NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.Pelukan Penenang

Suasana memanas. Ketegangan menggantung di udara seperti benang tipis yang siap putus kapan saja.

“Sayang, kenapa kamu hanya diam saja?” desak Vely pada Vino, kesal melihat pria itu tidak melakukan apa-apa.

“Diamlah. Apa kamu tidak lihat bagaimana sikap Lora? Aku bahkan tidak pernah melihatnya seberani ini,” jawab Vino pelan, matanya masih terpaku pada Lora yang kini benar-benar berbeda dari wanita yang pernah ia kendalikan.

Di tengah ketegangan itu, langkah pelan terdengar mendekat.

Perlahan Devon berjalan ke arah Lora. Tangannya gemetar, wajahnya pucat, sorot matanya penuh ketakutan melihat keributan yang tak ia pahami.

“Queen… Epon takut…” ucap Devon lirih, meraih jari kelingking Lora dengan ragu.

Seketika ekspresi Lora berubah. Wajah dingin dan penuh perlawanan itu melunak saat melihat suaminya ketakutan.

“Maafkan Queen, Sayang. Queen tidak bermaksud membuatmu takut. Kalau begitu ayo kita masuk ke kamar sekarang untuk bermain kuda-kudaan,” ucap Lora lembut.

Devon langsung tersenyum polos, ketakutannya sirna secepat datangnya.

“Kuda-kudaan? Baiklah. Kalau begitu biar Epon yang berada di atas Queen nantinya, ya. Atau jika Queen mau, Queen juga boleh berada di atas Epon,” ucap Devon tanpa beban.

Ucapan itu membuat Vino spontan maju selangkah, wajahnya menegang karena terkejut.

“Lora! Apa yang kamu ajarkan pada anak idiot ini? Kamu tidak melakukan—”

“Kenapa? Apa kamu iri?” potong Lora tajam sebelum tuduhan itu selesai. “Bukankah kamu juga bisa melakukannya dengan jalang murahan ini? Bahkan bisa setiap saat tanpa perlu bersembunyi di belakangku lagi,” ucapnya penuh penekanan.

Wajah Vely memerah, entah karena marah atau tersindir.

“Tapi bagaimana bisa kamu melakukannya pada anak idiot seperti dia?” Vino memaksa, suaranya penuh penghinaan.

Lora menatapnya dingin.

“Seperti apa pun dia, dia adalah suamiku. Jadi aku bebas melakukan apa pun dengan dia. Apalagi tubuhnya jauh lebih bagus dan menantang dibandingkan dengan tubuhmu yang kurang gizi,” ucap Lora tanpa ragu.

Lalu ia menoleh ke arah Vely dan mendekat sedikit, berbisik pelan namun cukup tajam untuk menusuk harga diri.

“Apa kamu yakin batang kecil miliknya mampu memuaskanmu?”

Setelah itu Lora langsung menggandeng tangan Devon, membawanya menaiki tangga dengan langkah tenang dan penuh kemenangan.

Sementara itu, Vely membeku. Perlahan ia menoleh ke arah Vino dengan tatapan mencurigai.

“Apa kamu juga melakukannya kepada dia?” ucap Vely, suaranya bergetar, antara cemburu dan amarah.

Vino menatapnya bingung, tak mengerti arah tuduhan yang tiba-tiba mengarah padanya.

Vely apa maksud,apa yang di bisikkan Lora kepadamu ?"tanya Vino namun bukannya menjawab Vely justru menghentakkan kaki dan pergi dari sana dengan raut wajah kesal.

"Ada apa dengannya ?"ucap Vino mengerutkan keningnya .

"Vino ..."Sinta segera menghampirinya "Ini sudah tidak bisa di biarkan kita harus bisa membuat Lora bercerai dengan Devon secepatnya ."ucap Sinta memegang tangannya yang masih memerah karna cengkraman Lora barusan.

"Iya kak aku juga tengah memikirkannya jika terus-terusan seperti ini kita benar-benar akan tersingkir dari sini dan harta papa benar-benar akan jatuh ke tangan Devon dan Lora ."jelas Vino .

"Kita harus segera menyusun rencana untuk menyingkirkannya ."ucap Sinta yang di angguki oleh Vino.

_______

Sesampainya di dalam kamar, Lora menghela napas panjang. Ia duduk di sisi ranjang, mengembuskan napas berulang kali, seolah berusaha mengeluarkan seluruh lelah yang menumpuk di dadanya. Baru satu hari berada di mansion ini saja rasanya sudah benar-benar menguras energi. Ia bahkan belum melangkah ke perusahaan. Jika besok ia mulai masuk ke sana, ia yakin tekanannya akan dua kali lipat dari ini.

Pandangan Lora jatuh pada Devon yang tengah duduk di lantai, di sisi bawah ranjang, memainkan mobil-mobilannya dengan wajah polos tanpa beban.

“Seharusnya aku memang tidak menikah denganmu,” gumam Lora pelan.

Devon tidak menyahut. Ia masih asyik menggerakkan mobil kecilnya maju mundur di atas lantai.

“Tidak… mungkin seharusnya aku tidak pernah kenal denganmu dan tidak pernah berpacaran dengan Vino. Hidupku mungkin tidak akan setertekan ini.”

Suara Lora terdengar lirih, lebih seperti pengakuan pada dirinya sendiri daripada keluhan untuk didengar orang lain.

Ia berdiri, melangkah menuju meja rias. Tasnya ia letakkan pelan di atas permukaan kayu mengilap itu. Matanya menatap bayangan dirinya di cermin—wajah cantik yang kini terlihat lelah, tapi juga keras.

“Semangat, Lora. Kamu kuat… demi harta dan dendammu,” ucapnya pelan sembari memejamkan mata, mencoba menguatkan diri.

Namun tiba-tiba, dua tangan hangat melingkar di pinggangnya dari belakang.

Tubuh Lora seketika menegang.

Sebuah dada bidang bersandar di punggungnya, hangat dan kokoh. Pelukan itu lembut—tidak menuntut, tidak memaksa—hanya sekadar menahan.

Lora membuka matanya dan melihat pantulan di cermin.

Devon.

“Devon, apa yang kamu lakukan?”

Wajah pria itu terlihat polos, dagunya sedikit bertumpu di bahu Lora.

“Dari serial kartun yang Epon lihat, raja selalu memeluk ratunya saat ratunya sedih. Jadi Epon peluk Queen karena Epon tahu Queen lagi sedih,” ucap Devon jujur.

Kalimat itu membuat Lora membeku.

Kenangan-kenangan lama seperti pecahan kaca kembali menusuk benaknya.

“Jika kamu marah ataupun sedih sekalipun, aku akan selalu memelukmu sampai kesedihanmu mereda. Aku ingin membuktikan kepadamu jika dengan pelukanku kamu akan merasa tenang dan melupakan kesedihanmu itu.”

Suara Devon yang dulu—tegas, dewasa, penuh keyakinan—bergema di kepalanya, tumpang tindih dengan suara polos pria yang kini memeluknya.

“Bagaimana, Queen? Apa pelukan Epon bikin Queen tenang?” tanya Devon, menikmati pelukannya sendiri seolah itu hal paling wajar di dunia.

Lora menggertakkan rahangnya.

"Laki-laki ini… meskipun ingatannya terganggu, sikapnya masih saja sama. Dia memperlakukanku sama seperti perilakunya dulu."

Dengan perlahan, Lora melepas lingkaran tangan Devon dari pinggangnya.

“Tidak boleh jika terus-terusan begini. Perasaan yang telah lama aku tutup mati akan terbuka. Aku akan kembali lemah dan bodoh seperti dulu lagi. Tidak… aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” gumamnya dalam hati.

Ia berbalik menghadap Devon.

“Devon, tidak semua serial kartun itu benar dan tidak semua adegan yang ada di sana harus kamu praktikkan kepada Queen,” ucap Lora mencoba menjelaskan dengan suara pelan namun tegas.

Devon mengerutkan keningnya, bibirnya memanyun.

“Kenapa begitu, Queen? Epon kan nggak berbuat jahat. Bukankah sikap Epon baik? Epon ingin menghilangkan kesedihan Queen. Epon nggak suka lihat Queen sedih, makanya Epon peluk Queen,” ucapnya polos.

Hati Lora kembali goyah.

"Laki-laki ini… dia selalu saja berlaku seenaknya. Baik sekarang ataupun dulu."

“Tapi Queen merasa sesak dan tidak nyaman. Jangan melakukannya lagi, ya,” ucap Lora, mencoba terdengar meyakinkan.

“Queen tidak nyaman Epon peluk dari belakang, ya?”

“Ya, benar sekali. Devon memang pintar,” ucap Lora memujinya cepat, berharap pujian itu cukup menghentikan kebiasaannya.

Devon tersenyum lebar, bangga seperti anak kecil yang baru saja mendapat nilai bagus.

Ia melangkah mendekat.

“Baiklah, Epon tidak akan memeluk Queen dari belakang lagi,” ucapnya.

Lora mengangguk lega.

“Tapi…”

Senyumnya memudar.

Devon merentangkan kedua tangannya, lalu tanpa peringatan mendekap tubuh Lora dari depan. Tubuh wanita itu langsung tertarik ke dalam pelukan hangatnya. Dada bidang Devon menekan lembut bahu dan pipinya, tangannya mengelus pelan punggung Lora dengan gerakan refleks yang begitu familiar.

Lora terdiam.

Terkejut, iya. Kaget, tentu saja.

Namun yang lebih mengganggunya adalah rasa nyaman yang perlahan menyusup—hangat, menenangkan, seperti rumah yang pernah ia miliki lalu hilang.

Dan ia membenci fakta bahwa tubuhnya tidak memberontak.

“Epon akan memeluk Queen dari depan mulai sekarang,” ucap Devon polos, melanjutkan kalimatnya yang sempat menggantung tadi.

.

.

.

💐💐💐Bersambung💐💐💐

Akkkhhh bisa aja nih si Devon curi-curi kesempatan 😂

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤

1
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
Mila Julia: tapi makasih sarannya KK ntar di oerbaiki🫶🫶😅
total 2 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!