NovelToon NovelToon
Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anime
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.

Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.

Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Koper besar di sudut ruangan sudah terkunci rapat, draf serah terima kasus pun sudah tersusun rapi di dalam tas kerja. Pekerjaan Afisa selesai, namun perutnya justru mulai melakukan "protes hukum" yang tidak bisa diabaikan. Baru ia sadari, sejak debat di pengadilan pagi tadi hingga sesi packing barusan, ia hanya sempat menyesap kopi.

Afisa melirik  Bintang yang masih terlelap di sofa. Suaminya itu tampak sangat damai, napasnya teratur, seolah beban operasi sepuluh jam tadi mulai menguap lewat tidurnya.

Pelan-pelan, Afisa melangkah ke dapur kecilnya. Ia membuka lemari kabinet dan menemukan satu bungkus mie instan rasa soto koya—penyelamat di segala situasi darurat. Ia mulai menjerang air, mencoba meminimalisir suara denting panci agar tidak membangunkan Bintang.

Aroma gurih kaldu dan jeruk nipis mulai memenuhi ruangan apartemen yang sunyi. Saat Afisa sedang asyik menuangkan bumbu ke dalam mangkuk, sepasang lengan tiba-tiba melingkar hangat di pinggangnya dari belakang.

"Masakan paling enak di dunia setelah opor Bunda..." suara Bintang terdengar serak khas orang baru bangun tidur, dagunya bersandar di bahu Afisa.

Afisa tersentak kecil, lalu tersenyum sambil terus mengaduk mie. "Eh, Mas bangun? Maaf ya, aroma mie-nya terlalu 'provokatif' ya sampai bikin kamu bangun?"

Bintang terkekeh pelan, ia menghirup dalam-dalam aroma mie tersebut sekaligus aroma rambut Afisa. "Bukan cuma aroma mie, tapi rasa kangen karena ditinggal tidur tadi. Kamu belum makan dari sore, Fis?"

"Belum sempat, Mas. Tadi fokus beresin koper biar besok tinggal angkut ke 'Safe House' kita," Afisa mematikan kompor, lalu menuangkan mie ke mangkuk. "Ayo makan bareng. Cuma ini yang ada di dapur pengacara malam-malam begini."

Mereka duduk berdua di lantai dapur yang beralaskan karpet bulu, berbagi satu mangkuk mie instan yang sama dengan dua garpu—sebuah ekuilibrium sederhana yang jauh lebih manis daripada makan malam di restoran mewah manapun.

"Mas..." panggil Afisa di sela suapannya.

"Ya, Sayang?" Bintang menatapnya, matanya kini sudah terlihat lebih segar meski masih ada sisa lelah.

"Melihat koper itu sudah rapi... aku jadi sadar kalau tanggal 15 itu beneran nyata. Minggu depan, jam segini, mungkin aku sudah di Semarang, makan mie instan sendirian di apartemen baru," suara Afisa sedikit merendah.

Bintang meletakkan garpunya, ia menggenggam tangan Afisa yang sedang memegang mangkuk. "Fis, lihat aku. Di Semarang nanti, kamu nggak akan pernah makan sendirian. Aku akan selalu telepon, atau video call sambil makan mie yang sama biar kita ngerasa satu meja."

Bintang mencium punggung tangan Afisa yang kini sudah dihiasi cincin pernikahan agama mereka. "Jarak itu cuma buat raga kita, bukan buat rasa peduli kita. Dan ingat, setiap jumat malam, aku yang bakal bawain martabak atau makanan enak lainnya ke Semarang. Kamu nggak akan sempet kangen sama mie instan ini."

Afisa tersenyum haru, menyandarkan kepalanya di bahu Bintang. Rasa lapar fisiknya terobati oleh mie, namun rasa lapar akan kepastian di hatinya terobati oleh janji suaminya. Malam itu, di lantai dapur yang dingin, mereka merayakan hari-hari terakhir di Jakarta dengan kesederhanaan yang akan menjadi memori paling mahal saat jarak benar-benar memisahkan mereka nanti.

Malam semakin larut di apartemen lama Afisa. Aroma mie instan yang tadi memenuhi ruangan perlahan memudar, digantikan oleh sunyi yang mendalam. Koper-koper yang sudah tertutup rapat di sudut ruangan seolah menjadi saksi bisu bahwa waktu Afisa di Jakarta tinggal menghitung hari.

Mereka masih duduk bersila di atas karpet bulu di lantai dapur. Bintang perlahan meletakkan mangkuk kosong ke samping, lalu menggeser duduknya hingga jarak di antara mereka hilang. Ia meraih kedua tangan Afisa, menggenggamnya dengan jemari yang terasa hangat dan kokoh—jemari yang tadi pagi berjuang menyelamatkan nyawa, dan kini sedang mencoba menenangkan satu jiwa.

"Fis..." panggil Bintang rendah, suaranya serak namun penuh damba.

Afisa mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Bintang yang begitu intens. Di bawah temaram lampu dapur, wajah Bintang tampak begitu dekat. Afisa bisa merasakan hembusan napas suaminya yang mulai teratur, bergerak mendekat, seolah ingin menghapus sisa jarak yang ada.

Saat Bintang perlahan memiringkan wajahnya, memejamkan mata, dan hendak menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang tulus, Afisa tiba-tiba merasakan dadanya berdegup kencang—bukan karena cinta, melainkan oleh rasa sesak yang mendadak menyerang.

Zlap!

Refleks, Afisa memalingkan wajahnya ke arah samping. Kecupan lembut Bintang akhirnya hanya mendarat di pipi Afisa, menyisakan keheningan yang canggung di antara mereka.

Bintang tertegun. Ia menjauhkan wajahnya perlahan, namun tangannya tidak melepaskan genggaman pada Afisa. Ia menatap sisi wajah istrinya yang kini tertunduk dalam.

"Mas... maaf," bisik Afisa, suaranya bergetar. "Aku... aku belum siap. Maafkan aku."

Hening sejenak. Afisa meremas ujung bajunya, takut jika penolakannya akan melukai ego Bintang yang sudah begitu sabar. Namun, yang ia rasakan kemudian justru usapan lembut di kepalanya. Bintang menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang penuh dengan pengertian yang luar biasa.

"Hei, lihat aku, Fis," Bintang berbisik lembut, menangkup wajah Afisa dengan kedua tangannya agar mereka kembali bertatapan. "Kenapa harus minta maaf? Memang ada pasal di hukum pernikahan kita yang bilang kalau kamu harus siap dalam semalam?"

Afisa menatap mata Bintang yang sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. "Aku merasa jahat, Mas. Kita sudah sah, dan kamu sudah sesabar ini nunggu aku enam tahun. Tapi aku masih punya ketakutan ini... aku takut kalau aku mengecewakanmu, apalagi minggu depan aku sudah harus pergi jauh ke Semarang."

Bintang tersenyum tipis, senyum yang menjadi ekuilibrium bagi kegelisahan Afisa. Ia mengecup punggung tangan istrinya dengan khidmat.

"Fis, aku mencintai kamu, bukan cuma status kita. Aku nunggu enam tahun bukan buat maksa kamu di hari pertama kita menikah. Aku mau momen apa pun di antara kita terjadi karena kamu merasa aman dan bahagia, bukan karena kamu merasa terbebani tugas sebagai istri," Bintang mengusap air mata yang mulai jatuh di pipi Afisa. "Aku bisa nunggu sampai kamu bener-bener siap. Mau itu besok, bulan depan, atau setelah kamu balik dari Semarang nanti."

"Mas..." Afisa menghambur ke dalam pelukan Bintang, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Rasa bersalahnya perlahan mencair, digantikan oleh rasa syukur yang luar biasa.

"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang, ayo istirahat," Bintang merangkul bahu Afisa erat, membimbingnya berdiri. "Besok kita punya misi besar buat angkut barang-barang kamu ke Safe House kita. Aku nggak mau istriku kurang tidur cuma gara-gara mikirin 'klausul' yang belum waktunya dieksekusi."

Malam itu, meski raga mereka belum sepenuhnya menyatu, Afisa menyadari bahwa jiwanya telah menemukan pelabuhan yang paling aman. Bintang adalah pria yang tidak hanya memberinya cinta, tapi juga ruang—sebuah ekuilibrium sejati yang membuatnya merasa benar-benar dicintai sebagai manusia, bukan sekadar sebagai objek kepemilikan.

1
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
lama nya upp nua
byyyycaaaa: up siangan ya
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
Afisa sama bintang nikah sirih tor. yok tor bikin pesta nikahan Afisa semeriah mungkin bikin fita datang nikahan Afisa tor
byyyycaaaa
nanti ada saatnya,si Afisanya takut hamil,🌚
byyyycaaaa: updetnya besok lagi ya guys🙏🤗
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin hamil tor
byyyycaaaa
Guntur cocoknya sama authornya 🌚
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin jadian guntur sama citra ator
byyyycaaaa: ada fotonya afisa dan juga Bintang 🤭
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
trus bikin fita nyesal. dan citra nikah sama guntur dong biar guntur bahagia sama citra
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun: no tor citra sama guntur
total 2 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
alhamdulilah udah pecah telorr dongg. bikin anak junior bintang🤣🤣🤣
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin Afisa pecah telor sama bintang Thor. eh Thor tentang fita gi mana tor
byyyycaaaa: nanti di ceritain sama Guntur ya
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
kapan Afisa pergi nikahan kaila
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun: ayo Thor bikin malam pertama Afisa sama bintang gk sabar. pengen liat nanti Afisa sukses muka fita gi mana yah hehe
total 2 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
nikah nikah nikah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!