NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — Lebih Dari Cukup

Mobil meninggalkan Menteng pukul sepuluh kurang lima belas.

Malam sudah penuh di luar — lampu jalan yang oranye, Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur tapi pada jam ini bernapas dengan ritme yang berbeda dari siang. Lebih lambat di beberapa tempat, lebih cepat di yang lain, seperti kota yang sedang memilah mana bagiannya yang perlu istirahat dan mana yang memang dirancang untuk tidak.

Di dalam mobil, aku melepas heels untuk kedua kalinya dalam dua bulan terakhir — kali ini lebih diam daripada di lift gala dinner dulu, karena sudah tahu bahwa tidak ada yang akan mengomentarinya.

Revano duduk di sisi kanannya, ponsel di tangan tapi layarnya tidak menyala. Bukan sedang membaca atau mengetik — hanya memegang, seperti benda yang diambil karena kebiasaan tapi belum ada keperluannya.

Aku menyandarkan kepala ke headrest dan menatap langit-langit mobil.

Dua setengah jam di meja yang punya gravitasinya sendiri itu menguras sesuatu yang tidak bisa langsung dinamai tapi rasanya sangat nyata — bukan lelah fisik, lebih seperti lelah yang datang setelah terlalu lama memastikan setiap kata dan ekspresi berada di tempat yang tepat.

Tidak ada yang bilang apapun selama sepuluh menit pertama.

"Wiranata minta nomormu."

Suara Revano memecah keheningan dengan cara yang tidak dramatis — datar, informatif, seperti menyampaikan memo singkat di akhir hari kerja.

Aku memutar kepala ke arahnya. "Serius?"

"Dia bilang ke aku sebelum kita pamit." Revano masih menatap keluar jendela di sisinya. "Mau memperkenalkan kamu ke seseorang di jaringannya yang sedang cari desainer untuk proyek properti besar."

"Pak Wiranata yang—" aku memastikan, "—yang duduk di sebelah kakek dan hampir tidak bicara ke aku sepanjang makan?"

"Dia bicara. Kamu yang menjawab tentang gap antara keinginan dan kebutuhan." Revano akhirnya memutar kepalanya ke arahku. "Dia memperhatikan. Dia hanya tidak menunjukkannya dengan cara yang mudah dibaca."

Aku memproses itu. Pak Wiranata dengan garpu yang tidak bergerak tapi matanya yang bergerak — yang kukira sedang fokus pada piringnya tapi rupanya sedang melakukan hal yang berbeda sepenuhnya.

"Boleh aku kirimkan nomornya?"

"Boleh." Aku menyandarkan kepala ke headrest lagi. "Terima kasih sudah memberitahu kali ini."

"Kali ini aku tanya dulu."

"Iya. Terima kasih untuk itu juga."

Sudut bibirnya bergerak sedikit — kecil, hampir tidak ada, tapi aku sudah cukup menghapal wajahnya untuk melihatnya.

Lima menit lagi berlalu.

Jakarta di luar jendela berganti dari kawasan Menteng yang pohon-pohonnya tua dan jalannya lebih sunyi ke kawasan yang lebih ramai, lebih terang, lebih keras bunyinya. Supir mengemudi dengan tenang tanpa musik, yang sudah jadi standar di mobil ini dan aku sudah tidak lagi merasa perlu mengisinya.

"Draka meninggalkan acara lebih awal dari biasanya," kata Revano.

"Aku perhatikan." Pukul sembilan kurang dua puluh, Draka berpamitan dengan alasan yang terdengar masuk akal. "Kenapa menurutmu?"

"Dia sudah mendapat yang dia datang untuk dapatkan."

"Yang apa?"

Revano diam sebentar. "Penilaian. Tentang sejauh mana dia bisa mendorong sebelum ada yang mendorong balik."

"Dan sekarang dia tahu."

"Sekarang dia tahu bahwa mendorong langsung tidak akan bekerja." Nada Revano tidak berubah tapi ada sesuatu di bawahnya — sesuatu yang sudah lama ada di sana, lebih lama dari dua bulan yang aku tahu. "Yang berarti dia akan mencari sudut yang berbeda."

Aku memiringkan kepala sedikit. "Kamu tidak khawatir?"

"Selalu khawatir tentang Draka." Dikatakan dengan cara yang sama flatnya dengan semua kalimat lain yang keluar darinya — bukan pengakuan kelemahan, hanya pernyataan fakta. "Tapi khawatir yang tidak produktif tidak berguna. Yang berguna adalah tahu apa yang mungkin dia lakukan dan bersiap."

"Dan yang mungkin dia lakukan adalah—"

"Belum tahu pasti." Revano menggeser posisi duduknya sedikit. "Tapi dia tidak akan melakukan apapun sebelum dia lebih yakin tentang situasinya. Malam ini memberinya informasi baru. Dia perlu waktu untuk memprosesnya."

"Jadi kita juga punya waktu."

"Kita juga punya waktu."

Kalimat itu menggantung di udara kabin mobil dengan caranya sendiri.

Kita.

Bukan aku — yang lebih natural untuk seseorang yang sudah sangat lama terbiasa membawa semuanya sendiri. Bukan kamu perlu tahu atau situasinya adalah — tapi kita, dengan cara yang tidak dibuat-buat dan justru karena itu lebih berat dari kalau dikatakan dengan sangat sengaja.

Aku tidak mengomentarinya. Menyimpannya di tempat yang sudah penuh dengan hal-hal kecil yang tidak perlu dikomentari tapi perlu disimpan.

Dua puluh menit ke perjalanan, ketika Jakarta sudah mulai menunjukkan jalur yang menuju ke arah Sudirman, Revano berkata sesuatu.

Bukan dengan nada yang berbeda. Bukan dengan pembukaan atau konteks yang menyiapkan. Hanya keluar — dengan cara kalimat kadang keluar dari orang yang sudah lama menahannya dan akhirnya memutuskan bahwa menahannya lebih melelahkan dari mengatakannya:

"Kamu lebih dari cukup malam ini."

Aku tidak langsung merespons.

Bukan karena tidak mendengar — kalimat itu sangat jelas, enam kata yang tidak meninggalkan ambiguitas tentang apa yang dimaksud. Tapi karena ada sesuatu tentang cara diucapkannya yang memerlukan beberapa detik sebelum bisa diproses dengan benar.

Lebih dari cukup.

Bukan kamu melakukan pekerjaan dengan baik — yang akan terdengar seperti evaluasi, seperti kolom catatan di lembar yang sudah kita sepakati tidak akan diulang. Bukan performamu memuaskan — yang akan menempatkan malam tadi dalam konteks kalkulasi.

Lebih dari cukup — yang terdengar seperti seseorang yang melihat sesuatu dan memilih untuk mengatakannya karena itu yang dilihat, bukan karena ada alasan strategis di baliknya.

"Revano," kataku akhirnya.

"Hm."

"Itu—" aku berhenti. Mencari kalimat yang tepat dan tidak menemukannya dalam bentuk yang sudah jadi. "Terima kasih."

"Bukan pujian yang perlu direspons dengan terima kasih."

"Lalu dengan apa?"

Dia menatapku dari sisi. Ekspresi yang sudah mulai bisa kubaca dalam gradasi-gradasi kecilnya — malam ini ada sesuatu di sana yang sedikit lebih terbuka dari default-nya, seperti orang yang setelah dua setengah jam di ruangan yang memerlukan semua pertahanannya dipasang, di dalam mobil ini memilih untuk menurunkan satu lapisan.

"Tidak perlu direspons dengan apapun," katanya. "Itu hanya yang aku lihat."

Aku menatap langit-langit kabin lagi.

Ada hal-hal yang susah diterima bukan karena buruk tapi justru karena terlalu pas mengenainya di tempat yang tidak disiapkan untuk dikenai. Kalimat Revano tadi adalah salah satunya — enam kata yang tidak dramatis, yang dari siapapun lain mungkin tidak akan terasa sebesar ini, tapi dari seseorang yang sudah aku pelajari sangat jarang mengatakan hal-hal yang tidak dia maksud sepenuhnya, terasa seperti sesuatu yang cukup besar untuk tidak tahu harus diletakkan di mana.

Aku tidak tahu cara menerima pujian dari Revano Aldrich.

Bukan karena tidak mau — tapi karena tidak punya referensi yang cukup untuk tahu apa bentuk normalnya. Pujian dari klien bisa kuterima dengan profesionalisme yang sudah terlatih. Pujian dari Nara bisa kuterima dengan tawa dan komentar balik yang sama. Tapi pujian dari seseorang yang standar komunikasinya adalah efisiensi dan presisi, yang tidak mengatakan hal yang tidak dia pikirkan dua kali sebelumnya — itu masuk kategori yang belum punya nama di sistem kategorisasiku.

"Revano," kataku lagi.

"Masih aku."

Aku hampir tersenyum. "Kamu bilang aku lebih dari cukup. Tapi tadi di gala bulan lalu kamu bilang aku melakukan lebih dari yang kontrak minta." Aku menatap profilnya. "Bedanya apa?"

Dia diam sebentar — bukan tidak tahu jawabannya, tapi memilih cara mengatakannya.

"Yang pertama tentang apa yang kamu lakukan," katanya akhirnya. "Yang kedua tentang siapa kamu."

Delapan kata.

Aku duduk dengan delapan kata itu selama beberapa detik dan membiarkan mereka meresap tanpa langsung mencoba menganalisis apa yang mereka implikasikan — karena menganalisis terlalu cepat adalah cara paling efisien untuk kehilangan hal yang sebenarnya perlu dirasakan dulu sebelum dipahami.

"Susah sekali jadi orang yang kamu puji," kataku akhirnya.

Revano menatapku. "Kenapa?"

"Karena tidak pernah tahu mau diletakkan di mana."

Satu detik. Dua detik.

"Di sini saja dulu." Dikatakan dengan nada yang paling ringan yang pernah kudengar darinya — tidak bercanda, tapi tidak seserius semua kalimat lainnya. Sesuatu di antara keduanya yang terasa seperti Revano yang ada di studio musik di balik pintu yang terkunci, bukan Revano yang berdiri di meja rapat lantai dua puluh delapan.

Di sini saja dulu.

Aku tidak menjawab.

Tapi untuk pertama kalinya malam ini, punggungku benar-benar menyentuh headrest dengan cara yang tidak menunggu sesuatu.

Mobil masuk ke area gedung pukul sepuluh lewat dua puluh.

Proses parkir, lift, kartu akses — semua berjalan dengan ritme yang sudah hapal, yang dalam dua bulan sudah punya urutannya sendiri tanpa perlu dipikirkan.

Di lift naik, kali ini tidak ada keheningan yang penuh dengan sesuatu yang belum selesai. Hanya diam yang biasa — yang sudah punya karakternya sendiri, yang tidak perlu diisi.

Tapi di lantai tiga puluh dua, ketika lift terbuka dan kami masuk ke penthouse dan cahaya yang aku tinggalkan menyala di ruang tamu menyambut dengan hangat yang tidak proporsional untuk sekadar lampu biasa — Revano berhenti sebentar sebelum bergerak ke wing kanannya.

"Tidur yang cukup," katanya. Kalimat yang sudah jadi ritualnya di akhir malam.

"Kamu juga," jawabku. Kalimat yang sudah jadi ritualku membalas.

Tapi malam ini ada jeda kecil setelahnya — jeda yang tidak ada di malam-malam sebelumnya, yang terasa seperti sesuatu yang ingin ditambahkan tapi belum menemukan bentuknya.

Lalu Revano melanjutkan langkah ke wing kanannya.

Dan aku ke wing kiriku.

Di kamar, aku duduk di tepi kasur dan tidak langsung berganti pakaian.

Menatap meja kerja — foto Bapak di sebelah sukulen yang sudah tumbuh sedikit lebih tinggi dari sebulan lalu, lampu meja yang cahayanya oranye hangat, notes buku hijau tua yang sudah setengah penuh dengan coretan.

Lebih dari cukup malam ini.

Yang pertama tentang apa yang kamu lakukan. Yang kedua tentang siapa kamu.

Di sini saja dulu.

Tiga kalimat yang kalau dikumpulkan membentuk sesuatu yang belum bisa kuberi nama tapi sudah punya beratnya — bukan berat yang menekan, tapi berat yang terasa seperti sesuatu yang nyata dan ada dan tidak bisa diabaikan dengan cara yang sama seperti sebulan lalu mungkin bisa.

Aku mengambil notes hijau tua, membukanya ke halaman kosong berikutnya.

Tidak menulis apapun.

Hanya memegang penanya di atas halaman kosong itu dan membiarkan dua bulan yang sudah berlalu melintas dengan caranya sendiri — dari warung kopi dan hujan dan kartu nama, sampai empat puluh tujuh halaman kontrak, sampai susu hangat di meja pukul dua pagi, sampai malam ini di dalam mobil dengan delapan kata yang belum selesai meresap.

Lalu menutup notes itu.

Meletakkan pena.

Dan memutuskan bahwa ada hal-hal yang tidak harus langsung dimengerti untuk bisa dirasakan — dan malam ini, di antara semua yang sudah terjadi dan semua yang belum terjadi, itu cukup.

Lebih dari cukup.

— Selesai Bab 23 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!