(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)
Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.
Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patriark Ba
Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan sinar keemasan yang menembus lapisan awan Kota.
Di Halaman Bunga Persik, suasana sangat tenang. Han Luo (Xie Yan) duduk bersandar di kursinya, menikmati seduhan teh yang baru dibuat. Jubahnya yang kusam dan posturnya yang agak bungkuk membuatnya terlihat seperti kakek tua yang sedang menikmati sisa umurnya.
Di dekat pintu masuk yang telah hancur berantakan sejak kemarin, Long Tian (Hei Mian) berdiri bersila sambil memejamkan mata. Pedang raksasanya diletakkan melintang di pangkuannya.
Tiba-tiba, getaran hebat merambat melalui tanah.
Kerikil di halaman berloncatan pelan. Dari arah luar penginapan, terdengar suara derap langkah ratusan sepatu bot besi yang berbaris rapi. Udara di sekitar Halaman Bunga Persik menjadi sangat berat, ditekan oleh aura pembunuh yang pekat.
"Waktunya habis," Han Luo meletakkan cangkir tehnya. Dia terbatuk pelan ke dalam saputangannya. "Tamu kita datang, Hei Mian. Dan sepertinya mereka tidak membawa niat baik."
Long Tian membuka matanya. Dia bangkit berdiri, meraih pedangnya.
BAM!
Sisa-sisa tembok halaman hancur sepenuhnya. Ratusan prajurit berbaju zirah merah gelap dengan lambang kalajengking emas mengepung tempat itu. Aura mereka rata-rata berada di Inti Emas Menengah.
Di depan pasukan itu, sebuah tandu melayang yang terbuat dari kayu spiritual diturunkan. Ba Tu, Tuan Muda Klan Ba yang kemarin bersikap arogan, kini terbaring di atasnya dengan wajah seputih kertas, berkeringat dingin dan gemetar hebat.
Di samping tandu, berdirilah seorang pria paruh baya bertubuh kekar dengan jubah emas. Matanya setajam elang, dan aura yang dipancarkannya membuat udara di sekitarnya terdistorsi.
$$Patriark Ba - Penguasa Klan Ba$$Kultivasi: Jiwa Baru Lahir Akhir.
Patriark Ba menatap Han Luo dengan pandangan yang bisa membunuh.
"Kau yang bernama Xie Yan?" suara Patriark Ba menggelegar, mengandung tekanan spiritual yang sengaja diarahkan untuk meremukkan organ dalam Han Luo.
Namun, saat tekanan itu mencapai tubuh Han Luo, ia lenyap begitu saja seperti embusan angin yang menabrak gunung baja. Han Luo (berkat Domain Hampa pasifnya) tidak berkedip sedikit pun.
Han Luo terbatuk pelan. "Orang tua ini memang Xie Yan. Apakah Anda membawa apa yang saya minta, Patriark?"
Patriark Ba tertawa sinis. Tawa itu diikuti oleh ratusan pasukannya.
"Kau punya nyali besar untuk seorang gembel yang sakit-sakitan," Patriark Ba melangkah maju. "Kau menanamkan kutukan pada putraku, dan kau berharap aku datang membawakanmu satu juta Batu Kristal Suci? Disini, klan kami yang membuat aturan! Serahkan penawarnya sekarang, dan aku akan membiarkanmu mati dengan mayat utuh!"
Mendengar itu, Long Tian maju selangkah, menempatkan dirinya di antara Han Luo dan Patriark Ba. "Melangkah lagi, dan kepalamu akan berpisah dari badanmu," geram Long Tian, meski ia harus menahan tekanan Jiwa Baru Lahir Akhir yang sangat berat.
"Pengawal bisumu ini sangat setia, tapi dia tidak akan bisa menahan satu jariku," Patriark Ba mencibir. "Tangkap kakek tua itu hidup-hidup! Patahkan kaki dan tangan pengawalnya!"
Sepuluh elit Jiwa Baru Lahir Awal dari Klan Ba menerjang maju serentak.
Namun, sebelum Long Tian sempat mengayunkan pedangnya, Han Luo memutar bola matanya dengan malas.
"Patriark Ba," suara Han Luo mendadak berubah. Tidak lagi parau dan menyedihkan, melainkan sangat dingin dan absolut. "Kau membuat pilihan yang salah."
Han Luo mengangkat tangan kirinya, lalu menjentikkan jarinya pelan.
KLIK.
Di atas tandu, Ba Tu yang tadinya hanya gemetar tiba-tiba membelalakkan matanya.
"AAAAAAARRRGHHHH!"
Jeritan yang merobek pita suara meledak dari mulut Ba Tu. Pemuda itu melengkungkan punggungnya seperti busur yang ditarik maksimal. Urat-urat hitam menonjol di seluruh wajah dan lehernya. Di dalam Dantiannya, Kutukan Hampa yang ditanam Han Luo mulai bereaksi, secara harfiah mencerna Bayi Jiwa milik Ba Tu dari dalam ke luar.
"Anakku!" Patriark Ba panik. Serangan pasukannya terhenti seketika. "Apa yang kau lakukan padanya?!"
"Aku sedang memakan nyawanya," jawab Han Luo tenang, menurunkan tangannya. "Satu juta Batu Kristal Suci adalah harga untuk nyawanya satu jam yang lalu. Tapi karena kau membawa pasukan dan berniat membunuhku..."
Han Luo menatap Patriark Ba dengan mata abu-abu yang kini memancarkan teror absolut.
"Harganya naik. Tiga Juta Batu Kristal Suci Murni. Bayar sekarang, atau putra tunggalmu akan berubah menjadi genangan lumpur hitam di depan matamu."
"KAU MENCARI MATI!" Patriark Ba murka. Dia melesat maju sendirian, berniat menghancurkan Han Luo dalam satu pukulan dan merebut penawarnya secara paksa.
Telapak Penghancur Gunung!
Sebuah telapak tangan energi raksasa berwarna merah gelap terbentuk di udara, menghantam ke arah Han Luo.
"Tuan Muda!" Long Tian bersiap menangkis, tapi Han Luo tetap duduk manis.
Saat telapak energi itu berjarak satu inci dari wajah Han Luo...
Sutra Hati Es Abadi: Nol Mutlak.
Han Luo tidak bergerak, tapi mata kirinya (yang tersembunyi di balik ilusi) berkedip dengan cincin biru es.
Cessss!
Telapak energi raksasa tingkat Jiwa Baru Lahir Akhir itu tiba-tiba membeku di udara. Energi yang membara itu berubah menjadi kristal es merah yang rapuh, sebelum akhirnya hancur menjadi debu salju yang berjatuhan di pangkuan Han Luo.
Langkah Patriark Ba terhenti seketika. Matanya melotot tidak percaya.
Menghancurkan serangan pamungkasnya tanpa menggerakkan satu jari pun?! Siapa orang cacat ini?!
"K-Kau... Kau bukan Inti Emas..." Patriark Ba gemetar. Kesombongannya hancur berkeping-keping. Pria di depannya ini pasti seorang monster tua dari Daratan Utama yang sedang menyamar!
"Tiga Juta, Patriark," suara Han Luo mengingatkan, mengabaikan keterkejutan pria itu.
Di atas tandu, Ba Tu mulai memuntahkan darah hitam. Napasnya tersengal-sengal. "A-Ayah... selamatkan... aku..."
Patriark Ba menelan ludah. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa melawan pria ini, dan nyawa putranya tinggal menghitung detik. Jika dia menolak, klannya tidak hanya kehilangan pewaris, tapi mungkin akan diratakan dengan tanah hari ini juga.
Dengan tangan bergetar hebat, Patriark Ba melepas cincin penyimpanan tingkat tingginya.
"I-Ini..." Patriark Ba melemparkan cincin itu ke meja Han Luo. "Di dalamnya ada Tiga Juta Batu Kristal Suci Murni. Itu adalah separuh dari kekayaan klan kami... Tolong, lepaskan putraku."
Han Luo mengambil cincin itu dengan santai. Dia menggunakan Indra Spiritual-nya untuk memindai isinya. Gunung kristal murni bersinar di dalam ruang spasial itu.
Senyum puas mengembang di wajah pucatnya. Dana untuk Akademi Dao Suci telah terkumpul dalam satu pagi.
"Sangat patuh. Kau seharusnya melakukan ini sejak awal," Han Luo menjentikkan jarinya untuk kedua kalinya.
Di atas tandu, jeritan Ba Tu berhenti. Urat-urat hitam di wajahnya memudar, dan dia jatuh pingsan karena kelelahan, namun napasnya kembali stabil. Kutukan itu telah dibekukan sementara (Han Luo tidak pernah mencabutnya sepenuhnya, hanya menidurkannya, sebagai asuransi jangka panjang).
"Bawa anakmu pulang, Patriark. Dan jika kau berniat mencari balas dendam..." Han Luo berdiri dari kursinya, menyandarkan tubuh pada pengawalnya, kembali ke peran kakek sakit-sakitan. "...aku jamin, kali berikutnya aku datang, aku tidak akan meminta uang. Aku akan mengambil seluruh klanmu."
Patriark Ba tidak berani membantah. Dia memberi isyarat pada pasukannya dengan tangan gemetar.
"Mundur! Kita pergi!"
Pasukan Klan Ba, yang datang dengan arogansi selangit, kini berbalik dan pergi dengan ekor di antara kaki mereka, mengangkut Tuan Muda mereka yang pingsan.
Halaman penginapan itu kembali sunyi.
Long Tian menatap tuannya dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Tuan Muda... Anda baru saja memeras salah satu faksi penguasa kota ini tanpa harus berkeringat."
Han Luo menghela napas, menyimpan cincin berisi tiga juta kristal itu dengan aman.
"Kekuatan fisik hanya berguna untuk menebas leher, Hei Mian. Tapi ketakutan... ketakutan bisa membuka setiap pintu brankas di dunia ini," Han Luo membersihkan debu dari jubahnya.
"Kita sudah selesai dengan selokan ini."
Han Luo menatap ke atas, ke arah lapisan awan yang memisahkan. Di sanalah Akademi Dao Suci berada, tempat yang menyimpan sejarah dunia, hukum Langit, dan informasi tentang kekuatan sejati Cakrawala Suci.
"Siapkan barang-barang kita, Hei Mian." kata Han Luo, senyum licik terukir di wajahnya. "Kita punya tiga juta Kristal Suci untuk dihabiskan. Saatnya membeli status sebagai bangsawan terpelajar."