Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Keheningan yang Berisik
Malam itu, jam dinding di ruang tengah yang bergaya minimalis modern itu berdetak dengan suara yang seolah-olah sengaja dikeraskan oleh kesunyian. Nika duduk meringkuk di atas sofa beludru berwarna abu-abu gelap, memeluk lututnya sendiri sambil menatap lurus ke arah pintu utama yang tetap tertutup rapat. Biasanya, pada pukul delapan malam seperti ini, ia akan mendengar deru mesin mobil Devan memasuki garasi, disusul oleh suara kunci yang berputar, dan kemudian langkah kaki yang mantap namun sopan mendekat ke arahnya. Biasanya, Devan akan menyapanya dengan senyum lelah namun hangat, menanyakan bagaimana harinya di butik, meskipun Nika sering kali hanya menjawab dengan dengusan atau pura-pura sibuk dengan ponselnya. Namun malam ini, hingga jarum jam merambat naik melewati angka sepuluh, rumah itu tetap membeku dalam kebisuan yang asing.
Nika melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja kopi. Layarnya gelap, tak ada notifikasi pesan masuk dari Devan. Pria itu benar-benar menepati ucapannya pagi tadi; ia tidak pulang. Perasaan menang yang sempat Nika mimpikan selama berbulan-bulan—keinginan untuk bebas dari pengawasan suaminya—ternyata terasa sangat berbeda saat benar-benar terjadi. Bukannya merasa lega, Nika justru merasa seperti seorang tawanan di tengah sebuah pulau kosong. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyalakan televisi, namun suara dari layar datar itu hanya terasa seperti kebisingan yang mengganggu, tak mampu mengisi kekosongan yang merayap dari sudut-sudut ruangan.
Ia bangkit dan melangkah menuju dapur, berharap rasa haus bisa mengalihkan kegelisahannya. Namun, saat ia membuka lemari es, pemandangan di dalamnya justru membuatnya tertegun. Di rak tengah, terdapat sebuah kotak kaca transparan berisi potongan buah melon dan anggur yang sudah dikupas rapi. Di atasnya, ada selembar kertas kecil yang ditempelkan dengan selotip: "Untuk camilan malammu agar tidak makan mie instan lagi. Jangan lupa minum air putih yang banyak." Tulisan tangan itu tegas dan rapi, khas Devan. Nika merasakan tenggorokannya mendadak tercekat. Selama ini ia menganggap perhatian-perhatian kecil seperti ini sebagai bentuk kontrol yang menjengkelkan, sebuah cara Devan untuk mendikte hidupnya. Namun sekarang, saat Devan tidak ada di sana untuk menyajikannya secara langsung, potongan buah itu tampak seperti sisa-sisa kasih sayang yang ia injak-injak setiap hari.
Nika menutup pintu lemari es dengan perlahan, tidak jadi mengambil apa pun. Ia bersandar di meja dapur yang terbuat dari granit dingin, menatap sekeliling area yang biasanya menjadi wilayah kekuasaan Devan setiap pagi. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa awal pernikahan mereka enam bulan lalu. Ia ingat bagaimana ia sengaja menumpahkan kopi ke kemeja putih Devan yang baru saja disetrika hanya karena ia kesal dipaksa ikut ke acara makan malam keluarga. Devan tidak marah; pria itu hanya menghela napas, tersenyum kecil, dan masuk ke kamar untuk mengganti baju tanpa sepatah kata makian pun. Nika juga ingat bagaimana ia sengaja pulang larut malam dengan keadaan sengaja mabuk ringan hanya untuk memancing kemarahan Devan, namun yang ia dapati justru Devan yang menunggunya di teras dengan selimut tebal dan segelas air hangat, siap menggendongnya masuk tanpa menghakiminya.
"Kenapa kamu begitu bodoh, Nika?" bisiknya pada diri sendiri. Suaranya memantul di dinding dapur, terdengar menyedihkan di telinganya sendiri. Penyesalan itu mulai bekerja seperti asam yang pelan-pelan mengikis lapisan keangkuhannya. Ia teringat map cokelat yang ia temukan di ruang kerja Devan sore tadi. Draf perceraian itu. Devan sudah menyiapkan jalan keluar untuknya. Pria itu sudah menyerah tepat di saat Nika baru saja mulai menyadari bahwa kehadiran Devan adalah satu-satunya hal yang konstan dan stabil dalam hidupnya yang kacau.
Dengan langkah yang berat, Nika memutuskan untuk naik ke lantai atas. Ia melewati kamar kerja Devan lagi, dan kali ini ia masuk ke dalamnya. Ruangan itu beraroma seperti campuran kertas baru, kayu cendana, dan parfum maskulin Devan yang tertinggal di udara. Ia duduk di kursi kerja suaminya, menyentuh permukaan meja yang halus. Di sana, di sudut meja, ada sebuah bingkai foto kecil yang posisinya agak tersembunyi. Nika mengambilnya dan terkejut melihat isinya. Itu bukan foto pernikahan mereka yang kaku dan penuh kepalsuan di pelaminan. Itu adalah foto candid Nika saat ia sedang tertawa bersama teman-temannya di pembukaan butiknya beberapa bulan lalu. Devan pasti mengambilnya secara diam-diam dari kejauhan. Dalam foto itu, Nika tampak begitu bersinar, sementara Devan hanya menyimpan momen itu untuk dirinya sendiri, mencintai wanita yang bahkan tak sudi menatapnya.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Nika memeluk bingkai foto itu di dadanya, terisak pelan di tengah kegelapan ruang kerja yang sunyi. Ia merasa sangat kecil dan jahat. Selama ini ia menganggap dirinya sebagai korban dari perjodohan kolot orang tuanya, namun kenyataannya, dialah pelaku yang menyiksa hati seseorang yang tulus mencintainya. Ia baru menyadari bahwa perjodohan itu mungkin adalah hukuman bagi Devan karena mendapatkan istri sepertinya, bukan hukuman bagi Nika.
Malam semakin larut, namun kantuk tak kunjung datang. Nika pindah ke kamar tidur utama mereka—kamar yang selama ini terasa seperti medan perang dingin bagi mereka berdua. Ia merebahkan diri di sisi tempat tidur Devan, menghirup aroma bantal suaminya yang masih segar. Biasanya, mereka tidur dengan jarak yang sangat lebar, seolah ada tembok tak kasat mata di tengah ranjang king size itu. Nika selalu memunggungi Devan, menolak disentuh atau bahkan disapa sebelum tidur. Sekarang, sisi tempat tidur itu kosong dan dingin. Nika menarik selimut hingga ke dagu, mencoba mencari kehangatan, namun yang ia temukan hanyalah rasa sepi yang menggigilkan tulang.
Ia meraih ponselnya lagi, jemarinya bergetar saat ia membuka aplikasi pesan. Ia mengetik sesuatu: "Mas, kamu di mana?" Namun jarinya terpaku di atas tombol kirim. Ia merasa tidak punya hak untuk bertanya setelah semua hinaan yang ia lontarkan pagi tadi. Ia menghapus pesan itu dan mencoba mengetik lagi: "Maafkan aku." Tiga kata itu terasa begitu berat, seolah membawa beban dosa enam bulan terakhir. Namun lagi-lagi, egonya yang tersisa dan rasa malunya membuatnya mengurungkan niat. Ia takut Devan tidak akan membalas, atau lebih buruk lagi, Devan membalas dengan kata-kata dingin yang menyatakan bahwa semuanya sudah terlambat.
Nika memejamkan mata, namun bayangan-bayangan kebaikan Devan terus berputar di kepalanya seperti film dokumenter tentang kegagalannya sendiri. Ia teringat saat ia jatuh sakit bulan lalu; Devan terjaga sepanjang malam untuk mengompres dahinya, memasakkan bubur, dan menyuapinya dengan penuh kesabaran meskipun Nika sempat menepis tangannya hingga sendok terjatuh ke lantai. Devan hanya memungut sendok itu, mencucinya, dan kembali duduk di sampingnya tanpa mengeluh. "Aku tidak akan pergi sampai panasmu turun, Ni," ucap Devan saat itu. Dan sekarang, Nika-lah yang menyebabkan "panas" di hati Devan hingga pria itu memilih pergi.
Malam itu menjadi malam terpanjang dalam hidup Arunika. Ia menyadari bahwa rumah mewah ini hanyalah tumpukan semen dan marmer tanpa kehadiran pria yang selalu ia rendahkan itu. Di tengah isak tangis yang mulai mereda menjadi sedu sedan, Nika membuat sebuah janji di dalam hatinya yang hancur. Jika matahari terbit esok hari, dan jika Devan masih memberinya sedikit celah, ia akan merangkak kembali. Ia akan melakukan apa pun untuk mengambil kembali hati yang sudah membeku itu. Ia tidak peduli seberapa lama alur ini akan berjalan, seberapa lambat Devan akan memaafkannya, atau seberapa dingin Devan akan memperlakukannya nanti. Ia akan bertahan, sebagaimana Devan telah bertahan selama ini.
Ketika fajar mulai menyingsing dan warna abu-abu di langit berubah menjadi jingga pucat, Nika terbangun dalam posisi meringkuk di sisi tempat tidur Devan. Matanya sembab dan kepalanya terasa berat. Ia segera bangun dan berlari menuju jendela, berharap melihat mobil Devan masuk ke halaman rumah. Namun, halaman itu tetap kosong. Hanya ada embun yang menempel di pucuk-pucuk daun mawar yang dulu ditanam Devan karena Nika pernah bergumam bahwa mawar merah terlihat bagus di halaman depan. Nika jatuh terduduk di lantai dekat jendela, menyadari bahwa perjuangannya untuk mendapatkan "Kesempatan Kedua" tidak akan semudah membalik telapak tangan. Devan sudah pergi, dan mungkin, ia membawa kunci hati yang sudah ia tutup rapat-rapat bersamanya.