NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota Duri di Atas Bukit

SUV hitam itu mendaki jalanan berkelok menuju puncak perbukitan Pine Ridge, tempat kediaman utama keluarga Dirgantara berdiri angkuh seperti benteng abad pertengahan.

Mansion itu kini bukan lagi sekadar rumah; itu adalah pusat saraf operasional The Scorpion di Asia Tenggara. Lampu-lampu sorot raksasa menyapu halaman yang luas, dan menara pengawas baru telah dibangun di setiap sudut tembok tinggi yang dialiri listrik.

​Arkan mematikan lampu mobil satu kilometer sebelum gerbang utama. Ia membelokkan kemudi ke arah jalur setapak yang tertutup semak belukar—jalur tikus yang ia bangun sendiri secara rahasia saat ia masih menjadi pewaris The Void, untuk berjaga-jaga jika ayahnya suatu saat memutuskan untuk mengurungnya.

​"Server utamanya ada di lantai bawah tanah ketiga, tepat di bawah ruang kerja pribadi Baskoro," bisik Arkan sembari memeriksa rompi antipelurunya.

"Sistem keamanannya menggunakan pemindai retina dan biometrik. Tanpa akses fisik, kita tidak bisa meretasnya dari jauh."

Liana memeriksa sisa pelurunya. Wajahnya yang tercoreng jelaga tampak tenang, namun jantungnya berdegup kencang.

"Bagaimana kita bisa melewati pemindai retina jika Baskoro ada di penjara?"

​Arkan menatap Liana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari saku jaketnya. Di dalamnya terdapat cairan pengawet dan sebuah lensa kontak khusus.

"Aku sudah menduga ini. Ini adalah replika biometrik retina milikku sendiri. Struktur mataku 90% identik dengan ayahku. Ini adalah satu-satunya kunci yang kita punya."

​Mereka menyelinap melalui pipa drainase yang bermuara di gudang anggur bawah tanah. Dinginnya air limbah dan aroma lembap menyertai langkah mereka. Saat mereka berhasil memanjat keluar, dua penjaga The Scorpion yang mengenakan seragam taktis lengkap sedang berpatroli di antara rak-rak botol tua.

​Arkan memberi isyarat tangan. Ia bergerak ke kiri, Liana ke kanan.

Dalam gerakan yang hampir sinkron, Arkan melumpuhkan satu penjaga dengan kuncian leher yang mematikan, sementara Liana menghantam tengkuk penjaga lainnya dengan gagang pistolnya. Mereka bergerak seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan.

​"Lantai bawah tanah dua," bisik Arkan saat mereka mencapai lift barang.

​Namun, saat pintu lift terbuka, mereka tidak disambut oleh koridor kosong. Di sana berdiri Baron. Pria itu tampak lebih tua, wajahnya penuh bekas luka baru, dan ia memegang senapan mesin ringan yang diarahkan tepat ke dada Arkan.

​"Baron..." Arkan menurunkan senjatanya perlahan.

"Kau masih di sini?"

​Baron menatap Arkan dengan tatapan pedih. "Tuan Muda... mereka menyandera keluarga saya. The Scorpion tidak membiarkan siapa pun pergi setelah kekacauan di galangan kapal. Jika saya tidak menjaga pintu ini, istri dan anak saya akan dieksekusi pagi ini."

​Liana membidik Baron, namun Arkan menahan tangan Liana.

Baron, jika kau membiarkan kami lewat, kami akan menghancurkan server mereka. Begitu server itu mati, semua data sandera, semua kontrak eksekusi, dan semua pelacakan lokasi mereka akan musnah. Kau akan bebas.

Keluargamu akan bebas," ucap Arkan dengan nada memohon yang jarang ia tunjukkan.

​Baron gemetar. Tangannya yang memegang senjata tampak ragu. Di satu sisi adalah kesetiaan lamanya pada Arkan, di sisi lain adalah nyawa keluarganya.

​"Mereka ada di ruang monitor, Tuan Muda. Sepuluh orang. Semuanya tentara bayaran profesional," Baron menurunkan senjatanya perlahan, lalu memberikan sebuah kartu akses merah kepada Arkan.

"Pergilah. Aku akan mematikan kamera di lorong B selama tiga menit. Itu waktu maksimal yang bisa kuberikan sebelum sistem pusat mendeteksi sabotase."

​"Terima kasih, Baron. Larilah sekarang," balas Arkan.

Mereka berlari menembus koridor B yang diterangi lampu merah darurat. Setiap detik terasa seperti satu jam. Saat mencapai pintu besi berat menuju ruang server, Arkan segera memasang lensa kontak biometrik itu. Matanya terasa perih saat ia mendekatkan wajahnya ke pemindai laser.

​BIP. ACCESS GRANTED.

​Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan udara dingin yang menusuk dari ribuan mesin server yang menderu. Liana segera memasang perangkat peretas Unit 9 ke terminal utama.

​"Berapa lama?" tanya Arkan sembari menjaga pintu.

​"Lima menit untuk mengunggah virus penghancur ke cloud mereka," jawab Liana, jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa.

​Namun, sebuah suara tawa yang sangat akrab menggema dari speaker di sudut ruangan. Bukan suara Baskoro, melainkan suara seorang wanita yang sangat dingin.

Arkan... putraku yang malang. Kau selalu saja mencoba menjadi pahlawan di saat yang salah."

​Arkan membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir. Ia menatap ke arah monitor besar di dinding. Di sana, duduk seorang wanita yang selama ini ia pikir sudah mati sepuluh tahun lalu di depan matanya. Elena Dirgantara.

​"Ibu?" bisik Arkan, suaranya pecah.

​Elena tersenyum, namun matanya kosong, tanpa kasih sayang.

"Baskoro memang monster, Arkan. Tapi dia monster yang mudah dikendalikan. Aku memalsukan kematianku agar aku bisa membangun The Scorpion dari balik bayangan, tanpa gangguan emosional darimu atau suamiku yang lemah itu."

​Liana menatap layar itu dengan ngeri. "Jadi... kebakaran itu? Pembunuhan orang tuaku?"

​"Hanya bisnis, Manis," ucap Elena santai sembari menyesap tehnya.

"Orang tuamu tahu terlalu banyak tentang dana gelap yang aku kumpulkan. Aku harus melenyapkan mereka, dan Arkan adalah pion terbaik untuk melakukannya tanpa ia sadari."

Arkan jatuh berlutut. Seluruh dunianya runtuh. Selama sepuluh tahun ia hidup dalam rasa bersalah karena membunuh ibunya dan menghancurkan keluarga Liana demi ibunya. Ternyata, orang yang paling ia cintai adalah iblis yang sebenarnya.

​"Hancurkan servernya, Liana," bisik Arkan, suaranya kini terdengar mati.

"Hancurkan semuanya."

​"Jangan lakukan itu, Liana," Elena memperingatkan. "Jika kau menekan tombol enter, lantai ini akan meledak dalam sepuluh detik. Aku sudah memasang peledak di bawah kaki kalian.

Pilihlah: keadilan yang sia-sia, atau nyawa anakku."

​Liana menatap Arkan yang tampak hancur, lalu menatap layar monitor. Ia menyadari bahwa Elena tidak akan pernah membiarkan mereka hidup bagaimanapun pilihannya.

​"Arkan, lihat aku!" Liana mencengkeram bahu Arkan, memaksa pria itu menatapnya.

"Ibumu yang dulu kau cintai sudah mati malam itu. Yang ada di depan kita sekarang hanyalah sisa-sisa kegelapan. Kita tidak bisa berhenti sekarang!"

Arkan menatap mata Liana yang penuh air mata namun tegas. Ia melihat cahaya yang selama ini ia cari. Ia berdiri, mengambil senjata Liana, dan membidik ke arah server pusat.

​"Maafkan aku, Ibu," ucap Arkan dingin.

"Tapi kali ini, akulah yang akan memadamkan apinya."

​Liana menekan tombol ENTER.

​DATA DESTRUCTION: 10%... 40%... 100%.

​Suara sirine ledakan mulai meraung. Seluruh gedung berguncang hebat.

​"LARI, LIANA!" Arkan menarik tangan Liana menuju jalur pembuangan darurat saat ledakan pertama menghancurkan ruang atas mereka.

​Mansion Dirgantara mulai runtuh. Rahasia besar keluarga itu terkubur bersama puing-puing, sementara Arkan dan Liana terjun ke kegelapan, mencoba mencapai permukaan sebelum seluruh bukit itu menelan mereka.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!