dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bangkitnya Laras dari rasa kecewa
Beberapa hari berlalu sejak percakapanku dengan Raka. Kata-katanya terus terngiang di telingaku, menjadi obat yang menenangkan hati yang luka. Aku sadar, membiarkan diri tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan tidak akan mengubah apa pun. Justru, itu hanya akan membuat usahaku yang sudah aku bangun dengan susah payah menjadi terancam. Aku tidak boleh membiarkan tindakan buruk satu orang menghancurkan semua impianku.
Aku mulai bangkit kembali. Pagi-pagi sekali, aku sudah berada di bengkel kerja. Aku memeriksa ulang sistem pencatatan stok bahan baku dan barang jadi, membuatnya lebih ketat dan terperinci agar kejadian pencurian tidak terulang lagi. Aku juga mengadakan pertemuan singkat dengan ibu-ibu pekerja, menjelaskan situasinya tanpa menyebarkan kebencian, dan mengingatkan kembali tentang pentingnya kejujuran dan kerja sama. Mereka semua mendukungku, dan semangat mereka kembali membakar semangatku.
"Ayo, Bu! Kita tunjukkan bahwa kita bisa terus maju, apa pun yang terjadi!" kataku pada mereka dengan senyum yang lebih cerah dari sebelumnya.
Mereka pun bersorak antusias. Suasana di bengkel kembali hidup dan penuh semangat. Suara anyaman yang saling bersentuhan kembali terdengar irama yang menyenangkan, bukan lagi beban. Aku kembali fokus pada desain-desain baru, menciptakan motif-motif yang lebih segar dan menarik, seolah-olah setiap anyaman adalah cara aku menumpahkan perasaan bangkit dan harapan yang baru.
Di sekolah, aku juga kembali menjadi Laras yang fokus dan rajin. Meskipun masih ada sedikit bayangan kesedihan di mataku, tapi itu sudah tidak lagi mendominasi. Aku kembali aktif berdiskusi di kelas, mengerjakan tugas dengan rajin, dan saat jam istirahat, aku tidak lagi menyendiri di sudut perpustakaan dengan wajah murung. Aku mulai menyapa teman-teman, dan bahkan kadang tersenyum saat Raka datang duduk di sebelahku.
Raka melihat perubahan itu, dan dia tampak sangat senang. Dia tidak banyak bertanya, tapi dia menunjukkan dukungannya dengan cara-cara kecil yang manis. Suatu hari, dia membawakan ku sekotak cokelat favoritku. "Buat penyemangat," katanya sambil tersenyum lebar. "Aku tahu kamu pasti bisa bangkit lagi, Laras. Kamu gadis yang kuat."
Aku menerima cokelat itu dengan hati yang hangat. "Terima kasih, Raka. Kamu memang selalu tahu cara bikin aku senang," ucapku tulus, dan untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, aku tersenyum lebar dan tulus padanya.
Hari itu, aku menyadari sesuatu yang penting. Hidup memang tidak selalu berjalan mulus. Akan ada orang-orang yang menyakiti kita, yang mengecewakan kita. Tapi di sisi lain, ada juga orang-orang yang tulus mencintai dan mendukung kita. Kekuatan sejati bukan berarti tidak pernah jatuh, tapi kemampuan untuk bangkit kembali setelah jatuh, dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Aku Laras, gadis yang pernah terluka, pernah kecewa, tapi aku tidak akan pernah berhenti berkarya dan berharap. Masa depanku ada di tanganku sendiri, dan aku akan terus melangkah maju, membawa "Laras Kreatif" dan diriku sendiri menuju masa depan yang lebih cerah.
######
Hari-hari setelah aku bangkit kembali, hubungan aku dan Raka terasa semakin dekat dan hangat. Ada momen-momen kecil yang sering terjadi, dan setiap momen itu selalu berhasil membuat hatiku berdebar dan tersenyum sendiri.
Suatu sore, saat jam istirahat kedua yang agak panjang, Raka mengajakku ke taman belakang sekolah yang biasanya sepi. Dia membawa sebuah keranjang piknik kecil yang terlihat lucu.
"Ayo, Laras. Hari ini aku bawa bekal spesial. Kita makan di sini saja ya, udaranya segar dan tenang," ajaknya dengan senyum menggoda.
Aku mengangguk setuju, penasaran dengan apa yang dia bawa. Kami duduk di atas rumput hijau di bawah pohon rindang. Raka membuka keranjang itu dan mengeluarkan berbagai macam makanan lezat—ada sandwich dengan isian sayur dan telur yang aku suka, potongan buah segar, dan juga dua botol jus jeruk dingin.
"Kamu tahu kan aku nggak terlalu suka makanan yang terlalu manis dan berminyak? Jadi aku buatkan ini khusus buat kamu," katanya sambil menyodorkan sandwich itu padaku. Matanya berbinar penuh harap.
Aku terkejut sekaligus terharu. "Kamu... kamu yang buat ini sendiri, Raka?" tanyaku.
Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa kecil. "Ehm... iya, tapi dibantu sama Ibu aku sedikit sih. Aku takut kalau salah bumbu atau rasanya aneh. Tapi aku sudah coba dulu, kok. Insya Allah enak."
Aku menggigit sandwich itu perlahan. Rasanya memang sangat enak, dan aku bisa merasakan usaha dan ketulusan di setiap suapannya. "Enak banget, Raka. Terima kasih ya. Kamu benar-benar perhatian," ucapku dengan senyum tulus.
Wajah Raka memerah sedikit mendengar pujianku. "Sama-sama, Laras. Aku senang kalau kamu suka."
Kami menghabiskan waktu istirahat itu dengan makan bersama sambil mengobrol santai. Raka menceritakan hal-hal lucu yang terjadi saat dia sedang latihan basket, dan aku pun bercerita tentang ide desain baru yang sedang aku buat untuk "Laras Kreatif". Suasana terasa begitu damai dan menyenangkan, seolah-olah hanya ada kami berdua di dunia ini.
Momen manis lainnya terjadi saat hari ulang tahunku yang ke-17. Aku sendiri hampir lupa karena kesibukan di bengkel dan tugas sekolah yang menumpuk. Tapi ternyata, Raka tidak lupa.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Raka menungguku di depan gerbang. Dia membawa sebuah bungkusan kecil yang dibungkus kertas cantik dengan pita berwarna biru muda—warna kesukaanku.
"Selamat ulang tahun, Laras!" ucapnya ceria sambil menyerahkan bungkusan itu padaku. "Maaf ya kalau kado ini sederhana. Semoga kamu suka."
Dengan tangan gemetar sedikit karena terharu, aku membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk keranjang anyaman kecil yang sangat detail dan indah. Di dalam keranjang kecil itu, ada sebuah batu permata berwarna hijau muda yang berkilau cantik.
Aku menatap kalung itu dengan takjub. "Raka... ini..."
"Aku tahu kamu suka menganyam dan mencintai karyamu sendiri," kata Raka lembut. "Jadi aku pikir, liontin ini cocok banget buat kamu. Ini simbol dari bakatmu yang indah dan semangatmu yang selalu bersinar. Aku harap kalung ini bisa selalu mengingatkanmu bahwa ada orang yang selalu mendukungmu dan bangga padamu, di mana pun kamu berada."
Air mata haru mulai menggenang di mataku. Tidak pernah ada orang yang memberikan kado yang begitu bermakna dan personal seperti ini untukku. Raka benar-benar memperhatikan setiap detail tentangku.
"Terima kasih banyak, Raka," ucapku dengan suara bergetar. "Ini kado terindah yang pernah aku terima. Aku sangat suka."
Raka tersenyum lebar, lalu dengan perlahan dan sopan, dia mengambil kalung itu dari tanganku. "Boleh aku pasangkan di lehermu?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk pelan. Aku memutar tubuhku membelakanginya sedikit. Aku merasakan jari-jarinya yang hangat menyentuh kulit leherku saat dia memasangkan kalung itu, membuat jantungku berdegup kencang. Saat dia selesai, dia berbisik pelan di dekat telingaku, "Cantik sekali."
Aku berbalik menghadapnya, wajaku pasti sudah merah padam. Kami saling bertatapan dalam diam, dan di saat itu, aku bisa merasakan ada ikatan yang kuat di antara kami. Rasa takut dan trauma masa lalu masih ada di sudut hatiku, tapi kehadiran Raka dan perhatiannya yang tulus perlahan-lahan meluluhkan tembok yang selama ini aku bangun.
Aku tahu, perlahan tapi pasti, aku mulai jatuh cinta pada sosok yang selalu ada untukku ini.