NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Duel pedang

Fajar menyingsing di hari ketiga, namun suasana di depan kediaman keluarga Han tidaklah tenang.

Udara pagi yang segar mendadak terasa berat dan tajam, seolah-olah ribuan mata pisau yang tak terlihat sedang mengiris atmosfer.

Di ujung jalan, sesosok pria paruh baya dengan jubah hitam bersulam benang perak melangkah maju. Ia membawa sebuah pedang panjang yang sarungnya terbuat dari kulit naga bumi.

​Ia adalah Master Mo, pemimpin tertinggi Sekte Pedang Hitam.

Tidak seperti anak buahnya yang gegabah, matanya menunjukkan ketajaman seorang veteran yang telah melewati ratusan pertarungan.

Ia berhenti tepat di depan gerbang kayu keluarga Han, menatap Tian Shan yang masih duduk tenang di bawah pohon sakura.

​"Aku telah kehilangan banyak orang dalam beberapa hari ini," suara Master Mo berat dan berwibawa. "Dan melihat bagaimana kau mengendalikan gravitasi di area ini, aku sadar bahwa menyerbu tempat ini hanya akan menjadi bunuh diri bagi murid-muridku."

​Tian Shan membuka matanya. Pupil emasnya berkilat redup. "Keputusan yang bijak. Kehancuran bukanlah sesuatu yang sulit untuk kuberikan jika kau memintanya."

​Master Mo terdiam sejenak, lalu ia menghunus pedangnya perlahan.

Bunyi logam yang bergesekan terdengar nyaring dan jernih. "Sebagai seorang pendekar pedang, aku tidak bisa mundur begitu saja tanpa menguji kemampuanku. Aku tidak ingin perang. Aku ingin sebuah duel. Jika kau menang, Sekte Pedang Hitam akan menghapus semua hutang keluarga Han dan tidak akan pernah mengusik mereka lagi. Selamanya."

​Tian Shan berdiri. Ia tidak mengambil kecapinya. Ia justru mematahkan sebilah ranting pohon sakura yang sudah kering di sampingnya. "Duel pedang? Baiklah. Namun, aku tidak butuh logam untuk menghadapimu."

​Murid-murid sekte yang bersembunyi di atap-atap sekitar menahan napas. Master Mo adalah pendekar ranah ketiga puncak yang teknik pedangnya dikenal paling cepat di Kota Awan Biru.

​SYUT!

​Master Mo melesat. Gerakannya meninggalkan bayangan hitam. Pedangnya menebas secara vertikal, menciptakan gelombang energi hitam yang membelah jalanan batu di bawahnya.

​Tian Shan hanya menggeser kakinya satu inci. Ranting di tangannya bergerak dengan lintasan yang sangat minimalis namun sempurna.

​TAK!

​Ujung ranting itu tepat mengenai titik lemah di sisi pedang Master Mo, membelokkan seluruh momentum serangan tersebut ke tanah.

Master Mo terkejut; serangannya yang paling kuat dipatahkan hanya dengan sentuhan ringan pada titik tumpu energinya.

​Ia tidak menyerah. Ia memutar tubuhnya, melepaskan teknik Sembilan Bayangan Pedang Hitam.

Sembilan lintasan cahaya pedang mengepung Tian Shan dari segala arah. Namun, Tian Shan bergerak seperti air yang mengalir di antara celah bebatuan.

Setiap kali pedang Master Mo hampir menyentuh jubahnya, ranting kayu itu akan memukul pergelangan tangan atau siku Master Mo dengan presisi yang menakutkan.

​"Teknikmu ... ini bukan teknik dari daratan ini," gumam Master Mo di tengah napasnya yang mulai memburu.

​"Ini bukan tentang teknik," balas Tian Shan datar. "Ini tentang pemahaman terhadap garis dunia."

​Tian Shan memutuskan untuk mengakhiri duel ini. Ia memegang ranting itu dengan dua jari, lalu melakukan satu tusukan lurus ke depan.

Tidak ada aura yang meledak, tidak ada cahaya yang menyilaukan. Namun, bagi Master Mo, seolah-olah seluruh dunia sedang mengerucut menuju ujung ranting tersebut.

​TING!

​Ranting kayu yang rapuh itu tertahan tepat di jakun Master Mo. Pada saat yang sama, pedang besar milik Master Mo terlepas dari genggamannya dan menancap dalam di tanah.

​Hening total.

​Master Mo berdiri kaku. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.

Ia telah berlatih pedang selama lima puluh tahun, namun di hadapan pemuda ini, ia merasa seperti seorang anak kecil yang baru belajar memegang kayu.

Teknik pedang Tian Shan begitu sempurna, tanpa celah, dan mengandung filosofi yang jauh melampaui apa pun yang pernah ia pelajari.

​"Aku kalah," bisik Master Mo. Ia memejamkan matanya, menerima kekalahannya dengan martabat seorang pendekar.

​Tian Shan menurunkan rantingnya. "Ambil pedangmu. Janji adalah janji."

​Master Mo memungut pedangnya, lalu ia membungkuk hormat kepada Tian Shan—sebuah pemandangan yang membuat seluruh pengikutnya terperangah. "Aku, Mo Yan, bersumpah atas nama leluhur Sekte Pedang Hitam. Mulai hari ini, keluarga Han berada di bawah perlindungan kami sebagai bentuk permintaan maaf. Siapa pun yang mengusik mereka, berarti mengusikku."

​Han Shao, yang mengamati dari balik pintu, akhirnya bisa bernapas lega. Air mata haru jatuh di pipinya saat melihat ancaman terbesar bagi keluarganya kini justru menjadi pelindung mereka.

​"Kau memiliki bakat yang luar biasa, anak muda," ucap Master Mo pada Han Shao sebelum beralih kembali ke Tian Shan. "Dan Anda, Tuan ... terima kasih telah memberi saya pelajaran berharga hari ini. Jika suatu saat Anda membutuhkan informasi atau bantuan di Kota Awan Biru, pintu sekte kami selalu terbuka."

​Tian Shan hanya mengangguk kecil. Ia melihat Master Mo dan pasukannya perlahan pergi, meninggalkan distrik itu dalam kedamaian yang sesungguhnya.

​Beberapa saat kemudian, ibu Han Shao keluar dari kamar dengan langkah yang jauh lebih kuat. Ia memeluk anaknya, lalu menatap Tian Shan dengan rasa syukur yang tak terhingga.

​Tian Shan menatap langit yang kini biru cerah.

"Ha, Padahal dulu aku bilang tidak akan peduli dengan orang lain selain orang yang aku sayangi? Tapi nyatanya justru berbeda. ajaranmu tetap melekat di dalam hatiku guru," Ucap Tian Shan sambil tersenyum.

Kota Awan Biru kini diselimuti oleh ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Debu peperangan telah mengendap, dan aroma ketakutan yang biasanya menyelimuti distrik bawah telah digantikan oleh harapan.

Di halaman kediaman keluarga Han, sinar matahari pagi menyapu sisa-sisa embun, menciptakan suasana yang damai saat Tian Shan berdiri dengan tas punggung yang sudah tersampir rapi.

​"Apakah Anda—" Han Shao memulai kalimatnya dengan suara bergetar, namun ia segera terdiam saat melihat sorot mata Tian Shan yang tenang.

​"Jangan terlalu formal, Han Shao. Sudah kubilang, panggil saja aku kakak atau seniormu," potong Tian Shan dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.

​Han Shao tampak ragu sejenak, wajahnya memerah karena rasa hormat yang mendalam. "B-baiklah, Senior. Aku hanya ingin bertanya ... apakah Senior benar-benar akan pergi sekarang?"

​Tian Shan menengadah, menatap langit biru yang membentang luas di atas Kota Awan Biru. "Ya. Tugasku di sini sudah selesai. Tidak ada lagi yang harus kubantu, bukan? Ibumu sudah sehat, dan Sekte Pedang Hitam tidak akan lagi menjadi bayangan yang menghantuimu."

​Mendengar itu, raut wajah Han Shao mendadak murung. Meskipun mereka hanya menghabiskan waktu singkat bersama, kehadiran Tian Shan telah menjadi mercu suar bagi hidupnya yang hampir hancur. "Aku ... aku akan sangat merindukan bimbingan Senior."

​"Dunia ini luas, Han Shao," ucap Tian Shan sembari menepuk pundak pemuda itu. "Kau tidak bisa terus mengikutiku. Uruslah ibumu, jaga keluarga Han dengan baik. Belajarlah dengan tekun agar kau semakin kuat. Jika takdir mengizinkan, kita pasti akan bertemu lagi di puncak yang lebih tinggi."

​Tian Shan berbalik, melambaikan tangan tanpa menoleh lagi, dan mulai melangkah meninggalkan kediaman yang kini telah kembali hangat itu.

​Saat ia mencapai gerbang besar kota, langkah Tian Shan terhenti. Di sana, berdiri Master Mo sendirian tanpa kawalan murid-muridnya. Pria paruh baya itu tampak sudah menunggu sejak fajar menyingsing.

​"Kenapa kau menungguku di sini, Master Mo? Apakah kau ingin mencoba duel ronde kedua?" goda Tian Shan dengan nada santai.

​Master Mo tertawa kecil, namun matanya tetap menunjukkan rasa hormat yang tulus. "Tidak, Tuan. Aku sebenarnya ingin terus belajar darimu. Meskipun secara fisik kau tampak jauh lebih muda dariku, entah kenapa auramu terasa seperti seseorang yang telah hidup ratusan tahun dan melihat ribuan musim berganti."

​Pria itu mengeluarkan sebuah kotak panjang dari balik jubahnya. Saat kotak itu dibuka, sebuah aura dingin namun murni meledak keluar.

Di dalamnya terbaring sebuah pedang dengan hiasan perak yang memancarkan cahaya biru redup.

​Pedang Penjaga Langit.

Senjata ini bukan sekadar logam. Ia memiliki "Jiwa" sederhana di dalamnya yang mampu memilih tuannya sendiri.

Jika seseorang yang berjiwa lemah mencoba memegangnya, tangannya akan terbakar oleh api roh, atau jiwanya akan tertekan oleh beban gravitasi yang tak tertahankan.

​"Tolong terima ini," ucap Master Mo dengan tulus. "Ini adalah pusaka tertinggi sekte kami. Aku ingin menjalin hubungan baik denganmu di masa depan. Pedang ini butuh tuan yang layak, dan aku tahu ia tidak akan menolakmu."

​Tian Shan menatap pedang tersebut. Saat jarinya menyentuh hulu pedang, senjata itu bergetar hebat—bukan karena menolak, melainkan karena rasa hormat yang mendalam dari "Jiwa" pedang tersebut terhadap aura Pendekar Bumi milik Tian Shan. Pedang itu seolah-olah menemukan rumah yang seharusnya.

​"Baiklah. Terima kasih banyak, Master Mo. Aku akan menjaganya dengan baik," ucap Tian Shan sembari menyelipkan pedang itu di pinggangnya.

​Tak ingin berhutang budi, Tian Shan mengeluarkan sebuah buku kosong dari balik jubahnya.

Ia mengambil kuas dan dengan gerakan cepat yang mengandung aliran Qi yang sangat padat, ia menuliskan beberapa baris kalimat dan diagram gerakan di sana.

​"Ini balasan dariku," Tian Shan menyerahkan buku itu. "Meskipun ini hanya satu teknik pedang—Teknik Tebasan Bumi Tak Terguncang—ini akan memperdalam pemahamanmu tentang bagaimana menyelaraskan pedangmu dengan gravitasi alam. Pelajarilah, dan kau akan menyadari bahwa kekuatan bukan hanya soal kecepatan."

​Master Mo menerima buku itu dengan tangan gemetar. Ia bisa merasakan energi yang memancar dari tulisan tersebut.

Ini adalah harta karun yang jauh lebih berharga daripada pedang rohani mana pun.

​"Sampai jumpa, Master Mo," ucap Tian Shan singkat.

​Tanpa menunggu balasan, Tian Shan melangkah keluar melewati gerbang kota, menuju cakrawala yang belum terjamah.

Master Mo berdiri mematung, menatap punggung pemuda misterius itu hingga menghilang di balik bukit, menyadari bahwa ia baru saja bertemu dengan legenda yang sedang berjalan mengelilingi dunia.

1
Aisyah Suyuti
bagus
Nanik S
NEXT 💪💪💪
Nanik S
Shiiiiip
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Mengenang mas lalu Lewat Kua
✞👁️👁️✞
lanjit thor💪
Nanik S
Satu satunya orang yang tidak dibunuh oleh Tian Shan di Alam Abadi
✞👁️👁️✞
/Pray/
✞👁️👁️✞
pecahan jiwa
✞👁️👁️✞
lanjut💪
Nanik S
cuuuuuuust👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor🙏🙏
Nanik S
Bai Yaoju bukankah dulu kekasih Tian Shan dimasa lalu sebelum rekarnasi
Kenaya: Iya/Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
pendekar tersantuy tian shen🔥
Kenaya: /Ok//Pray//Pray//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
apa trio Tian akan berkelana bersama?
✞👁️👁️✞
🔥🔥
✞👁️👁️✞
mantap
lanjut thor💪
✞👁️👁️✞
🐬🐬semangat
✞👁️👁️✞
tian shan!! kau pergi tanpa berpamitan😁
Kenaya: ketemu lagi kok nanti/Grievance//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
kontrak darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!