Setelah menikah, Anin banyak menemukan banyak hal yang janggal di rumah mertua nya. Anin sering mendengar ibu mertua nya menangis dan dia juga sering melihat tubuh ibu mertua nya di penuhi oleh lebam.
Hingga suatu hari Anin melihat dengan mata kepala nya sendiri ayah mertua nya sedang melakukan hubungan terlarang dengan ipar nya. Anin bertekad untuk membongkar semua kebusukan mereka di depan semua orang, dan membuat ayah mertua nya dan juga ipar nya mendapat kan hukuman atas perbuatan mereka.
Ikuti kisah kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
"Di keluarga ini, mbak Tika merasa bahwa dia lah yang paling berkuasa. Karena dia adalah menantu pertama di sini, dan Mbak Tika mau semua orang patuh pada perintah dan keinginan nya!" Dirga mulai menceritakan tentang kakak ipar nya pada Anin.
"Astagfirullah hal adzim, mbak Tika keterlaluan kalau memang seperti itu!" Anin mengelus dada nya, pantas saja Tika selalu berbuat semena - mena terhadap semua orang.
"Mbak Tika juga menguasai bapak, bapak aka. sangat patuh pada apa yang di katakan mbak Tika. Bahkan semua hasil kerja keras bapak di berikan pada mbak Tika, dan ibu tidak pernah mendapat kan hak nya, khusus nya nafkah dari bapak!" Tambah Dirga lagi.
"Ibu adalah istri nya bapak, kenapa malah mbak Tika yang menguasai nya?" Anin tidak habis fikir dengan mertua dan juga ipar nya.
"Selama ini, semua kebutuhan di rumah ini mas yang penuhi. Termasuk semua kebutuhan ibu, sedang kan uang nya bapak di habis kan oleh mbak Tika untuk berfoya - foya!" Dirga menghembus kan nafas kasar.
"Padahal bapak masih punya tanggung jawab terhadap ibu sebagai seorang suami, bagai mana dengan reaksi mas Atar?" Tanya Anin pada suami nya.
"Mas Atar sama seperti bapak, dia mendukung perbuatan istri nya. Setiap hari mbak Tika akan datang dan mengambil apapun di rumah ini, mas harap kamu sabar ya menghadapi mbak Tika!" Dirga berkata sambil mengenggam tangan istri nya.
"Iya mas, tapi aku tidak bisa janji. Jika mbak Tika terus berulah dan itu merugikan aku maka aku tidak akan diam saja!" Anin berkata pada suami nya.
"Sudah yuk tidur, ini sudah malam!" Dirga pun merebah kan tubuh nya di atas tempat tidur.
Sebenar nya masih ada hal yang ingin Anin katakan pada suami nya, mengenai suara tangisan dari dalam kamar nya bu Ela tadi siang. Selain itu dia juga ingin mengatakan tentang pak Johan yang masuk ke dalam rumah Atar lewat pintu belakang. Tapi melihat sang suami yang sudah memejam kan mata nya, Anin mengurung kan niat nya.
'Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan bapak dan mbak Tika? Bapak memberikan semua hasil kerja keras nya pada mbak Tika, padahal kan bapak masih punya istri, harus nya di berikan pada ibu, bukan mbak Tika?' Banyak sekali pertanyaan yang begitu mengganjal di hati nya Anin saat ini.
Suara dengkuran halus terdengar dari samping nya, dan Anin melihat suami nya sudah tertidur dengan lelap. Anin tidak bisa memejam kan mata nya, ucapan Dirga tentang Tika dan bapak mertua nya masih mengganggu fikiran nya.
******
"Mas, berangkat dulu ya sayang, kamu baik- baik di rumah!" Dirga berpamitan pada sang suami sambil mencium kening istri nya.
"Iya mas, hati - hati di jalan!" Anin pun tidak lupa mencium tangan suami nya.
Dirga segera berangkat ke kantor dengan sepeda motor nya, Anin kini sudah resign dari bank tempat dia bekerja setelah menikah. Sebelum menikah dengan Dirga, Anin bekerja di salah satu bank nasional di daerah nya. Tapi setelah mereka menikah, Dirga meminta istri nya berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga sentuh nya.
Dirga sudah mengambil alih semua tanggung jawab nya terhadap Anin, dan Anin pun tidak mempermasalahkan hal tersebut. Anin langsung memberes kan rumah setelah Dirga berangkat ke kantor.
"Anin, ambil ini nak dan simpan lah untuk semua kebutuhan mu!" Tiba - tiba bu Ela muncul dan dia memberikan sebuah amplop coklat yang cukup tebal.
"Apa ini bu?" Tanya Anin heran dan dia membuka lalu melihat isi nya.
"Uang? Ini uang siapa bu?" Tanya Anin dengan sangat terkejut karena dia melihat uang yang junlah nya cukup banyak di dalam amplop tersebut.
"Uang itu adalah uang dari menjual hasil panen perkebunan sawit milik nya Dirga nak, kau adalah istri nya Dirga jadi kau lah yang berhak atas uang itu sekarang!" Bu Ela berkata sambil tersenyum pada menantu nya.
"Tapi bu, mas Dirga sudah memberikan aku uang dari gaji nya. Sebaik nya uang itu ibu simpan saja untuk kebutuhan ibu nanti nya!" Anin lalu mengembalikan amplop itu pada ibu mertua nya.
"Tidak nak, ibu tidak bisa menerima nya. Ambil lah, ini uang mu sekarang!" Bu Ela memberikan amplop itu pada Anin kembali.
"Ya udah bu, Anin terima dan simpan uang nya!" Anin akhir nya menerima uang itu kembali.
Anin membawa amplop itu masuk ke dalam kamar nya untuk di simpan, biar lah nanti dia akan berdiskusi dengan Dirga bagai mana baik nya uang itu.
Anin membuka amplop itu ketika tiba di dalam kamar, lalu dia menghitung jumlah uang nya.
"12 juta, lumayan juga hasil perkebunan nya mas Dirga dalam satu bulan!" Guman Anin sambil memasuk kan kembali uang itu ke dalam amplop dan menyimpan nya di dalam lemari.
Setelah itu, Anin kembali melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda tadi. Anin mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa melibatkan ibu mertua nya, bahkan Anin pun ikut membantu bu Ela mengurus kebun sayur yang ada ada di samping dan di belakang rumah nya.
Ketika Anin sedang istirahat siang di kamar nya, Anin di kejut kan dengan suara teriakan Tika di ruang tamu.
"Anin,,,, keluar kamu Anin!" Teriak Tika dengan lantang.
"Kenapa sih mbak Tika ini, seperti orang ksurupam saja!" Omel Anin sambil turun dari tempat tidur nya dan dia langsung memakai hijab nya sebelum keluar kamar nya.
Anin keluar dari kamar nya, begitu pun dengab bu Ela yang ikut keluar mendengar suara cempreng Tika.
"Ada apa Tika, kenapa kau teriak- teriak seperti orang gila?" Tanya bu Ela pada menantu nya.
"Suruh menantu ibu itu keluar, ini juga ibu yang bersalah karena telah memberikan milik ku pada Anin!" Tika berkata dengan nada tinggi pada bu Ela.
"Ada apa mbak? Kenapa mencari ku?" Tanya Anin yang kini sudah berada di ruang tamu.
"Anin, berikan uang yang tadi pagi di berikan ibu sama kamu pada ku, itu milik ku!" Ujar Tika sambil menadah kan tangan nya pada Anin.
"Uang yang mana yang mbak maksud kan?" Tanya Anin sambil melipat tangan di dada nya.
"Jangan pura - pura bodoh kamu Anin, uang yang ku maksud adalah uang dari menjual hasil kebun sawit itu. Cepat berikan pada ku!" Bentak Tika dengan kasar.
"Tika, uang itu dari hasil perkebunan milik nya Dirga. Anin adalah istri Dirga, jadi Anin lah yang berhak atas uang itu bukan diri mu!" Bu Ela seperti nya sudah sangat muak dengan sikap Tika.
Tika terkejut dan tidak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh ibu mertua nya, selama ini bu Ela bahkan tidak pernah berani untuk membantah semua ucapan nya. Tapi sekarang bu Ela sudah berani melawan nya.