NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Pertandingan Basket

Vano menyusul Vanya yang memang menuju ke perpustakaan di sekolah mereka. Saat Vanya sedang asik memilih buku novel, tangan nya di tarik paksa menuju ke sebuah bagian perpustakaan yang sepi.

"Elo? Ngapain sih lo narik-narik tangan gw! Lepasin!" Vanya berusaha menarik tangan nya yang masih di cekal oleh tangan Vano. Kini mereka berada di pojok ruangan perpustakaan. Tempat itu benar-benar sepi tidak ada seorangpun yang melewati nya.

"Vanya, gw pengen ngomong"

"Ngomong apaan?" tanya Vanya dengan nada galak.

"Kenapa sikap lo ke gw ngga bisa se ramah malam waktu itu? Gw salah apa?" Vano menatap lekat ke arah manik mata Vanya. Mereka berdiri saling berhadapan.

"Mau lo tuh apasih sebenarnya? Pertanyaan lo bener-bener gak penting sama sekali!" bukan nya menjawab, Vanya malah bertanya balik dengan nada ketus.

"Tuh kan! Lo yang sekarang tuh kaya ngga ada ramah-ramah nya, gw lebih suka lo yang waktu itu"

"Oh ya? Dan gw nggak peduli sama sekali"

"Gw tertarik sama lo Van" ucap Vano tiba-tiba.

Vanya langsung tersentak seketika, "Vano! Inget, lo itu punya pacar. Dan gw benci sama cowo brengsek"

Vanya meninggalkan Vano begitu saja setelah selesai mengatakannya. Bel tanda masuk telah berbunyi, Vano pun menuju ke kelasnya dengan wajah di tekuk.

"Lo kenapa? Lecek amat tuh muka" ledek Tian. Namun Vano tak menanggapinya sama sekali, bahkan raut wajahnya masih tak berubah sedikit pun.

'Setiap di deket lo, tubuh ini rasanya nggak sinkron sama ucapan sendiri. Sial! Kenapa gw jadi plin plan gini sih! ' gerutu Vano di dalam hatinya.

****

Bel pulang telah berbunyi. Vanya, Lea dan Rain berpisah untuk menuju ke tempat dimana mereka melakukan kegiatan masing-masing.

Sedangkan di lapangan, para laki-laki sedang melakukan pemanasan sebelum melakukan pertandingan basket.

Prittttt

Seorang pelatih muda berumur kisaran 30 an membunyikan peluit nya. Semua siswa di lapangan itupun mendekat ke arahnya.

"Sebelum di mulai, saya ingin membacakan dulu peraturan permainan nya. Sebentar lagi akan ada pertandingan basket antar sekolah, jadi saya ingin memilih ulang ketua Tim Basket untuk mewakili sekolah kita. Apa ada yang keberatan?"

"Loh pak, kenapa harus memilih ulang. Biasanya kan saya terus yang jadi ketuanya" Surya merasa sedikit tidak terima. Selama hampir 2 tahun sekolah disini, selama itu lah ia yang selalu menjadi ketuanya.

"Saya tau kamu layak menjadi ketua tim, tapi ada 4 orang lagi yang ingin mendaftar. Dan saya ingin memastikan saja jika Ketua Tim haruslah yang paling layak diantara kalian semua"

"Baiklah pak, saya setuju" ucap Surya pasrah.

"Oke.....Sebelumnya disini ada 5 orang anggota inti dan 3 orang cadangan. Karena ada 4 orang lagi yang ingin mendaftar, jadi saya akan menentukan lagi mana yang akan menjadi anggota tim inti dan mana yang akan menjadi cadangan. Dalam pertandingan ini juga saya akan memilih diantara kalian semua untuk menjadi Ketua Tim dalam lomba nanti"

"Karena disini ada total 12 anak, saya ingin menguji lemparan bola kalian dulu ke dalam ring itu. Setelah semuanya sudah mencobanya, saya akan membagi lagi 10 anak yang lulus menjadi 2 tim untuk saling bertanding. Sedangkan sisanya membantu saya dalam menilai pertandingan. Semuanya sudah siap?"

"Siap Pak"

Pelatih pun meng absen satu persatu nama-nama yang sudah ia tulis dalam daftar.

Sedangkan di ruang OSIS, Lea tidak bisa fokus dalam rapat. Beberapa kali matanya melirik ke arah pintu dengan wajah gelisah. Hal itu ternyata di sadari oleh Bagas karena mereka duduk bersebelahan.

"Lea, lo kenapa? Kok kayaknya gelisah banget?" bisik Bagas pelan. Sengaja agar tidak di dengar oleh yang lain nya.

"Hah? Enggak kok. Gw cuman pengen cepet-cepet pulang aja" balas Lea sambil berbisik juga.

"Oke..... Rapat kali ini cukup sampai sini aja. Nanti kita bahas lagi di Grub. Besok jangan lupa untuk rapat lagi, karena kita juga akan membahas Lomba Basket yang akan di laksanakan di sekolah kita. Sekian, terimakasih" Bagas tiba-tiba membubarkan rapat begitu saja.

Saat yang lain nya sudah mulai pergi meninggalkan ruangan, Bagas mencekal tangan Lea yang sedang buru-buru ingin keluar.

"Lo langsung pulang apa gimana?" tanya Bagas.

Dengan pelan Lea melepas cekalan tangan Bagas di pergelangan tangan nya, "Gw nunggu Rain selesai latihan" jawab Lea acuh tak acuh.

"Bareng gw aja yuk, gw mau ngajak lo mampir di Cafe baru deket sekolah kita"

"Sorry, gw udah ada janji. Gw duluan ya" Lea meninggalkan Bagas begitu saja.

"Apa berita itu bener, kalo lo sama salah satu dari anak baru itu punya hubungan?" tanya Bagas dengan raut wajah sendu. Lea sudah tak terlihat lagi dari pandangnya.

Lea berjalan cepat menuju ke lapangan Basket, disana mereka baru saja selesai dalam penilaian lemparan bola. Sedangkan Rain dan tim Cheers lain nya sedang latihan di pinggir lapangan dekat tempat duduk penonton.

"Tumben lo cepet amat rapatnya" Rain menyuruh teman-teman nya untuk istirahat sebentar.

Mereka juga ingin melihat para laki-laki bertanding basket, cuci mata katanya. Bahkan banyak yang mulai tertarik dengan Vano, selain wajahnya yang menurut mereka paling tampan diantara semua nya, Vano juga ternyata jago bermain basket.

Setelah pelatih selesai menilai, tim pun mulai di bagi menjadi 2, sedangkan 2 murid lagi yang tidak lolos disuruh untuk menulis point. Tim pertama terdiri dari Surya, Dika, Raza, Fauzi dan Huda. Sedangkan tim satunya lagi terdiri dari Vano, Radit, Tian, Ivan dan Rafli.

Masing-masing tim di pimpin oleh Vano dan Surya sebagai ketua. Fauzi dan Ivan sebagai Center karena mereka berdua yang paling tinggi diantara semuanya.

Sesaat sebelum pertandingan akan benar-benar di mulai, dengan sedikit berlari Vanya memasuki lapangan dan duduk di bangku penonton paling depan, dekat dengan tempat latihan Cheerleader.

Vano dan Surya yang melihat itu langsung tersenyum sumringah. Berbeda dengan Raza yang langsung melambaikan tangan ke arah Vanya.

"Buset, beneran dateng lo Van. Mau ngasih semangat ke siapa nih? Ada 3 cowo tuh yang seneng banget lo ada di sini" Lea menghampiri Vanya lalu duduk di sampingnya, di susul Rain yang menyudahi sesi latihan karena ingin ikut menonton pertandingan juga.

"Gw cuman mau nonton aja" balas Vanya apa adanya.

"Vanya, kalo tim gw menang, lo harus mau gw ajak dinner ya" teriak Surya dari tengah lapangan. Sontak hampir semua orang menyoraki nya.

'Sial! Nggak akan gw biarin dia menang. Kalo perlu gw yang harus jadi Ketua Tim basket ini biar Vanya ngelirik gw ' batin Vano.

Prittttttt

Peluit tanda dimulainya pertandingan telah berbunyi. Vano dan Surya saling berebut bola yang baru saja pelatih lemparkan ke atas. Bola itu berhasil di dapatkan oleh Surya, lalu dioper kepada Raza yang bertugas sebagai Small Forward. Saat Raza men dribling bola menuju ke arah Dika, dengan lihai Vano merebut bola itu sambil men dribling bola menuju ke arah Rafli. Bola itu berhasil di tangkap oleh Rafli, lalu Rafli melempar bola dari posisinya ke arah ring. Bola itu masuk dengan mulus, 3 point berhasil tim Vano peroleh.

"Woah gacor juga si Vano" puji Lea sambil bertepuk tangan.

"Nih anak nggak eling eling anjir. Woi! semangatin tuh ayang lo" ucap Rain sewot.

Fauzi menangkap bola yang baru saja berhasil melewati ring. Bola itu Fauzi lempar ke arah Huda, Huda men dribling bola lalu ia lemparkan ke arah Raza. Saat Raza ingin menangkap bola, Vano merebut bola itu dan tanpa sengaja menyenggol punggung Raza.

"Lo sengaja ya nyenggol tim gw" Surya berseru tak terima, Raza hampir saja terjatuh karena senggolan Vano.

"Maksut lo apa? Orang dia aja nggak papa kok" Vano ikutan ngegas.

Prittttt

Pelatih membunyikan peluit tanda pertandingan di mulai kembali untuk menghindari perkelahian antar tim. Kali ini tim Surya berhasil unggul dan mencetak 3 point. Pertandingan terus berlanjut hingga di menit-menit menuju ahir, point hasilnya seri 47-47.

Waktu pertandingan sisa 1 menit lagi, Surya mengoper bola ke arah Raza, bola itu berhasil di tangkap lalu Raza men dribling bola mendekati Dika, Tian berhasil merebut bola itu lalu men dribling nya dan di oper ke arah Radit. Radit berhasil menangkap bola itu, dalam waktu mundur 10 detik, Radit melempar bola itu ke arah Ivan. Ivan men dribling bola beberapa kali lalu ia melompat dan memasukkan bola ke arah ring.

Pritttttt

Waktu pertandingan telah selesai. Babak pertama di menangkan oleh tim Vano dengan point 48-47. Pertandingan kedua dimulai, dan sayangnya tim Vano menang kembali dengan skor 56-53.

Karena tim Vano sudah menang 2 kali, pertandingan tidak di lanjutkan lagi. Pelatih mengumpulkan semua anggota dan duduk melingkar di tengah lapangan.

"Saya sudah melihat bagaimana kalian semua bermain. Sebelum mengumumkan hasil pemilihan saya, saya ingin kalian semua berlapang dada jika memang hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kalian" pelatih itu mulai membuka buku berisi hasil penilaiannya terhadap semua anggota tim.

"Kalian sudah siap mendengar hasilnya?"

"Siap pak" jawab semuanya dengan kompak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!