melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wajah baru dan dendam lama
Dua minggu setelah operasi, Melda sudah bisa berjalan tanpa bantuan.
Namun ia masih jarang keluar dari kamar rumah sakit.
Bukan karena tubuhnya belum pulih sepenuhnya.
Melainkan karena ia masih belajar menerima wajah barunya.
Pagi itu dokter yang melakukan operasinya masuk ke kamar dengan sebuah map tipis.
“Lukamu sudah pulih lebih cepat dari perkiraan,” katanya.
Melda yang sedang berdiri di depan cermin menoleh.
Wajah baru itu masih terasa asing.
Namun setiap hari ia semakin terbiasa melihatnya.
“Aku bisa keluar dari rumah sakit?” tanya Melda.
Dokter mengangguk.
“Besok.”
Ia kemudian menyerahkan map itu.
“Ini identitas sementara yang sudah diurus.”
Melda membuka map itu.
Di dalamnya ada kartu identitas baru.
Nama yang tertera membuatnya sedikit terdiam.
Alya Pramesti.
Melda mengangkat alis.
“Nama baru?” tanyanya.
Dokter tersenyum kecil.
“Orang yang membayar semua biaya rumah sakitmu meminta begitu.”
Melda langsung tahu siapa orang itu.
Raka.
Ia menatap kartu identitas itu lebih lama.
Satu nama baru.
Satu wajah baru.
Satu kehidupan baru.
Melda menutup map itu perlahan.
“Baik,” katanya pelan.
“Mulai sekarang… Alya.”
Keesokan harinya Melda atau sekarang Alya keluar dari rumah sakit.
Ia mengenakan pakaian sederhana dan topi untuk menutupi sebagian wajahnya.
Namun sebenarnya itu tidak lagi diperlukan.
Tidak ada satu pun orang yang akan mengenalinya.
Sebuah mobil hitam sudah menunggu di depan rumah sakit.
Saat pintu mobil terbuka, Raka duduk di dalamnya.
Ia menatap Alya beberapa detik.
Tatapan yang penuh penilaian.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Operasinya berhasil.”
Alya masuk ke mobil tanpa menjawab.
Mobil itu mulai bergerak meninggalkan rumah sakit.
Beberapa menit mereka hanya diam.
Akhirnya Alya berbicara.
“Kenapa kamu menyelamatkanku?”
Raka menatap jalan di depan.
“Karena kamu belum selesai.”
Alya tertawa kecil.
“Lucu. Kamu adalah bagian dari keluarga yang menghancurkan hidup kakakku.”
“Benar,” jawab Raka tenang.
Alya menoleh menatapnya.
“Lalu kenapa membantu musuhmu sendiri?”
Raka tidak langsung menjawab.
Mobil itu berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah.
Tempat yang sama seperti alamat di kartu yang dulu ia berikan.
“Kita hampir sampai,” katanya.
Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung.
Lift membawa mereka ke lantai tinggi.
Ketika pintu apartemen terbuka, Alya langsung terdiam.
Apartemen itu luas.
Modern.
Jauh dari kehidupan sederhana yang dulu ia jalani bersama Wulan.
“Ini tempatmu sekarang,” kata Raka.
Alya berjalan masuk perlahan.
“Semua ini untuk apa?”
Raka bersandar di dekat meja.
“Untuk membuatmu cukup kuat.”
Alya menatapnya tajam.
“Untuk menghancurkan keluargamu?”
Raka tersenyum kecil.
“Kalau kamu mampu.”
Alya mengepalkan tangannya.
“Jangan main-main denganku.”
Raka tidak tampak tersinggung.
Ia justru mengambil sebuah tablet dari meja dan menyalakannya.
Beberapa dokumen muncul di layar.
Data perusahaan.
Foto orang-orang penting.
“Ini jaringan bisnis keluarga Kusuma,” kata Raka.
Alya terkejut.
“Kenapa kamu menunjukkan ini padaku?”
Raka menatapnya dengan serius.
“Karena kamu ingin balas dendam.”
Ia menunjuk layar itu.
“Dan satu-satunya cara menghancurkan keluarga Kusuma adalah dari dalam dunia yang sama.”
Alya menatap layar itu dengan napas berat.
Begitu banyak informasi.
Begitu banyak nama.
Ia akhirnya berkata pelan.
“Kalau aku melakukan ini… aku mungkin akan mati.”
Raka mengangkat bahu.
“Balas dendam memang tidak pernah aman.”
Alya terdiam lama.
Kemudian ia menatap wajah Raka dengan serius.
“Satu pertanyaan terakhir.”
Raka menunggu.
“Kenapa kamu membantu aku?”
Ruangan itu menjadi sunyi beberapa detik.
Raka berjalan ke jendela besar apartemen.
Lampu kota terlihat seperti lautan cahaya.
Ia akhirnya berbicara dengan suara lebih pelan dari biasanya.
“Kamu tahu kenapa aku berbeda dari Agung?”
Alya tidak menjawab.
Raka melanjutkan.
“Karena aku tahu rahasia keluarga Kusuma.”
Ia menoleh.
Tatapannya tidak lagi setenang biasanya.
“Ayahku bukan hanya menghancurkan hidup Wulan.”
Alya mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Raka menarik napas pelan.
“Sepuluh tahun lalu… ibuku juga mati karena ayahku.”
Kata-kata itu membuat Alya terdiam.
Raka jarang menunjukkan emosi.
Namun kali ini suaranya terasa berbeda.
“Ibuku ingin meninggalkan keluarga Kusuma,” lanjutnya.
“Dia tahu terlalu banyak tentang bisnis kotor ayahku.”
Raka menatap ke arah kota.
“Beberapa minggu kemudian mobilnya jatuh dari tebing.”
Alya perlahan memahami sesuatu.
“Dan kamu pikir itu bukan kecelakaan.”
Raka tertawa kecil.
“Bukan aku yang berpikir begitu.”
Ia menoleh kembali.
“Akulah yang melihat sendiri mobil itu didorong dari belakang.”
Jantung Alya berdetak lebih keras.
“Pelakunya?”
Raka menjawab dengan tenang.
“Orang suruhan ayahku.”
Ruangan itu terasa lebih dingin setelah pengakuan itu.
“Ayahku tidak pernah membiarkan orang yang bisa menghancurkannya tetap hidup,” kata Raka.
Alya menelan ludah.
“Jadi kamu ingin balas dendam juga.”
Raka mengangguk pelan.
“Bedanya… aku tidak bisa melakukannya sendiri.”
Ia menatap Alya dengan tajam.
“Keluarga Kusuma mengenalku terlalu baik.”
Alya akhirnya mengerti.
“Jadi kamu butuh seseorang dari luar.”
Raka tersenyum tipis.
“Seseorang yang punya alasan kuat untuk menghancurkan mereka.”
Ia menunjuk wajah Alya.
“Dan seseorang yang sekarang tidak akan dikenali siapa pun.”
Alya terdiam lama.
Semua potongan mulai masuk akal.
Raka bukan hanya menolongnya.
Ia juga sedang memulai perang sendiri.
“Jadi kita punya musuh yang sama,” kata Alya akhirnya.
Raka mengangguk.
“Surya Kusuma.”
Alya berjalan ke jendela dan melihat lampu kota yang luas di bawah mereka.
Perlahan ia tersenyum.
Namun kali ini senyumnya tidak lagi polos seperti dulu.
“Kak,” bisiknya dalam hati kepada Wulan.
“Permainan ini akhirnya dimulai.”
Di belakangnya Raka menatap layar tablet yang masih menampilkan jaringan bisnis keluarga Kusuma.
Namun di antara semua perusahaan itu…
Ada satu nama yang ia tatap lebih lama dari yang lain.
Agung Kusuma.
Kakaknya sendiri.
Raka mematikan layar tablet itu.
Tatapannya berubah dingin.
“Perang ini tidak hanya akan menghancurkan ayahku,” gumamnya pelan.
“Tapi juga seluruh keluarga Kusuma.”
Malam pertama Alya di apartemen itu terasa sunyi.
Lampu kota terlihat dari jendela besar ruang tamu seperti lautan cahaya yang tak pernah tidur. Kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di jalanan jauh di bawah.
Alya berdiri lama di sana.
Tangannya memegang gelas air yang sudah dingin.
Kehidupan barunya baru saja dimulai, tetapi rasanya seperti ia telah berjalan sangat jauh dari gadis yang dulu membantu Wulan di kedai kecil.
Nama Melda perlahan terasa seperti milik orang lain.
Sekarang ia adalah Alya.
Wajah baru.
Identitas baru.
Dan tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Ia memandang pantulan dirinya di kaca jendela.
“Ini baru permulaan,” bisiknya pelan.
Di kamar sebelah, Raka masih belum pulang.
Di sisi lain kota, mobil Raka meluncur perlahan di jalan yang lengang.
Ia tidak langsung pulang ke apartemen.
Mobil itu berhenti di sebuah tempat yang jarang dikunjungi orang pada malam hari.
Sebuah taman kota tua.
Lampu taman menyala redup.
Daun-daun kering berserakan di jalan setapak.
Raka turun dari mobil dan berjalan menuju sebuah bangku kayu di dekat pohon besar.
Langkahnya pelan.
Seolah tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan.
Ia duduk.
Tatapannya lurus ke depan.
Namun pikirannya jauh di masa lalu.
Sepuluh tahun lalu.
Ia masih remaja.
Malam itu rumah keluarga Kusuma sangat sunyi.
Ibunya, seorang wanita lembut bernama Ratna, berdiri di ruang tamu dengan koper kecil di tangannya.
Raka masih mengingat dengan jelas wajah ibunya malam itu.
Lelah.
Namun juga penuh tekad.
“Aku tidak bisa tinggal di rumah ini lagi,” kata ibunya saat itu.
Raka yang masih muda tidak benar-benar mengerti.
“Kenapa?”
Ibunya berlutut di depannya dan memegang wajahnya.
“Karena ada hal-hal yang terlalu kotor untuk dibiarkan.”
Raka masih tidak paham.
Namun ia melihat sesuatu di mata ibunya.
Ketakutan.
Beberapa menit kemudian Surya Kusuma pulang.
Suara langkahnya memenuhi rumah besar itu.
Ibunya langsung berdiri.
Mereka berbicara dengan suara rendah di ruang kerja.
Namun dari celah pintu, Raka kecil melihat semuanya.
Perdebatan.
Suara Surya yang dingin.
Dan wajah ibunya yang semakin pucat.
Akhirnya ibunya keluar dari ruangan itu.
Ia berjalan cepat menuju pintu rumah.
Koper masih di tangannya.
Raka berlari mengejarnya.
“Ibu mau ke mana?”
Ibunya berhenti dan memeluknya erat.
Sangat erat.
Seolah itu adalah pelukan terakhir.
“Jaga dirimu baik-baik,” bisiknya.
“Ibu akan kembali suatu hari.”
Namun Raka tidak pernah melihat ibunya lagi setelah malam itu.
Keesokan paginya berita datang.
Mobil ibunya ditemukan jatuh di jurang di jalan pegunungan.
Semua orang mengatakan itu kecelakaan.
Namun Raka tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Malam setelah ibunya pergi, ia melihat dua pria asing keluar dari rumah ayahnya.
Pria-pria yang sama yang sering bekerja sebagai orang bayaran Surya Kusuma.
Dan beberapa hari kemudian, ia mendengar percakapan yang tidak seharusnya ia dengar.
Di ruang kerja ayahnya.
“Masalahnya sudah selesai,” kata salah satu pria itu.
Surya hanya menjawab singkat.
“Bagus.”
Sejak hari itu, Raka berhenti menjadi anak yang polos.
Ia mulai melihat dunia keluarganya yang sebenarnya.
Bisnis gelap.
Ancaman.
Dan orang-orang yang menghilang begitu saja.
Raka menarik napas panjang di bangku taman itu.
Tangannya mengepal perlahan.
Ia tidak pernah menceritakan semua itu kepada siapa pun.
Termasuk Agung.
Kakaknya hanya hidup sebagai pewaris keluarga Kusuma tanpa benar-benar memahami bayangan gelap di belakangnya.
Namun Raka melihat semuanya.
Setiap kebohongan.
Setiap kejahatan.
Setiap orang yang dihancurkan oleh keluarganya sendiri.
Dan ketika ia membaca berita tentang kematian Wulan beberapa hari lalu…
Ia langsung mengerti pola yang sama.
Seorang perempuan yang dianggap mengancam keluarga Kusuma.
Dan akhirnya mati.
Raka menundukkan kepalanya sebentar.
Bayangan wajah ibunya muncul di pikirannya.
Senyumnya.
Pelukannya malam itu.
“Sepuluh tahun…” gumamnya pelan.
Ia telah menunggu sangat lama.
Menunggu kesempatan yang tepat.
Dan sekarang kesempatan itu akhirnya muncul.
Seorang gadis bernama Melda.
Yang kehilangan segalanya karena keluarga Kusuma.
Raka berdiri dari bangku itu.
Tatapannya kembali dingin.
Bukan lagi anak remaja yang kehilangan ibunya.
Sekarang ia adalah seseorang yang siap menghancurkan keluarganya sendiri.
Mobilnya kembali melaju menuju apartemen.
Di apartemen itu, Alya masih duduk di dekat jendela ketika pintu terbuka.
Raka masuk tanpa banyak suara.
Alya menoleh.
“Kamu lama sekali.”
Raka melepas jasnya dan meletakkannya di kursi.
“Urusan pekerjaan.”
Alya menatapnya beberapa detik.
Namun ia tidak bertanya lebih jauh.
Ia justru berkata pelan.
“Aku ingin mulai secepatnya.”
Raka mengangkat alis.
“Mulai apa?”
Alya berdiri.
Tatapannya tajam.
“Belajar menghancurkan keluarga Kusuma.”
Ruangan itu menjadi sunyi.
Raka menatap wajah baru Alya beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Bagus.”
Ia mengambil tablet dari meja dan menyalakannya lagi.
“Karena mulai besok…”
Raka memperbesar salah satu nama perusahaan di layar.
“Permainan ini benar-benar dimulai.”
Di layar itu muncul satu nama besar.
Kusuma Group.
Dan tanpa Alya sadari…
Perang yang ia mulai bukan hanya tentang balas dendam.
Melainkan juga akan membuka rahasia paling gelap dari keluarga Kusuma.
Rahasia yang selama sepuluh tahun disembunyikan oleh Surya Kusuma sendiri.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.