Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandangan Jeno yang Lebih Penuh Arti
Malam itu, ruang makan penthouse terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu kristal yang menggantung di atas meja marmer panjang memantulkan cahaya kuning keemasan, menciptakan suasana yang intim sekaligus mewah. Aroma masakan steak wagyu dan truffle pasta yang disiapkan koki pribadi Arka memenuhi udara, memancing selera siapa pun yang menghirupnya.
Lana keluar dari kamarnya dengan langkah yang sedikit tertahan. Mengikuti saran—atau lebih tepatnya perintah halus—dari Kenzo sore tadi, ia menanggalkan sweter kebesarannya. Ia kini mengenakan dress selutut berwarna krem dengan potongan minimalis namun elegan. Sesuai "resep" Bumi, ia memulas wajahnya dengan bedak tabur tipis dan pelembap bibir yang membuat wajahnya tampak segar dan bercahaya di bawah lampu ruang makan.
Satu per satu, para pria elit itu mulai berkumpul. Arka masuk dengan wajah seriusnya yang biasa, namun matanya sempat melirik Lana dengan kilatan apresiasi yang singkat namun tajam. Rian masuk sambil mengangguk sopan, tersenyum tipis melihat Lana yang tampak lebih bersemangat.
Lalu, masuklah Jeno.
Pemuda jenius IT itu tampil dengan gaya khasnya: hoodie hitam oversize dengan headphone nirkabel yang masih melingkar di lehernya. Matanya tampak sedikit merah, tanda bahwa ia baru saja menyelesaikan maraton coding atau gaming selama berjam-jam tanpa henti. Biasanya, Jeno akan langsung menarik kursi, duduk, dan segera meraih ponselnya untuk melanjutkan kegiatannya bahkan saat makan malam dimulai. Baginya, dunia digital jauh lebih menarik daripada realitas di depannya.
Namun, malam ini berbeda.
Saat Jeno hendak menarik kursinya yang berada tepat di seberang Lana, gerakannya membeku. Tangannya yang memegang sandaran kursi berhenti di udara. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang masih menyala di telapak tangannya.
Mata Jeno yang biasanya redup karena kelelahan menatap monitor, tiba-tiba membelalak. Ia menatap Lana tanpa berkedip. Pandangannya tidak seperti Kenzo yang menilai secara profesional, atau Bumi yang melihat secara medis. Pandangan Jeno adalah pandangan seorang pemuda yang baru saja melihat sesuatu yang benar-benar nyata untuk pertama kalinya.
"Eh..." Jeno bergumam pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Lana merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. "Selamat malam, Kak Jeno. Baru selesai main game?"
Jeno tidak langsung menjawab. Ia menarik kursinya dan duduk, namun matanya tetap tertuju pada wajah Lana. Ia memperhatikan bagaimana cahaya lampu kristal memantul di kulit Lana yang halus karena bedak tipis itu. Ia melihat bibir Lana yang merona lembut, dan bagaimana rambut hitam Lana jatuh dengan sempurna di bahunya yang kini tampak lebih tegak.
"Gila..." bisik Jeno lagi, kali ini cukup keras hingga didengar oleh yang lain.
"Kenapa, Jen? Lo kayak baru liat glitch di sistem lo aja," goda Kenzo sambil tertawa kecil, menikmati reaksi adik bungsunya itu.
Jeno akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja—sebuah pemandangan langka. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Lana dengan intensitas yang berbeda. Ada sesuatu yang berubah di kedalaman matanya. Jika biasanya ia memandang Lana sebagai "anak baru" yang harus dilindungi karena suruhan Arka, kini ia memandang Lana sebagai seorang wanita.
"Lan... lo beneran Lana yang kemarin nangis di pojokan?" tanya Jeno, suaranya kini lebih jernih. "Maksud gue... lo kelihatan... high definition. Gak asik banget kalau lo dari awal udah kayak gini tapi gue nggak sadar."
Lana tersipu, menundukkan kepalanya sedikit. "Lana cuma coba dandan sedikit, Kak Jeno. Kak Bumi sama Kak Kenzo yang bantu."
"Bukan cuma dandan, Lan," sela Jeno. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang jarang sekali ia tunjukkan. Bukan senyuman mengejek atau senyuman kemenangan saat menang game, tapi senyuman yang penuh arti dan tulus. "Ada sesuatu yang... upgraded dari aura lo. Lo kelihatan lebih berani. Dan jujur, itu bikin lo kelihatan berkali-kali lipat lebih menarik."
Lana merasakan pipinya panas. Ia belum terbiasa dengan perhatian yang seintens ini dari Jeno. Jeno biasanya adalah orang yang paling cuek, paling sibuk dengan dunianya sendiri. Namun malam ini, Jeno benar-benar "hadir" di meja makan itu hanya untuknya.
"Gak asik kalau lo nunduk terus, Lan. Muka bagus gitu jangan disembunyiin," lanjut Jeno, suaranya kini terdengar sedikit lebih lembut, hampir merayu tanpa ia sadari.
Selama makan malam berlangsung, Jeno benar-benar melupakan ponselnya. Ia terus-menerus mengajak Lana mengobrol, menanyakan tentang pengalamannya di kampus, hingga bercerita tentang teknologi terbaru yang sedang ia kembangkan. Setiap kali Lana tertawa, Jeno akan ikut tersenyum dan menatapnya dengan pandangan yang membuat Lana merasa seolah-olah ia adalah satu-satunya orang di ruangan itu.
Pandangan Jeno terasa lebih penuh arti karena kesederhanaannya. Ia tidak menggunakan kata-kata puitis seperti Kenzo atau penjelasan logis seperti Bumi. Ia hanya menatap Lana dengan kejujuran seorang pemuda yang sedang terpesona. Bagi Jeno, Lana kini bukan lagi sekadar "tugas" dari kakaknya, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pelajari lebih dalam.
"Lan," panggil Jeno saat mereka sedang menikmati hidangan penutup berupa lava cake.
"Iya, Kak?"
"Besok-besok, kalau lo mau ke kampus dan butuh temen buat dengerin musik atau cuma pengen ngerasa lebih aman, bilang gue. Gue bisa kasih akses ke sistem keamanan kampus lewat laptop gue. Gue bakal pastiin nggak ada yang berani ganggu lo lagi," ucap Jeno sambil mengedipkan matanya.
Lana terharu. Ia menyadari bahwa perhatian Jeno adalah bentuk perlindungan yang berbeda. Jeno melindunginya dengan kecerdasannya, dengan dunianya. Dan pandangan Jeno yang penuh arti malam itu memberikan lapisan kepercayaan diri baru bagi Lana. Ia merasa benar-benar "dilihat".
"Terima kasih, Kak Jeno. Lana seneng banget kalau Kakak mau bantu," jawab Lana tulus.
Di sisi meja yang lain, Arka, Bumi, dan Kenzo saling bertukar pandang. Mereka semua menyadari perubahan pada Jeno. Mereka tahu bahwa Lana telah berhasil melakukan sesuatu yang bahkan sulit dilakukan oleh mereka: menarik perhatian penuh seorang Jeno dari layar monitornya.
Malam itu berakhir dengan suasana yang sangat akrab. Saat Lana kembali ke kamarnya, ia merasa hatinya dipenuhi oleh binar kebahagiaan. Pandangan Jeno yang penuh arti itu terus terbayang di benaknya, memberikan rasa nyaman yang hangat. Ia menyadari bahwa perubahannya bukan hanya tentang bagaimana ia memandang cermin, tapi tentang bagaimana dunia—dan para pria di sekelilingnya—mulai memandangnya dengan cara yang sama sekali baru.
Lana menutup matanya malam itu dengan senyuman. Ia merasa seperti sebuah karakter dalam game Jeno yang baru saja naik level. Dan ia siap untuk menghadapi apa pun yang ada di level selanjutnya, karena ia tahu, ia memiliki dukungan yang luar biasa di belakangnya.