NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Langkah kaki Mahesa terhenti tepat di depan pintu kayu bernomor 304 yang catnya sudah menggelembung karena kelembapan udara Paris yang ekstrem. Ia tidak segera memutar gagang pintu. Jemarinya masih meraba saku jaket denimnya, mencari kunci besi yang permukaannya terasa dingin dan kasar. Dari balik pintu yang tipis itu, ia bisa mendengar sayup-sayup suara radio yang memutar lagu Prancis bertempo lambat, diselingi bunyi statis yang mengganggu. Mahesa menarik napas panjang, membiarkan udara koridor yang berbau pembersih lantai murahan memenuhi paru-parunya sebelum ia akhirnya memasukkan kunci dan memutarnya dengan dua kali bunyi klik yang solid.

Pintu terbuka dengan decit panjang yang seolah-olah mengadu pada kesunyian lorong. Mahesa melangkah masuk, membiarkan pintu itu menutup kembali dengan dorongan tumit sepatunya. Ruang tamu apartemen itu sangat sempit, hanya ada sebuah sofa tua yang busanya sudah menyembul di bagian sudut dan sebuah meja kayu yang permukaannya dipenuhi noda lingkaran bekas gelas kopi. Cahaya di ruangan itu hanya bersumber dari sebuah lampu gantung tunggal yang tudungnya sudah miring, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding yang mulai menguning.

Di atas sofa itu, Pierre sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya ke belakang. Pria itu mengenakan hoodie hitam yang tudungnya masih menutupi sebagian rambut pirangnya yang berantakan. Pierre tidak menoleh saat Mahesa masuk. Ia hanya menggerakkan jemarinya, memainkan sebuah dompet kulit berwarna cokelat yang permukaannya tampak berkilat di bawah cahaya lampu yang remang-remang.

Mahesa berjalan menuju meja kayu, melepaskan topi baseball-nya dan meletakkannya di atas tumpukan koran lama. Ia tidak langsung duduk. Ia memperhatikan bagaimana Pierre membuka ritsleting dompet itu dengan gerakan yang sangat lihai, seolah-olah jari-jarinya memang dirancang untuk melakukan hal itu. Bunyi ritsleting yang terbuka terdengar sangat nyaring di ruangan yang kedap suara itu.

"Kamu terlalu lama, Mahesa," Pierre membuka suara tanpa mengubah posisinya. Suaranya terdengar serak, tipis, dan penuh dengan nada sindiran. "Aku sudah sampai di sini tiga puluh menit yang lalu. Aku hampir mengira kamu benar-benar jatuh cinta pada mangsa kita dan membawanya lari."

Mahesa meraih kotak rokok dari atas meja. Ia mengambil sebatang, menyelipkannya di antara bibir, lalu menyalakannya dengan pemantik api gas. Bunyi cetrek dari pemantik itu memicu api kecil yang sempat menyinari rahang Mahesa yang menegang. Ia menghirup asapnya dalam-dalam, membiarkan nikotin itu sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang masih berdenyut kencang sejak kejadian di gang tadi.

"Gadis itu terluka," Mahesa akhirnya menjawab setelah mengembuskan asap rokoknya ke arah langit-langit. "Kamu mendorongnya terlalu keras ke dinding batu itu, Pierre. Lehernya tergores tali tas saat kamu menariknya paksa. Darahnya menempel di saputanganku."

Pierre tertawa pendek, suara tawanya terdengar kering seperti gesekan kertas amplas. Ia duduk tegak, meletakkan dompet cokelat itu di atas meja di hadapan Mahesa. "Dia tidak akan mati karena luka sekecil itu, Mahesa. Gadis-gadis yang tinggal di Passy punya cukup uang untuk membeli plester emas jika mereka mau. Lihat saja isi dompet ini. Dia tidak membawa uang receh untuk naik Metro. Dia membawa uang tunai seolah-olah dia sedang bersiap membeli satu butik di Champs-Élysées."

Pierre mulai mengeluarkan lembaran Euro dari dalam dompet. Ia menghitungnya satu per satu, menjilat ujung jempolnya secara berkala agar kertas-kertas uang itu tidak menempel. Mahesa memperhatikan gerakan tangan Pierre dengan tatapan yang kosong. Setiap kali satu lembar uang diletakkan di atas meja, Mahesa teringat kembali wajah Felysha yang pucat dan gemetar. Ia teringat bagaimana gadis itu memegang paspor hijaunya seolah-olah benda itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki di dunia ini.

"Kenapa kamu harus mengambil fotonya juga?" Mahesa bertanya, menunjuk pada bingkai foto kecil yang sempat terjatuh dari tas Felysha saat Pierre membongkarnya di gang tadi—yang untungnya sudah Mahesa masukkan kembali ke dalam tas saat "berakting" menemukannya.

"Aku tidak mengambilnya. Itu jatuh sendiri karena tasnya terlalu penuh," Pierre mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. Ia merogoh saku hoodienya, mengeluarkan beberapa kartu kredit dan kartu mahasiswi milik Felysha. "Ini tidak ada gunanya. Kita tidak bisa memakai kartu atas nama orang asing tanpa memicu alarm di bank. Tapi uang tunai ini... ini adalah keajaiban malam ini."

Mahesa duduk di kursi kayu yang berada di seberang Pierre. Ia mengetukkan abu rokoknya ke dalam asbak kaca yang sudah penuh. Ia meraba sakunya, menyadari bahwa ia baru saja memberikan saputangan kesayangannya kepada orang yang sebenarnya menjadi korban dari rencananya sendiri. Ada rasa mual yang mulai naik ke tenggorokannya, namun ia segera menelannya kembali.

"Jangan pernah melakukan konfrontasi fisik lagi tanpa kode dariku, Pierre," Mahesa berkata dengan nada yang sangat rendah namun mengandung ancaman. "Kalau tadi ada polisi patroli yang lewat saat kamu mendorongnya, aku tidak akan bisa menolongmu. Rencana kita adalah pencopetan yang bersih, bukan perampokan dengan kekerasan."

Pierre mendengus, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Bersih atau tidak, hasilnya sama saja. Kita punya uang malam ini. Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi suci, Mahesa. Kamu yang memilih targetnya. Kamu yang memberitahuku bahwa gadis itu selalu jalan sendirian setiap jam sepuluh malam. Aku hanya melakukan bagian yang kotor agar kamu bisa tetap terlihat seperti pahlawan dengan jaket denimmu itu."

Mahesa menatap tumpukan uang di meja. Ia melihat bayangan Felysha yang menangis di taman tadi, cara gadis itu berterima kasih padanya dengan suara yang parau. Ia merasa seperti sedang melihat pantulan dirinya sendiri di permukaan meja yang kusam—seorang pria yang datang ke Paris untuk menggambar gedung-gedung indah, namun kini justru merancang skenario untuk merampas rasa aman orang lain.

"Dia bukan target yang biasa," gumam Mahesa pelan.

"Semua orang adalah target yang biasa kalau mereka punya uang di kantongnya," Pierre membalas sinis. Ia mulai membagi uang itu menjadi dua bagian. "Berhenti memikirkan wajahnya. Besok pagi dia akan lupa padamu, dan kita akan punya cukup uang untuk membayar sewa tempat sampah ini selama sebulan kedepan."

Mahesa tidak menyahut. Ia meraih gelas berisi sisa kopi dingin di sampingnya, meneguknya sedikit untuk menghilangkan rasa pahit di lidah. Ia memperhatikan asap rokoknya yang menari-nari di bawah lampu gantung, membayangkan Felysha yang mungkin saat ini sedang mengunci pintu apartemennya dengan ketakutan yang luar biasa. Di dalam ruangan 304 yang pengap itu, Mahesa menyadari bahwa meskipun ia memegang uang bagiannya nanti, ia tidak akan pernah bisa membeli kembali ketenangan pikirannya yang baru saja ia gadaikan malam ini.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!