"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Flashback
Flashback
Universitas Elysian. Di dekat gerbang besar yang dipenuhi orang-orang yang keluar dan masuk ke kampus.
Liam menatap orang yang baru saja turun dari mobil sedan mahal yang kebetulan berhenti tepat di depannya.
Mobil itu terasa familiar baginya. Itu adalah milik Chester, anak dari anggota dewan kelima di Port City.
Alasan ia mengenal mobil itu adalah karena Chester adalah teman sekelasnya. Selain menjadi salah satu siswa terkaya di sekolah, ia juga dikenal sebagai perundung di sekolah. Namun, karena ayahnya merupakan salah satu dari tujuh anggota dewan di Port City, semua orang yang dirundung olehnya hanya bisa menahan diri, termasuk Liam.
Pada hari biasa, Liam akan memilih untuk berbalik dan berjalan ke arah lain demi menghindari Chester dan kelompoknya. Namun, hari ini berbeda.
Liam terpaku di tempat saat ia melihat sosok yang familiar turun dari mobil milik Chester. Itu adalah pacarnya selama dua tahun, Bella.
Bella keluar dari mobil itu dengan gaun yang berantakan dan rambut yang acak-acakan. Pipinya kemerahan saat ia melambaikan tangan ke arah orang di dalam mobil itu sebelum menutup pintunya.
Ia merapikan dirinya sebelum berbalik. Saat itulah ia melihat Liam berdiri tidak jauh darinya.
Senyumnya langsung membeku, namun mengingat kejadian sebelumnya, ia segera mengembalikan ekspresinya dan berjalan menuju Liam dengan langkah percaya diri.
"Apa yang kau lakukan di sini?" katanya dengan dingin.
Ia memandang Liam dari atas sampai bawah, tatapan merendahkan tidak bisa disembunyikan di matanya saat melihat penampilannya. Ia tidak bisa menahan diri untuk membandingkannya dengan Chester. Mereka sangat berbeda hanya dari pakaian saja.
Liam adalah seorang pemuda kurus dengan rambut hitam yang tidak terurus. Saat ini, ia mengenakan kemeja putih polos dan celana jeans yang sudah pudar dipadukan dengan sepatu lama.
Berbanding terbalik dengan gaun baru Bella, keduanya terlihat sangat jauh berbeda.
Mengingat hadiah yang diberikan Chester kepadanya tadi—gaun yang sedang ia kenakan sekarang—suasana hati Bella menjadi lebih baik.
Di sisi lain, melihat Bella bertindak seolah tidak terjadi apa-apa, hati Liam semakin terasa sakit.
Namun, Liam bukan orang bodoh. Ia mengerti dengan jelas apa yang terjadi bahkan tanpa Bella mengatakan apa pun.
Alis Bella berkerut melihat Liam tidak menjawab dan hanya menatapnya dengan ekspresi kosong.
"Dengar. Mulai sekarang, kita akhiri hubungan kita. Aku sudah tidak tahan lagi denganmu. Kau berpakaian seperti itu setiap hari selama dua tahun kita berpacaran. Apa kau tidak punya rasa malu?"
"Aku merasa kasihan pada diriku sendiri karena menerima kau sebagai pacarku dua tahun lalu. Bahkan, akan aku katakan ini. Aku hanya menerima perasaanmu dua tahun lalu karena kau pintar dan sedikit tampan. Tapi sebenarnya, aku sama sekali tidak mencintaimu. Bahkan, aku tidak punya perasaan apapun terhadapmu…" kata Bella dengan penuh penghinaan. Apa yang ia katakan memang benar-benar perasaannya.
Ia hanya bertahan bersama Liam selama dua tahun terakhir karena Liam pintar dan cukup populer di kalangan perempuan karena wajahnya yang tampan. Namun sekarang, karena Chester sudah ada, tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap bersama Liam.
"Lihat bagaimana Chester memperlakukanku. Dia memperlakukanku seperti seorang putri. Dia selalu membelikanku makanan dan gaun mahal seperti ini. Bagaimana denganmu? Pernahkah kau membelikanku gaun semahal ini?"
Setiap kata terasa seperti jarum yang menusuk hati Liam.
Ia teringat kenangan mereka berdua. Semuanya penuh senyum dan kebahagiaan. Namun setelah mendengar ucapan Bella hari ini, mungkin hanya dia saja yang merasakan hal itu.
Air mata perlahan terbentuk di sudut matanya. Ia ingin berbicara dan membantah. Namun kata-katanya tertahan di tenggorokan, menolak untuk keluar. Selain itu, akalnya juga menahannya untuk tidak membantah. Ia takut mengatakan sesuatu yang bisa memperkeruh keadaan.
Ia juga marah atas hinaannya. Ia tidak hanya marah pada Bella, tetapi juga pada dirinya sendiri. Namun, ia memilih untuk tidak membalas menghina. Sedikit rasa hormat yang masih ia miliki pada Bella sebagai seorang wanita mencegahnya melakukan hal itu, tidak peduli seberapa menyebalkan tindakannya.
"Lihat dirimu menangis seperti bayi. Itu sebabnya aku tidak tahan padamu. Kau sangat menyedihkan. Hmmp!" Bella melanjutkan ocehannya.
Liam yang tidak membalas membuat kepercayaan diri Bella semakin meningkat. Ia menjadi semakin berani saat hinaannya semakin tajam.
Dan tiba-tiba, sebuah teriakan keras terdengar dari mobil sedan tadi.
"Ada apa ini?"
Chester keluar dari mobilnya dengan alis berkerut.
Ia adalah pria tinggi dengan otot besar hasil dari latihan berjam-jam di gym. Ia mengenakan pakaian mahal dan rapi. Jika dibandingkan dengan Liam, seperti membandingkan langit dan bumi. Sekali lihat saja, siapa pun bisa tahu bahwa ia mengenakan pakaan bermerek.
Sebelumnya, Chester sudah menyadari perilaku Bella yang tidak biasa setelah keluar dari mobilnya. Melihat ia berbicara dengan pria lain, nalurinya sebagai pacar muncul saat ia langsung turun dari kendaraannya.
"Apa yang kau lakukan!?"
Saat tiba di tempat itu, Chester melihat bahwa Bella sedang berbicara dengan Liam. Mengingat bahwa Liam adalah mantan Bella berdasarkan ceritanya, ia mengira Liam sedang membuat masalah untuknya.
Sifat pangeran penolong-nya muncul. Ia langsung menarik Bella menjauh dari Liam.
Pada saat yang sama, ia berdiri di tengah-tengah mereka berdua, dan tanpa meminta penjelasan apa pun, ia mendorong Liam dengan sekuat tenaga, membuat Liam yang kurus dan lemah itu jatuh ke tanah dengan keras.
Liam hanyalah pemuda kurus. Bagaimana mungkin ia bisa dibandingkan dengan Chester yang selalu pergi ke gym?
Wajah Liam meringis kesakitan. Jatuhnya cukup parah. Untungnya, yang lebih dulu menyentuh tanah adalah pantatnya dan bukan tangannya, kalau tidak, ia mungkin akan mengalami keseleo.
Tindakan Chester sangat tiba-tiba. Bukan hanya Liam, bahkan Bella pun tidak menyangka ia akan langsung mendorong Liam.
"Chester, hentikan!" Bella mencoba menarik Chester, tetapi sia-sia.
Chester meludah dan menunjuk Liam, "Berhenti mengganggunya, dasar sampah!"
Ia tidak menahan diri saat mulai melemparkan hinaan ke arah Liam. Bersikap dominan memang sudah menjadi kebiasaan Chester. Dengan ayahnya sebagai sandaran, tidak ada seorang pun, bahkan teman-teman sekelasnya yang seperti preman, yang berani mengucapkan sepatah kata pun.
Saat ini, keributan itu sudah menarik perhatian banyak orang. Melihat Chester terlibat, beberapa dari mereka bahkan mendekat, bukan untuk menghentikan keributan, tetapi untuk melihat situasi dengan lebih jelas.
"Dia sudah putus denganmu dua bulan lalu, kau tidak ada hubungannya lagi dengannya," lanjut Chester.
Mendengar itu, Liam semakin hancur.
Tidak hanya berselingkuh, Bella bahkan menyebarkan bahwa mereka sudah putus.
Ia menghapus air mata di sudut matanya dan menahan rasa sakit di pantatnya sebelum berdiri.
Suara Liam bergetar saat akhirnya ia berbicara.
"A-aku hanya ingin tahu, sejak kapan kalian mulai berpacaran?"
"Itu bukan urusanmu—" ekspresi Bella membeku saat ia tiba-tiba menyela, tidak berniat mengungkapkan apa pun.
Namun, hal yang sama tidak berlaku untuk Chester.
"Seminggu yang lalu. Dan seperti yang dia katakan, itu bukan urusanmu lagi!"
"Sekarang, minggir dan berhenti mengganggunya, atau…" kata Chester dengan gestur mengancam.
‘Jadi, dia sudah berselingkuh selama seminggu—tidak, mungkin lebih, dan aku sama sekali tidak menyadarinya sampai sekarang…’ Liam merasa hatinya hancur berkeping-keping.
Ia mencengkeram dadanya, berusaha meredakan rasa sakit yang ia rasakan. Ini adalah pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini.
Ia tidak bisa menggambarkan perasaannya dengan baik. Itu adalah campuran antara amarah, rasa kasihan pada diri sendiri, dan kesedihan.
"Lihat si lemah ini, menangis hanya karena hal seperti itu," seolah belum cukup, Bella yang kini kembali percaya diri setelah melihat Chester melindunginya, menambah luka di hati Liam.
Ia sadar bahwa ia berselingkuh dari Liam. Namun, apakah itu bisa disebut selingkuh jika sejak awal ia tidak mencintainya?
Pada akhirnya, rasa bersalah karena berselingkuh tidak lagi mengganggunya.
Ia merasa memiliki keuntungan dengan Chester, jadi mengapa tidak menikmatinya?
Orang-orang yang menyaksikan keributan itu memiliki reaksi yang beragam. Mereka tidak mengetahui cerita sebenarnya dan hanya berasumsi berdasarkan apa yang mereka lihat.
Beberapa dari mereka tertawa dan bahkan menambahkan hinaan untuk mencari perhatian Chester, sementara yang lain merasa kasihan pada Liam. Namun, tidak ada satu pun yang memutuskan untuk membantu, karena tidak ada yang ingin berurusan dengan Chester.
Komentar kejam mereka meninggalkan kesan buruk bagi Liam.
Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengabaikan ancaman Chester dan komentar jahat orang-orang, lalu diam-diam berbalik untuk pergi.
Tidak ada gunanya berdebat atau melawan jika ia tidak akan mendapatkan apa pun sebagai hasilnya.
Mencoba membantah dan merebut kembali Bella? Apa gunanya?
Di matanya, satu-satunya rasa hormat yang masih ia miliki untuk Bella hanyalah karena ia seorang wanita, tidak lebih. Seorang pengkhianat tetaplah pengkhianat di matanya.
Selain itu, dengan tubuhnya yang lemah, ia bahkan tidak akan mampu melakukan apa pun meskipun ia ingin melawan.
Ia meninggalkan kerumunan yang mengejek di belakangnya saat ia berjalan tanpa arah tujuan.