UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar yang Dipaksakan
Sore itu, taman kota tidak seramai biasanya.
Sinar matahari yang mulai condong ke barat menciptakan bayangan panjang dari pohon-pohon mahoni tua.
Angin berhembus membawa daun-daun kering yang bergesekan dengan aspal jalan setapak.
Di bawah salah satu pohon beringin yang paling rindang, Raka kembali ke habitat aslinya.
Pemuda itu duduk bersila di atas bangku beton, memangku gitarnya.
Celana jeans sobek, kaus hitam oblong, dan sebatang rokok kretek yang terselip di telinganya.
Di sebelahnya, Dimas dan Ardi sedang sibuk membagi hasil recehan ngamen dari perempatan lampu merah siang tadi.
"Dapat berapa kita hari ini, Mas?" tanya Raka sambil memetik asal senar gitarnya.
Ting.
"Lumayan, Rak. Cukup buat beli nasi padang lauk rendang tiga bungkus, plus kopi saset sampai tengah malam," jawab Dimas sambil menyusun uang logam lima ratusan menjadi tumpukan kecil.
Raka tersenyum miring. "Tuh kan, siapa bilang jadi musisi jalanan bakal mati kelaparan?"
Nara duduk di bangku kayu yang berjarak sekitar lima meter dari mereka.
Ia berpura-pura membaca majalah bekas yang ia beli di loakan, tapi matanya terus mengawasi Raka.
Sejak kegagalan wawancara kemarin, Raka kembali membangun temboknya. Ia menolak bicara soal kejadian kemarin, menolak membahas lowongan kerja, dan kembali menjadi Raka si gembel jalanan. Seolah-olah dunia kantoran yang sempat membuatnya terluka itu tidak pernah ada.
Nara menghela napas pelan.
Ia baru saja memikirkan cara baru untuk memanipulasi ego pemuda itu, ketika matanya menangkap sebuah pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal.
Dari arah pintu masuk taman, Sinta berjalan mendekat.
Langkah perempuan itu terlihat berat dan sedikit tertatih.
Bukan karena ia terluka, melainkan karena ia sedang menggotong sebuah benda kotak berukuran besar berwarna abu-abu kusam. Benda itu terlihat sangat berat, membuat Sinta harus sedikit mencondongkan tubuhnya ke belakang untuk menjaga keseimbangan.
Nara meletakkan majalahnya.
Raka, Dimas, dan Ardi juga kompak menghentikan aktivitas mereka. Ketiga pemuda itu menatap Sinta dengan mulut sedikit terbuka.
Sinta berjalan lurus menuju bangku beton tempat Raka duduk.
Brak!
Sinta meletakkan benda itu ke atas meja beton di depan Raka dengan napas terengah-engah.
Suara hantaman besi tua beradu dengan beton membuat Dimas dan Ardi refleks memundurkan badan.
"Gila..." gumam Ardi dengan mata melotot. "Itu apaan, Mbak? Granat zaman penjajahan?"
Itu bukan granat.
Itu adalah sebuah mesin tik manual, terbuat dari besi padat, berwarna abu-abu kusam lengkap dengan tuas kertas dan deretan tuts huruf yang terlihat keras.
Raka menatap mesin tik itu, lalu mendongak menatap Sinta yang sedang mengusap keringat di dahinya.
"Kamu... nyolong mesin tik dari ruang tata usaha kampus, Sin?" tanya Raka dengan wajah cengo.
Sinta berkacak pinggang, dadanya masih naik turun mengatur napas.
"Ini aku sewa dari tempat rental ketik di depan gang kosan," jawab Sinta galak, ia menatap Raka dengan sorot mata yang tidak menerima bantahan. "Singkirkan gitarmu, kita akan mulai latihan sekarang."
Raka mengerutkan kening. "Latihan apa?"
"Latihan ngetik sepuluh jari," jawab Sinta tegas, ia menarik sebuah kursi plastik kosong di dekat sana dan duduk tepat berhadapan dengan mesin tik itu. "Kemarin kamu bilang kamu ditolak karena nggak bisa ngetik kan? Kalau gitu, kamu harus belajar sampai bisa."
Raka menatap mesin tik itu seolah benda itu adalah monster dari dimensi lain.
"Sin, kamu sehat? Ini taman kota, orang ke sini buat main bukan buat buka kursus ngetik."
"Aku nggak peduli, sini tanganmu," paksa Sinta.
Nara, yang masih duduk di bangku kayunya menahan senyum.
Sinta benar-benar luar biasa, alih-alih merayu atau memohon, ibunya itu lebih memilih metode diktator militer untuk membantu Raka.
Dimas dan Ardi saling sikut sambil menahan tawa.
"Wah, Bos kita ditaklukkan dosen killer nih," bisik Dimas yang sayangnya masih bisa didengar jelas.
"Diam kalian!" bentak Sinta tanpa menoleh, membuat Dimas dan Ardi langsung pura-pura sibuk menghitung koin lagi.
Raka menghela napas panjang. "Sin, udah kubilang aku nggak mau ngelamar kerja lagi, aku udah nyerah."
"Nggak ada ceritanya nyerah sebelum mencoba," potong Sinta tajam, ia mengulurkan tangannya di atas mesin tik. "Taruh tanganmu di atas tuts, sekarang."
Raka menatap mata Sinta.
Perempuan itu terlihat sangat serius, keringat masih menempel di pelipisnya karena menggotong benda seberat itu demi dirinya.
Raka, yang selalu lemah pada ketulusan yang disembunyikan di balik sikap galak Sinta, akhirnya mendengus pelan. Ia menyandarkan gitarnya ke pohon, lalu meletakkan kedua tangannya dengan sangat kaku di atas tuts mesin tik.
"Nah, jari telunjuk kiri di huruf F, telunjuk kanan di huruf J," instruksi Sinta.
Raka menekan satu huruf.
Tek.
Hanya satu huruf, tapi ia menekannya dengan tenaga seolah sedang memukul paku.
Sinta langsung memukul punggung tangan Raka pelan.
Plak!
"Aduh! Kok dipukul sih?!" Raka protes, menarik tangannya.
"Kamu mau ngetik atau mau ngerusak mesinnya?! Pelan-pelan!" omel Sinta.
Perempuan itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Tanpa ragu, Sinta meraih kedua tangan Raka yang besar dan kapalan itu.
Raka tersentak.
Tubuhnya langsung kaku seperti kanebo kering.
Jari-jari Sinta yang kecil dan halus menyentuh jari-jari Raka, memosisikannya satu per satu di atas tuts mesin tik dengan sangat hati-hati.
"Ini di sini... yang ini di sini, ibu jari cuma buat spasi," gumam Sinta pelan, wajahnya sangat fokus menatap tombol mesin tik, sama sekali tidak menyadari jarak mereka yang kini sangat dekat.
Nara yang menonton dari kejauhan, menelan ludah.
Momen ini terlalu intim.
Raka terlihat seperti tidak bernapas, mata pemuda itu tidak menatap mesin tik, melainkan terkunci sepenuhnya pada wajah Sinta. Jarak wajah mereka hanya sekitar dua jengkal, Raka bisa melihat dengan jelas bulu mata Sinta yang lentik dan hidungnya yang sedikit berkeringat.
Jantung Raka berdegup liar.
"Sialan, kenapa perempuan cerewet ini tiba-tiba terasa sangat berbahaya?"
Untuk menutupi kepanikannya, Raka langsung mengeluarkan senjata andalannya, gombalan receh.
"Sin," panggil Raka pelan, sengaja merendahkan suaranya.
"Hmm?" Sinta masih fokus pada jari Raka.
"Kamu kalau mau pegang-pegang tanganku bilang aja, nggak usah repot-repot nyewa mesin tik segala, bayar sewa mahal kan?"
Gerakan Sinta berhenti.
Wajah Sinta perlahan terangkat, menatap mata Raka. Rona merah langsung menjalar cepat dari leher hingga ke telinganya.
Sinta buru-buru melepaskan tangan Raka seolah baru saja memegang bara api.
"Kamu ini... bener-bener nggak bisa serius ya!" bentak Sinta, salah tingkah setengah mati. "Udah, coba ngetik sendiri! Ketik nama lengkapmu!"
Raka tertawa renyah, sangat puas melihat wajah Sinta yang merah padam. Ia mulai menekan tuts satu per satu dengan canggung.
Tek. Tek. Tek.
Nara tersenyum pahit melihat interaksi itu.
Sebuah tontonan komedi romantis yang sempurna.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Nara menyadari tragedi yang sedang terjadi.
Sinta... perempuan yang sedang mengajari Raka mengetik dengan penuh semangat itu... tanpa sadar sedang melatih Raka bagaimana cara mematikan jiwanya sendiri. Sinta sedang mengajari burung itu cara mengunci pintu sangkarnya.
Dan Raka, mencoba untuk mempelajarinya.
"Aduh, capek ah," Raka mengeluh setelah lima belas menit berkutat dengan besi tua itu. Jarinya yang terbiasa luwes di atas senar nilon, kini terasa kram. "Kertasnya aja nggak gerak-gerak, Sin."
"Itu karena kamu nekan tombolnya asal-asalan!" Sinta mengomel lagi.
Raka menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku beton, ia melirik Dimas dan Ardi yang sedang asyik makan kacang sambil menonton penderitaannya.
"Sin, udahlah," kata Raka, nada suaranya kembali pada ritme santai dan masa bodohnya. "Ini buang-buang waktu, aku nggak akan pernah bisa jadi orang kantoran. Jariku ini jari jalanan, bukan jari mesin."
Sinta mengerutkan kening, rasa lelah mulai mengalahkan kesabarannya.
"Kamu baru nyoba lima belas menit, Raka."
"Dan aku udah tahu ini bukan buat aku," balas Raka, ia menyalakan sebatang rokok lagi, menghembuskan asapnya ke udara dengan gaya cuek. "Udah, kamu balikin aja mesin tik ini. Aku ganti uang sewanya, aku mending ngamen di lampu merah daripada jari kram begini."
Dimas tertawa keras. "Tuh, Mbak Sinta. Bos kita emang nggak diciptakan buat mengenakan dasi, dia diciptakan buat menghirup debu aspal."
Mendengar tawa Dimas, dan melihat sikap Raka yang kembali meremehkan usahanya, rahang Sinta mengeras.
Perempuan itu sudah bersusah payah membuang gengsinya, ia menyewa mesin tik itu dengan uang sakunya yang pas-pasan. Ia menggotongnya jauh-jauh dari kosan ke taman kota, menahan malu dilihat orang-orang, hanya karena ia ingin membantu pemuda ini punya masa depan yang lebih baik.
Namun apa balasannya?
Raka menjadikannya bahan lelucon di depan teman-temannya.
"Kamu pikir ini lucu?"
Suara Sinta tidak lagi galak atau meledak-ledak.
Suaranya rendah, dingin, dan menusuk.
Raka yang sedang menghisap rokoknya, terdiam.
Ia menoleh menatap Sinta.
"Aku bawa mesin tik berat-berat ke sini buat bantu kamu, Raka," kata Sinta, matanya menatap Raka dengan tajam, menyiratkan kekecewaan yang sangat dalam. "Tapi kamu malah asyik bercanda, kamu meremehkan semuanya."
"Sin, aku nggak ngeremehin..."
"Pantas saja kamu ditolak HRD kemarin," potong Sinta tanpa ampun, kata-katanya mulai tidak terkontrol karena emosi. "Kamu memang tidak pernah serius sama hidupmu, begitu ada sedikit kesulitan, kamu langsung lari berlindung di balik alasan 'aku anak jalanan'."
Raka menurunkan tangan yang memegang rokok perlahan.
Seringai usil di wajahnya lenyap tanpa sisa, wajahnya berubah menjadi datar dan sangat kaku.
"Kamu nggak ngerti, Sin," suara Raka mulai terdengar dingin.
"Apa yang nggak kumengerti?" tantang Sinta balik, napas perempuan itu memburu. "Aku ngerti kalau kamu cuma pengecut! Kamu terlalu takut keluar dari zona nyamanmu. Kamu lebih milih ditertawakan teman-temanmu ini, daripada harus berjuang sedikit aja buat dirimu sendiri!"
"Sinta, cukup," Nara akhirnya berdiri dari bangkunya, merasakan firasat buruk yang luar biasa, ia berjalan cepat mendekati mereka.
Namun Sinta sudah terlanjur dikuasai oleh rasa kecewa dan harga diri yang terluka.
Sinta tidak berhenti.
"Ternyata bapakmu benar," ucap Sinta tajam.
Satu kalimat yang meluncur begitu saja dari bibirnya, tanpa memikirkan konsekuensinya. "Kamu memang tidak mau berubah."
Hening.
Bahkan angin di taman itu seolah berhenti bertiup.
Dimas dan Ardi langsung menundukkan kepala, tidak berani melihat wajah Raka.
Nara mematung beberapa langkah dari meja beton.
Kalimat itu adalah bom nuklir.
Sinta baru saja menggunakan pedang sama yang dipakai ayah Raka untuk menebas harga diri pemuda itu di alun-alun kemarin, dan Sinta menusukkannya tepat di luka yang belum kering.
Raka menatap Sinta.
Tidak ada kilat marah di matanya.
Tidak ada bentakan.
Hanya ada kehampaan yang luar biasa gelap, sepasang mata yang baru saja kehilangan percikan cahayanya.
Raka mematikan rokoknya ke atas meja beton.
Ia berdiri perlahan.
"Siapa yang minta dibantu, Sin?" tanya Raka. Suaranya sangat pelan, namun terdengar lebih menyakitkan daripada sebuah teriakan.
Sinta terdiam, bibirnya sedikit terbuka, baru menyadari betapa kejamnya kalimat yang baru saja ia lontarkan.
"Aku kan udah bilang, kantoran bukan duniaku. Kamu yang maksa bawa barang rongsokan itu ke sini," lanjut Raka. Ia mengambil gitarnya yang bersandar di pohon, menyandangkannya ke bahu.
Raka menatap Sinta untuk terakhir kalinya, tatapan yang sedingin es.
"Lagian, ngapain kamu capek-capek peduli sama masa depan gembel jalanan ini? Kita nggak ada hubungan apa-apa."
Sinta seperti ditampar, wajahnya seketika memucat.
"Raka... aku nggak bermaksud..."
"Makasih pelajarannya, Nona Kalkulator. Silakan bawa pulang mesin tikmu."
Raka berbalik.
Ia tidak menoleh ke arah Nara, ia tidak berpamitan pada Dimas dan Ardi.
Pemuda itu melangkah pergi meninggalkan taman kota, punggungnya terlihat begitu kaku dan jauh.
Sinta berdiri mematung di samping meja beton, tangannya gemetar pelan menyentuh sisi mesin tik abu-abu itu. Air mata penyesalan mulai menggenang di pelupuk matanya, namun egonya terlalu tinggi untuk mengejar pria itu dan meminta maaf.
Nara menatap kepergian Raka, lalu menatap Sinta yang sedang menahan tangis.
Dadanya sesak.
Ia tahu pertengkaran ini akan terjadi cepat atau lambat akibat perbedaan dunia mereka.