NovelToon NovelToon
Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.

Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.

Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Harga Sebuah Kebenaran

Mereka menghabiskan sisa pagi dengan menjelajahi berbagai sudut kota.

Yue Lian membawa Lin Feng ke distrik senjata, tempat para pandai besi menempa dan menjual beragam persenjataan, mulai dari senjata tingkat biasa hingga artefak spiritual. Lin Feng sempat terpikat oleh beberapa pedang, namun begitu melihat harganya, ia hanya bisa menghela napas pelan. Kantongnya terlalu tipis untuk membeli salah satunya..

Berikutnya adalah distrik ramuan yang menjual pil penyembuhan, pil kultivasi, serta aneka ramuan langka.

Dan akhirnya, untuk yang terakhir ke distrik informasi.

Wilayah ini terasa berbeda sejak langkah pertama. Lebih sepi dan lebih gelap. Bangunan berdiri rapat, jendela-jendela tertutup rapat, dan orang-orang berbicara dengan suara rendah, lebih sering berbisik daripada berbicara secara terbuka.

“Ini bagian kota yang kurang resmi,” jelas Yue Lian sambil menurunkan suaranya. “Tempat orang membeli informasi, menyewa pembunuh bayaran, atau melakukan transaksi yang tidak ingin diketahui siapa pun.”

“Berbahaya?” tanya Lin Feng.

“Bisa,” jawab Yue Lian jujur. “Tapi juga sangat berguna, kalau kau tahu ke mana harus pergi dan bagaimana bertanya.”

Mereka berhenti di depan sebuah kedai teh kecil yang tampak biasa dari luar. Namun Lin Feng segera merasakan sesuatu yang berbeda. Ada formasi tersembunyi yang menyelimuti bangunan itu, formasi penghalang suara yang mencegah suara dari dalam bocor keluar.

“Ini, Kedai Teh Bayangan Bulan. Tempat terbaik untuk mendapatkan informasi di kota ini." kata Yue Lian pelan.

"Pemiliknya adalah Madam Shen, ia hampir tahu segalanya tentang semua orang. Tapi tentu saja… informasi tidak pernah murah.”

“berapa harganya?” tanya Lin Feng.

“Tergantung,” jawab Yue Lian. “Rumor biasa bisa dihargai sepuluh batu roh. Rahasia besar? Mungkin bisa ratusan.”

Lin Feng menimbang-nimbang. Ia hanya memiliki lima batu roh. Jauh dari cukup untuk informasi yang benar-benar ia butuhkan.

“Mari masuk dulu,” ujar Yue Lian. “Setidaknya kita bisa minum teh dan mengamati.”

Bagian dalam kedai sangat tenang dan dipenuhi asap tipis. Beberapa meja kecil tersebar di ruangan sempit itu, kebanyakan ditempati oleh individu yang duduk sendirian atau berpasangan, berbicara dengan nada serius. Tidak ada yang melirik ketika Lin Feng dan Yue Lian masuk, setiap orang tenggelam dalam urusan mereka masing masing.

Di balik meja di kejauhan, seorang wanita paruh baya berdiri dengan tenang. Rambut hitamnya diikat rapi, dan matanya tajam seperti mata elang. Tangannya bergerak anggun saat menyeduh teh.

Tanpa perlu diperkenalkan, Lin Feng tahu bahwa itulah Madam Shen.

“Selamat datang di Kedai Teh Bayangan Bulan,” ucapnya dengan suara lembut, namun mengandung wibawa yang sulit diabaikan. “Apa yang bisa saya bantu?”

“Dua cangkir teh melati,” kata Yue Lian sambil melangkah maju. Madam Shen menuangkan teh dengan gerakan yang terlatih dan elegan, lalu meletakkan dua cangkir teh di meja.

“Lima batu roh.”

Lima batu roh… hanya untuk teh?

Lin Feng hampir tersedak. Namun Yue Lian menyerahkan batu-batu roh itu tanpa ragu sedikit pun.

Mereka duduk di meja sudut.

Tehnya… luar biasa.

Aroma bunga melati menenangkan, rasanya halus dan tidak pahit. Lin Feng bahkan bisa merasakan sedikit qi spiritual di dalamnya tidak cukup untuk kultivasi, namun cukup untuk menyegarkan tubuh dan pikiran.

“Jadi, informasi apa yang kau cari?” bisik Yue Lian sambil menyeruput teh.

Lin Feng terdiam sejenak, menimbang kata-katanya.

“Klan Langit Biru,” katanya akhirnya. “Struktur mereka. Pemimpinnya. Dan apa tujuan mereka di wilayah ini.”

Alis Yue Lian seketika berkerut. “Kenapa kau tertarik pada mereka?”

“Karena mereka yang menyerangmu,” jawab Lin Feng tenang, alasan yang tidak sepenuhnya salah. “Dan aku tidak suka membiarkan musuh tanpa tahu siapa mereka.”

Yue Lian menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan. “Masuk akal.”

Ia melirik ke arah meja, tempat Madam Shen sedang melayani pelanggan lain. “Tapi informasi tentang klan besar tidak murah. Mungkin kita perlu...”

“Maaf mengganggu.”

Mereka berdua seketika menoleh.

Seorang pria tua berdiri di samping meja mereka. Jubahnya lusuh, topi lebarnya menutupi sebagian wajahnya. Auranya samar samar dan sulit ditangkap.

“Ya?” tanya Yue Lian waspada.

“Aku mendengar kalian bertanya tentang Klan Langit Biru,” kata pria itu dengan suara serak. “Kebetulan, aku memiliki informasi tentang mereka. Dan aku bersedia membaginya… Tapi dengan harga yang pantas.”

Lin Feng dan Yue Lian saling bertukar pandang.

“Siapa kau?” tanya Lin Feng.

“Namaku tidak penting,” jawab pria itu. “Yang penting, aku tahu sesuatu yang ingin kalian ketahui. Klan Langit Biru tidak hanya mencari gulungan. Mereka sedang memburu seseorang.”

Tubuh Lin Feng seketika menegang. “Orang seperti apa?”

“Seseorang dengan qi yang tidak normal. Seseorang yang mampu mengendalikan lebih dari satu elemen.” Tatapan pria itu menancap lurus ke mata Lin Feng. Untuk sesaat, Lin Feng merasa seolah jiwanya sedang diterawang. “kayaknya seseorang sepertimu.”

Detak jantung Lin Feng berdentum keras di telinganya. Yue Lian tampak bingung, jelas ia tidak mengerti apa yang dimaksud pria tua itu.

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” kata Lin Feng hati-hati.

“Tentu saja,” pria itu tersenyum tipis—senyum yang dingin tanpa kehangatan.

“Tapi jika kau ingin tahu lebih banyak dan tentang apa yang sebenarnya dicari Klan Langit Biru, tentang siapa yang berdiri di balik mereka, tentang rahasia yang terkubur ribuan tahun, datanglah ke Gudang Tua di Dermaga Tiga malam ini. Tapi.... Sendirian.”

“Dan jika aku tidak datang?” tanya Lin Feng.

“Maka kau akan kehilangan kesempatan untuk mengetahui kebenaran tentang keluargamu.”

Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan pergi, menghilang begitu saja dari kedai.

Lin Feng duduk terpaku. Pikirannya berputar dengan dengan cepat.

Keluargaku… Dia tahu tentang keluargaku.

“Lin Feng?” suara Yue Lian menariknya kembali. “Apa maksudnya soal keluargamu?”

“Aku tidak tahu,” jawab Lin Feng dengan jujur. “Tapi aku harus mencari tahu.”

“Ini bisa saja jebakan,” ujar Yue Lian serius. “Gudang tua, malam hari, sendirian? Itu terlalu biasa untuk sebuah penyergapan.”

“Aku tahu,” kata Lin Feng pelan. “Tapi kalau ada peluang, sekecil apa pun untuk mengetahui siapa yang membunuh keluargaku, aku tidak bisa mengabaikannya.”

Yue Lian menatapnya dengan cemas. “Setidaknya ajak aku atau Zhou Ming. untuk berjaga-jaga.”

“Dia bilang sendirian.”

“Dan kau percaya dia?”

Lin Feng terdiam. Tidak, ia tidak percaya pria misterius itu. Namun ia juga tidak punya pilihan lain.

“Aku akan berhati-hati,” katanya akhirnya. “Jika aku tidak kembali dua jam setelah pergi, datanglah ke Dermaga Tiga dengan bantuan.”

Yue Lian tampak tidak puas, namun akhirnya mengangguk. “Baik. Dua jam. Setelah itu aku akan datang dengan kelompok ku.”

“Sepakat.”

Mereka menghabiskan teh dalam keheningan yang menyesakkan, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Dan Lin Feng bertanya-tanya, Apakah ini informasi yang selama ini ia tunggu? Atau justru langkah pertamanya menuju sebuah perangkap? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.

1
Green Boy
lanjut lagi thor
Green Boy
semangat thor💪💪💪
Green Boy
semangat thor💪💪💪💪
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
Arinto Ario Triharyanto
Yoi, MC terlalu naif, kyknya kalahan ini mah kalo tarung, apalagi sama cewek, Cemen 😄
rozali rozali
lanjut thor.
💪💪💪💪
Muh Nasrun
Thor, kenapa harus mencuri pil hanya utk meningkatkan kultivasinya, ini ga benar, kalaupun bisa tambah kuat tapi dgn cara yg tdk benar.
Arinto Ario Triharyanto
kebanyakan mikir lu Feng 🤣
Celestial Quill: masih belum pede dengan kekuatannya.😄
total 1 replies
Muh Nasrun
Tingkatan ke 3 tetapi bisa bertarung dgn level 8, apa2an ini, terlalu sekali, lebih baij tdk perlu ada level thor, tdk berguna level,kalau di cerita silat yg lainnya itu spt semut ketemu gajah, terlalu jauh rananya.
Celestial Quill: saya luruskan sedikit ya, Zhao Ming yang Lapisan Ketiga kenapa bisa bertarung dengan lapisan keenam atau Kedelapan bukan karena Lapisannya, melainkan karena teknik tempur nya kuat, tetapi ia tidak bisa bertarung dengan lama melawan lapisan yang lebih tinggi, karen Qi yang di milikinya terbatas berbeda dengan Lapisan yang lebih tinggi.🙏
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
bagus, lanjutkan
Celestial Quill: Siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!