Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Suasana kamar rawat inap itu begitu sunyi, hanya menyisakan deru pelan mesin pendingin ruangan.
Linggar duduk terdiam di sisi tempat tidur, menatap wajah Rangga yang masih terlelap namun tampak gelisah.
Napas pria itu tidak beraturan, dan bibirnya yang pucat tampak gemetar, menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
"Linggar. Linggar, jangan pergi..." bisik Rangga dalam igauannya.
Linggar tertegun. Suara itu terdengar begitu putus asa, seolah-olah dalam tidurnya pun Rangga sedang mengejar bayang-bayang yang terus menjauh.
Tak berselang lama, tangan Rangga yang bebas dari jarum infus bergerak liar di atas sprei, mencari-cari sesuatu, hingga akhirnya ia berhasil menemukan tangan Linggar.
Dengan gerakan cepat dan tanpa sadar, Rangga menggenggam tangan Linggar dengan sangat erat.
Genggamannya begitu kuat, seolah takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, Linggar akan menghilang selamanya dari hidupnya.
Linggar mencoba menarik tangannya perlahan, namun Rangga justru semakin mempererat kuncian jemarinya.
Hati Linggar berdesir; ada rasa perih yang menjalar melihat sosok yang biasanya arogan ini kini tampak begitu tak berdaya dan bergantung padanya.
Melihat butiran keringat dingin yang membanjiri dahi dan pelipis Rangga, Linggar menghela napas panjang.
Ia merogoh tasnya, mengambil sebuah sapu tangan bersih bermotif bunga kecil yang harum.
Dengan gerakan lembut, ia mulai mengusap dahi Rangga, membersihkan keringat yang mengucur di sana.
"Kenapa kamu harus menyiksa dirimu sendiri seperti ini, Ngga?" gumam Linggar lirih sambil terus menyeka wajah pria itu.
Setiap sentuhan sapu tangan itu membuat igauan Rangga sedikit tenang.
Meskipun matanya masih terpejam rapat, genggaman tangannya pada jemari Linggar perlahan melunak, namun tetap tidak dilepaskan.
Di tengah aroma obat-obatan rumah sakit, ada sebuah keintiman yang menyakitkan di antara mereka—sebuah ikatan yang belum benar-benar putus meski jarak dan luka sempat memisahkan.
Sentuhan lembut sapu tangan Linggar di pelipis Rangga terhenti seketika saat ia merasakan pergerakan kecil dari pria itu.
Perlahan, kelopak mata Rangga terbuka. Matanya yang merah dan sayu karena demam mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan, hingga akhirnya fokus pada satu titik: wajah Linggar yang hanya berjarak beberapa jengkal darinya.
Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka.
Linggar mematung dengan tangan masih memegang sapu tangan di dahi Rangga, sementara tangan lainnya masih terkunci erat dalam genggaman pria itu.
"Linggar..." suara Rangga pecah, nyaris hanya berupa bisikan kering.
"Ini benar-benar kamu? Atau aku masih bermimpi?"
Linggar segera menarik tangannya yang memegang sapu tangan, mencoba menjauhkan diri untuk menciptakan jarak yang aman.
Wajahnya yang semula penuh perhatian berubah menjadi kaku, meski rona merah di pipinya tidak bisa disembunyikan.
"Kamu sudah bangun," ucap Linggar dengan nada yang dibuat sedatar mungkin, meskipun detak jantungnya berpacu cepat.
"Lepaskan tanganku, Ngga. Sakit."
Rangga tersadar. Ia menatap tangannya yang menggenggam jemari Linggar seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah laut.
Bukannya melepas, ia justru mengusap punggung tangan Linggar dengan ibu jarinya—sebuah gerakan yang sangat intim dan penuh kerinduan.
"Jangan dilepas dulu,.sebentar saja," pinta Rangga dengan tatapan memohon yang membuat pertahanan Linggar goyah.
"Terima kasih sudah membersihkan keringatku. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan, bahkan saat aku tidak pantas mendapatkannya."
Linggar mengalihkan pandangannya ke arah botol infus yang menetes perlahan.
"Aku melakukannya karena tidak ingin melihatmu mati di sini. Pak Richard sedang mengurus administrasi, dan Fabian sedang mencari perawat untukmu."
Mendengar nama Fabian, genggaman Rangga sedikit mengeras.
Ia menarik napas panjang yang terasa sesak di dadanya.
"Aku tidak butuh perawat lain. Aku hanya butuh kamu memaafkanku, Linggar. Maaf karena aku pengecut, maaf karena aku membiarkanmu pergi."
Mata Linggar mulai berkaca-kaca. Ia menatap Rangga kembali, kali ini dengan sorot mata yang penuh luka lama.
"Memaafkan itu mudah, Ngga. Yang sulit adalah memercayaimu lagi setelah kamu membuatku merasa tidak berharga di Jakarta."
Bau karbol rumah sakit yang tajam seolah memudar, kalah oleh keheningan emosional yang menyelimuti kamar rawat inap itu.
Rangga masih menatap Linggar dengan mata sayunya, namun ada binar tekad yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Genggaman tangannya pada jemari Linggar melunak, berubah menjadi pegangan yang penuh perasaan.
"Linggar," panggil Rangga pelan, suaranya parau.
"Katakan padaku, apa yang kamu inginkan agar kamu bisa menerima maafku? Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya kalau aku benar-benar menyesal?"
Linggar terdiam, matanya masih berkaca-kaca menatap pria yang dulu selalu tampil sempurna dan angkuh itu.
Rangga menarik napas berat, mencoba memberikan senyum tipis di tengah rasa sakit perutnya.
"Apa aku harus membangun Candi Prambanan dalam semalam untukmu? Agar kamu tahu kalau usahaku tidak main-main?"
Mendengar gombalan konyol yang keluar dari mulut seorang CEO yang tengah terbaring lemah dengan selang infus, pertahanan Linggar runtuh.
Rasa kesal dan haru bercampur menjadi satu. Tanpa sadar, tangannya bergerak maju dan mencubit hidung Rangga dengan gemas—sebuah kebiasaan lama yang dulu sering ia lakukan saat mereka masih sangat dekat.
"Aw!" Rangga meringis, namun wajahnya tampak bahagia.
"Jangan mimpi! Kamu itu Rangga, bukan Bandung Bondowoso!" cetus Linggar sambil menarik tangannya kembali.
"Membangun candi butuh ribuan jin, sedangkan kamu? Makan lumpia saja harus aku suapi supaya tidak pingsan."
Rangga tertawa kecil, meskipun tawa itu membuatnya sedikit memegang perutnya yang perih.
"Setidaknya Bandung Bondowoso punya ambisi. Aku juga punya ambisi yang sama, Linggar. Bedanya, aku tidak butuh seribu candi. Aku cuma butuh satu kesempatan."
Linggar membuang muka, mencoba menyembunyikan senyum yang mulai merekah di sudut bibirnya.
"Istirahatlah, Ngga. Jangan banyak bicara yang aneh-aneh. Efek obatnya sepertinya membuatmu berhalusinasi jadi tokoh legenda."
"Aku serius, Linggar..." gumam Rangga, kini suaranya melembut, menatap punggung tangan Linggar yang masih memerah bekas cubitannya tadi.
Tepat saat suasana mulai mencair, suara langkah kaki sepatu pantofel yang tegas terdengar dari lorong, mendekati pintu kamar.
Pintu kamar rawat inap terbuka dengan sentakan pelan.
Fabian melangkah masuk dengan senyum penuh kemenangan, diikuti oleh seorang wanita muda berpakaian seragam perawat yang dimodifikasi—tampak sangat cantik, dengan riasan wajah sempurna dan seragam yang sedikit terlalu ketat untuk ukuran seorang perawat profesional.
"Nah, ini dia Siska. Perawat pribadi terbaik yang aku temukan untukmu, Pak Konsultan," ucap Fabian sambil mempersilakan wanita itu mendekat ke sisi tempat tidur Rangga.
Siska tersenyum manis, bahkan terlalu manis, sambil membungkuk sedikit ke arah Rangga yang masih lemas.
"Selamat siang, Pak Rangga. Saya yang akan menjaga Bapak selama di sini agar Bapak merasa.sangat nyaman," ucapnya dengan suara yang dibuat-buat lembut, tangannya seolah ingin menyentuh lengan Rangga untuk memeriksa denyut nadi.
Wajah Linggar seketika berubah. Ada rasa panas yang tiba-tiba menjalar dari dadanya hingga ke wajah.
Melihat cara perawat itu menatap Rangga dan bagaimana Fabian tampak bangga dengan "pilihannya", Linggar tidak bisa menahan diri lagi.
"Cukup," potong Linggar dengan suara dingin dan tajam.
"Siska, Fabian, tolong keluar sekarang."
Fabian terbelalak, kaget dengan reaksi tiba-tiba Linggar.
"Loh, Linggar? Kan dia perawat profesional—"
"Aku bilang keluar!" tegas Linggar, matanya menatap Fabian dengan sorot yang tak bisa dibantah.
"Biarkan pasien beristirahat dengan tenang tanpa gangguan visual yang berlebihan seperti ini."
Siska tampak tersinggung namun tidak berani membantah, sementara Fabian hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum akhirnya mereka berdua melangkah keluar kamar dengan wajah bingung sekaligus kesal.
Setelah pintu tertutup rapat, suasana menjadi hening.
Rangga, yang sejak tadi hanya diam mengamati, kini menatap Linggar dengan senyum miring yang usil. Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi.
"Kenapa mereka disuruh keluar? Bukannya kamu tadi menyuruhku istirahat dan membiarkan mereka yang menjagaku?" pancing Rangga pelan.
Linggar berbalik, mendapati Rangga sedang menatapnya dengan pandangan yang seolah sedang menelanjangi perasaannya.
"Jangan menatap seperti itu!" semprot Linggar, meskipun wajahnya kini memerah padam.
"Aku tidak cemburu sama sekali. Aku hanya ingin suasana kamar ini kondusif untuk penyembuhanmu. Sekarang tutup matamu dan istirahatlah!"
Rangga tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tulus meski ia sedang menahan sakit.
"Kalau kamu tidak cemburu, kenapa wajahmu lebih merah dari saus lumpia tadi, Linggar?"
Linggar hanya mendengus keras, menarik selimut Rangga hingga ke dada dengan sedikit kasar untuk menutupi rasa malunya. Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa benteng yang ia bangun mulai goyah hanya karena kehadiran perawat seksi itu.
Rangga tampaknya tidak kapok meski tubuhnya masih lemas.
Melihat Linggar yang salah tingkah, jiwa usilnya justru semakin meradang.
Ia bersandar pada bantal, menatap Linggar dengan tatapan jahil yang sangat khas.
"Jujur saja, Linggar. Kamu takut kan kalau perawat tadi benar-benar memijat perutku?" goda Rangga sambil menahan tawa.
Linggar hanya mendelik, sibuk merapikan botol obat di atas nakas.
"Jangan percaya diri terlalu tinggi, Rangga. Aku hanya kasihan pada perawat itu kalau harus melayani pasien cerewet sepertimu."
Rangga justru semakin menjadi. Ia berdehem, lalu tiba-tiba mengubah nada suaranya menjadi sedikit mendesah, menirukan suara Linggar saat kejadian tak terlupakan di sebuah hotel di Bandung dulu.
"Ahhh... Rangga... Sakit, Ngga... Pelan-pelan, Rangga..." ucap Rangga dengan nada manja yang dibuat-buat, persis seperti saat Linggar mengeluh kesakitan karena kakinya terkilir di kamar hotel waktu itu.
Wajah Linggar seketika memerah padam sampai ke telinga.
Ia menyambar bantal kursi di dekatnya. "Diam, Rangga! Atau aku akan memintamu dipindahkan ke ruang jenazah sekarang juga supaya tenang!"
Rangga justru tertawa terbahak-bahak, mengabaikan rasa perih di perutnya yang mendadak terasa terguncang karena tawa.
"Wajahmu berharga sekali, Linggar! Kamu memang cemburu!"
Tanpa bicara lagi, Linggar merogoh tas ranselnya yang ajaib.
Ia mengeluarkan sebuah gulungan lakban kecil yang entah mengapa selalu tersedia di sana.
Dengan gerakan secepat kilat, ia menarik potongan lakban itu.
SRET!
Ia menempelkannya tepat di bibir Rangga yang masih terbuka tertawa.
"Mmphhh?! Mmmpphhh!" Rangga terbelalak, berusaha bicara namun hanya suara gumaman yang keluar dari balik lakban.
Linggar tersenyum puas, menepuk-nepuk pelan lakban yang menempel di bibir Rangga agar melekat kuat.
Kemudian ia meregangkan tubuhnya, bersandar di kursi tunggu di samping tempat tidur.
"Nah, kalau begini kan tenang," ucap Linggar sambil menguap lebar.
"Hoaaam, ngantuk sekali aku. Jangan berisik, Pasien. Aku mau tidur sebentar."
Linggar memejamkan matanya dengan santai, meninggalkan Rangga yang hanya bisa melotot protes dengan mulut terlakban, meski di balik matanya, Rangga merasa sangat bahagia karena suasana "hangat" ini kembali hadir di antara mereka.