NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAKURA YANG GUGUR

Sesi makan siang yang hangat sedikit banyak berhasil mengusir hawa dingin yang sempat menyelimuti ruangan. Aroma nasi hangat dan sup ikan segar perlahan mengembalikan warna di wajah Riezky, meski pikirannya masih berkelana jauh ke daratan tandus yang diceritakan tadi.

Tuan Orochi bangkit berdiri setelah menghabiskan tehnya. "Ah, sepertinya aku butuh istirahat sejenak. Kalian bisa menginap di sini selama yang kalian mau. Kebetulan rumah besar ini hanya ditinggali kami bertiga—aku, Tamayo, dan An. Anggap saja rumah sendiri," ucapnya ramah sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Valerius, yang tampaknya kelelahan karena perjalanan darat yang panjang, langsung mencari tempat yang nyaman untuk tidur siang. Tak butuh waktu lama sampai terdengar dengkuran halus dari arah kamar tamu.

Sementara itu, Riezky memilih untuk duduk di teras kayu yang menghadap langsung ke taman. Ia menatap pohon sakura yang bunganya mulai berguguran, menutupi tanah dengan warna merah muda. Di tengah kesunyian itu, An muncul dan duduk di sampingnya. Dengan gerakan pelan, ia melepaskan pedang panjang yang selalu melekat di punggungnya dan menyandarkannya di lantai kayu.

"Maaf jika perkataanku menyakiti perasaanmu," ucap An pelan, matanya menatap lurus ke depan, menghargai ruang pribadi Riezky.

Riezky menghela napas, jemarinya memainkan ujung kain bayi yang ia letakkan di pangkuan. "Nggak kok, gapapa. Ya mau gimana lagi," sahut Riezky singkat. Suaranya terdengar pasrah, namun tidak sepenuhnya patah semangat. "Setidaknya aku nggak hidup dalam kegelapan lagi. Tahu sedikit soal kehancuran itu lebih baik daripada nggak tahu apa-apa sama sekali."

An terdiam sejenak, membiarkan angin musim semi meniup rambut abu-abunya. "Kehancuran memang akhir dari sebuah tempat, tapi bukan akhir dari sebuah garis keturunan. Selama kau masih berdiri di sini, Ixevon belum benar-benar hilang dari peta dunia."

Riezky menatap jauh ke arah barisan pegunungan yang terlihat dari teras itu. Angin meniup kelopak sakura, mendarat di atas kain bayi yang masih ia pegang. Bayangan tentang tempat yang diceritakan Valerius terus menghantui pikirannya.

"Rasanya aku ingin ke sana. Paman Valerius pernah ke sana... dia cerita dia menemukan tempat dengan kehancuran dahsyat, dan juga patung besi dengan detail manusia seperti asli di bawah tanah," ucap Riezky. Suaranya terdengar sangat yakin, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera berangkat dan menyentuh sisa-sisa sejarahnya sendiri.

An terdiam, ia menatap pedang panjangnya yang bersandar di sampingnya, lalu beralih menatap Riezky dengan tatapan yang sangat serius.

"Jangan," ucap An singkat namun tegas. "Aku tahu kau tidak suka dengan perkataanku ini, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi dengan patung besi itu."

Riezky menoleh, hendak memprotes, namun An lebih dulu menepuk bahu Riezky dengan mantap, memberikan tekanan yang seolah-olah menahan langkah pemuda itu.

"Sebaiknya kita tahan dulu saja sampai waktunya siap," lanjut An. "Patung besi itu... jika benar apa yang dikatakan dalam legenda, ia bukan sekadar benda mati. Mengunjungi tempat itu tanpa persiapan mental dan kekuatan yang stabil sama saja dengan menyerahkan dirimu pada kegelapan yang sama yang menghancurkan kerajaanmu."

Riezky tertegun. Ia teringat bagaimana matanya bersinar merah dan biru secara liar tadi di depan Orochi. Ia menyadari bahwa kekuatannya sendiri pun belum sepenuhnya ia pahami.

Melihat ekspresi Riezky yang mendadak melamun dan penuh beban, An mencoba memecah ketegangan. Ia menyandarkan punggungnya ke tiang penyangga teras sambil meluruskan kakinya.

"Ngomong-ngomong, kekuatanmu terlihat keren. Aku iri," ucap An bergurau, mencoba mengembalikan senyum di wajah pemuda itu.

Riezky menoleh, sedikit terkejut mendengar pujian dari seorang ninja yang terlihat begitu dingin dan serius. Ia mendengus pelan, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tulus.

"Bukan apa-apa kok, bukan mauku juga," ucap Riezky sedikit tersenyum. Ia kembali menatap guguran sakura. "Kadang rasanya lebih mudah jadi nelayan di Aethelgard. Cukup tahu arah angin dan kapan ombak datang, hidup sudah terasa cukup."

An tertawa kecil, suara tawa yang jarang sekali terdengar di kediaman itu. "Dunia punya cara yang aneh untuk memilih siapa yang harus memegang kekuatan besar. Tapi setidaknya, kau punya pilihan untuk menjadi nelayan yang bisa mengendalikan petir, bukan petir yang mengendalikan nelayan."

Mereka berdua duduk dalam keheningan yang kini terasa jauh lebih nyaman. Riezky mulai merasa bahwa keputusannya untuk ikut dengan Valerius tidaklah salah. Meski jawaban yang ia temukan cukup menyakitkan, ia tidak lagi sendirian dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!