Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh Bantuan Kamu
Beberapa hari kemudian, jam besuk akhirnya tiba. Amira berdiri di depan pintu ICU dengan napas tertahan, telapak tangannya dingin, dan dadanya terasa sesak, bukan karena takut, tapi karena harapan yang akhirnya terbentuk.
Dia menempelkan kartu pengunjung, lalu pintu terbuka perlahan. Bau antiseptik menyambutnya. Suara monitor berdetak pelan seperti metronom kehidupan.
Langkah Amira pelan, tapi matanya berbinar. Ada gurat bahagia di wajahnya, bahagia yang muncul setelah melewati hari-hari paling gelap. Seolah, Amira sendiri yang baru saja lolos dari maut.
Dia mendekati ranjang ibunya. Di sana, ibunya terbaring dengan selang dan alat bantu, wajahnya masih pucat, tapi ada warna tipis di bibirnya. Dadanya naik turun pelan, dan yang paling membuat Amira ingin menangis, monitor itu stabil. Dia menutup mulutnya, di sela air mata yang jatuh.
“Bu .,” bisiknya.
Dia menggenggam tangan ibunya pelan. Hati-hati sekali, seperti takut ibu itu rapuh.
“Bu, ini beneran, ya?”
Amira mengusap punggung tangan ibunya, lalu menunduk, menahan isak.
Beberapa hari yang lalu, saat dokter berkata jantung pendonor cocok dan operasi segera dilakukan, Amira seperti terlempar ke dunia lain.
Dia menunggu berjam-jam di luar ruang operasi, mendengar langkah dokter, mendengar pintu terbuka-tutup, mendengar namanya dipanggil, dan ketika dokter akhirnya berkata operasi berjalan lancar, Amira menangis sampai sesak.
Sekarang, dia berdiri di ICU, melihat ibunya masih hidup, masih ada. Masih bisa diperjuangkan.
Amira menghela napas panjang, bahunya turun pelan.
“Aku janji, aku bakal jaga Ibu .…”
Lalu, di sela tangis yang hangat itu, Amira teringat satu nama, Celine. Orang yang datang tiba-tiba, memberi jalan keluar, tapi untuk saat ini dia belum bertemu lagi dengan Celine. Hanya sekedar berkomunikasi lewat chat.
Amira akhirnya mengeluarkan ponselnya, menatap kontak itu lama. Tangannya sempat ragu. Namun akhirnya, dia mengetik pesan singkat.
Amira: Bu Celine, operasi ibu aku berhasil. Ibu aku selamat. Terima kasih.
Dia menatap layar. Dadanya berdebar. Lalu menambahkan satu kalimat lagi, kalimat yang selama ini berputar di kepalanya.
Amira: Aku nggak akan lupa kebaikan Ibu. Apa pun yang Ibu butuhkan, bilang aja.
Amira mengirim. Lalu dia kembali menatap ibunya, menggenggam tangannya lagi. Di wajah Amira memang ada air mata, tapi juga ada senyum kecil.
Di tengah suara monitor yang stabil, kelopak mata Ibu Amira bergerak pelan.
Sekali, dua kali, lalu terbuka. Matanya masih kosong, seperti baru ditarik kembali dari tempat yang jauh. Dia menatap langit-langit ICU, napasnya berat melalui alat bantu, lalu perlahan menoleh, dan menemukan Amira.
“Bu, Ibu udah sadar …?”
Ibu Amira berkedip, lama. Tatapannya linglung. Kebingungan itu jelas di wajahnya. Amira buru-buru meraih tangan ibunya, menggenggamnya dengan hati-hati.
“Ibu jangan takut, sekarang Ibu udah ngga sakit lagi.”
Ibu Amira mencoba menggerakkan bibirnya, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya napas yang terdengar, pelan dan berat.
Amira menelan ludah, lalu tersenyum seraya menangis.
“Ibu bingung ya? Ibu baru aja operasi .…”
Ibu Amira berkedip lagi, keningnya berkerut. Amira menunduk mendekat, suaranya sangat lembut.
“Alhamdulillah, ada pendonor jantung yang cocok. Jadi, kemarin dokter segera melakukan transplantasi jantung dan Ibu selamat.”
Ibu Amira menatap Amira tanpa berkedip. Kebingungan itu tidak hilang. Justru semakin dalam. Karena dia paham, walau tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Ibu Amira tahu, operasi seperti itu pasti sangat mahal. Matanya bergerak perlahan, menatap sekeliling ICU, alat-alat, selang, ruangan steril, lalu kembali ke Amira.
Di sorot matanya, ada sesuatu yang lebih dari bingung. Ada ketakutan yang tidak bisa diucapkan.
Ibu Amira menggerakkan tangannya pelan, lemah, mencoba menggenggam balik. Jari-jarinya bergetar. Lalu, dia mengangkat tangan itu sedikit, seolah ingin menyentuh wajah Amira.
Amira langsung mendekat, membiarkan tangan ibunya menyentuh pipinya.
“Ibu, jangan mikir hal yang berat dulu ya."
Akan tetapi, Ibu Amira menatapnya makin tajam, seolah tidak mau dibohongi. Dia mengerutkan kening lebih dalam. Lalu bibirnya bergerak lagi, berusaha bicara, tapi tak ada suara. Hanya hembusan napas. Amira menggenggam tangan ibunya erat.
Ibu Amira menatapnya lama. Air mata menggenang di sudut matanya, lalu jatuh. Amira ikut menangis. Dia menunduk, mencium punggung tangan ibunya.
“Ibu jangan takut, aku bakal urus semuanya.”
Jam dinding di ICU berdetak pelan, lalu suara petugas terdengar tegas dari ujung lorong.
“Jam besuk sudah selesai. Mohon keluarga pasien keluar.”
Amira menoleh, lalu kembali menatap ibunya. Matanya masih berat, tapi kini sudah ada kesadaran di sana. Meskipun masih bingung, dan takut. Amira menggenggam tangan ibunya sekali lagi.
“Bu, Amira keluar dulu ya. Nanti Amira balik lagi.”
Ibu Amira menatapnya, lalu mengangguk pelan, gerakan kecil yang membuat Amira ingin menangis lagi. Amira menunduk, mencium punggung tangan ibunya.
“Ibu istirahat ya biar cepet sembuh.”
Lalu Amira berdiri dan berjalan keluar. Begitu pintu ICU menutup di belakangnya, Amira menghela napas panjang.
Amira mengeluarkan ponselnya, berniat mengabari beberapa teman kerjanya. Namun, ketika dia belum sempat melakukan itu, ponselnya bergetar. Nama di layar membuat jantung Amira berdetak lebih cepat, Celine.
Amira buru-buru mengangkat.
“Halo, Bu Celine?”
Suara Celine terdengar di ujung sana, tenang tapi jelas ada sesuatu yang ditahan.
“Amira. Gimana keadaan ibu kamu?”
Amira menelan ludah, lalu suaranya pecah oleh kebahagiaan.
“Ibu aku udah sadar. Alhamdulillah .…”
Di ujung sana, Celine diam sebentar. Lalu terdengar helaan napas kecil, seolah Celine ikut lega, tapi mungkin tidak sepenuhnya.
“Syukurlah,” kata Celine akhirnya.
Amira tersenyum, air matanya jatuh lagi tanpa sadar. “Makasih ya, Bu Celine. Aku bener-bener ....”
“Amira,” potong Celine pelan.
“Iya, Bu?”
Celine terdiam beberapa detik, lalu bertanya dengan suara yang lebih rendah.
“Bisa kita bicara?”
Amira menelan ludah.
“Iya, bisa. Mau sekarang?”
Celine menghela napas.
“Iya. Sekarang. Kamu bisa keluar sebentar dari rumah sakit? Cari tempat yang agak sepi.”
Amira mengangguk meski Celine tidak melihat.
“Bisa, Bu. Aku ke taman depan rumah sakit.”
"Jangan di taman, di cafe aja. Kamu ke arah selatan rumah sakit, di sana ada cafe. Kita ketemu di sana."
"Baik, Bu Celine."
“Aku butuh bantuan kamu.”
Amira menatap kosong ke depan. Jantungnya berdebar. Lalu, tanpa ragu, dia menjawab, “Apapun yang Bu Celine butuhkan saya bersedia melakukan itu."
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..