Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palu Hakim dan Runtuhnya Menara Pasir
Sidang Final Perceraian
Ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma disinfektan bercampur dengan bau kertas-kertas tua menciptakan atmosfer yang mencekik. Gendis duduk di kursi pemohon dengan punggung tegak lurus, sebuah manifestasi dari harga diri yang telah ia bangun kembali dengan susah payah.
Ia mengenakan kemeja sutra hitam pekat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan pas, memberikan kesan otoritas sekaligus duka yang telah mengkristal menjadi kekuatan.
Rambutnya disanggul modern dengan rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang tanpa beban. Di sampingnya, pengacara senior yang ia sewa, seorang pria paruh baya dengan reputasi tanpa ampun, sedang merapikan berkas-berkas tuntutan.
Pintu samping ruang sidang terbuka. Suara gemerincing logam memecah keheningan yang kaku.
Indra melangkah masuk dengan tangan terborgol di depan, dikawal oleh dua petugas kepolisian berseragam cokelat. Wajah yang dulunya klimis dan penuh percaya diri itu kini tampak kuyu, dengan kantung mata yang menghitam dan kulit yang pucat karena terlalu lama mendekam di balik teruji besi.
Ia mengenakan kemeja putih yang tampak kebesaran, tanda bahwa berat badannya turun drastis selama masa penahanan kasus korupsi proyek infrastruktur yang menjeratnya.
Mata Indra langsung mencari sosok Gendis. Begitu ia melihat istrinya atau calon mantan istrinya, duduk di sana dengan keanggunan yang memukau, napasnya tercekat.
"Gendis..." bisik Indra pelan, suaranya parau.
Gendis tidak bergeming. Ia menatap lurus ke depan, ke arah meja majelis hakim yang masih kosong. Baginya, pria yang berjalan dengan tangan terbelenggu itu hanyalah sebuah entitas asing, sebuah kesalahan di masa lalu yang sedang dikoreksi oleh semesta.
Sidang dibuka oleh Ketua Majelis Hakim dengan ketukan palu yang bergema di ruangan yang luas itu. Agenda hari ini adalah pembacaan putusan akhir serta pembuktian tambahan terkait penggunaan harta bersama untuk tindak pidana perzinahan.
"Saudara Tergugat, Indra Wijaya," ujar Hakim Ketua sambil menatap tajam ke arah Indra.
"Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan Penggugat, termasuk mutasi rekening dan laporan audit internal perusahaan Anda, ditemukan bahwa sejumlah dana sangat fantastis telah dialirkan ke rekening pribadi saudari Cindyana. Dana tersebut terindikasi berasal dari hasil korupsi proyek sekaligus merupakan bagian dari harta bersama dengan Penggugat. Apakah Anda menyangkal hal ini?"
Indra menunduk. Bahunya bergetar. "Saya... saya mengakui kekhilafan saya, Yang Mulia. Saya tersesat."
"Tersesat?" Pengacara Gendis, Pak Bowo, berdiri dengan senyum sinis. "Yang Mulia, klien kami tidak menganggap ini sebagai 'tersesat'. Ini adalah pengkhianatan terstruktur. Saudara Indra tidak hanya mengkhianati janji suci pernikahan dengan seorang LC klub malam, tetapi juga menguras harta klien kami yang dulu bekerja keras sebagai seorang bankir untuk membiayai kemewahan gundiknya. Kami memohon agar seluruh aset yang tersisa dialihkan sepenuhnya kepada klien kami sebagai bentuk kompensasi kerugian materiil dan moril."
Indra tiba-tiba memutar tubuhnya ke arah Gendis.
"Dis, tolong, Dis. Lihat aku sebentar saja. Aku tahu aku salah. Aku hancur, Gendis. Di penjara, setiap malam aku hanya memikirkanmu. Cindy, dia meninggalkanku begitu polisi datang. Dia hanya mencintai uangku, Dis. Hanya kamu yang tulus."
Gendis tetap diam. Ia mengeluarkan botol kecil sampel parfum dari tasnya, menghirup aromanya sedikit untuk menenangkan sarafnya yang mulai menegang. Bau sandalwood dan black pepper itu membantunya tetap membumi.
"Gendis! Apa kamu sama sekali tidak punya rasa kasihan?" suara Indra meninggi, hampir menangis. "Bertahun-tahun kita bersama! Apa semuanya hilang begitu saja karena satu kesalahan?"
Gendis akhirnya menoleh. Bukan dengan kemarahan, tapi dengan tatapan kosong yang jauh lebih menyakitkan daripada makian.
"Satu kesalahan, Indra?" suara Gendis terdengar tenang namun tajam seperti silet.
"Satu kesalahan adalah ibarat ketika kamu lupa mematikan kompor. Apa yang kamu lakukan, tidur dengan wanita lain lalu kamu naik ke atas ranjang kita setelah memuaskan hasratmu dengan perempuan murahan itu, menggunakan uang bersama yang mana gabungan hasil jerih payahku juga untuk membelikannya tas mewah, dan mencuri uang negara untuk memuaskan egomu, itu bukan kesalahan. Itu adalah karakter."
"Aku khilaf, Dis! Aku tergoda!" seru Indra dengan air mata yang mulai mengalir deras di pipinya.
"Kamu tidak tergoda, Indra. Kamu memilih untuk pergi. Dan sekarang, setelah duniamu runtuh dan wanita itu lari, kamu kembali padaku seolah-olah aku adalah pelabuhan darurat? Maaf, pelabuhan ini sudah tutup selamanya."
Saat hakim mulai membacakan pertimbangan hukum yang panjang lebar, pikiran Gendis terbang ke masa lima tahun yang lalu. Ia teringat saat mereka berdiri di depan penghulu, mengucapkan janji untuk saling menjaga dalam suka maupun duka.
Saat itu, Indra adalah pria yang tampak begitu memuja dirinya. Mereka memulai semuanya dari nol, tinggal di apartemen kecil, makan sederhana di akhir bulan, dan bermimpi tentang masa depan yang cerah. Meski sebenarnya Gendis berasal dari keluarga yang terpandang, juga mantan seorang banker handal. Namun demi menjaga martabat suaminya, ia setuju meninggalkan kariernya yang cemerlang, mengatakan kepada keluarga besarnya bahwa Ia merelakan segala kemewahan untuk sepenuhnya mendukung Indra berjuang dari nol sampai Indra benar-benar meraih masa jaya di titik seratus.
Ada satu getaran di ulu hati Gendis. Bayangan tangan Indra yang dulu selalu menggenggamnya saat ia ketakutan, kini terbelenggu oleh logam dingin. Air mata hampir menyeruak di sudut mata Gendis, namun ia segera mengeras.
Ia teringat foto-foto mesra Indra dan Cindy di Bali yang dikirimkan oleh detektif swastanya, juga ketiak matanya menangkap langsung pemandangan menjijikkan di club malam dan tempat-tempat yang disinggahi Indra juga Cindy untuk bercinta. Ia teringat bagaimana Indra membentaknya karena menutupi perselingkuhannya.
Cinta itu sudah mati, Gendis. Jangan biarkan bangkainya meracunimu lagi, bisiknya dalam hati.
"Menimbang bahwa hubungan perkawinan antara Penggugat dan Tergugat sudah tidak dapat dipertahankan lagi akibat adanya perselisihan yang tajam, pengkhianatan komitmen, serta adanya fakta hukum mengenai perzinahan dan tindak pidana korupsi yang dilakukan Tergugat..."
Hakim Ketua menjeda kalimatnya, mengambil napas dalam. Seluruh ruangan seolah menahan napas. "Maka dengan ini, Majelis Hakim memutuskan, mengabulkan gugatan cerai Penggugat untuk seluruhnya. Menjatuhkan talak satu ba'in sughra Tergugat terhadap Penggugat. Memutuskan bahwa harta bersama berupa rumah, kendaraan, dan simpanan bank jatuh sepenuhnya kepada Penggugat sebagai hak kompensasi. Tergugat tetap diwajibkan menyelesaikan hukuman pidana sesuai dengan undang-undang yang berlaku."
Tok! Tok! Tok!
Bunyi palu itu seolah meruntuhkan beban seberat satu ton yang selama ini bertengger di pundak Gendis. Ia menarik napas panjang. Udara di ruang sidang itu tiba-tiba terasa lebih oksigenasi.
Indra merosot dari kursinya, jatuh berlutut di lantai dengan tangan terborgol yang menutupi wajahnya. Ia meraung pelan, sebuah tangisan penyesalan yang terlambat. Para petugas kepolisian segera memegangi bahunya untuk membantunya berdiri.
"Gendis! Jangan tinggalkan aku seperti ini! Gendis!" teriakan Indra menggema saat ia diseret keluar menuju mobil tahanan.
Gendis berdiri. Ia merapikan kemeja hitamnya, mengambil tasnya, dan menatap Pak Bowo.
"Terima kasih, Pak. Semuanya sudah selesai."
"Selamat, Bu Gendis. Anda adalah klien paling tegar yang pernah saya tangani," ujar sang pengacara dengan rasa hormat yang tulus.
Gendis melangkah keluar dari ruang sidang. Di luar, puluhan wartawan sudah menunggu dengan kamera yang menyala. Lampu flash menyambar-nyambar, namun Gendis tidak lagi merasa terganggu. Ia mengenakan kacamata hitamnya, menciptakan tameng antara dirinya dan dunia.
Di ujung koridor, Baskara berdiri bersandar pada pilar beton. Pria itu tidak mendekat, hanya memberikan senyum tipis dan anggukan kepala yang seolah berkata, Kamu sudah bebas.
Gendis berjalan melewati kerumunan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Saat ia sampai di pelataran pengadilan, ia berhenti sejenak, menatap langit Jakarta yang mendung. Ada setitik air mata yang akhirnya jatuh di balik kacamatanya. Bukan air mata untuk Indra, tapi air mata untuk Gendis muda yang pernah begitu polos dan percaya pada cinta sejati.
Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, dan memacu kendaraannya meninggalkan gedung pengadilan itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Baginya, bab tentang Indra sudah tertutup, disegel, dan dibuang ke dasar samudera terdalam.
Kini, yang ada hanyalah aroma masa depan yang sedang ia racik, aroma kemandirian, kesuksesan, dan mungkin, suatu hari nanti, aroma cinta yang tidak lagi melukai.