Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Panggung
Gema mesin mobil dinas Arya perlahan menghilang, digantikan oleh riuh rendah percakapan mahasiswa di selasar gedung Jurusan Tari ISI Yogyakarta. Nina masih berdiri di anak tangga lobi, jemarinya tanpa sadar menyentuh liontin sepatu balet di lehernya. Senyumnya belum luntur, masih tersisa binar dari obrolan singkat di dalam mobil tadi.
"Ehem! Sepertinya ada yang baru saja turun dari kereta kencana hijau lumut nih," sebuah suara cempreng memecah lamunan Nina.
Nina menoleh dan mendapati dua sahabat karibnya, Maya dan Sari, sedang berdiri bersedekap dengan seringai jahil yang kompak. Maya adalah penari kontemporer yang lincah, sementara Sari lebih mendalami tari klasik keraton. Ketiganya adalah "Tiga Srikandi" di angkatan mereka.
"Aduh, Nina... itu tadi siapa? Gagah banget! Pangkatnya apa itu tadi? Kapten ya?" cecar Maya sambil menyenggol bahu Nina.
"Cakepnya nggak masuk akal, Nin. Mukanya kayak karakter di film-film perang, tapi pas natap kamu kok lembut banget ya?" tambah Sari, matanya berkedip-kedip genit.
Nina tertawa kecil, mencoba menyembunyikan rona merah yang merayap di pipinya. "Huss! Jangan keras-keras. Itu Kak Arya. Dia kakak asramaku dulu di Jakarta."
"Kakak asrama atau 'Kakak' yang bakal jadi pelaminan?" goda Maya lagi. "Tadi malam di Kepatihan dia juga datang kan? Aku lihat dia di barisan depan, matanya nggak kedip pas kamu solo. Kita semua sudah curiga, ini penari utamanya lagi jatuh cinta atau gimana, soalnya energinya beda banget."
"Beneran cuma kakak, May. Dia baru pulang penugasan dari Papua, kebetulan sekarang lagi ada dinas di Jogja," jelas Nina sambil mulai melangkah masuk menuju ruang kelas.
"Papua? Wah, fiks! Man in uniform memang pesonanya beda. Pelindung negara, pelindung hati Nina juga," Sari terus mengoceh, membuat suasana pagi itu terasa sangat ringan dan menyenangkan.
Namun, suasana ceria itu tidak bertahan lama. Saat mereka melewati mading jurusan, langkah mereka terhalang oleh sekelompok mahasiswa yang sedang berkumpul. Di tengah-tengah mereka berdiri seorang gadis bernama Shinta.
Shinta adalah penari berbakat, namun ia selalu merasa Nina adalah penghalang terbesarnya. Sejak semester awal, persaingan di antara mereka sangat tajam. Namun, sementara Nina bersaing dengan prestasi, Shinta seringkali menggunakan cara-cara yang kurang terpuji di balik punggung. Keberhasilan Nina terpilih sebagai penari solo di acara kenegaraan semalam rupanya menjadi puncak kekesalan Shinta.
Shinta melipat tangannya di dada, matanya menatap Nina dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menghina.
"Wah, primadona kita sudah datang," sindir Shinta, suaranya cukup keras hingga membuat beberapa mahasiswa lain menoleh. "Pantesan ya, kariernya mulus banget. Semalam jadi bintang, pagi ini diantar pakai mobil plat merah. Fasilitasnya oke juga ya."
Nina menghentikan langkahnya. Ia mencoba tetap tenang. "Maksudmu apa, Shin?"
Shinta berjalan mendekat, satu sudut bibirnya terangkat. "Nggak usah pura-pura lugu lah, Nin. Kita semua lihat tadi di depan lobi. Siapa laki-laki itu? Kelihatannya jauh lebih tua darimu. Sudah mulai main aman ya? Capek latihan nari, mending jadi simpanan om-om berseragam supaya proyekan lancar?"
Seketika, lorong itu menjadi sunyi. Maya dan Sari terbelalak, tangan mereka mengepal.
"Jaga mulutmu, Shinta!" bentak Maya. "Kamu nggak tahu apa-apa soal dia!"
Nina menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang mulai berpacu karena amarah. "Dia bukan 'om-om' seperti yang kamu tuduhkan. Dia Kakakku. Namanya Kak Arya."
Shinta tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Kakak? Sejak kapan kamu punya kakak laki-laki? Setahuku kamu anak tunggal. Oh, aku tahu... 'Kakak ketemu gede' ya? Atau kakak-kakakan biar kalau ketahuan istri sahnya, alasannya gampang?"
*
Perkataan Shinta menghantam Nina tepat di ulu hati. Tuduhan itu bukan hanya menghina dirinya, tapi juga menghina martabat Arya dan keluarga mereka. Nina teringat bagaimana Arya menjaganya saat kepalanya bocor, bagaimana Arya menemaninya belajar, dan bagaimana Arya bertaruh nyawa di Papua. Menyamakan sosok mulia itu dengan pria hidung belang adalah penghinaan yang tak termaafkan.
"Dengar, Shinta," suara Nina kini rendah namun bergetar hebat karena menahan emosi. "Tidak semua orang di dunia ini sepicik pikiranmu. Kak Arya adalah putra Jenderal yang dulu tinggal di asrama yang sama denganku. Kami tumbuh bersama. Dia adalah keluarga bagiku."
"Keluarga?" Shinta maju satu langkah, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari Nina. "Keluarga kok pelukannya mesra banget di backstage semalam? Aku lihat sendiri ya. Jangan jual tampang suci di sini. Semua orang juga tahu, di dunia seni, kalau mau naik cepat harus punya 'penyangga' yang kuat. Dan sepertinya kamu sudah menemukan 'penyangga' hijau lumutmu."
"Cukup!" Sari maju menengahi, mendorong bahu Shinta menjauh. "Kamu iri karena nggak terpilih jadi penari solo semalam? Makanya kerjaannya cuma bisa gosip? Nina punya bakat, Shinta. Sesuatu yang nggak bisa kamu beli walaupun kamu punya seribu 'penyangga'!"
"Sudah, Sar, May. Nggak usah diladeni," Nina menarik kedua sahabatnya. Ia merasa matanya mulai panas, namun ia menolak untuk menangis di depan Shinta. Ia tidak ingin memberikan kemenangan pada rasa dengki itu.
Shinta masih berteriak dari belakang saat mereka menjauh. "Hati-hati, Nin! Biasanya yang pamer-pamer kakak-kakakan itu ujungnya cuma jadi simpanan saat bosan!"
*
Sepanjang jalan menuju ruang kelas koreografi, Nina hanya diam. Maya dan Sari mencoba menghiburnya dengan berbagai cara, namun kata-kata Shinta seolah menempel di kepala Nina seperti parasit.
"Nin, jangan didengar ya. Shinta itu cuma iri. Semua orang tahu kamu latihan sampai jam dua pagi buat koreografi itu," hibur Maya sambil mengusap punggung Nina.
"Aku cuma nggak habis pikir, May. Kenapa orang bisa sejahat itu? Kak Arya itu orang baik. Dia bahkan baru sampai di Jogja setelah bertahun-tahun di hutan. Kenapa kepulangannya harus dinodai fitnah murahan seperti ini?" bisik Nina, suaranya serak.
"Itu karena mereka melihat apa yang ingin mereka lihat, Nin," ujar Sari bijak. "Mereka melihat mobil dinas, mereka melihat perwira ganteng, dan mereka melihat kesuksesanmu. Kombinasi itu mematikan buat orang-orang dengki kayak Shinta."
Nina duduk di bangku kelasnya, menatap keluar jendela. Ia teringat janji makan malam nanti di Kaliurang. Tiba-tiba, ada rasa takut yang menyelinap. Bagaimana jika dunia benar-benar melihat mereka seperti itu? Bagaimana jika keberadaan Arya justru akan merusak nama baik ayahnya sebagai prajurit senior di Korem?
***
Pelajaran koreografi hari itu terasa sangat berat. Nina berulang kali melakukan kesalahan teknis, sesuatu yang jarang terjadi padanya. Dosennya, Bu Ambar, sampai memperhatikannya dengan dahi berkerut.
"Nina, konsentrasimu di mana? Gerakanmu ragu-ragu. Ingat, penari tidak boleh membawa beban pikiran ke lantai tari. Lantai ini jujur, dia akan menunjukkan kalau hatimu sedang kacau," tegur Bu Ambar dengan lembut namun tegas.
Setelah kelas usai, Nina tetap berada di ruang latihan sementara mahasiswa lain sudah bubar untuk makan siang. Ia mulai menggerakkan tubuhnya sendirian, mencoba membuang sisa-sisa amarah.
Di tengah kesunyian ruang luas itu, Nina teringat kata-kata Arya pagi tadi: "Jangan pernah berubah karena panggung atau tepuk tangan orang lain."
Ia berhenti menari, menatap bayangannya di cermin besar. Ia bukan simpanan siapa pun. Ia adalah Aura Shenina, penari yang berjuang dari nol. Dan Arya? Arya adalah jangkar dalam hidupnya.
"Kalau mereka mau bicara, biarlah mereka bicara," gumam Nina pada bayangannya sendiri. "Aku tidak akan membiarkan lidah beracun Shinta menjauhkan aku dari satu-satunya orang yang paling mengerti aku."
Nina menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia tahu, dunia mungkin akan melihat hubungannya dengan Arya dengan penuh tanya. Perbedaan pangkat ayahnya dengan posisi Arya, perbedaan usia mereka, dan dunia mereka yang sangat kontras—semua itu akan jadi santapan lezat bagi para penggosip.
Namun, saat Nina mengingat bagaimana Arya menatapnya pagi tadi, ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih berharga untuk diperjuangkan daripada sekadar opini publik.
***
Sore harinya, saat Nina bersiap-siap pulang, Maya dan Sari menghampirinya lagi di lobi.
"Jadi... tetap pergi makan malam ke Kaliurang?" tanya Maya dengan senyum penuh dukungan.
Nina mengangguk mantap. Ia sudah merapikan riasannya dan mengganti kaos oblongnya dengan tunik batik yang lebih rapi. "Tetap pergi. Kak Arya sudah janji, dan aku nggak mau mengecewakannya cuma karena omongan Shinta."
"Nah, gitu dong! Itu baru sahabat kami," Sari memeluk Nina. "Tunjukkan kalau kamu bahagia. Itu cara paling ampuh buat bikin Shinta makin panas."
Nina tersenyum. Saat ia berjalan keluar gerbang kampus, ia melihat mobil Arya sudah terparkir di tempat yang sama. Namun kali ini, Arya tidak menunggu di dalam mobil. Ia berdiri di samping pintu, mengenakan jaket kulit cokelat di atas kaos hitam, terlihat sangat gagah namun jauh lebih santai daripada pagi tadi.
Begitu melihat Nina, wajah Arya yang kaku langsung melunak. Ia melambaikan tangan, sebuah gerakan sederhana yang membuat semua keraguan Nina menguap seketika.
"Gimana kuliahnya?" tanya Arya saat Nina sampai di depannya. Ia menyadari ada sisa-sisa kelelahan di mata Nina, namun ia tidak langsung bertanya.
"Lancar, Kak. Capek sedikit," jawab Nina.
Arya membukakan pintu untuknya. "Kalau begitu, udara Kaliurang adalah obat yang pas. Ayo, kita tinggalkan kebisingan kota ini sebentar."
Saat mobil mulai bergerak meninggalkan kampus ISI, Nina sempat melirik ke arah gedung jurusan tari. Di lantai dua, ia melihat Shinta sedang berdiri menatap mereka dari balkon. Nina tidak menunduk, ia justru tersenyum dan melambai kecil ke arah kampusnya, seolah memberi tahu dunia bahwa ia tidak akan pernah lari dari apa yang ia yakini benar.
Garis takdir mereka kini sedang menuju ke dataran tinggi yang dingin, namun di dalam mobil itu, kehangatan yang telah terbangun selama belasan tahun mulai terasa seperti api yang siap menyala, menerangi jalan mereka menuju malam yang akan mengubah segalanya.