Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Bukit Jobolarangan
Langkah Subosito terasa semakin berat seiring dengan tipisnya oksigen di ketinggian Gunung Lawu. Bukit Jobolarangan bukan sekedar gundukan tanah yang menjulang tinggi; bagi masyarakat lereng Lawu, tempat ini adalah serambi alam gaib.
Di sini, batas antara dunia manusia dan dimensi para leluhur setipis helai rambut. Kabut abadi berwarna putih susu memecahkan hutan, membuat jarak pandang hanya tersisa beberapa langkah di depan mata.
Setiap langkah Subosito meninggalkan jejak yang aneh. Di atas tanah yang lembab oleh embun, bekas kakinya malah kering dan menghitam. Panas dari tubuhnya tidak lagi bisa disembunyikan.
Udara di sekitarnya tampak bergetar hebat, menciptakan distorsi yang membuat pepohonan di sekelilingnya tampak meliuk-liuk seperti hantu yang menari.
Suasana mistis Jawa yang kental mulai merambat masuk ke dalam pori-porinya. Pohon-pohon besar berlumut yang berusia ratusan, bahkan ribuan tahun tampak seperti raksasa yang sedang bermeditasi.
Di dahan-dahan yang meliuk, kain-kain putih kusam dan sisa sesaji yang sudah mengering menunjukkan bahwa tempat ini adalah saksi bisu dari ribuan doa dan pertapaan.
"Jangan ke sana, Cah Bagus,kembalilah!"
Subosito berhenti. Suara itu bukan berasal dari telinga, melainkan bergaung langsung di dalam tempurung kepalanya. Suara itu terdengar seperti bisikan ribuan orang yang berbicara secara bersamaan—nada yang sedih, memperingatkan, sekaligus mengancam.
"Siapa di sana?" teriak Subosito. Suaranya memecah kesunyian hutan, namun hanya dibalas oleh tawa melengking burung uli-uli yang hinggap di pucuk pohon cemara pecut.
Mental Subosito diuji habis-habisan. Dirinya melihat bayangan orang tuanya di balik kabut, bersembunyi dengan tangan terbuka, pada saat dia mendekat, bayangan itu berubah menjadi kobaran api yang mengerikan.
Subosito melihat wajah warga desa yang marah, wajah Sekar yang menangis, dan wajah para anggota Padepokan Gagak Hitam yang hangus menjadi abu. Semua kenangan kelam itu berputar-putar, mencoba meruntuhkan tekadnya.
"Kalian tidak nyata!" teriak Subosito sambil memegangi kepalanya yang berdenyut panas. "Aku bukan setan! Aku hanya ingin hidup!"
Tiba-tiba, kabut di depannya menyibak dengan sendirinya, menyingkapkan sebuah gubuk kecil yang terbuat dari jalinan akar pohon dan batu-batu kali. Di depan gubuk itu, seorang wanita duduk bersila di atas batu datar.
Wanita itu mengenakan kemben berwarna hijau lumut dengan selendang kuning yang tersampir di bahunya. Rambutnya yang putih panjang menyentuh tanah, wajahnya tampak masih muda dan segar, dengan guratan kecantikan yang abadi.
Dialah Nyai Ambarwati, sang penjaga gerbang batin Bukit Jobolarangan.
“Duduklah, Putra Api,” ucap Nyai Ambarwati tanpa membuka mata. Suaranya membawa ketenangan yang seketika gejolak amarah di dalam dada Subosito mulai mereda.
Subosito mendekat dengan ragu, lalu duduk bersimpuh di atas tanah. Anehnya, tanah yang dipijaknya tidak menghitam. Kehadiran Nyai Ambarwati seolah-olah menekan aura liar dari Segel Garuda Paksi .
“Nyai, aku datang karena diperintahkan oleh seorang kakek yang saya temui di pasar!” bisik Subosito bersimpuh di depan Nyai Ambarwati.
Nyai Ambarwati membuka matanya. Pupil matanya berwarna hijau jernih, seperti air telaga di musim hujan. "Ki Juru memintamu kemari karena waktumu hampir habis, Subosito. Burung di punggungmu itu sudah terlalu lapar. Dia telah memakan rasa takutmu, kemarahanmu, dan kini dia mulai memakan jiwamu!"
Subosito menunduk, merasakan panas yang kembali berdenyut di tulang belikatnya. "Aku tidak ingin mati terbakar, Nyai. Aku juga tidak ingin membakar dunia!"
"Api tidak selamanya menghancurkan, Nak. Api juga memberikan kehangatan dan penerangan. Masalahnya, kau belum menjadi tuan bagi apimu sendiri. Kau hanya menjadi wadah yang merebut kembali kekuatan yang terlalu agung," Nyai Ambarwati bangkit berdiri. Gerakannya sangat anggun, seolah tidak menginjak bumi.
Nyai Ambarwati mendekat dan meletakkan tangannya di atas ubun-ubun Subosito. Pemuda itu merasakan sensasi dingin yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, meredam bara yang mendidih di nadinya.
“Kau harus pergi ke puncak Lawu sisi barat,” perintah Nyai Ambarwati. "Di sana terdapat Telaga Kuning . Bukan air biasa yang ada di dalamnya, melainkan sari pati bumi yang mampu mendinginkan inti dari Garuda Paksi. Kau harus merendam tubuhmu di sana, bukan untuk menyelesaikan apinya, tapi untuk menyatukan suhu tubuhmu dengan suhu semesta!"
“Telaga Kuning?” Subosito berkerut. "Tapi perjalanannya sangat jauh dan berbahaya!"
"Tidak ada jalan pintas untuk menuju pengendalian diri, Subosito. Jika kau gagal mencapai telaga itu sebelum matahari terbenam esok lusa, maka Bukit Jobolarangan ini akan menjadi makam bagimu dan seluruh hutan ini!"
Nyai Ambarwati memberikan sebuah bumbung bambu kecil berisi air bening. "Minumlah ini saat panas di dadamu sudah tak tertolong. Ini akan memberi sedikit waktu mendinginkan tubuhmu!"
Subosito menerima bumbung itu dengan tangan gemetar. Dirinya merasakan tanggung jawab yang besar sekaligus harapan yang mulai tumbuh. Subosito bukan lagi sekadar lari dari kejaran orang, dirinya sedang berjalan untuk menuju penebusan.
“Ingat,” tambah Nyai Ambarwati saat kabut mulai kembali menutup gubuknya. "Jangan lawan Garuda itu dengan kebencian. Rangkullah dia sebagai bagian dari dirimu. Jika kau takut padanya, dia akan memangsamu. Jika kau mencintainya, dia akan menjadi sayapmu!"
Subosito menyerap dalam-dalam perkataan Nyai Ambarwati, lalu berbalik arah menuju puncak barat.
Perjalanan ini jauh lebih berat dari apa pun yang pernah dia lalui. Suara-suara gaib masih mengiringi langkahnya, namun kini dia memiliki kompas batin yang jelas.
Subosito menembus semak belukar yang berduri, mendaki tebing-tebing curam yang licin, dan menahan godaan untuk melepaskan kekuatannya saat kelelahan mulai melanda.
Setiap kali Subosito merasa hampir menyerah, dia membayangkan wajah Sekar dan janji yang dibuat pada dirinya sendiri. Subosito harus menjadi lebih dari sekadar "Anak Terkutuk".
Malam mulai turun ke puncak Lawu. Udara dingin yang menusuk tulang justru membantu Subosito menjaga keseimbangan suhu tubuhnya. Dia melihat ke arah langit; bintang-bintang tampak begitu dekat, seolah dia bisa menyentuhnya.
Di penciuman, Subosito mulai mencium aroma belerang yang bercampur dengan wangi bunga melati hutan—tanda bahwa dia semakin dekat dengan tujuannya.
Namun, di balik kegelapan hutan cemara, sesosok bayangan hitam mengikuti setiap gerakan-geriknya. Sosok itu tidak memancarkan hawa panas, melainkan hawa dingin yang mematikan.
Perjalanan Subosito menuju Telaga Kuning membawa pada pertemuan yang tidak pernah dia duga. Di bibir telaga yang airnya berwarna kuning keemasan itu, dia tidak hanya akan berhadapan dengan kekuatan alam, tetapi juga dengan seorang pertapa tua yang telah menunggunya selama puluhan tahun.
Mampukah Subosito menuntaskan ritual pengendalian di air telaga tersebut? Ataukah gangguan dari sosok misterius yang mengikutinya akan merusak segalanya?
Ikuti terus keseruan kisah Subosito.