NovelToon NovelToon
Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Single Mom / Tamat
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.

tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertama kali ke jakarta

Pijakan pertama di aspal Jakarta terasa seperti menginjak bara api bagi kakiku yang hanya beralas sandal jepit murah. Udara di terminal begitu pekat, campuran antara asap knalpot, debu, dan bau keringat ribuan orang yang berebut nasib.

Aku berdiri mematung di pinggir jalan, memeluk tas ransel berisi baju dan sisa kue bekal dari Ibu. Di depanku, gedung-gedung tinggi mencakar langit, seolah-olah raksasa beton itu sedang menunduk dan menertawakan koper lusuhku yang diikat tali rafia.

"Mau ke mana, Dek? Ojek? Taksi?" suara-suara itu menyerbu telingaku secara bersamaan. Di sini, tidak ada senyum ramah pedagang pasar tempat Ibu biasa berjualan. Semua mata terlihat tajam, semua langkah terasa terburu-buru, seakan waktu adalah musuh yang harus dikejar.

Aku merasa seperti butiran debu di tengah badai. Perutku melilit, bukan hanya karena lapar, tapi karena rasa takut yang tiba-tiba mencekik. Aku teringat dapur Ibu yang hangat, bau margarin, dan suara denting loyang yang menenangkan. Di sini, yang ada hanyalah klakson yang memekakkan telinga dan orang-orang asing yang tak peduli jika aku jatuh pingsan di trotoar.

Aku merogoh saku, menyentuh bungkusan kue terakhir yang sudah hancur jadi remahan. "Ibu, Jakarta ternyata lebih besar dari mimpiku," bisikku lirih.

Setiap langkah yang kuambil menjauh dari terminal terasa berat, seolah bayangan Ibu menarik kakiku untuk pulang. Namun, bau mentega yang masih samar menempel di jaket ini mengingatkanku: aku tidak datang ke sini untuk sekadar melihat gedung, aku datang untuk meruntuhkan tembok kemiskinan yang membelenggu punggung Ibu.

Jakarta bukan menyambutnya dengan karpet merah, melainkan dengan ketidakpedulian yang dingin, memaksanya sadar bahwa ia harus menjadi sekeras baja untuk bertahan.

*****

Jakarta tidak menyambutku dengan pelukan, tapi dengan debu yang menyesakkan dada. Saat kakiku turun dari bus, aku merasa seperti setetes air yang jatuh ke padang pasir panas—langsung menguap, tak dianggap.

Semuanya bergerak terlalu cepat. Orang-orang berjalan tanpa menoleh, mata mereka tertuju pada layar ponsel atau jalanan di depan, seolah-olah menyapa orang asing adalah dosa besar. Aku berdiri di trotoar, mematung sambil memeluk tas ranselku erat-erat. Di kampung, aku merasa sudah dewasa, tapi di depan gedung-gedung yang ujungnya hilang ditelan polusi ini, aku merasa kembali menjadi bocah kecil yang ketakutan.

"Woi, minggir! Jangan bengong di tengah jalan!" teriak seorang pengendara motor yang hampir menyenggol pundakku.

Aku tersentak, jantungku berdegup kencang. Bau udara di sini sangat busuk—campuran bensin dan sampah—sangat berbeda dengan aroma kayu bakar dan adonan donat yang biasa menyelimuti pagiku. Aku merindukan dapur Ibu seolah-olah aku sudah meninggalkannya selama bertahun-tahun, padahal baru tadi pagi aku mencium tangannya.

Aku mengeluarkan secarik kertas berisi alamat kerabat jauh yang menjanjikan tumpangan. Kertas itu sudah lembap karena keringat tanganku. Di sekelilingku, cahaya lampu iklan yang berwarna-warni tampak begitu mewah, tapi bagiku, cahaya itu terasa dingin dan asing.

"Ibu, ternyata benar kata orang. Di Jakarta, langitnya tinggi tapi tanahnya sempit," bisikku pelan.

Aku mulai melangkah, mencoba mengikuti arus manusia. Setiap langkah adalah taruhan. Aku tahu, jika aku berhenti sekarang, aku akan kalah sebelum berperang. Aku harus menemukan jalan, demi setiap butir gula yang Ibu taburkan di atas kue-kuenya, demi setiap malam yang ia habiskan tanpa tidur.

Keterasingan total di tengah keramaian. Ia menyadari bahwa di kota ini, ia bukan lagi "anak Ibu yang pintar", melainkan hanya satu dari jutaan orang yang berebut nasib.

******

Jakarta bukan sebuah kota, tapi sebuah raksasa yang tidak punya perasaan.

Begitu aku melangkah keluar dari pintu stasiun, hawa panas menyergap wajahku seperti uap dari oven besar Ibu yang baru dibuka. Bedanya, uap ini tidak beraroma manis. Ini adalah uap dari aspal yang mendidih, sisa pembakaran mesin, dan amarah orang-orang yang terjebak macet.

Aku berdiri mematung di tengah arus manusia yang tumpah ruah. Di kanan-kiriku, orang-orang berlari seolah nyawa mereka tinggal hitungan detik. Aku mencoba bertanya pada seseorang tentang arah jalan, tapi ia hanya melewatinya sambil menatap layar ponselnya, seakan aku hanyalah tiang listrik yang tidak terlihat.

"Ibu..." bisikku, nyaris tak terdengar di antara bisingnya suara kereta dan klakson.

Aku memandang ke atas. Langit Jakarta tidak berwarna biru, tapi abu-abu pucat.

Gedung-gedung tinggi itu seolah-olah sedang menghimpitku, membuat napas kecilku terasa sesak. Di tanah kelahiranku, aku adalah harapan Ibu. Di sini, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya setitik debu di atas lantai marmer ibu kota.

Aku merogoh saku jaket, menemukan sepotong kue yang Ibu selipkan tadi pagi. Bentuknya sudah hancur, penyok karena terhimpit di dalam tas selama perjalanan. Saat aku menggigitnya, rasa manis gula merah dan gurih kelapa itu meledak di mulutku. Untuk sesaat, bisingnya Jakarta hilang. Yang ada hanyalah suara Ibu yang sedang mengaduk adonan.

Aku menelan remahan kue itu dengan paksa, menahan air mata agar tidak jatuh di depan orang-orang asing ini. Aku tidak boleh terlihat lemah. Ibu menjual lelahnya untuk membelikan tiket ini. Jika aku menangis sekarang, artinya aku sedang menyia-nyiakan setiap tetes keringatnya.

Aku menegakkan punggung, membetulkan letak tas ranselku yang berat, dan mulai melangkah masuk ke dalam hutan beton itu.

Pijakan pertama ini adalah awal dari pertarungan. Ia sadar, untuk bisa bertahan di Jakarta, hatinya harus sekeras loyang baja milik Ibunya.

1
falea sezi
lo uda end kah
falea sezi
ini MC nya cwek apa cowok
erin: izin cewe kak 🙏
total 1 replies
falea sezi
seru moga bagus ampe ending q ksih hadiah biar g kosong
erin: semoga menikmati yah kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!