NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penebusan yang Terlambat

Hari-hari berikutnya menjadi pembuktian bagi Isaac. Ia tidak lagi membiarkan Clara mendekati kantor, bahkan secara resmi membatalkan kerja sama pemasaran yang melibatkan wanita itu, meskipun harus membayar penalti besar kepada ayahnya. Namun, di rumah, Luna tetap menjadi sosok yang sama—seorang "rekan satu apartemen" yang sangat sopan namun berjarak.

Malam itu, Isaac pulang lebih awal membawa buket bunga mawar putih dan kotak makanan dari restoran favorit Luna yang dulu sering mereka datangi. Ia menemukan Luna sedang duduk di balkon, menatap lampu kota tanpa ekspresi.

"Aku membawakan makan malam. Iga bakar madu kesukaanmu," ujar Isaac sembari meletakkan makanan itu di meja kecil di samping Luna.

Luna menoleh perlahan, memberikan senyum kecil yang terlihat sangat dipaksakan. "Terima kasih, Isaac. Kau tidak perlu repot-repot melakukannya setiap hari. Aku bisa memesan makanan sendiri."

"Ini bukan repot, Luna. Aku ingin melakukannya," balas Isaac tegas. Ia berlutut di samping kursi Luna, mencoba mengambil tangan wanita itu ke dalam genggamannya. "Aku sudah memutus semua akses Clara ke perusahaan. Dia tidak akan mengganggumu lagi. Ayah juga sudah setuju."

"Oh, baguslah. Itu berita baik untuk progres proyek kita," jawab Luna datar. Ia tidak menarik tangannya, namun ia juga tidak membalas genggaman Isaac. Tangannya terasa pasif, seolah-olah ia membiarkan Isaac melakukan apa pun tanpa rasa peduli.

Isaac menatap wajah Luna, mencari sedikit saja percikan emosi di sana. "Luna, aku melakukan ini untuk kita. Bukan untuk proyek. Bisakah kau melihatku? Sedikit saja?"

Luna menatap mata Isaac. "Aku melihatmu, Isaac. Aku di sini, kan? Aku tidak pergi. Aku menjalankan peranku sebagai istrimu dengan baik. Aku menyiapkan keperluanmu, aku menemanimu ke acara keluarga... apa ada yang kurang?"

"Yang kurang adalah dirimu, Luna! Hatimu!" suara Isaac mulai bergetar karena frustrasi. "Kau seperti robot. Kau bicara padaku seolah aku adalah orang asing yang kau temui di jalan. Aku lebih suka kau memakiku karena Clara daripada kau seperti ini."

Luna menghela napas panjang, tatapannya beralih kembali ke pemandangan kota. "Memaki butuh energi, Isaac. Cemburu butuh harapan. Dan aku... aku sudah tidak punya keduanya. Aku hanya ingin tenang. Bukankah lebih mudah jika kita hidup seperti ini? Tanpa drama, tanpa air mata?"

Isaac terdiam, dadanya terasa sesak seolah dihantam benda tumpul. Ia menyadari bahwa ia telah mendorong Luna melampaui batas kemampuannya untuk merasa sakit, hingga akhirnya mekanisme pertahanan diri wanita itu adalah mematikan seluruh perasaan tersebut.

"Aku tidak akan menyerah, Luna," bisik Isaac. Ia mengecup punggung tangan Luna yang dingin dengan lembut. "Jika kau butuh waktu seribu tahun untuk merasa lagi, aku akan menunggumu. Aku akan terus mengetuk pintu hatimu sampai kau membiarkanku masuk kembali."

Luna tidak menjawab. Ia hanya terus menatap kegelapan malam, membiarkan Isaac tetap berlutut di sampingnya, meski di dalam dirinya, ia merasa seolah ia sedang menonton film tentang orang lain—sebuah drama yang tidak lagi ingin ia perankan.

Seminggu telah berlalu, dan sikap Luna masih tetap sama. Isaac mulai merasa kehilangan akal. Segala bentuk kemewahan, bunga, dan permintaan maaf tidak membuahkan hasil. Luna tetap menjadi "istri yang sempurna" dalam arti yang paling mengerikan: patuh, tenang, namun jiwanya tidak ada di sana.

Malam itu, Isaac tidak pulang membawa hadiah. Ia masuk ke apartemen dengan napas terengah-engah dan pakaian yang sedikit berantakan. Ia mendapati Luna sedang menyesap teh di ruang tengah sembari membaca buku.

"Luna," panggil Isaac dengan suara parau.

Luna mendongak, gerakannya tenang seperti air di sumur tua. "Kau pulang terlambat, Isaac. Ada makanan di microwave jika kau lapar."

Isaac tidak menjawab. Ia justru berjalan menuju lemari di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah kotak kayu tua yang selama ini tersimpan di bagian paling belakang. Ia meletakkan kotak itu dengan kasar di atas meja depan Luna.

"Ingat ini?" tanya Isaac.

Luna menatap kotak itu. Itu adalah kotak kenangan mereka saat masih kuliah—tiket bioskop pertama, botol pasir dari pantai tempat mereka berikrar, hingga surat-surat kecil yang dulu sering Luna selipkan di buku catatan Isaac.

Luna hanya menatapnya sekilas lalu kembali pada bukunya. "Itu hanya barang lama, Isaac. Sebaiknya kau buang saja jika memenuhi lemari."

Isaac merasa jantungnya seperti disayat. Ia mengambil salah satu surat dari dalam kotak, membukanya, dan membacanya dengan suara gemetar. "Isaac, jika suatu hari dunia ini terasa berat, ingatlah bahwa aku adalah rumahmu. Aku akan selalu mencintaimu, lebih dari siapa pun."

Isaac menatap Luna dengan mata yang mulai memerah. "Kau yang menulis ini, Luna. Kau yang bilang kau adalah rumahku. Sekarang rumahku terkunci, dan pemiliknya menolak untuk mengenaliku."

Luna menutup bukunya perlahan. Ia berdiri, menatap Isaac dengan pandangan yang masih datar namun ada sedikit getaran di bibirnya yang ia tekan kuat-kuat. "Orang yang menulis surat itu sudah lama menghilang, Isaac. Dia menghilang di hari kau pergi tanpa kabar. Jangan meminta sesuatu dari orang mati."

"Dia belum mati!" seru Isaac. Ia melangkah maju, mencengkeram kedua tangan Luna dan menekannya ke dadanya sendiri, tepat di mana jantungnya berdegup kencang. "Rasakan ini, Luna. Ini masih berdetak untukmu. Kau bisa membenciku, kau bisa memukulku, tapi tolong... jangan diam seperti ini. Aku lebih baik kau bunuh daripada kau abaikan!"

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Luna tidak segera menarik tangannya. Ia merasakan debaran jantung Isaac yang tidak beraturan di bawah telapak tangannya. Matanya yang kosong mulai berkaca-kaca, namun ia masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak membiarkan emosi itu pecah.

"Kau egois, Isaac," bisik Luna, suaranya mulai pecah. "Kau ingin aku merasakannya lagi hanya agar kau merasa tidak bersalah? Merasakan berarti terluka lagi. Dan aku... aku tidak sanggup terluka lagi."

"Aku akan menjagamu, Luna. Aku bersumpah dengan nyawaku," gumam Isaac. Ia menarik Luna ke dalam pelukannya, sangat erat hingga tidak ada celah di antara mereka.

Kali ini, Luna tidak membalas pelukan itu, namun ia juga tidak menolak. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Isaac, membiarkan satu tetes air mata jatuh membasahi kemeja pria itu. Sebuah retakan kecil akhirnya muncul di dinding es tersebut, meski ia belum sepenuhnya runtuh.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!