Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegilaan Aca
Langkah kaki itu semakin dekat. Pelan, teratur, tidak terburu-buru. Seolah orang itu tahu persis ke mana harus melangkah.
Napas Aca tercekat. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, tubuhnya menegang seperti senar yang ditarik terlalu kencang.
“Aca tutup pintunya tutup.” bisiknya pada diri sendiri.
Namun kakinya justru melangkah keluar. Satu langkah. Dua langkah. Lorong itu terasa lebih dingin dari dalam kamar. Bau logam samar langsung menusuk hidungnya.
Matanya menyapu sekitar. Pecahan kaca. Bekas tembakan di dinding dan seseorang.
Seorang pria berpakaian hitam muncul dari ujung lorong.
Tatapan mereka bertemu. Hening satu detik dua detik dan dalam sekejap pria itu bergerak cepat ke arahnya.
DEG!
Refleks, tubuh Aca langsung bereaksi.
Bukan mundur. Tapi maju. Dengan gerakan cepat, Aca menyambar kerah pria itu dan,
BRAK!
Tubuh pria itu dibanting keras ke dinding. Tangannya langsung melesat ke leher pria itu.
Mencekik. Kuat.
“Berani masuk sini siapa yang nyuruh lo?!” suara Aca tajam, penuh amarah.
Matanya berubah. Bukan lagi gadis yang ketakutan. Tapi seseorang yang siap melawan.
“Lo pikir gue takut?!” cekikannya semakin menguat.
Pria itu mencoba meronta. Tangannya berusaha melepaskan cengkeraman Aca. Namun gagal.
“Lo pikir gue cuma bisa sembunyi di balik Aron begitu?” lanjut Aca, napasnya memburu.
“Lo salah besar.”
Tangannya semakin menekan leher pria itu tanpa ampun. Pria itu mulai kesulitan bernapas. Wajahnya memerah.
Dengan sisa tenaga, ia mengangkat tangannya, mencoba memukul Aca namun Aca lebih cepat.
BUGH!
Pukulan keras mendarat di wajah pria itu. Kepalanya terhentak ke samping. Belum selesai. Aca menarik kerahnya lagi.
DUGH!
Kepala pria itu dihantamkan ke dinding.
Sekali, dua kali hingga tiga kali suara benturan menggema di lorong.
“AAARGHH!!”
Pria itu berteriak kesakitan.nNamun Aca tidak berhenti. Seolah semua ketakutan, semua tekanan, semua kekacauan yang ia rasakan sejak tadi meledak jadi satu.
BUGH!
Tendangan keras menghantam perut pria itu.
Tubuhnya terjatuh ke lantai. Aca langsung mengikutinya, menarik rambut pria itu kasar dan,
DUGH!
Kepalanya kembali dibenturkan ke lantai. Darah mulai mengalir. Namun tatapan Aca masih tajam. Masih penuh amarah.
“JAWAB GUE!” bentaknya.
“Siapa yang nyuruh lo?!”
Pria itu hanya mengerang. Tidak menjawab.
Aca mencengkram lehernya lagi. Kali ini lebih kuat lebih brutal.
“JANGAN CUMA DIAM!!” Namun sebelum ia bisa melakukan lebih jauh.
“ACA!” Suara itu menggema dari ujung lorong. Langkah kaki cepat mendekat.
Aron. Matanya langsung menangkap pemandangan di depannya.
Aca di atas tubuh pria tak dikenal. Tangan gadis itu mencekik tanpa ragu. Wajahnya dingin. Penuh emosi yang belum padam.
Dan pria itu nyaris sudah tidak bergerak.
Aron berhenti beberapa langkah dari mereka.
Untuk sepersekian detik ia hanya diam. Menatap terkejut. Bukan karena ada penyusup tapi karena Aca.
“Aca…” suaranya lebih rendah kali ini.
Aca tidak langsung menoleh. Tangannya masih mencengkeram leher pria itu. Napasnya berat. Tubuhnya tegang.
“Lepasin,” kata Aron pelan. Tidak ada respon. “Aca.”
Kali ini lebih tegas. Perlahan Aca menoleh.
Tatapan mereka bertemu.mDan di detik itu, sesuatu berubah.
Amarah di mata Aca mulai retak.nDigantikan oleh kesadaran.mSeolah ia baru sadar apa yang baru saja ia lakukan.
Tangannya melemah.nCengkeramannya terlepas. Pria itu langsung terbatuk keras, menarik napas dengan susah payah.
Aca mundur satu langkah. Lalu dua langkah.
Matanya masih terpaku pada pria di lantai.
Tangannya gemetar.
“A-aku…” suaranya lirih.
Aron langsung mendekat. Bukan ke pria itu.
Tapi ke Aca. Tangannya meraih bahu gadis itu, menariknya menjauh dari tubuh pria tersebut.
“Udah,” bisiknya pelan.
Aca menatapnya. Nafasnya belum stabil. “Aku… aku tadi…”
“Kamu bertahan.” Jawaban Aron singkat.
Tapi cukup. Cukup untuk membuat Aca terdiam. Di belakang mereka, anak buah Aron datang berlari.
“Bos!”
Aron menoleh sekilas. “Amankan dia hidup hidup.”
“Siap!”
Mereka langsung menyeret pria itu pergi.
Lorong kembali sunyi. Namun suasananya berbeda sekarang.
Aca masih berdiri diam. Tangannya masih sedikit gemetar. Aron menatapnya beberapa detik. Lalu tanpa banyak bicara ia menarik Aca ke dalam pelukannya.
Erat. Lebih erat dari sebelumnya. Aca tidak melawan. Kali ini benar-benar tidak. Tangannya perlahan mencengkeram baju Aron.
“Gue…” suaranya pelan, hampir tidak terdengar, “gue gak takut tadi.”
Aron mengusap rambutnya lembut. “Aku tahu.”
“Gue marah.”
“Iya.”
“Gue benci ngerasa lemah.”
Aron sedikit menjauh, menatapnya.
Tangannya naik, menghapus sisa air mata yang entah sejak kapan muncul.
“Kamu gak lemah.”
Aca menatapnya. Matanya masih bergetar.
Aron tersenyum tipis. “Tadi kamu hampir bunuh dia.”
Aca terdiam beberapa detik lalu, “Bagus dong.”
Aron mengangkat alis dan untuk pertama kalinya di tengah kekacauan ini Aca tersenyum tipis.
Namun belum sempat suasana mereda seorang anak buah berlari kembali. “Bos!”
Aron langsung menoleh. “Apa lagi?”
“Ini baru saja kami temukan di tubuh penyusup itu.”
Ia menyerahkan sesuatu sebuah kartu kecil.
Hitam tanpa tulisan jelas. Hanya ada satu simbol.
Aron menyipitkan mata. Ekspresinya langsung berubah. Lebih serius dari sebelumnya. “Kenapa?” tanya Aca.
Aron tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam kartu itu erat lalu. “Kita punya masalah besar.”
Aca mengerutkan kening. “Memangnya siapa mereka?”
Aron menatap lurus ke depan. Suaranya rendah. Tapi penuh arti. “Ini bukan sekadar tim bayaran.”
Hening lalu ia melanjutkan, “Mereka organisasi.”
Aca menelan ludah. “Organisasi apa?”
Aron menoleh padanya. Tatapannya tajam. “Yang bahkan aku gak mau punya masalah sama mereka.”
Kalimat itu jatuh pelan namun dampaknya jauh lebih berat dari suara tembakan tadi.
Dan di luar sana hujan masih turun. Seolah belum akan berhenti. Seperti pertanda ini baru permulaan.
Aca menatap kartu hitam itu lebih lama. Simbolnya sederhana, tapi entah kenapa terasa mengancam.
“Organisasi?” ulangnya pelan.
Aron tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya masih terpaku pada kartu di tangannya.
“Udah lama gak lihat tanda ini,” gumamnya.
Aca mengernyit. “Berarti lo kenal?”
Aron menarik napas pelan. “Bukan kenal. Tapi cukup tahu kalau mereka bukan tipe yang main-main.”
Suasana kembali hening. Aca melirik ke arah lorong yang masih berantakan. Ingatan tentang apa yang barusan ia lakukan muncul lagi.
Tentang cekikan itu. Tentang darah. Tentang dirinya sendiri yang berbeda. “Apa mereka bakal datang lagi?” tanya Aca, kali ini lebih pelan.
Aron menoleh. Tatapannya sedikit melunak, tapi tetap tegas. “Pasti.” Jawaban tanpa ragu itu membuat perut Aca terasa geli.
“Dan kali ini…” Aron melanjutkan, suaranya lebih rendah, “mereka gak akan kirim orang sembarangan.”
Aca menelan ludah namun anehnya, bukannya mundur tatapannya justru berubah. Lebih fokus.
“Ya udah,” katanya tiba-tiba.
Aron mengangkat alis. “Ya udah?”
Aca menyilangkan tangan. “Kalau mereka mau main kita lawan sampai tuntas.”
Aron menatapnya beberapa detik. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan karena lucu. Tapi karena Aca sudah benar-benar masuk ke dalam dunianya sekarang.
“Lawan aku dulu sini, coba cium dikit sayang.” sahut Aron sambil menjilat bibir atasnya sendiri.