Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jasad Ratna
"Hah! Apa yang terjadi?" Ratna kebingungan dengan kondisi sang Genderuwo yang mengenaskan, bahkan asap masih mengepul dari tubuhnya.
Bulu-bulu di tubuhnya tampak keriting dan sebagian sudah gundul.
"Dia mengadu ke Tuhan—Nya, aku tidak sanggup lagi, maka ...."
Suara Gendruwo itu sangat serak, sepertinya ia sedang menanggung derita yang cukup kuat.
"Maka apa—?" tanya Ratna dengan suara yang bergetar. Ia merasakan wajahnya sangat pucat.
Keringat dingin menjalar di sekujur tubuhnya.
Teng
Suara denting dari jam gadang yang menandakan jika waktu sudah pukul dua belas malam.
"Aku sudah kehabisan waktu, dan masanya sudah habis, maka harus ada penggantinya, dan itu adalah perjanjiannya," sosok itu menyeringai dengan memperlihatkan taringnya yang mencuat.
"—Tidak!" Ratna beringsut mundur dengan mendorong tumit kakinya diatas ranjang empuknya.
Ia menggelengkan kepalanya, ia belum ingin mati malam ini. "Ambil saja nyawa Novita, ambil saja dia sebagai gantinya. Aku belum puas menikmati hidupku!" Ratna benar-bemar tak ingin meninggalkan dunia yang sangat menyilaukannya.
"Aku sudah mengikat perjanjian denganmu, Novita hanya sebagai penerus saat kau mati, dan ini tidak dapat lagi ditawar-tawar!" Genderuwo itu menolaknya, sebab ia tak lagi dapat menunda.
Sosok berbulu itu melesat menghampirinya, lalu merobek pakaiannya, dan dengan sangat berutal menjamahnya.
"Tidak! Tidak jangan!" pekik Ratna, saat sosok itu terus saja menjamahnya, hingga membuat Ratna kesakitan.
Tubuhnya tampak sangat mengenaskan. Liang rahimnya robek parah, dan cairan pekat darah mengalir dengan cukup deras, dan tiba-tiba saja, tubuhnya membiru lebam.
Suara teriakannya tidak lagi terdengar, dan tak.ada satupun yang mendengarnya, sunyi, ditelan keheningan malam yang kelam.
Setelah berhasil menggahi Ratna hingga sangat tragis, ia membawa kabur jiwa Ratna, dan di tawan di wilayah pesarean, berkumpul dengan jiwa para tumbal lainnya.
Sosok Genderuwo itu tersenyum sangat puas, dan ia kini kembali ke rumah, menemui Novita yang merupakan sebagai pewaris dari pesugihan yang diturunkan dari ibunya.
Keesokan paginya ....
Novita sudah selesai mandi. Seperti biasanya, ia akan turun ke dapur, melihat menu apa yang sudah dimasak oleh ibunya—dan pastinya akan diantar ke rumah Ratih.
Ia berjalan melewati kamar ibunya, dan masih tampak hening
"Kenapa sepi? Apakah ibu sedang mandi?" fikirnya, lalu menuju dapur.
Setibanya di dapur, ia langsung menuju meja makan, membuka tudung saji.
"Kenapa tidak ada makanan? Bukankah biasanya ini—jam mengantar ke rumah Bayu?" Novita merasa sangat heran, dan ini tak seperti biasanya.
Ia melongok ke rumah Ratih, melalui pintu tengah.
"Rumah mereka sepi, tidak ada tanda suka, itu berarti—tidak ada yang meninggal disana." ia masih menatap rumah Ratih yang terlihat lengang.
Bahkan ia melihat Alawiyah yang memetik terung dan juga cabai rawit yang ada di depan rumah, sebab Ratih sangat gemar berkebun.
"Bukannya malam tadi malam terakhir batas pencarian tumbal?" Novita merasa sesuatu yang tak biasa.
Ia melupakan sejenak tentang Ratih, dan juga penghuni rumah tersebut.
Langkahnya membawa pada kamar Ratna yang masih tertutup rapat.
Tok
Tok
Tok
Ia mengetuk pintu ibunya. Tak ada sahutan.
"Bu, Bu," suaranya memanggil, dan sama sekali tak ada sahutan.
"Kemana ibu sebenarnya?" Novita mulai resah. Ia mencoba menarik handle pintu kamar.
Kreeeek
Pintu tidak terkunci.
Novita mengerutkan keningnya. Jarang sekali ibunya tak mengunci pintu, sebab kamarnya tak bisa dimasuki secara sembarangan.
Pintu terbuka lebar. Mendadak Novita membeliakkan kedua matanya, dan wajahnya memucat.
"—Ibu ...."
Pekiknya ketakutan, sembari berlari menghampiri tubuh Ratna yang terbujur kaku.
Bagian liang intinya mendapatkan robekan parah, dan darah mengalir membasahi sprei—menembus kasur empuknya.
"Apakah ibu menjadi tumbal sendiri?" gumamnya, saat mengingat semuanya.
"Iya, aku yang mengambilnya," tiba-tiba saja, suara sahutan dari arah belakangnya.
Novita membeliakkan kedua matanya, dan memutar tubuhnya untuk menatap sosok tersebut.
"Apa yang kau lakukan pada ibuku?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Aku hanya mengambil apa yang seharusnya ku ambil."
Novita merasa geram, lalu menghampiri sosok Genderuwo itu dengan kesal.
"Buka kah kau seharusnya mengambil jiwa Bayu? Lalu mengapa harus ibuku?"
Novita masih tidak terima dengan apa yang terjadi, apalagi kondisi Ratna sangat mengenaskan.
"Ck, sangat sulit menjelaskannya. Soalnya si Gina dan Juminten masih belum ke Pesarean, jadi kita masih satu tujuan, rebutan, saling tonjok, dan juga saling sikut!"
"Jadi siapa yang berhasil mengambil jiwa Bayu?!" desak Novita.
"Ya gagal! Karena istrinya suka ngadu sama Tuhan-Nya,"
Novita merasa lemas, ia kembali menatap wajah ibunya yang terlentang, tanpa nyawa
"Udah, gak usah sedih. Dia juga semalam minta aku ngambil nyawamu."
Gadis itu kembali terkejut. "—Apa? Ibu minta aku ambil nyawaku?" ia sangat tak percaya, jika ibunya setega itu.
"Iya, masa aku bohong." Genderuwo itu mengulas wajah sinis.
"Memangnya ada—setan yang bisa di percaya?"
"Tentu saja, contohnya aku, tidak berbohong dengan janjiku."
Sosok itu menunjuk ke arah sudut ruangan, tepatnya di dekat lemari.
Novita mengikuti arah telunjuk makhluk berbulu itu.
"Hah?!" Novita terperangah.
Bagaimana tidak, disana terdapat kotak kayu yang berisi banyak tumpukan uang dan juga emas dalam bentuk batangan.
Novita menghampirinya. Ia berjongkok, menatap dengan tak percaya.
"Ini serius?"
"Ya iyalah! Masa jokes doank." Genderuwo menyahut dengan nada sombong.
"Selama ini, ibu gak pernah memberi tahu, jika ia mendapatkan uang sebanyak ini, aku hanya diberi uang jajan yang tidak sebanding," Novita tampak berkaca-kaca.
"Nah, itu, dia. Sekarang kamu tahu—kan? Kalau aku setan yang gak pernah bohong."
Sosok itu mendekat ke arah Novita.
"Iya, kamu sangat benar."
Wajah gadis itu sangat berbinar.
"Kalau begitu, cari tumbalnya yang semangat lagi." Genderuwo itu mencoba menyemangati Novita.
"Iya,aku akan lebih semangat lagi. Makasih—ya. Kamu udah perhatian padaku." Novita mendekap sang Genderuwo.
"Aku juga, makanya aku memilih ibumu untuk tumbal pengganti,"
"Kamu bisa saja," Novita mencubit lengan berbulu sosok tersebut.
"Tapi, Aku menginginkan wanita diseberang sana, kamu cari tahu apa kelemahannya," Genderuwo itu menatap Alawiyah dengan senyum smirk.
"Hah? Kau mau dia?"
"Ya, jangan lupa malam selasa legi bulan esok," pesannya, lalu menoleh ke arah jasad Ratna.
"Baiklah, aku akan mencari cara, untuk membuat wanita itu menjadi tumbal berikutnya." Novita mersa sangat yakin dapat membuat Alawiyah menjadi tumbal berikutnya.
Sosok Genderuwo itu menatap Novita, dan mereka akan saling menyepakati perjanjian.
"Kalau tidak mendapatkannya, maka kamu menjadi gantinya," kalimat yang meluncur dari mulut Genderuwo itu membuat Novita bergidik ngeri.
Detik berikutnya, ia melesat menuju jasad Ratna. "Bereskan jasadnya, masukkan saja ke dalam kamar kosong dilantai atas. Nika ada yang bertanya, katakan saja, ibumu sedang berjalan-jalan ke luar negeri,"
"Baiklah, aku akan lakukan."
Akhirnya,Novita diarahkan oleh setan yang hilang arah.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏