Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Tinggal Peran Antagonis
Michel melempar sendok plastik ke atas nampan dengan gerakan teatrikal."Ndak mau! Ndak! Di bilangin Micel ndak mau makan bubul. Ndak enak, ndak ada laca cepelti pelacaan ku yang hambal!"
Mikael memijat pangkal hidungnya, meniru gaya orang dewasa yang sedang stres. "Makanlah sedikit saja, Chel. Kalau Daddy tau kamu nggak makan, dia bisa marah."
Michel menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. "Mommy kandung laca Mommy tili ndak kecini... kemalen Micel mimpi di gendong cama Mommy. Kenapa di mimpi Mommy wangi bunga, tapi di sini cuma bau obat?"
Mikael terdiam sejenak, wajahnya mengeras. "Nggak usah pikirkan wanita itu. Sejak kapan dia peduli? Dia cuma mau harta Daddy, bukan kita."
Michel mencebikkan bibir, mencoba mengalihkan rasa sedihnya dengan dramatis. "Ya cudah! Kalau begitu Micel mogok makan bubul ini celamanya. Micel mau makanan yang bica bikin hati Micel hangat lagi!"
Mikael menghela napas lega karena adiknya berhenti membahas ibu mereka. "Oke, oke. Kamu mau makan apa? Bilang saja, nanti aku minta bodyguard atau suster carikan di luar."
Mata bulatnya tiba-tiba berbinar nakal, ia tampak berpikir keras. "Micel mau... Cileng Bajigul! Cepeltinya enak banget!"
Mikael mengerutkan kening, wajahnya tampak sangat kebingungan. "Cileng... apa? Babi-gul? Makanan jenis apa itu? Apa itu makanan Prancis yang baru?"
Michel mendengus kesal melihat ketidaktahuan kakaknya. "Bukan Babi-gul, Kael! Cileng Bajigul! Makanan tiktokels, yang lagi legit! Micel liat di hape kemalen. Bentuknya kenyal-kenyal, telus minumnya anget-anget ada bau jahenya. Pokoknya Micel mau itu!"
Mikael melongo, menatap sekeliling kamar VVIP. "Tapi di menu rumah sakit nggak ada Cileng. Apa itu ada di restoran bintang lima?"
Michel melipat tangan di dada dengan gaya angkuh. "Ndak tau! Pokoknya kalau ndak ada Cileng Bajigul, Micel ndak mau minum obat. Bial caja Micel jadi jombi di lumah cakit ini!"
Mikael menjadi panik sendiri. "A-aduuh, tunggu sebentar! Aku cari di internet dulu gimana cara belinya!"
Mikael mengambil ponsel nya, mencari jejak makanan itu di internet. Alisnya bertaut, dia menatap saudari kembar nya dengan wajah memelas. " Chel, kamu makan yang lain aja ya, nyarinya susah. Di rumah sakit juga nggak ada."
Michel menggeleng dengan bibir melengkung ke bawah. " Micel mau na itu,"
Mikael memijat pangkal hidung, layar ponselnya masih menyala menampilkan kolom pencarian Google yang nihil. "Michel, dengar. Abang sudah cari di seluruh aplikasi delivery, sampai ke forum kuliner paling pelosok, tapi 'Cileng Bajigul' itu tidak ada. Kamu tidak sedang mengerjai Abang, kan?"
Michel melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tajam dengan nada cadel yang dibuat-buat namun terdengar mengintimidasi. "Ndak! Kael halus beli! Itu makanan tiktokels yang lagi legit, melting di mulut, numpah di hati! Kalo ndak ada itu, mulut Michel telkunci celamanya. Ndak mau makan, ndak mau minum obat, ndak mau bicala cama Daddy! Ndak mau ngomong cama Abang!"
Mikael menghela napas panjang, frustrasi. "Tapi ini rumah sakit, Michel! Mana ada abang-abang jualan makanan TikTok masuk ke zona VVIP? Makan bubur gandum atau steak lembut saja ya? Abang pesankan sekarang.
Michel memalingkan wajah dengan angkuh. "Ndak! Pokoknya halus itu! Kael payah, nyali makanan caja ndak becus. Kael cayang ndak cama Micel? Kalo cayang halus ada ucaha na!"
Di tengah kebuntuan itu, pintu berderit terbuka, menyingkap sosok Liora yang melangkah masuk dengan keanggunan seorang Protagonis sejati. Kehadirannya bukan sekadar membawa bekal makanan sehat, melainkan membawa gelombang emosi baru yang rumit.
Michel menatap Liora dengan mata bulat nya. " Eh, ada Tante pelakol dicini? Mau apa? Calah alamat?" tanya Michel blak - blakan.
Liora tersenyum tulus." Daddy kalian bilang, kamu masuk rumah sakit, makanya Tante datang membawa makanan sehat supaya kamu cepat sembuh."
Liora meletakkan rantang dan keranjang buah eksklusif di atas nakas, gerakannya pelan dan elegan, tipikal wanita Protagonis yang sempurna. Namun, di mata Michel, keanggunan itu tak lebih dari topeng.
"Apa itu, Tante pelakol? Bau cayul? Micel ndak mau! Ndak cuka, olang bubul caja ndak Micel makan kok, apa lagi itu." seru Michel sambil menutup hidungnya dengan dramatis.
Mikael berdehem, mencoba menjaga martabatnya sebagai kakak tertua meski hanya selisih beberapa menit. "Tante Liora, maaf. Michel sedang... tidak stabil."
Liora tersenyum manis, mengabaikan sebutan 'pelakor' yang baru saja terlontar. "Tidak apa-apa, Mikael. Tante mengerti. Michel, Tante bawakan sup asparagus krim kesukaan Daddy. Ini jauh lebih enak daripada bubur rumah sakit."
"Ndak! Micel mau Cileng Bajigul!" Michel bersedekap, memalingkan wajahnya dengan angkuh. "Kael bilang ndak ada yang jual. Belalti Tante juga ndak bica cali, kan? Tante ndak cakti!"
Liora mengerutkan kening, tampak asing dengan nama makanan tersebut. "Cireng... Bajigur? Sayang, itu makanan yang kurang sehat untuk anak yang sedang demam—"
" Ndak ucah ngatul jadi olang!" potong Michel dengan nada tinggi. " Ke pasal panen ikan teli, bawa pulang pake kalung. Jangan kau cuka atul makanan Micel, nanti pelut ku jadi kocong, " Mikael melotot sambil meringis mendengar pantun sang adek. Berbeda dengan Liora yang tampak melongo di buatnya.
" Jalan-jalan ke kota Blital, jangan lupa beli kue lapis, maca depan kok ndak kelihatan. Cuma bangga jadi celingkuhan glatis, " lanjut Michel dengan sindiran halus nya namun mampu menancap ke ulu hati target nya, jangan tanya bagaimana raut wajah Liora sekarang. Sudah pasti tidak tertolong lagi, antara kaget dan malu. Sementara Mikael melongo sambil garuk - garuk kepalanya. Dapet dari mana adeknya pantun seperti itu?
"Michel!" Mikael sudah melotot ke arahnya seolah memberikan peringatan.
"Apa? Kenapa? Olang jujul juga.. kata Oma olang jujul ndak boleh di malahin." sewot Michel. "Main layangan di telan bantal, layangan putus nyangkut di pagal. Jangan coba - coba ambil hatikuuu. Kamu pelakol mending pelgi."
" Astaga!" Liora memejamkan matanya guna meredam emosinya. Jelas dia tidak Terima di katai pelakor. Namun yang di hadapi Liora sekarang adalah anak kecil berlidah bon cabe level 100-- jadi dia harus ekstra sabar.
"Michel! Jaga bicaramu," tegur Mikael sambil melirik Liora, takut wanita itu merasa tersinggung, meski dalam hati ia juga pusing mencari tahu apa itu Cireng Bajigur. Ia menatap ponselnya lagi. "Tante, apa Tante tahu di mana beli makanan itu? Katanya... sedang viral di TikTok?" tanya Mikael yang mana mencoba mencairkan situasinya.
Liora tampak tertohok. Sebagai wanita dari kalangan kelas atas, ia tak pernah menyentuh jajanan kaki lima, apalagi yang namanya aneh seperti itu. "Itu... makanan berminyak, Mikael. Daddy kalian pasti tidak akan setuju jika Tante membiarkan Michel memakannya."
Michel langsung merebahkan tubuhnya, menarik selimut sampai ke leher, dan memejamkan mata rapat-rapat.
"Cudah! Mulut Micel cudah telkunci celamanya! Jangan ajak Micel bicala campai ada Cileng Bajigul di depan mata. Tante pulang caja, hus... hus! Mengganggu ketenangan pacien PPIP caja!"
Mikael menghela napas panjang, menatap Liora dengan tatapan yang seolah berkata, 'Lihat sendiri kan, betapa sulitnya dia?' Meskipun sebenarnya sebagai seorang anak, Mikael juga tidak menyukai Liora. Namun dia tidak pernah menyerang wanita itu seperti Mommy dan adek nya. Hanya saja perbedaan nya-- jika sang Mommy melawan dengan kekerasan, berbeda dengan sang adek yang menyerang dengan perkataan pedas nya.
"Tante sebaiknya tunggu di luar saja," ujar Mikael datar. "Aku akan mencoba membujuknya lagi. Michel kalau sudah merajuk bisa lebih galak dari Daddy."
•
•
Koridor rumah sakit itu terasa dingin, hanya deru mesin pendingin ruangan yang memecah kesunyian. Claire yang saat ini berdiri sebagai pemegang peran Antagonis. Tidak ada lagi riasan berlebihan atau ekspresi histeris yang biasa melekat pada sang Antagonis. Matanya tajam, sedingin es, menatap dua pria berjas hitam yang berdiri kokoh layaknya tembok beton.
Bodyguard A menunduk hormat namun tetap menghalangi. "Maaf, Nyonya! Ini perintah langsung dari Tuan Julian. Beliau tidak mengizinkan Anda masuk ke ruangan Nona Kecil."
Claire memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Dalam hatinya ia bergumam, "Julian, kau masih mengira istrimu ini hanya wanita manja yang hanya bisa berteriak? Aku bukan sang Antagonis yang bisa kau halangi."
Claire membuka mata, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang meremehkan. "Perintah Julian adalah hukum bagi kalian, tapi kehadiranku di sini adalah hak mutlak sebagai seorang ibu. Jadi, coba kita lihat... apakah loyalitas kalian lebih kuat daripada insting bertahan hidup kalian?"
Bodyguard B mulai waspada, memegang alat komunikasinya. "Nyonya, tolong jangan membuat ini sulit. Jangan meminta kami untuk melawan Anda!"
Claire terkekeh rendah, suara yang keluar terdengar elegan namun mematikan. "Melawan? Oh, kalian tidak sedang melawan. Kalian sedang belajar tentang konsekuensi."
Tanpa peringatan, Claire bergerak. Kecepatan gerakannya jauh melampaui apa yang bisa dibayangkan dari seorang sosialita yang biasanya hanya memegang gelas sampanye. Satu pukulan mentah menghantam rahang Bodyguard A, disusul sikut yang menghunjam ulu hati Bodyguard B.
Bodyguard A terhuyung ke belakang, memegangi rahangnya yang bergeser. "Nyonya! Berhenti!"
Claire tertawa sinis."Kenapa? Apa kalian takut melukai Nyonya kalian?"
Claire memutar tubuhnya. Rambut panjangnya mengayun indah mengikuti momentum saat ia mengangkat satu kaki tinggi-tinggi. Dengan teknik bela diri yang sempurna, ia melayangkan tendangan melingkar (roundhouse kick) tepat ke arah pelipis Bodyguard B hingga pria itu tersungkur ke lantai.
Claire berdiri tegak kembali, merapikan sedikit bajunya yang tidak berantakan sama sekali. "Beri tahu Julian saat dia datang nanti. Aku tidak meminta izin untuk melihat putriku. Aku mengambil apa yang memang milikku.
Ia melangkah maju, tangannya dengan tenang meraih gagang pintu VVIP tersebut, meninggalkan dua pria dewasa yang kini meringis kesakitan di bawah kakinya.
Claire mematung di ambang pintu. Di sana, berdiri Liora—si Protagonis suci—yang sedang menatap ke arah nya. Mata mereka bertemu.
Claire membatin. "Tunggu sebentar. Scene ini... tidak ada dalam drama aslinya. Kenapa Liora ada di sini? Tunggu, apa karena aku bawa Michel ke rumah sakit? Alurnya jadi berantakan!"
Liora berdiri dengan wajah pucat, tubuh nya menegang. "N... Nyonya Claire? Bagaimana Anda bisa..."
Claire menatap Liora dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. " Kematian sang Antagonis di akhir cerita adalah karena dia terlalu terobsesi pada Julian dan menyiksa Liora."
Claire berjalan mendekat, suaranya tenang namun tajam. "Liora. Tidak perlu takut. Aku datang bukan untuk menjambak rambutmu seperti biasanya."
Liora menatap bingung. "Apa maksud Anda?"
Claire mencondongkan tubuh, wajah nya berubah lembut, jauh berbeda dari peran nya sebagai Antagonis. " Aku minta maaf, jika aku selalu menyakitimu. Seseorang sudah memukul kepalaku hingga membuatku sadar.. cinta Julian, bukanlah milik ku... aku mendapatkan nya dengan cara yang salah."
Liora semakin menatap heran. " M-maksud mu?"
Michel tiba-tiba menyeletuk, matanya mengerjap - ngerjap menatap Claire. "Mommy kandung laca Mommy tili... bica beliin Micel Cileng bajigul ndak? Di tiktokels kelihatannya enak, help Micel!"
Mikael langsung melotot. " Diamlah, Michel.. jangan minta yang aneh - aneh. Apa kamu tidak lihat situasinya. Sebentar lagi pasti akan ada adegan jambak - jambakan seperti biasa."
Claire mengabaikan permintaan Michel, dia hanya fokus menatap Liora seolah wanita itu adalah tiket masuk menuju keselamatan nya.
" Jika aku ingin hidup tenang dan menghindari akhir tragis itu... aku tidak boleh menjadi penghalang. Aku harus menjadi makelar cinta mereka... kalo begitu.. katakan selamat tinggal pada peran Antagonis." Batin Claire dengan senyuman licik.
•
•
•
BERSAMBUNG