NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OBAT YANG MEMAHAMI TANPA CERITA

Dapur rumah dinas yang sederhana itu mendadak terasa begitu hangat, bukan karena uap dari sup ayam yang sedang dipanaskan, melainkan karena kehadiran Ibu Adrian yang kini berdiri di samping Dina. Wanita paruh baya itu menatap Dina dengan binar mata yang penuh rasa syukur, sebuah tatapan yang belum pernah Dina dapatkan dari sosok ibu mana pun di masa lalunya.

Dina sedang sibuk menata mangkuk ketika Ibu Adrian menyentuh lengannya dengan lembut.

"Nduk Dina," panggilnya lirih. "Ibu benar-benar senang Adrian bisa kenal kamu. Rasanya, luka hati anak itu yang selama ini dia tutup rapat-rapat sudah sembuh."

Dina terhenti, tangannya masih memegang sendok sayur. Ia teringat cerita Bu Ani soal pengkhianatan yang dialami Adrian dulu.

"Ibu tahu, dulu dia sampai bilang nggak mau menikah sama sekali. Dia bilang sudah nggak percaya lagi sama yang namanya komitmen," lanjut Ibu Adrian dengan suara bergetar. "Tapi beberapa waktu lalu, dia telepon Ibu. Dia bilang... dia ketemu seorang gadis yang memahami lukanya tanpa perlu dia banyak cerita. Dan tiba-tiba saja, dia bilang dia mau menikah. Padahal, katanya gadis itu sendiri belum tahu perasaannya."

Dina menoleh, matanya membulat. Ia mencoba sekuat tenaga menahan rona merah yang kini menjalar hebat di pipinya hingga ke telinga. Jantungnya berdebar kencang, seolah ada ribuan kembang api yang meledak di dalam dadanya.

"Dia itu kamu, Nduk. Gadis itu kamu," bisik Ibu Adrian sambil tersenyum tulus.

Dina terdiam, lidahnya kelu. Ia tidak menyangka bahwa di balik sikap kaku Adrian yang selama ini hanya ia anggap sebagai "instruktur motor" atau "pelindung wilayah", tersimpan sebuah niat yang begitu serius dan mendalam.

"Adrian itu anak kesayangan Ibu, putra satu-satunya kami," Ibu Adrian menyandarkan tubuhnya ke meja dapur, matanya menerawang ke masa lalu. "Ibu punya dia saat Ibu sudah hampir putus asa. Dokter bilang dulu Ibu nggak akan bisa hamil, tapi keajaiban datang dan Adrian lahir. Makanya, melihat dia terluka dulu, hati Ibu hancur sekali. Tapi melihat dia sekarang punya semangat lagi... itu semua karena kamu."

Dina menunduk, ia merasa sangat terharu sekaligus terhormat. "Bu... saya juga sebenarnya datang ke sini dengan luka yang banyak. Saya lari dari Jakarta karena merasa nggak punya siapa-siapa lagi. Tapi di sini, Mas Adrian dan warga desa malah buat saya merasa punya keluarga."

Ibu Adrian memeluk Dina dengan erat. "Mungkin memang begitu cara Tuhan bekerja, Nduk. Dua orang yang sama-sama terluka dipertemukan supaya bisa saling menyembuhkan. Ibu titip Adrian ya? Dia mungkin kaku dan nggak pintar merayu, tapi kalau dia sudah bilang sayang, dia bakal jaga kamu sampai mati."

Dari arah kamar, terdengar suara dehaman keras Adrian yang rupanya sejak tadi berusaha mendengarkan percakapan mereka namun terhalang dinding.

"Ibuu... supnya sudah panas belum? Adrian lapar!" seru Adrian dengan suara yang dibuat-buat kuat, padahal ia hanya ingin menghentikan Ibunya agar tidak membongkar semua rahasia hatinya lebih jauh lagi.

Ibu Adrian terkekeh sambil melepaskan pelukannya. "Tuh kan, baru sembuh sedikit saja sudah berani memerintah. Ayo, Dina, kita bawa supnya ke depan. Biar pangeran es itu segera kenyang."

Dina membawa nampan berisi mangkuk sup itu dengan langkah yang jauh lebih ringan. Ia melirik ke arah kamar, di mana Adrian sedang duduk bersandar sambil berpura-pura membaca majalah militer tua. Saat mata mereka bertemu, Adrian cepat-cepat mengalihkan pandangannya, namun Dina bisa melihat ujung telinga sang Letnan yang memerah—persis seperti pengakuan sang Ibu tadi.

Hari Minggu itu bukan lagi sekadar hari libur bagi Dina. Itu adalah hari di mana ia menyadari bahwa perjalanannya ke kota kecil ini bukan hanya untuk melarikan diri, tapi untuk menemukan pelabuhan yang sebenarnya.

Suasana di kamar yang tadinya penuh tawa kecil mendadak hening sejenak. Dina meletakkan nampan sup di atas nakas dengan tangan yang sedikit gemetar. Kesadaran akan situasi semalam tiba-tiba menghantamnya—tentang bagaimana ia, seorang wanita yang belum terikat hubungan apa pun, nekat menjaga seorang pria di rumah dinas hingga tertidur.

"Bapak, Ibu... Mas Adrian," ucap Dina dengan nada menyesal, kepalanya menunduk dalam. "Maaf sekali, saya nggak bisa lama-lama di sini. Saya merasa... lancang sekali ketiduran tadi malam, padahal nggak pantas kita berduaan seperti itu di rumah dinas. Saya takut jadi fitnah bagi Mas Adrian dan nama baik asrama."

Adrian langsung menegakkan duduknya, mengabaikan rasa pusing yang masih tersisa. "Itu nggak lancang, Din. Anggota di depan dan warga tahu saya sakit parah. Mereka justru berterima kasih ada yang jaga," sanggah Adrian cepat, suaranya terdengar sangat protektif.

Namun, belum sempat Dina membalas, ayah Adrian yang sedari tadi duduk tenang di kursi kayu sambil mengamati mereka, tiba-tiba berdeham keras. Ia melipat tangannya di dada, menatap Dina dengan tatapan tegas namun ada binar jenaka di sudut matanya.

"Biar nggak jadi fitnah dan biar nggak dianggap lancang lagi..." Ayah Adrian menggantung kalimatnya sejenak, membuat jantung Dina seolah berhenti berdetak. "...kenapa kamu nggak jadi mantu Bapak saja sekalian?"

Prang!

Hampir saja sendok di dalam mangkuk sup itu terlepas dari tangan Dina. Ia mematung, wajahnya yang tadi pucat karena merasa bersalah, kini berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. Ia menoleh ke arah Adrian, berharap pria itu akan membantunya mencairkan suasana.

Namun, Adrian justru tidak kalah terkejutnya. Ia tersedak ludahnya sendiri, batuk-batuk kecil sambil menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya.

"Bapak! Jangan ditakut-takuti begitu Dinanya," seru Adrian, meskipun ia tidak membantah tawaran sang ayah.

"Loh, Bapak serius," sahut sang Ayah santai. "Daripada kamu curhat terus ke Ibu soal ada gadis hebat yang bisa bawa motor sendiri dan kuat mentalnya, tapi kamunya cuma berani kawal dari belakang terus. Mending Bapak yang eksekusi sekalian di sini."

Ibu Adrian tertawa renyah melihat ekspresi keduanya. Ia mendekat dan merangkul pundak Dina yang masih kaku. "Nduk, Bapak memang begitu kalau bicara, suka langsung ke sasaran. Tapi niatnya baik. Kami berdua sudah setuju kalau Adrian memang serius sama kamu."

Dina menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sudah tidak karuan. Ia memberanikan diri menatap Adrian. Di sana, di atas ranjang pesakitan itu, sang Letnan yang biasanya gagah berani kini tampak sangat salah tingkah, namun matanya memancarkan sebuah kejujuran yang luar biasa.

"Mas Adrian..." panggil Dina lirih.

Adrian menghela napas, ia meraih tangan ayahnya sebentar seolah meminta izin, lalu menatap Dina dengan sangat dalam. "Din, maaf kalau Bapak bicara begitu cepat. Tapi kalau Mbak Dina tanya apa itu keinginan saya juga... jawabannya iya. Saya nggak mau cuma jadi pengawal motor Mbak selamanya. Saya mau jadi pengawal hidup Mbak."

Dina tersenyum malu, ada rasa haru yang membuncah. Ternyata, pelariannya dari Jakarta bukan membawanya ke sebuah jurang, melainkan ke sebuah rumah yang pintunya terbuka lebar dengan restu yang begitu hangat.

"Sepertinya saya harus beli motor satu lagi buat Mas Adrian, biar kita bisa jalan beriringan terus," canda Dina pelan, yang langsung disambut tawa lega oleh satu ruangan itu.

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!