"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: SAUH TAKDIR DI ANTARA DUA DUNIA
Langit Jakarta yang memerah darah mendadak terbelah oleh dentuman guntur yang memekakkan telinga. Dari pusaran awan yang berkilat emas, tiga sosok tinggi besar dengan jubah putih yang memancarkan cahaya menyilaukan turun perlahan, melayang di udara tepat di depan balkon kamar Nael yang hancur. Mereka adalah Utusan Langit, jenderal perang kepercayaan Dewa Matahari.
Nael berdiri di depan ranjang, mendekap tubuh Alurra yang masih pingsan dan bercahaya redup. Meskipun jantungnya berdegup kencang karena ketakutan yang primitif, Nael tidak mundur selangkah pun. Ia menyambar sebilah belati dekorasi di dinding—satu-satunya senjata yang ia punya—dan mengarahkannya pada para dewa itu.
"Manusia rendah," suara pemimpin utusan itu, Zael, menggelegar tanpa menggerakkan bibir. "Lepaskan Putri Agung kami. Kau telah membiarkan racun bumi mengotori cahayanya. Kau tidak layak menyentuhnya."
Nael menggeleng kuat. Matanya merah, air mata kemarahan mengalir di pipinya. Ia ingin berteriak, ingin memaki mereka karena ingin memisahkan Alurra darinya, tapi ia hanya bisa mengeluarkan suara parau yang tertahan. Ia berdiri kokoh, memasang badan untuk melindungi Alurra.
"Kau ingin melawan kami dengan sepotong besi?" Zael melangkah maju, kakinya tidak menyentuh lantai. Aura kekuatannya membuat perabotan di kamar Nael hancur menjadi debu. "Minggir, atau jiwamu akan kami hapus dari garis penciptaan!"
Nael tetap diam. Ia meletakkan belati itu, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menantang para utusan itu untuk melangkahinya jika ingin mengambil Alurra. Ia menatap mata emas Zael dengan keberanian yang tak masuk akal bagi seorang manusia biasa.
Zael mengernyit. Ia mengulurkan tangan bercahayanya untuk mendorong Nael, namun gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh Kalung Akar Perak yang melingkar di leher Nael—kalung yang dipasangkan Alurra saat mereka pertama kali bertemu.
ZINGGG!
Begitu jari dewa itu menyentuh perak suci tersebut, sebuah getaran hebat merambat ke seluruh ruangan. Kalung itu bersinar terang, menghubungkan kesadaran Zael langsung ke kedalaman jiwa Nael.
Zael tertegun. Di dalam sana, ia tidak mendengar suara vokal, melainkan Suara Hati yang murni dan menggelegar.
"Ambil nyawaku, tapi jangan ambil dia! Dia adalah duniaku yang baru. Tanpa dia, aku hanyalah keheningan yang mati. Jika kalian membawanya, kalian membawa separuh jiwaku!"
Gema cinta, pengorbanan, dan kesetiaan Nael yang begitu dalam menghantam batin sang utusan langit. Zael menarik tangannya dengan gemetar. Ia melihat ikatan takdir yang melilit nadi Nael dan Alurra—ikatan merah yang tidak bisa diputus oleh pedang dewa sekalipun.
Zael segera memejamkan mata, melakukan komunikasi transdimensional dengan Dewa Matahari yang sedang mengawasi dari singgasana langit.
"Gusti Agung... ampunilah hamba," bisik Zael lewat batinnya. "Manusia ini... dia bukan sekadar penjaga. Alurra telah mengikatkan jiwanya secara permanen pada pria ini melalui Akar Perak Takdir."
Di atas sana, suara Dewa Matahari terdengar berat dan penuh keraguan. "Apa maksudmu, Zael?"
"Sekalipun kita membawa Alurra kembali ke surga hari ini, jiwanya akan selalu meronta kembali ke Bumi. Takdir mereka sudah terjalin. Memisahkan mereka sekarang hanya akan membuat cahaya Alurra padam selamanya karena rindu. Manusia ini telah memenangkan hatinya dengan ketulusan yang melampaui logika dewa."
Keheningan melanda langit sejenak. Guntur berhenti bersahutan. Perlahan, warna merah darah di awan mulai memudar kembali menjadi jingga sore yang tenang.
Zael menatap Nael yang masih bersiaga dengan napas terengah. Utusan itu menurunkan pedang cahayanya.
"Manusia," suara Zael kini lebih tenang, hampir bernada hormat. "Putri kami telah memilihmu sebagai 'sauh'-nya di dunia yang fana ini. Kami akan membiarkannya tinggal, tapi ingatlah... racun yang ada di tubuhnya harus dibersihkan dengan air suci dari air terjun abadi yang akan kami turunkan di tamanmu malam ini."
Zael mendekat, menyentuh kening Alurra yang pingsan, menetralisir sisa-sisa racun Jayden. "Jaga dia baik-baik. Jika kau membiarkannya terluka lagi, tidak akan ada takdir yang bisa melindungimu dari murka kami."
Dalam sekejap, ketiga utusan itu menghilang menjadi butiran cahaya yang terbang ke langit.
Nael terduduk lemas di lantai, air mata kelegaan tumpah tak terbendung. Ia segera memeluk Alurra yang mulai membuka matanya perlahan.
"Nael...?" gumam Alurra lemah, ia melihat Nael yang menangis sesenggukan. "Kenapa kau menangis? Apa Ular Amis itu menggigitmu? Sini, biar aku hajar dia..."
Nael hanya bisa menggeleng pelan, membenamkan wajahnya di leher Alurra, bersyukur pada semesta karena bidadari bar-bar-nya masih berada di pelukannya.
...****************...
aku suka namanya Nael ....