Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Udang telur
Caramel mendaftarkan Erlangga di Advanced Secondary School (ASS). Sekolah elite favorit terbesar, biaya masuk nya tentu saja sangat mahal sekali. Meskipun baru tingkat menengah atas (SMA) tapi biaya lebih mahal dari kuliah, ini benar-benar sekolah khusus kalangan bangsawan dan konglomerat.
Erlangga sendiri aslinya menolak, dia takut akan mempermalukan Caramel jika dia masuk ke sekolah elite terbaik. Alasannya tentu saja karena Erlangga terlalu lama hidup miskin, dia norak dan katro tentu saja.
Tapi Caramel menasihati jika dirinya akan mengajarkan dunia konglomerat pada Erlangga secara perlahan. Sekolah akan di mulai tiga minggu lagi, masih ada waktu untuk belajar menjadi orang kaya dan menghilangkan kebiasaan miskin.
Di mulai dari bangun tidur yang teratur, makan makanan sehat, gym, game, bermain medsos, berlatih naik motor sport, bahkan Caramel harus mengajarkan dunia anak muda zaman sekarang.
Tapi karena Erlangga memang sangat manly dalam artian dia tidak takut gagal atau jatuh, dalam waktu tiga minggu dia berhasil menguasai semua yang di ajarkan oleh Caramel.
Berat badan dan tinggi badan Erlangga naik drastis dalam kurun waktu tiga minggu. Dari yang awalnya 168/50 kini menjadi 175/68, dengan otot perut yang mulai membentuk sedikit.
"Lihat kan, cuma perlu waktu tiga minggu saja kulit mu jadi putih dan wajahmu glowing. Ini lah hebatnya skincare dan pola hidup sehat." Ucap Caramel, ikut merasa bangga.
"Ya, terimakasih Mama." Erlangga tersenyum senang, meskipun dia belum puas.
Erlangga laki-laki namun tinggi masih di bawah perempuan (Caramel). Erlangga saat ini masih sebatas leher Caramel, padahal itu sudah termasuk tinggi untuk usia jalan 16 tahun.
"Jangan terlalu terburu-buru, usiamu masih muda dan pertumbuhan akan terus berlanjut dengan pesat. Pasti nanti tinggi badan mu akan jauh melampaui ku." Ucap Caramel, memberikan semangat.
"Kalau Mama se tinggi ini, Papa pasti insecure." Ucap Erlangga.
"Kenapa begitu?." Caramel heran.
"Ya laki-laki yang tinggi nya diatas 180 saja sangat sedikit. Mama 183cm pasti Papa 185cm kan? atau tinggi kalian sama, benar kan?." Tebak Erlangga.
"Pfttt tidak tuh." Caramel tertawa geli.
"Sebenarnya Papa itu seperti apa? beneran ada atau tidak?." Erlangga jadi curiga, karena tidak ada apapun tentang Arga di rumah ini.
"Kau akan tau saat bertemu dengan nya nanti, sudah dari pada mencari tau hal yang tidak perlu, lebih baik bersiap saja untuk berangkat sekolah besok. Ingat, kau boleh berkelahi tapi jangan suka memalak. Ingat bagaimana dulu kau di palak preman, jangan pernah jadi seperti mereka." Ucap Caramel, dia harus mengubah tabiat preman Erlangga di cerita asli.
"Iya ma." Erlangga menurut.
Caramel sebenarnya merasa cukup khawatir, karena Erlangga akan masuk sekolah sejak awal semester. Di cerita asli Erlangga baru masuk saat semester dua, itu karena pada awalnya Erlangga memilih putus sekolah dan akhirnya mendapatkan beasiswa anak kurang mampu dari pemerintah.
Awalnya Erlangga hanya sekolah di sekolah biasa, tapi dia mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar jadi begitu lah asal muasal Erlangga bisa masuk sekolah elite.
"ERLAN, CEPETAN TURUN SAYANG. JAM BERAPA INI, MASA TELAT DI HARI PERTAMA." Caramel sudah berteriak ke sekian kalinya.
"Haduhh karena kebiasaan dengerin Erlan ngomong santai, aku jadi ngikut tanpa sadar." Gumam Caramel, dia jadi terbiasa dengan bahasa santai karena Erlangga.
Erlangga turun dari lantai dua dengan senyum tanpa dosa, dia sudah memakai seragam elite dan tas ransel hitam. Tidak lupa dengan jaket hitam, rambutnya acak-acakan khas anak laki-laki pubertas.
"Kan Mama udah bilang siapin semuanya sejak semalem, sekarang mepet kan jam nya." Omel Caramel.
"Hehehe maaf ma, semalem ketiduran." Cengir Erlangga.
"Udah buruan sarapan, Mama bawain bekal ya. Tetep dapet uang jajan kok, cuma Mama takutnya kamu telat istirahat jadi bisa makan bekal." Ucap Caramel.
"Bekal?." Kaget Erlangga, mana mungkin pria mempesona sepertinya membawa bekal ke sekolah.
"Kenapa? kamu ngga mau bawa bekal?." Caramel memicing.
"M-mau kok." Erlangga tidak berani membantah.
Erlangga selesai sarapan dan bekal sudah berada di dalam tas nya. Berangkat naik kuda besi, tidak lupa peluk dan cium hangat terlebih dahulu sebelum pergi.
"Nggausah ngebut-ngebut kalo terlambat yaudah nggapapa, daripada kenapa-kenapa di jalan. Periksa lagi ngga ada yang ketinggalan?." Caramel jadi cerewet.
"Ngga ada Mama ku sayang." Erlangga merasa telinga nya berdarah saking muak nya.
"Oke, kabarin kalo udah sampe ya." Caramel sudah mendapatkan skin ibu-ibu.
Saat Erlangga sekolah, Caramel jadi bingung harus melakukan apa. Biasanya dia akan sibuk mengurus Erlangga, tapi kalau sepi seperti ini dia jadi gabut.
"Tapi udah lama ngga me time, mungkin saat nya aku me time sambil cari tau sampe mana alurnya bergerak." Gumam Caramel.
"Udah satu bulan lebih, Arga kapan pulang ya?." Caramel galau, sambil mengaduk teh hangat.
Di sekolah elite terkemuka, saat ini baru saja selesai upacara penerimaan siswa baru. Semua siswa sedang istirahat di kantin, tapi Erlangga justru makan bekal di kelas nya.
Dengan tampang badboy yang harusnya garang dan penuh gengsi, dia justru tidak malu makan bekal di kelas. Daripada mendapat omelan Caramel, lebih baik makan saja.
"Serius lo bawa bekal?." Celetuk seseorang.
"Kenapa? yang aneh tuh kalo gue bawa sapi ke sekolah." Saut Erlangga ketus.
"Pfttt HAHAHAHAHHAHAHA."
Satu kelas reflek tertawa dengan jawaban Erlangga, jokes orang melarat memang remeh sekali. Meskipun Erlangga kini sudah menjadi anak orkay, tapi tetap saja ada darah pelit dan perhitungan dalam dirinya karena pernah miskin.
"Eh kalian udah liat belum tadi di lapangan?." Ketua kelas berbisik-bisik.
"Apaan?." Yang lain menyaut.
"Kevin sama Karina ribut." Jawabnya.
"Hah? bukannya mereka itu temen deket ya kok tiba-tiba ribut." Kaget yang lain.
"Iya, gue SMP juga satu sekolah sama mereka. Katanya si mereka ribut gara-gara Kevin gendong cewe pingsan ke UKS." Ujar si ketua kelas.
"Ohh si Karina cemburu?." Tebak mereka.
"Bisa jadi, aku juga dulu mikirnya Kevin sama Karina bakal jadian. Tapi kayaknya engga deh, soalnya Kevin tadi bentak Karina demi bela cewe itu." Ucapnya bergosip.
"Siapa si cewenya?." Yang lain penasaran.
"Juwita kelas 10-D." Jawab Ketua kelas.
"Ehh diem-diem, Kevin dateng." Mereka semua langsung bubar, karena yang jadi bahan gosip muncul.
Erlangga yang dari tadi nyimak sambil makan hanya diam saja, masalah percintaan yang membuatnya geli. Apalagi sosok Kevin yang sepertinya anak konglomerat kelas atas itu satu kelas dengannya, dia bahkan duduk di satu bangku dengan Erlangga.
"Kenapa harus di samping gue sih." Batin Erlangga tidak senang.
Kevin juga diam-diam melirik Erlangga, melihat Erlangga makan udang telur yang terlihat enak sekali. Kevin jadi lapar karena dia belum sempat makan gara-gara harus ribut dengan Karina, ingin meminta tapi gengsi nya setinggi langit.
"Nih." Erlangga yang risih di lirik terus menggeser kotak bekal nya.
"Apaan." Kevin sty cool.
"Lo pengen kan? ambil mumpung masih ada, kalo ngga mau gue abisin." Ucap Erlangga.
Kevin diam, dia malu dan kesal jadi satu. Mau menolak tapi dia lapar, akhirnya dengan berat hati dia mengambil dua udang telur dan memakannya. Sial nya itu rasanya sangat enak, Kevin ingin minta lagi tapi malu.
"Sialan, brengsek, babi." Batin Kevin, dia mau lagi.
aneh ga sih 🤔🤔🤔