Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: PEDANG IBLIS
Matahari pagi menyinari gerbang utama Klan Namgung dengan cahaya keemasan yang hangat. Tapi kehangatan itu tidak terasa di hati para penghuni klan.
Hari ini, tim penyelidik Delapan Sekte akan tiba.
Namgung Jin berdiri di barisan belakang, bersama para pelayan dan anggota klan rendahan. Dari posisi ini, ia bisa melihat segalanya tanpa menarik perhatian. Di barisan depan, Namgung Cheon berdiri tegak dengan jubah kebesaran, dikelilingi para tetua. Nyonya Kim ada di sampingnya, berpakaian rapi dengan senyum formal yang dipaksakan.
Di luar gerbang, debu mulai berputar. Suara derap kaki kuda terdengar mendekat.
Lima penunggang kuda muncul dari balik bukit. Di belakang mereka, sebuah kereta kecil yang dijaga ketat oleh empat pengawal bersenjata lengkap.
"Mereka datang."
Tim penyelidik berhenti di depan gerbang. Satu per satu mereka turun dari kuda.
Namgung Jin mengenali beberapa wajah.
Biksu Myeongjin dari Shaolin—wajah ramah dengan mata tajam. Pendekar Seo Jin-ho dari Wudang—wajahnya pucat, matanya menghindar saat mencari Namgung Jin di antara kerumunan. Nyonya Hwa Ryun dari Sekte Bunga Mekar—tersenyum manis seperti biasa, tapi matanya mengamati setiap detail.
Dan dua dari Sekte Pedang Langit.
Yang pertama adalah pria paruh baya dengan jubah biru gelap—Tetua Seok Cheon-ho, ayah dari Seok Cheon-myung. Wajahnya keras, matanya dingin, dan rahangnya mengeras saat melihat Namgung Jin di kejauhan.
Yang kedua... Seok Cheon-myung sendiri. Pemuda itu tersenyum—senyum puas, seperti kucing yang akan menerkam tikus.
"Jadi ini balas dendammu." Namgung Jin tersenyum tipis. "Membawa ayahmu. Menyedihkan."
Tapi perhatiannya bukan pada mereka. Matanya tertuju pada kereta kecil yang dijaga ketat.
Di dalam kereta itu, ia bisa merasakannya. Getaran samar—getaran yang hanya bisa dirasakan oleh pemilik sejati.
Mawanggeom. Pedang Iblis.
Pedang itu memanggilnya.
---
Penyambutan berlangsung singkat. Namgung Cheon mempersilakan para tamu masuk ke aula utama untuk beristirahat dan minum teh. Tapi Tetua Seok Cheon-ho langsung angkat bicara.
"Kami tidak butuh teh. Kami butuh jawaban."
Suaranya keras, tidak sopan. Para tetua Klan Namgung mengerutkan kening, tapi Namgung Cheon tetap tenang.
"Silakan. Duduklah, kita bicara."
Di aula utama, para tamu duduk di kursi yang disediakan. Namgung Cheon di kursi kepala. Para tetua di sampingnya.
Namgung Jin tetap di luar, mengamati dari balik tirai. Tapi Tetua Seok Cheon-ho menunjuk ke arahnya.
"Biarkan bocah itu masuk. Aku ingin melihatnya langsung."
Semua mata tertuju pada Namgung Jin.
Ia melangkah masuk, berdiri di tengah aula. Wajahnya tenang, tidak takut.
Seok Cheon-myung tersenyum sinis. "Ayah, ini dia. Bocah ajaib yang mengalahkanku dengan pasir."
Tetua Seok Cheon-ho mengamati Namgung Jin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya tajam—mata seorang pembunuh berpengalaman.
"Kau Namgung Jin?"
"Ya."
"Aku dengar kau menggunakan teknik Samgyeolhyeol. Di mana kau belajar?"
"Dari buku."
"Buku apa?"
"Buku catatan medis di perpustakaan klan."
Tetua Seok Cheon-ho tertawa—tawa dingin. "Bohong. Samgyeolhyeol tidak ada di buku catatan medis mana pun."
"Mungkin buku di perpustakaan kami berbeda."
"Atau mungkin kau berbohong."
Keheningan. Udara di aula terasa tegang.
Biksu Myeongjin angkat bicara. "Tetua Seok, mungkin kita bisa menyelidiki dengan cara yang lebih... damai."
"Damai?" Tetua Seok menoleh. "Biksu, bocah ini mempermalukan putraku di depan Delapan Sekte. Aku berhak tahu dari mana ia mendapat ilmu itu."
"Tetua Seok," potong Namgung Cheon. "Putramu yang menantang duel. Putramu yang kalah. Apa kau menyangkal itu?"
Tetua Seok terdiam. Fakta tidak bisa dibantah.
"Tapi—"
"Tidak ada tapi." Suara Namgung Cheon tegas. "Kau datang ke klanku sebagai tamu, tapi bicara seperti musuh. Jika kau ingin menyelidiki, lakukan dengan sopan. Atau kau bisa pulang sekarang."
Tetua Seok memerah. Tangannya meraih gagang pedang.
Tapi Nyonya Hwa Ryun tertawa kecil, memecahkan ketegangan.
"Sudahlah, sudahlah. Kita di sini untuk menyelidiki Magyo, bukan bertengkar." Ia tersenyum pada Namgung Jin. "Anak muda, jangan takut. Kami hanya ingin tahu sedikit tentang dirimu."
"Aku tidak takut, Nyonya."
"Bagus." Ia menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Kau menarik. Mungkin nanti kita bisa bicara lebih lama."
Godaan lagi. Tapi Namgung Jin hanya tersenyum sopan.
---
Penyelidikan resmi dimulai keesokan harinya.
Tim penyelidik memeriksa setiap sudut Klan Namgung—perpustakaan, catatan klan, tempat latihan, bahkan paviliun-paviliun pribadi. Mereka mewawancarai pelayan, pengawal, dan anggota klan.
Tapi target utama mereka tetap Namgung Jin.
Pada hari kedua, Biksu Myeongjin memanggilnya ke ruangan khusus—sebuah kamar di paviliun tamu yang disulap menjadi tempat meditasi.
Di dalam, hanya ada Biksu Myeongjin dan seorang biksu tua yang belum pernah dilihat Namgung Jin sebelumnya.
Biksu tua itu sangat tua. Wajahnya keriput seperti kulit kayu, matanya hampir tertutup lipatan kelopak. Tubuhnya kurus kering, duduk bersila di atas bantal meditasi. Di sekelilingnya, lilin-lilin menyala dengan api kecil.
"Namgung Jin," Biksu Myeongjin berkata lembut. "Ini adalah Biksu Hyegak. Beliau adalah guru pembaca jiwa tertua di Shaolin."
Namgung Jin membungkuk hormat. "Bertemu dengan Biksu adalah kehormatan."
Biksu Hyegak membuka mata—perlahan, sangat perlahan. Matanya putih seperti susu. Buta.
Tapi Namgung Jin tahu, mata batinnya terbuka lebar.
"Duduklah, anak muda." Suaranya parau, seperti dedaunan kering. "Dekat sini."
Namgung Jin duduk di hadapannya, berjarak satu depa.
"Boleh aku memegang tanganmu?"
Namgung Jin mengulurkan tangan. Biksu Hyegak meraihnya—tangannya dingin, kering, tapi genggamannya kuat.
"Tenangkan pikiranmu," bisiknya. "Jangan melawan."
Namgung Jin memejamkan mata. Ia sudah mempersiapkan teknik Eunshim. Jiwa aslinya bersembunyi rapat di kedalaman. Yang tampak di permukaan hanyalah topeng—Namgung Jin yang trauma, yang takut, yang hanya ingin melindungi ibunya.
Beberapa detik berlalu.
Lima detik. Sepuluh. Tiga puluh.
Biksu Hyegak menghela napas panjang. Tangannya melepaskan genggaman.
"Biksu?" Biksu Myeongjin bertanya cemas.
Biksu Hyegak membuka mata—mata putih susu itu seolah menatap ke dalam kehampaan.
"Bocah ini..." Suaranya bergetar. "...aneh."
Jantung Namgung Jin berdetak kencang. Tapi wajahnya tetap tenang.
"Aneh bagaimana, Biksu?"
"Jiwanya... seperti danau yang tenang. Tapi di kedalaman... ada sesuatu."
"Ada apa?" desak Biksu Myeongjin.
Biksu Hyegak menggeleng. "Aku tidak bisa melihatnya. Terlalu dalam. Terlalu gelap." Ia menatap Namgung Jin dengan mata butanya. "Anak muda, apa yang kau sembunyikan?"
Namgung Jin menjawab dengan suara tenang. "Aku tidak sembunyikan apa pun, Biksu. Mungkin yang Biksu lihat adalah traumaku. Masa kecil yang sulit. Ayah yang tidak pernah ada. Ibu yang selalu cemas."
"Trauma..." Biksu Hyegak merenung. "Mungkin kau benar. Trauma bisa menciptakan kedalaman palsu."
Biksu Myeongjin menghela napas lega. "Jadi dia bersih?"
"Dia bukan pengikut Magyo. Itu bisa kupastikan." Biksu Hyegak menatap Namgung Jin sekali lagi. "Tapi ada sesuatu yang aneh. Aku tidak tahu apa."
"Tidak masalah." Biksu Myeongjin tersenyum pada Namgung Jin. "Kau boleh pergi, anak muda. Terima kasih atas waktumu."
Namgung Jin membungkuk, lalu keluar.
Di luar, ia baru sadar bahwa tangannya basah oleh keringat.
---
Teknik Eunshim berhasil. Tapi nyaris.
Biksu Hyegak hampir melihatnya. Hampir.
"Terlalu dekat."
Ia harus lebih berhati-hati.
---
Malam harinya, tim penyelidik mengadakan pertemuan internal di paviliun tamu.
Namgung Jin mengintai dari bayangan, mendengar percakapan mereka melalui celah dinding.
"Biksu Hyegak bilang bocah itu bersih," suara Biksu Myeongjin. "Jadi fokus kita bisa ke tempat lain."
"Aku tidak percaya." Itu suara Tetua Seok Cheon-ho. "Bocah itu terlalu pintar. Terlalu tenang. Pasti ada sesuatu."
"Tetua Seok, kau dendam. Itu mengaburkan penilaianmu." Suara Nyonya Hwa Ryun. "Biarkan aku yang menyelidikinya. Dengan caraku."
"Caramu?"
"Wanita lebih bisa membaca hati daripada pria."
Tetua Seok Cheon-ho mendengus. "Terserah. Tapi ingat, aku tidak akan pulang sebelum menemukan kebenaran."
"Kebenaran apa?" Suara Pendekar Seo Jin-ho—lemah, tanpa semangat. "Dia hanya bocah. Kita buang waktu di sini."
"Kau kenapa, Seo?" Tetua Seok curiga. "Sejak kembali dari penyelidikan, kau berubah."
"Aku lelah. Itu saja."
Keheningan. Lalu suara Biksu Myeongjin lagi.
"Besok kita akan memeriksa pedang Mawanggeom. Konon, pedang itu bisa merespons keberadaan Iblis."
"Tapi Iblis sudah mati ribuan tahun."
"Mungkin. Tapi kalau-kalau ada jejaknya..."
Namgung Jin mengerutkan kening.
Besok. Mawanggeom. Ujian terakhir.
---
Pagi harinya, di halaman utama Klan Namgung, semua berkumpul.
Kereta kecil itu dibuka. Empat pengawal mengeluarkan sebuah peti panjang dari kayu hitam, dihiasi ukiran-ukiran kuno. Dengan hati-hati, mereka membuka peti itu.
Di dalam, terbaring Mawanggeom—Pedang Iblis.
Pedang itu panjang, ramping, dengan bilah hitam pekat yang seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Gagangnya diukir dengan naga iblis, dan di ujungnya, sebuah batu merah gelap bersinar redup.
Bahkan dalam keadaan diam, pedang itu memancarkan aura menekan. Para pelayan yang melihatnya mundur tak sadar. Beberapa pengawal menggenggam pedang mereka lebih erat, sebagai perlindungan naluriah.
Namgung Jin menatap pedang itu.
Dan untuk sesaat, ia lupa berpura-pura.
"Mawanggeom..."
Di dalam hatinya, gelombang emosi membanjir—kenangan, amarah, kesedihan. Pedang ini ia tempa dengan darah musuh-musuhnya. Pedang ini ia gunakan untuk menaklukkan separuh Murim. Pedang ini adalah bagian dari dirinya.
Simma di dadanya berdenyut hebat—panas, seperti api.
Dan di dalam peti, Mawanggeom... bersinar.
Cahaya merah samar muncul dari batu di gagangnya. Samar, tapi jelas terlihat.
Semua orang di halaman menahan napas.
"Pedang itu... bersinar!" teriak seseorang.
Tetua Seok Cheon-ho melangkah maju, matanya membelalak. "Itu tanda! Iblis Murim ada di dekat sini!"
Kekacauan. Para pendekar mencabut pedang. Para pelayan berlarian. Biksu Myeongjin mencoba menenangkan, tapi suaranya tenggelam dalam teriakan.
Namgung Jin tetap diam. Ia mencoba mengendalikan emosinya, menekan Simma yang bergejolak.
"Tenang... tenang..."
Tapi Mawanggeom terus bersinar. Makin terang.
Tetua Seok Cheon-ho menatap sekeliling, matanya mencari. Lalu matanya berhenti pada Namgung Jin.
"Kau!" Ia menunjuk. "Bocah itu! Semakin dekat dengannya, pedang itu makin terang!"
Semua mata tertuju pada Namgung Jin.
"Tangkap dia!"
Empat pendekar dari Sekte Pedang Langit bergerak serentak.
Tapi sebelum mereka mencapai Namgung Jin, seseorang melangkah di depannya.
Pendekar Seo Jin-ho.
"Berhenti." Suaranya pelan, tapi tegas.
"Seo?! Apa yang kau lakukan?!"
"Kau salah." Seo Jin-ho menatap Tetua Seok. "Pedang itu bersinar bukan karena dia. Tapi karena..." Ia mengambil napas dalam. "...karena aku."
"Apa?!"
Seo Jin-ho melangkah mendekati peti. Mawanggeom bersinar lebih terang saat ia mendekat.
"Aku... aku bertemu sesuatu di hutan waktu penyelidikan. Sesuatu yang mungkin berkaitan dengan Iblis. Sejak itu, aku merasa ada yang berubah dalam diriku."
Bohong. Tapi bohong yang meyakinkan.
Tetua Seok menatapnya tidak percaya. "Kau gila? Kau mau melindungi bocah itu?"
"Aku tidak melindungi siapa pun. Aku hanya bicara fakta." Seo Jin-ho menatapnya tajam. "Atau kau lebih percaya pada dendam daripada bukti?"
Keheningan.
Biksu Myeongjin melangkah maju, mengamati Seo Jin-ho dan Mawanggeom. "Pedang itu memang bersinar di dekatnya. Tapi itu tidak berarti dia Iblis. Mungkin hanya sisa energi."
"Biksu—"
"Cukup, Tetua Seok." Suara Biksu Myeongjin tegas. "Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti."
Tetua Seok menggertakkan gigi. Tapi ia tidak bisa membantah.
"SELESAIKAN NANTI." Ia berbalik, meninggalkan halaman dengan putranya.
Tim penyelidik lainnya mengikuti, kecuali Seo Jin-ho. Ia berdiri diam, menatap Namgung Jin.
Setelah semua pergi, Namgung Jin mendekatinya.
"Kenapa kau lakukan itu?"
Seo Jin-ho menatapnya dengan mata lelah. "Kau tahu kenapa."
"Adikmu."
"Dia satu-satunya keluarga yang kupunya." Ia menghela napas. "Tapi bukan hanya itu. Aku juga... aku lihat sesuatu di matamu. Saat kau bicara tentang pilihan. Kau bukan monster."
"Kau salah. Aku monster."
Seo Jin-ho tersenyum getir. "Mungkin. Tapi monster yang menepati janji."
Ia berbalik pergi.
Namgung Jin menatap kepergiannya. Lalu ia menoleh ke arah Mawanggeom, yang sekarang sudah kembali gelap.
"Terima kasih, pedangku. Kau hampir membunuhku."
Tapi di dalam hati, ia tersenyum.
Mawanggeom masih setia. Masih mengenali tuannya.
---
Malam harinya, Seo Jin-ho ditemukan tewas di kamarnya.
Tidak ada luka. Tidak ada tanda kekerasan. Ia meninggal dalam tidur, dengan wajah tenang.
Namgung Jin mendengar kabar itu pagi harinya. Ia diam lama.
"Dia bunuh diri."
Untuk melindungi rahasia. Untuk memastikan tidak ada yang bisa mengorek informasi darinya.
"Bodoh." Tapi di dalam, ada rasa—sesuatu yang hangat, sesuatu yang mirip... penyesalan.
Simma berdenyut. Sedih.
"Dia mati karena aku."
Tapi ia tidak punya waktu untuk bersedih. Tim penyelidik masih di sini. Dan Mawanggeom masih menjadi ancaman.
"Harus ada cara untuk menetralisir pedang itu."
Atau... menggunakannya.
---