Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kilau Mahkota yang Dingin
Glanzwald tidak lagi menjadi tempat persembunyian yang sunyi. Bagi Daisy, paviliun megah itu kini hanyalah sebuah kantor pusat untuk kerajaan bisnis kreatifnya yang sedang meledak. Keputusannya sudah bulat, ia tidak akan membiarkan satu detik pun waktunya terbuang untuk meratapi pria yang menjadikannya tameng masa lalu. Jika Matthew ingin seorang pajangan, maka Daisy akan menjadi pajangan yang paling menyilaukan hingga mata Matthew perih saat melihatnya.
Pagi itu, Daisy tidak pergi ke dermaga. Ia berada di studio pribadinya yang super modern di sayap kanan Paviliun, dikelilingi oleh layar monitor besar dan peralatan rekaman tercanggih. Ia sedang melakukan sentuhan akhir pada lagu kolaborasinya dengan The Golden Boy, bintang pop nomor satu asal Korea.
"Nada ini harus lebih tajam," gumam Daisy sambil menggeser kursor di layar. "Biarkan liriknya terdengar seperti sebuah perpisahan yang elegan, bukan sebuah permohonan."
Sifat mandiri Daisy kini mencapai puncaknya. Ia memutuskan untuk menerima tawaran peluncuran komik terbarunya, Love Story of a Hotel Owner secara fisik di Ibukota. Ini adalah langkah besar, karena selama ini ia selalu tampil secara misterius. Namun sekarang, ia ingin Matthew melihat melalui layar televisi di barak militernya bahwa istrinya adalah wanita yang dipuja dunia, bukan gadis pelayan yang bisa ia kurung.
Di sisi lain benua, di sebuah ruangan sempit yang berbau asap rokok dan minyak senjata, Matthew von Eisenberg menatap paket lencana keberaniannya yang dikembalikan oleh kurir pagi tadi.
Bukan, bukan dikembalikan karena alamat salah. Lencana itu kembali dengan sebuah nota resmi dari sekretaris pribadi Daisy: "Nyonya Muda mengucapkan terima kasih atas penghormatannya, namun beliau merasa lencana ini lebih berguna jika tetap berada di tangan Jenderal sebagai simbol kemenangan negara."
Matthew meremas nota itu hingga hancur. Kalimat itu sangat formal, sangat dingin, dan sama sekali tidak mengandung jejak emosi. Itu adalah tamparan keras bagi harga dirinya. Lencana itu adalah nyawanya, simbol keberanian tertinggi yang ia miliki, dan Daisy menolaknya seolah itu hanyalah bros murah.
"Jenderal, Anda tidak makan siang?" Tanya ajudannya dengan ragu.
Matthew tidak menjawab. Matanya tertuju pada sebuah majalah hiburan yang tergeletak di meja bawahannya. Di sana, wajah Daisy terpampang dengan judul: "Sang Muse Akan Muncul: Peluncuran Fisik Komik Terbesar Abad Ini di Royal Hall."
Rahang Matthew mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Daisy akan muncul di depan publik? Tanpa izinnya? Tanpa pengawal dari unit militer pribadinya?
"Letnan Kyle, hubungi intelijen di Ibukota," suara Matthew terdengar seperti es yang pecah. "Aku ingin laporan lengkap tentang setiap orang yang mendekati istriku di acara itu. Siapa pun. Termasuk rekan kerjanya."
"Tapi Jenderal, kita dilarang menggunakan unit intelijen untuk urusan domestik pribadi..."
"Lakukan!" Bentak Matthew.
Kegelisahan Matthew berubah menjadi obsesi yang gelap. Ia mulai merasa kehilangan kendali. Jika dulu pada Maira ia bisa menggunakan ancaman fisik, pada Daisy ia tidak punya senjata apa pun. Daisy terlalu kaya, terlalu berkuasa secara opini publik, dan terlalu suci secara status sosial. Matthew merasa seperti singa yang terkurung dalam kandang, melihat mangsanya menari dengan bebas di luar sana.
Ia mengirim surat keempat. Kali ini nadanya mulai goyah.
"Daisy, apa yang kau rencanakan? Muncul di depan publik hanya akan membahayakan keselamatanmu. Kembali ke Glanzwald dan tunggulah aku. Aku tidak suka melihatmu menjadi konsumsi mata banyak orang. Balas aku, segera."
Daisy menerima surat itu saat ia sedang dipakaikan gaun oleh asisten pribadinya untuk acara peluncuran. Ia membaca surat itu sekilas, lalu memberikannya pada asistennya untuk dibakar di perapian.
"Nyonya Muda? Anda tidak ingin menyimpannya?" Tanya sang asisten ragu.
"Hanya kata-kata seorang pria yang takut kehilangan kendalinya," sahut Daisy dingin. "Dia tidak mencemaskan keselamatanku, dia hanya cemas karena egonya terusik."
Daisy menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengenakan gaun sutra hitam custom-made yang terinspirasi dari gaya Gotik modern. Rambut hitam panjangnya dijepit dengan mahkota kecil dari berlian hitam. Wajah baby face-nya kini dihiasi dengan make-up yang lebih berani, mempertegas mata cokelat madunya yang tajam.
Malam itu, di Royal Hall, ribuan orang berkumpul. Saat Daisy melangkah turun dari limusin hitamnya, lampu kilat kamera seolah meledak di sekelilingnya. Dunia berteriak memanggil namanya. Daisy tersenyum—senyum porselen yang sempurna—namun matanya tetap dingin.
Ia memberikan pidato singkat yang cerdas. Ia berbicara tentang kekuatan wanita untuk menentukan nasibnya sendiri melalui karya. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti duri yang ia tujukan untuk suaminya di kejauhan.
"Banyak orang berpikir bahwa seorang wanita butuh perlindungan untuk bisa bersinar," ucap Daisy di depan podium, suaranya jernih dan berwibawa. "Tapi malam ini, melalui komik Love Story of a Hotel Owner, aku ingin menunjukkan bahwa perlindungan yang paling kuat adalah saat kita berani memegang kendali atas hidup kita sendiri, tanpa perlu menjadi bayangan siapa pun."
Riuh tepuk tangan mengguncang aula. Namun di tengah keramaian itu, Daisy merasa ada sepasang mata yang mengawasinya. Ia menoleh ke arah balkon atas, namun tidak ada siapa-siapa di sana selain para pengawal kerajaan.
Ternyata, Matthew benar-benar mengirim orang. Malam itu juga, Matthew menerima rekaman video pidato Daisy. Ia menontonnya berulang-ulang di dalam tendanya yang gelap. Ia melihat bagaimana pria-pria bangsawan mencoba menyalami Daisy, bagaimana para fotografer memuja kecantikannya.
Matthew merasa dadanya terbakar hebat. Ia belum pernah merasa secemburu ini. Bahkan pada Maira dulu, perasaannya adalah rasa memiliki barang. Tapi pada Daisy ini adalah rasa sakit karena diabaikan. Ia merasa Daisy sedang menghapus eksistensinya dari hidupnya.
"Kau bukan bayangan, Daisy," gumam Matthew sambil menatap layar monitor kecil di baraknya. "Kau adalah pusat dari segalanya, dan kau tahu itu."
Ia menyadari bahwa Daisy sudah tahu. Entah bagaimana, apakah Daisy telah menemukan rahasia lamanya. Perubahan sikap Daisy yang drastis, penolakan lencananya, dan kemunculannya di publik yang penuh tantangan adalah cara Daisy untuk menghukumnya.
Matthew mengambil sebotol wiski dan menegaknya langsung. Rasa panas menjalar di tenggorokannya. Ia teringat kembali pada Maira yang menangis. Ia mulai membandingkan dengan Daisy yang sekarang berdiri tegak dengan mahkota berlian hitamnya.
"Gadis itu memohon padaku untuk dilepaskan," Matthew tertawa miris pada dirinya sendiri. "Tapi kau, Daisy... kau bahkan tidak memohon. Kau melepaskan dirimu sendiri dan meninggalkanku di belakang."
Rasa penasaran Matthew kini berubah menjadi rasa takut yang murni—takut bahwa saat ia pulang nanti, tidak akan ada mawar, tidak ada penyambutan, bahkan tidak ada lagi istri yang menunggunya. Ia mulai merencanakan sesuatu yang nekat. Jika surat tidak bisa menembus dinding Daisy, maka ia harus melakukan sesuatu yang lebih ekstrem untuk menarik perhatian wanita itu.
Namun di Glanzwald, Daisy baru saja menyelesaikan malam peluncurannya yang sukses besar. Ia kembali ke paviliunnya yang megah, melepas mahkotanya, dan menatap ke arah hutan yang gelap.
"Ini baru permulaan, Matthew," batin Daisy. "Aku akan membuat dunia ini begitu luas untukku, hingga kau tidak akan pernah bisa menemukan tempat untuk mengurungku lagi."
Daisy kemudian mengambil buku catatannya, menuliskan judul lagu baru yang akan segera menjadi hits global: "The Puppet's Rebellion".
Musim panas ketiga masih beberapa bulan lagi, namun perang antara Jenderal dan sang Muse telah mencapai titik di mana tidak ada lagi jalan untuk kembali ke kekakuan yang biasa-biasa saja seperti dulu.