroma obat kembali melintas.

"Jantung lemah, Ngga. Dulu aku tidak boleh lari-lari, tidak boleh terlalu capek. Tapi entah kenapa, pas masuk SMP, dokter bilang aku sudah sembuh total. Mungkin keajaiban."

Mendengar kata 'jantung', Rangga mengeratkan genggamannya.

Ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap dadanya—takut jika penyakit rahasianya sendiri suatu saat akan menyakiti wanita di hadapannya ini.

"Kalau boleh minta satu hal..." suara Rangga memberat, penuh permohonan.

"Tolong tetap sehat ya, Linggar. Jangan sampai jantungmu sakit lagi. Apalagi kalau sakitnya karena aku. Aku mau bidadariku terus menemani aku, dalam kondisi apa pun."

Linggar mendengus pelan, mencoba menetralkan suasana yang mendadak melankolis.

"Isshh, lebay! Kita ini musuhan, Ngga. Ingat ya, gara-gara kamu aku jadi takut buka hati buat siapa pun."

Linggar menjeda sebentar, lalu sengaja memancing reaksi Rangga.

"Mungkin saja sebenarnya Fabian itu jodohku yang tertunda."

Mendengar nama itu, rahang Rangga mengeras. Ia langsung bangkit sedikit dari bantalnya, melirik tajam, dan dengan gerakan cepat ia menggunakan telapak tangannya untuk menutup mulut Linggar.

"Diam dan tidur! Jangan sebut nama lelaki itu lagi kalau kamu tidak mau aku ikat lebih kencang," ancam Rangga posesif.

Linggar hanya bisa melotot, mencoba memprotes dari balik telapak tangan Rangga yang besar dan hangat. Namun, Rangga tidak melepaskannya.

Ia justru memejamkan matanya, memosisikan dirinya senyaman mungkin dengan tangan yang masih membungkam bibir Linggar seolah-olah dengan begitu, ia bisa menghentikan takdir agar tidak membawa Linggar ke pria lain.

"Selamat malam, Linggar. Tidurlah," bisik Rangga, dan perlahan suasana kembali senyap, menyisakan dua hati yang sebenarnya saling merindu namun masih terhalang ego masing-masing.

Semburat jingga matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, namun dua orang di dalam kamar 302 itu masih terjebak dalam alam mimpi.

Posisi mereka sungguh tidak biasa: Linggar tertidur pulas dengan kepala bersandar di pinggiran ranjang, sementara tangan Rangga yang besar masih menempel erat menutup mulut Linggar, seolah sedang menjaga rahasia yang tidak boleh bocor.

Ceklek!

Pintu terbuka perlahan. Seorang perawat muda masuk sambil membawa nampan berisi sarapan dan termometer.

Langkah kakinya mendadak terhenti di tengah ruangan.

Matanya membulat sempurna melihat pemandangan di depannya.

"Astaga..." bisik perawat itu pelan, tangannya menutup mulut karena terkejut.

Suara langkah perawat dan denting nampan yang sedikit goyah itu membuat Linggar tersentak.

Ia mengerjapkan matanya dan mencoba mengumpulkan nyawanya.

Hal pertama yang ia rasakan adalah sesuatu yang hangat dan sedikit lembap menempel di bibirnya.

Saat ia menyadari itu adalah telapak tangan Rangga, Linggar langsung terduduk tegak dengan wajah merah padam.

"Mmphhh!!" Linggar menepis tangan Rangga dengan kasar.

Rangga pun terbangun karena gerakan tiba-tiba itu.

Ia tampak bingung sejenak, menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap Linggar yang sudah seperti kepiting rebus.

"Eh... Suster, ini... ini tidak seperti yang suster lihat," gagap Linggar sambil berusaha merapikan rambutnya yang berantakan. Il

Ia lupa kalau tangannya masih terikat bandana dengan tangan Rangga, sehingga saat ia bergerak, tangan Rangga pun ikut tertarik ke arah wajahnya lagi.

Perawat itu berdehem canggung, mencoba menahan senyum profesionalnya.

"Maaf mengganggu, saya hanya ingin memeriksa suhu tubuh Pak Rangga dan mengantar sarapan bubur lagi."

Rangga, yang sudah sadar sepenuhnya, justru tersenyum bangga ke arah perawat itu. Ia sama sekali tidak terlihat malu.

"Tidak apa-apa, Sus. Pasien di sebelah saya ini memang sedikit berisik kalau tidur, jadi harus dijaga ekstra," candanya sambil melirik Linggar dengan tatapan menggoda.

Linggar hanya bisa menunduk dalam, ingin rasanya ia menghilang ke bawah kolong ranjang saat itu juga.

"Cepat periksa dia, Sus. Sepertinya otaknya juga perlu diperiksa, suaranya makin melantur," gerutu Linggar pelan.

Setelah perawat itu pergi sambil masih menahan tawa, Linggar langsung melepaskan ikatan bandana di pergelangan tangan mereka dengan gerakan cepat.

"Puas kamu, Ngga? Mau ditaruh di mana mukaku?"

Rangga tertawa lepas, mengabaikan rasa perih di perutnya.

"Taruh di pundakku saja kalau malu. Masih muat, kok."

Setelah perawat pergi, Rangga mencoba turun dari ranjang. Namun, begitu kedua kakinya menyentuh lantai, dunia seolah berputar hebat.

Efek samping dari cairan infus penguat yang ia terima diam-diam tadi malam mulai bereaksi—tekanan darahnya turun drastis.

Rangga mendadak limbung. Tubuhnya yang tinggi besar itu oleng ke arah depan.

"Rangga!" Linggar yang sigap langsung melompat dari kursinya dan menangkap tubuh Rangga.

Ia memeluk pinggang pria itu erat-erat agar tidak terjerembap ke lantai.

Dada mereka bersentuhan, dan Linggar bisa merasakan napas Rangga yang memburu di ceruk lehernya.

"Kamu kenapa, Ngga? Pusing lagi? Apa lambungmu sakit?" tanya Linggar dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.

Wajahnya menengadah, menatap Rangga dengan cemas.

Rangga memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang terasa berat.

Saat rasa pusingnya sedikit berkurang, ia melihat wajah Linggar yang begitu dekat.

Perlahan, senyum tipis yang dipaksakan muncul di bibirnya. Ia sengaja mempererat pelukannya pada pundak Linggar.

"Aku cuma pura-pura, Linggar. Biar punya alasan untuk memegangmu seerat ini," bisik Rangga dengan suara serak, mencoba menutupi rasa sakit yang sebenarnya.

Linggar tertegun sejenak, lalu matanya menyipit galak.

Ia segera mendorong dada Rangga hingga pria itu terduduk kembali di tepi ranjang.

"Isshh! Nakal! Orang panik malah dibuat bercanda. Dasar CEO sinting!"

Rangga hanya tertawa kecil, meski tawanya terdengar lemah.

"Aku mau mandi dulu supaya segar sebelum kita ke lapangan."

Dengan langkah yang masih sedikit tidak stabil, Rangga berjalan menuju kamar mandi.

Begitu pintu tertutup dan terkunci, tawa di wajahnya hilang seketika.

Ia menyandarkan punggungnya di pintu, terengah-engah menahan nyeri yang menyerang dadanya.

Rangga perlahan membuka kancing baju rumah sakitnya di depan cermin besar.

Matanya menatap nanar ke arah pantulan dirinya sendiri.

Di sana, di bagian dada kiri tepat di atas jantungnya, terlihat memar kebiruan yang semakin melebar, tanda bahwa penyakit rahasianya sedang bekerja lebih keras dari biasanya.

Ia menyentuh memar itu dengan jemari yang bergetar.

"Bertahanlah sedikit lagi," gumamnya pada diri sendiri.

"Jangan biarkan dia tahu betapa rapuhnya aku sekarang."

Di luar, Linggar masih mengomel sambil merapikan tasnya, sama sekali tidak menyadari bahwa pria di balik pintu itu sedang menatap bayang-bayang kematiannya sendiri.

1
Uthie
Kisah yg seru disimak👍
mengharukan 👍
dan juga penuh pembelajaran agar lebih menghargai orang lain, bukan dari cover nya saja 👍👍👍
Good....sukses selalu 👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Uthie
bagian yg disukai 😁👍
Uthie
ikut baper bacanya 👍👍
Uthie
😭😭😭😭
Uthie
😭😭😭😭😭
Uthie
pergi aja dehhhh Linggar dr siapapun orang2 yg gak bisa mengerti perasaan kamu👍
Uthie
Good 👍👍👍🤨
my name is pho
good
Uthie
Kasiannya....
Uthie
semoga sdh ada getar-getar cinta nya 😁
Uthie
Sukkkkaaa BANGETTT ceritanya 👍👍👍🤩
Uthie
Awal mampir yg berkesan 👍👍👍
Endang Sulistia
keren
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
si kecil nikkey
sedih juga ya klo d posisi Linggar, antara senang dan bingung dlm ktakutan
falea sezi
good bgt
Istatik Cell
ceritanya bagus 👍
Susi Susi
ntah kenapa ya asal aku ketemu cerita yg pas selalu putus2..ccemangat kk💪
merry yuliana
hiks haduhhhh sedih kak...tolong bernaik hati ya kak thor yang bauk dan cantik serta keren...please buat rangga sembuh
buat linggar bersatu dengan rangga
menikah beranak cucu sampai maut memisahkan
kak thor sehat swmangat terus yaaa
crazy upnya ditunggu selalu💪🙏👍
merry yuliana
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
merry yuliana
duhhh sakit apa emangnya kak..baik hati ya kak buat rangga bersatu happy ending sm.linggar sampai anak cucu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!