Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Penjaga Gerbang
...****************...
Cahaya dari lingkaran sihir memenuhi seluruh ruangan Menara Astral.
Rune-rune kuno di lantai menyala semakin terang, memancarkan cahaya hijau dari sihir alam, emas dari sihir cahaya, dan bayangan gelap dari sihir Darkveil.
Di tengah lingkaran itu, retakan cahaya semakin melebar.
Seperti celah di udara.
Angin berputar lebih kencang di dalam menara, membuat debu dan daun kering terangkat dari lantai.
Leyna mundur satu langkah.
“Arkan… ini tidak ada di rencanamu, kan?”
Arkan tetap berdiri di posisinya, meskipun jubahnya tertiup angin sihir yang kuat.
“Tidak.”
Solan menatap retakan itu dengan serius.
“Gerbangnya benar-benar terbuka.”
Suara tua itu kembali terdengar dari dalam celah cahaya.
Kali ini lebih jelas.
“Siapa… yang memanggil… kekuatan yang telah disegel…”
Cahaya dari retakan itu perlahan berubah.
Dari dalamnya muncul bayangan samar, seperti sosok yang sedang berjalan keluar dari kabut.
Arkan merasakan energi sihir di sekitarnya berubah.
Lebih tua.
Lebih dalam.
Seolah-olah sesuatu dari masa lalu sedang bangkit kembali.
Leyna berbisik pelan,
“Aku tidak suka ini.”
Solan mengangguk setuju.
“Ini jelas bukan hanya gerbang biasa.”
Perlahan-lahan sosok itu mulai terlihat.
Ia tampak seperti manusia… namun tidak sepenuhnya.
Tubuhnya terbentuk dari cahaya pucat dan bayangan tipis yang berputar di sekelilingnya.
Matanya bersinar redup seperti bintang yang hampir padam.
Sosok itu akhirnya berdiri di tengah lingkaran sihir.
Ketika kakinya menyentuh lantai batu—
Rune-rune di sekitar mereka bergetar.
Ia menatap ketiga murid itu satu per satu.
Tatapannya berhenti pada Arkan.
“Darah… Noctis…”
Arkan menegang.
“Kau mengenal keluargaku?”
Sosok itu tidak langsung menjawab.
Ia memandang sekeliling menara yang tua.
Seolah-olah mengingat sesuatu yang sangat lama.
“Aku telah menjaga gerbang ini… selama berabad-abad…”
Leyna menatap Solan dengan gugup.
“Penjaga?”
Solan berbisik kembali,
“Mungkin penjaga segel.”
Sosok itu kemudian kembali menatap Arkan.
“Sudah sangat lama… sejak pewaris Noctis terakhir datang ke tempat ini.”
Arkan melangkah satu langkah lebih dekat.
“Apa yang sebenarnya disegel di sini?”
Penjaga itu terdiam.
Angin sihir di ruangan itu mulai mereda sedikit.
Namun cahaya dari lingkaran masih berdenyut pelan.
Penjaga itu akhirnya berkata,
“Sesuatu yang bahkan tiga Veil tidak mampu hancurkan.”
Leyna menelan ludah.
“Kalau begitu kenapa hanya disegel?”
Penjaga itu menjawab dengan suara berat.
“Karena kekuatan itu… tidak bisa dimusnahkan.”
Solan menatap gerbang yang masih terbuka di belakang sosok itu.
“Apa yang akan terjadi jika segelnya rusak?”
Penjaga itu memandang mereka bertiga dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Dunia sihir… akan kembali ke masa kegelapan.”
Keheningan menyelimuti ruangan itu.
Arkan mengepalkan tangannya.
“Kalau begitu kenapa ritual ini ada?”
Penjaga itu menoleh padanya lagi.
“Keluarga Noctis… adalah salah satu penjaga segel.”
Kata-kata itu membuat Arkan terdiam.
“Penjaga?”
Penjaga itu mengangguk pelan.
“Dahulu… tiga keluarga besar dari tiga Veil menjaga segel ini.”
Ia menunjuk lingkaran sihir di lantai.
“Darkveil.”
Kemudian Leyna.
“Natureveil.”
Lalu Solan.
“Lightveil.”
Leyna tampak terkejut.
“Jadi ritual ini bukan untuk membuka gerbang?”
Penjaga itu berkata pelan,
“Ritual ini dibuat untuk memperbarui segel.”
Solan mengerutkan kening.
“Kalau begitu kenapa gerbangnya terbuka?”
Penjaga itu menatap lingkaran sihir yang bercahaya.
“Kalian telah membangunkannya… tetapi belum menyelesaikannya.”
Arkan bertanya,
“Apa yang harus kami lakukan?”
Penjaga itu tidak langsung menjawab.
Namun tiba-tiba—
Seluruh menara bergetar lebih keras dari sebelumnya.
Cahaya dari gerbang di belakang penjaga itu berkedip tidak stabil.
Seolah-olah sesuatu di balik sana sedang bergerak.
Leyna menoleh dengan panik.
“Apa itu?!”
Dari dalam celah gerbang terdengar suara gemuruh yang dalam.
Seperti sesuatu yang sangat besar sedang mendekat.
Penjaga itu menutup matanya sejenak.
Ketika ia membukanya kembali—
Cahaya di matanya sedikit lebih terang.
“Terlambat…”
Arkan menegang.
“Terlambat untuk apa?”
Penjaga itu menatap gerbang yang mulai bergetar.
“Sesuatu… telah merasakan gerbang ini terbuka.”
Solan langsung memahami.
“Makhluk dari balik segel?”
Penjaga itu mengangguk pelan.
Retakan cahaya tiba-tiba melebar sedikit lagi.
Bayangan besar bergerak di dalamnya.
Angin sihir di menara berubah menjadi lebih dingin.
Lebih berat.
Leyna mundur beberapa langkah.
“Aku benar-benar tidak suka ini.”
Arkan menatap gerbang itu tanpa berkedip.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia akhirnya mengerti satu hal.
Ritual yang mereka lakukan bukan hanya membuka rahasia masa lalu.
Mereka juga—
Mungkin telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur selamanya.
...****************...