Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Leviathan Penelan Langit dan Jantung Laut Utara
Gelombang energi hitam berbentuk naga yang dilepaskan Ye Chen menyapu permukaan es dengan kekuatan mutlak. Ribuan prajurit iblis yang berada di jalurnya tidak sempat berteriak; tubuh mereka hancur menjadi kabut darah yang langsung membeku menjadi kristal merah di udara.
Bing Sha (Jenderal Iblis Es) melompat mundur, wajahnya pucat pasi. Tombak es di tangannya retak hanya karena menahan sisa gelombang kejut dari tebasan itu.
"Kekuatan fisik macam apa ini?!" Bing Sha berteriak. "Kau hanya Spirit Severing Tingkat 2! Bagaimana kau bisa menghancurkan formasi ribuan orang?"
Ye Chen berjalan di atas tumpukan mayat, pedang hitamnya menyeret di es, menciptakan parit panjang yang berasap.
"Tingkatan hanyalah angka bagi yang lemah," jawab Ye Chen dingin. "Bagi yang kuat, itu hanyalah batasan untuk dihancurkan."
"Sombong! Ini wilayahku!"
Bing Sha menghentakkan kakinya.
Domain Spirit Severing: Neraka Cermin Es!
Ratusan cermin es raksasa muncul dari tanah, mengelilingi Ye Chen. Bayangan Bing Sha terpantul di setiap cermin, membingungkan mata dan indra spiritual.
"Mati kau di dalam labirin ini!"
Ratusan bayangan Bing Sha melompat keluar dari cermin, menusukkan tombak es secara bersamaan dari segala arah.
Ye Chen berdiri diam. Dia tidak melihat ke arah cermin. Dia menutup matanya.
Sutra Jantung Cermin Hantu: Refleksi Sejati.
"Kau bermain cermin di depanku?"
Ye Chen membuka matanya. Pupil naganya bersinar emas.
Dia tidak menyerang bayangan. Dia berputar, lalu menusukkan Pedang Naga Langit ke arah satu cermin di belakang punggungnya—cermin yang terlihat paling tidak berbahaya.
Teknik Pedang Asura: Tusukan Titik Buta!
PRANG!
Cermin itu pecah.
Di balik pecahan kaca itu, Bing Sha yang asli terbatuk darah. Pedang Ye Chen menembus bahu kirinya, memaku tubuhnya ke dinding es di belakang cermin.
"Bagaimana... kau tahu?" Bing Sha menatap Ye Chen dengan horor.
"Niat membunuhmu terlalu bau," kata Ye Chen.
Ye Chen mencabut pedangnya. Bing Sha jatuh berlutut.
Ye Chen mengangkat pedangnya untuk mengakhiri nyawa Jenderal Iblis itu. Namun, sebelum pedangnya turun, seluruh lapisan es di Lautan Gletser Utara berguncang hebat.
DUM... DUM... DUM...
Bukan gempa bumi. Ini adalah detak jantung.
Detak jantung sesuatu yang ukurannya melampaui nalar.
KRAK! KRAAAK!
Lantai es tempat mereka berpijak—yang tebalnya ratusan meter—retak terbelah dua. Celah raksasa menganga, memperlihatkan kegelapan laut dalam di bawahnya.
"Dia bangun..." wajah Bing Sha berubah dari takut menjadi putus asa total. "Kita membangunkannya! Leviathan!"
Dari dalam celah raksasa itu, air laut menyembur ke langit setinggi gunung.
Dan bersamanya, naiklah sesosok makhluk purba.
Bentuknya menyerupai paus, tetapi bersisik biru metalik, memiliki sirip yang tajam seperti pedang, dan mulut yang dipenuhi ribuan gigi berputar. Ukurannya? Sebesar sebuah pulau kecil.
Leviathan Es Purba (Ancient Ice Leviathan).
Tingkat Kekuatan: Setengah Langkah Mahayana (Half-Step Great Vehicle)!
Makhluk ini adalah raja lautan utara yang sebenarnya. Bahkan Sekte Naga Es tidak berani mengusiknya.
"ROAAAAARRRR!"
Leviathan meraung. Suaranya bukan gelombang suara biasa, melainkan gelombang kejut fisik yang menghancurkan sisa-sisa pasukan iblis yang masih hidup. Kapal perang iblis di kejauhan terbalik dan hancur.
Ye Chen menancapkan pedangnya ke es untuk menahan diri agar tidak terlempar.
"Besar sekali," gumam Ye Chen. "Dan... aku merasakan aura Kunci Bulan di dalam tubuhnya."
Ternyata Inti Roh Bulan bukan dijaga oleh Leviathan, tapi telah ditelan olehnya dan menjadi bagian dari sumber tenaganya.
Bing Sha, yang terluka parah, mencoba merangkak pergi. Tapi Leviathan itu melihat gerakan kecil di atas es.
Bagi Leviathan, mereka semua hanyalah semut yang mengganggu tidurnya.
Leviathan membuka mulutnya.
Vortex Laut Utara!
Daya hisap yang mengerikan muncul dari mulut raksasa itu. Air laut, bongkahan es, bangkai iblis, dan udara di sekitarnya tersedot masuk.
"TIDAK!" Bing Sha menjerit saat tubuhnya terangkat, tersedot ke dalam mulut monster itu. Dia hilang ditelan kegelapan.
Ye Chen juga merasakan tarikan itu. Kakinya terseret.
Lilith, yang bersembunyi di balik bukit es yang jauh, berteriak melalui transmisi suara. "Tuan! Lari! Kita tidak bisa melawan makhluk itu!"
Ye Chen menatap mulut Leviathan yang menganga seperti gerbang neraka.
Dia melihat cahaya perak samar berdenyut jauh di dalam kerongkongan monster itu.
"Kuncinya ada di dalam," kata Ye Chen.
"Lari? Tidak."
Ye Chen melakukan hal yang gila.
Dia melepaskan pegangannya pada es. Dia membiarkan tubuhnya tersedot.
"Tuan Ye Chen?!" Lilith histeris.
Ye Chen melayang di udara, ditarik menuju mulut Leviathan.
Dia tidak panik. Dia tenang. Dia menyarungkan Pedang Naga Langit ke dalam Sarung Naga Putih di pinggangnya.
Dia mengumpulkan seluruh Qi-nya. Api Ungu, Petir Biru, Aura Asura. Semuanya dipadatkan ke dalam sarung pedang itu.
"Jika aku tidak bisa mengalahkannya dari luar... aku akan menghancurkannya dari dalam."
WOOSH!
Ye Chen masuk ke dalam mulut Leviathan.
Rahang raksasa itu tertutup.
BAM!
Kegelapan total.
Ye Chen meluncur turun melalui kerongkongan yang licin dan berlendir, bersama ton-ton air laut dan puing-puing es. Bau asam lambung yang korosif menusuk hidung.
Dia mendarat di dalam perut Leviathan. Ini seperti berada di dalam gua daging yang basah dan berguncang. Asam lambung di sini sangat kuat, mampu melelehkan Batu Dewa sekalipun.
"Perisai Api!"
Ye Chen membakar Api Inti Bumi Ungu di sekeliling tubuhnya untuk menahan asam itu.
Dia melihat sekeliling. Di tengah lautan asam lambung itu, mengapung sebuah bola kristal perak seukuran rumah.
Itu adalah organ tambahan yang terbentuk di sekitar Inti Roh Bulan. Leviathan menggunakan energi bulan itu untuk memperkuat tubuhnya.
"Ketemu."
Ye Chen melompat, mendarat di atas organ kristal itu.
Tapi Leviathan merasakan ada sesuatu yang hidup di dalam perutnya. Dinding-dinding daging di sekitar Ye Chen mulai bergerak, mencoba meremasnya.
"Kau ingin mencernaku?"
Ye Chen memegang gagang pedangnya. Sarung putih di pinggangnya bergetar hebat, menahan energi ledakan yang sudah dia kumpulkan sejak di luar.
"Maaf, aku makanan yang keras."
Ye Chen mengambil kuda-kuda.
Teknik Pedang Asura: Iaido (Cabut Kilat) - Pemusnah Organ!
Ye Chen mencabut pedangnya.
SHIIIIING!
Bukan tebasan biasa. Ini adalah ledakan energi 360 derajat yang dilepaskan dalam ruang tertutup.
Cahaya hitam dan ungu meledak di dalam perut Leviathan.
Di luar, Leviathan yang sedang menyelam kembali ke laut tiba-tiba berhenti. Matanya melotot.
Perutnya... menggembung.
Cahaya ungu menembus kulit dan sisik tebalnya dari dalam.
BOOOOOOOOM!
Perut Leviathan meledak.
Darah biru, daging, dan organ dalam berhamburan ke laut, mewarnai Samudra Gletser menjadi ungu kotor.
Dari dalam ledakan daging itu, sesosok manusia melesat keluar, memegang sebuah bola cahaya perak di tangan kirinya.
Ye Chen.
Dia berlumuran darah monster, tapi matanya bersinar penuh kemenangan.
Di tangan kirinya, Inti Roh Bulan bersinar dingin.
Ye Chen mendarat di atas bongkahan es yang mengapung. Dia mengambil Kunci Bulan (Fisik) dari cincinnya dan menyatukannya dengan Inti Roh Bulan.
KLIK!
Kunci Bulan bersinar sempurna.
Empat Kunci sudah di tangan (Pedang, Jangkar, Matahari, Bulan). Plus Kunci Bintang.
Semua syarat telah terpenuhi.
Ye Chen mengangkat wajahnya ke langit.
"Selesai. Sekarang tinggal satu hal lagi."
"Kembali ke Menara Babel Sejati... dan membuka Gerbang Alam Dewa."
Tapi saat dia melihat ke arah selatan, dia melihat langit di sana... Retak.
Bukan retakan dimensi biasa. Langit di atas Benua Tengah sedang runtuh.
Aura hitam pekat—jauh lebih jahat dari Mo Luo—sedang merembes masuk.
Invasi Iblis Skala Penuh.
"Sepertinya aku tidak punya waktu untuk istirahat," Ye Chen menyeka darah di wajahnya.
Dia menjemput Lilith yang masih bersembunyi.
"Ayo pergi. Perang terakhir sudah dimulai tanpa kita."
Ye Chen dan Lilith melesat kembali ke selatan, menuju pusat kiamat.
(Akhir Bab 20)