MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 10, Part 2 [GOF : DARAZ BOULDEROM]
Daraz menatapnya sekilas Meriel.
“Wakil Ketua OSIS.”
“Meriel Kosin.”
“Yang tidak benar-benar sama seperti ku.”
Meriel membeku.
Daraz kembali menatap Marva.
“Seperti biasa.”
“Kalian adalah titik hitam dibalik kesempurnaan ku.”
Marva menjawab datar. “Setiap orang punya kekurangan, tidak ada yang sempurna!”
Daraz lalu tertawa. “Hahahahahaha..... aku suka semangat dari siswa miskin seperti mu!”
Daraz lalu berjalan perlahan, mengitari mereka.
“Disini aku mendapatkan segalanya! Selama kalian bertarung di lantai lain…Aku membangun kerajaan ini, Kerajaan yang yang aku sukai.”
“Oh ya, tentu kalian suka Letusan Gunung berapi yang terakhir itu kan ???? Itu adalah salah satu karyaku,” Lantai bergetar ringan setiap Daraz berjalan.
“Aku dapat mengatur monster.”
“Aku dapat mengatur suhu.”
“Aku dapat mengatur gravitasi.”
“Dan Aku bisa terus bertarung tanpa harus mengisi Potion, tentu itu kenikmatan yang telah disediakan oleh Sang Menara! Bersukacita lah dan Berterima kasih lah pada Menara.”
Ia lalu berhenti tepat di depan Marva.
“Di dunia sebelumnya…”
“Orang sepertimu hanyalah SAMPAH!”
“Dan disini…”
“Sampah itu harus dihancurkan agar tidak mengotori kesempurnaan ku!”
Leo mulai panas. “Bos… dia meremehkan kita.”
Marva tetap tenang. “Setidaknya sampah seperti ku adalah Player Pertama yang berhasil menaiki menara sampai dilantai ini......!!!!!!”
Daraz terpancing.
“Tapi aku adalah Penguasa Mutlak di lantai ini........!!!!!!! Rasakan ini......!!!!!”
Notifikasi muncul.
[DOMAIN OF FLAME ACTIVATED]
Suhu naik drastis. Overheat tiba-tiba naik.
OVERHEAT: 0% → 25%
[Provocation Flame — Active]
Inactivity beyond 5 seconds will trigger Heat Surge
Satu persatu pasif dan skill Daraz aktif. Notifikasi muncul lagi.
“Pertarungan dimulai”
Kecepatan Daraz langsung meningkat dua kali lipat. Tiba-tiba dia sudah berada diatas dan menerjang mereka.
Dengan sigap Marva menahan tebasan pertama. Dentuman keras menggema di aula.
BBUUUSSSHHHHHHH .......!!!!
Overheat melonjak.
OVERHEAT: 25% → 35%
Daraz menyerang lagi.
Cepat.
Presisi.
Tanpa gerakan sia-sia.
“Semoga kau bisa menghiburku,” katanya sambil terus menyerang.
Meriel coba membantu dengan skill Slow Bind.
Tapi Daraz tidak bergeming. Skill Pilar api milik Daraz muncul tepat di depan Meriel dan memaksanya mundur.
“Intervensi harus terukur,” kata Daraz.
Attack speed-nya meningkat lagi.
Aura panas di sekelilingnya makin terang.
Domain Flame — Stack 2
Attack Speed +15%
Leo berbicara lebih keras sekarang. “Bos, dia semakin cepat.”
“Aku tahu.”
Daraz mendorong Marva mundur dengan skill ledakan api miliknya. Ia mengangkat tangan dan seluruh ruangan bergetar.
“Semakin tinggi suhu arena…”
“Semakin tinggi kekuatanku.”
Overheat Marva naik otomatis.
OVERHEAT: 35% → 47%
Daraz menatapnya lurus.
“Api tidak hanya membakar.”
“Tapi api sejati akan menghanguskan.”
Ia menunjuk Marva dengan pedangnya.
“Sampah seperti mu harus dihanguskan hingga tak tersisa.”
Leo mulai terdengar tidak sabar. “Bos, ini bukan saatnya menahan diri.”
Marva terus mengatur napasnya dan fokus menahan serangan.
“Jika di sekolah, Anomali seperti mu diterima.”
“Maka di sini, tidak ada tempat bagi sampah seperti mu!.”
Ia mengangkat pedangnya. Api di sekeliling arena naik lebih tinggi.
Provocation Flame aktif penuh.
Meriel menggertakkan gigi. “Tubuhku bergerak sendiri untuk menyerang.........”
Meriel kini berdiri, tepat diharapan Daraz. Dengan satu serangan, Meriel dibuat terpental jauh lalu tumbang.
Daraz percaya—Bahwa dunia akan lebih baik, jika semua sesuai dengan ukurannya.
FLASHBACK:
Saat Daras Boulderom berada Di Rex International School Dua tahun lalu. REX International School adalah sekolah paling bergengsi di kota Bernabeu.
Daraz Boulderom berjalan melewati lorong sekolah dengan langkah penuh percaya diri.
Setiap siswa yang berpapasan menunduk, ada juga menyapanya hormat. Dia adalah Ketua OSIS, Putra Tunggal keluarga Boulderom—pengusaha properti terbesar di wilayah itu, orang Terkaya nomer Satu.
Seragamnya selalu rapi, tidak pernah ada setitik debu. Rambutnya tersisir sempurna. Wajahnya gagah dan kulitnya putih bersih. Dia juga pintar secara akademik maupun praktik. Sepatu kulitnya mengilap, memantulkan cahaya lampu lorong.
Dia adalah definisi "Kesempurnaan" di mata para guru dan siswa.
Tapi hari itu, matanya menangkap sesuatu yang
mengganggu.
Di sudut lorong, duduk seorang siswa dengan seragam lusuh. Bajunya agak kekecilan, warna celana nya sudah pudar. Dialah Marva Ravara, siswa yang sangat menganggu pandangan nya.
Daraz mengerutkan kening. "Siapa orang itu? Sudah merusak keindahan sekolah ini!"
"Siswa baru itu dari program beasiswa sekolah, Tuan Muda," bisik asistennya.
Daraz langsung menandai anak itu. Dia lalu berjalan melewati Marva tanpa menoleh. Tapi dalam hatinya, sesuatu telah mengganjal. "Seperti noda di kanvas putih. Tidak seharusnya dia berada di sini," gumamnya sambil menutup hidung saat melewati Marva.
SAAT INI :
Hidup Baru Sebagai GUARDIAN.
Saat Menara menarik semua nya ke dalam dunia ini, Daraz awalnya bingung—sama seperti yang lain. Tapi ketika sistem menawarkan pilihan menjadi Guardian of Floor, dia mencari tahu lalu sistem menara memberikan deskripsi lengkap tiap Role dan tidak ragu memilih GOF.
"Apakah kamu bersedia menjadi Penjaga Lantai? Kamu akan terikat pada satu lantai selamanya. Tidak bisa naik, tidak bisa turun. Tapi kamu akan memiliki kontrol penuh atas lantai itu."
Daraz tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia merasa ditawari sesuatu yang sesuai dengan Visi nya yaitu Kesempurnaan Total, Kotrol Penuh.
"Aku terima."
Sistem lalu mengajari semua hal yang perlu diketahui oleh Daraz, mulai dari : Cara mengendalikan monster di lantai, Cara membentuk lantai (lava, batu, struktur), Cara meningkatkan level monster untuk farming, Cara menciptakan "tantangan" untuk player, Cara mengaktifkan kekuatan penuh sebagai Guardian.
Daras belajar dengan cepat. Hanya dalam hitungan minggu, dia sudah menguasai Lantai 10 sepenuhnya. Setelah menciptakan Dunia yang ideal menurutnya, Dunia baru pun, kini terlahir.
Dia bisa mengatur segala sesuatu sesuai keinginannya.
"Di sini... tidak ada yang kekacauan. Semua pada tempatnya dan sempurna."
Daraz juga bisa farming tanpa batas—memunculkan monster, mengalahkannya, naik level, lalu mengulanginya lagi.
Levelnya melesat.
Dari 10... 20... 30... 40... 50... hingga sekarang 65.
Saat Marva dan Meriel memasuki Lantai 9, Daraz sudah tahu. Sebagai Guardian, dia bisa merasakan setiap makhluk yang masuk ke wilayah kekuasaannya.
"Akhirnya... ada yang datang."
Dia mengamati mereka dari jauh. Marva—siswa miskin yang dulu menjadi noda di sekolahnya. Meriel—wakil ketua OSIS, hanya orang kaya nanggung.
"Mereka bertahan lebih lama dari yang kuduga."
Dia melihat Marva bertarung melawan Ash Behemoth. Melihat Meriel menggunakan Aquarius. Melihat mereka berlari dari erupsi.
Dan dia tersenyum.
"Tunjukkan padaku seberapa kuat kalian. Aku sudah bosan dengan monster-monster ini. Aku ingin... lawan yang sesungguhnya."
[DI DEPAN KASTIL]
Marva dan Meriel akhirnya sampai di depan pintu
utama kastil. Notifikasi muncul, tanda ada Player yang bersiap masuk kedalam kastil nya.
"Akhirnya, sampah itu datang! Akan ku lenyapkan dia untuk selamanya. Hahahahahaha......"
[BERSAMBUNG]