Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 SESERAHAN
Di tengah hiruk-pikuk mall, di antara cahaya dan suara, mereka berjalan berdampingan dengan pilihan yang sudah mantap dan hati yang semakin tenang.
Ara menarik napas kecil, lalu menoleh ke arah Danu sambil tersenyum.
“Ayo, kita lanjut. Seserahan baju, tas, sepatu”
Danu langsung mengangguk.“Siap, kamu komando, aku ngikut”
Mereka masuk ke toko pakaian wanita. Rak-rak berisi dress, setelan, dan blouse tertata rapi. Ara menyentuh beberapa kain, memperhatikan warna dan potongan.
“Yang simpel aja ya” katanya. “Bisa dipakai lagi, nggak cuma buat pajangan”
Danu setuju “Iya, aku ngikut kamu aja”
Ara memilih satu set baju warna soft, elegan tapi tidak mencolok. Danu melihat harganya sekilas lalu tanpa banyak komentar berkata “Ambil aja.”
Ara meliriknya “Yakin?”
Danu tersenyum “Yakin, buat kamu.”
Setelah baju, mereka pindah ke toko tas. Ara sempat ragu, mondar-mandir cukup lama.
“Kenapa?” tanya Danu.
“Aku bingung, takut terlalu mahal”
Danu mendekat sedikit, suaranya pelan “Ara… ini bukan soal mahal atau murah. Ini soal niat. Pilih yang nyaman buat kamu.”
Ara akhirnya memilih tas dengan desain klasik, warna netral, ukuran pas.
Lanjut ke toko sepatu, Ara langsung mengarah ke rak flat shoes.
“Kok nggak heels?” tanya Danu heran.
Ara tersenyum kecil “Aku lebih sering pakai ini. Heels cuma dipakai acara tertentu.”
Danu mengangguk “Berarti ini yang paling aman” sambil menunjuk flat shoes yang menurutnya bagus.
Saat kasir menghitung, Danu berdiri di samping Ara, melirik kantong belanja yang makin banyak lalu ke wajah Ara.
“Capek?” tanyanya.
Ara menggeleng “Enggak, rasanya malah… seru.”
Danu tersenyum. “Aku juga.”
Mereka keluar toko terakhir dengan tangan penuh kantong. Danu otomatis mengambil sebagian dari tangan Ara, dan menyuruh satu karyawan membawakan sisanya.
“Biar aku aja,” katanya.
Ara membiarkan, menatap Danu sekilas, lalu berkata pelan. “Kamu nggak keberatan kan… dengan semua ini?”
Danu berhenti sebentar, menatapnya sungguh-sungguh. “Aku keberatan kalau kamu mikir sendirian. Selain itu… nggak.”
Ara tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. Setiap kali Ara ragu, Danu selalu ada untuk memberi saran atau sekadar tersenyum, membuat Ara merasa lebih percaya diri.
Tadi sepanjang perjalanan dari satu toko ke toko lain, mereka berdua tertawa kecil, bercanda, dan sesekali saling menatap.
Meski sibuk dengan belanja, suasana tetap hangat dan penuh kekompakan. Ara merasa hatinya meleleh setiap kali Danu menatapnya dengan hangat, dan Danu pun tampak menikmati setiap momen itu, meski sedikit canggung menghadapi segala pilihan Ara.
Danu mendorong troli penuh kantong belanja ke parkiran basement, dibantu satu karyawan mall. Ia beberapa kali mengecek ulang daftar di ponselnya.
“Baju, tas, sepatu, make up, skincare… aman,” gumamnya.
Salah satu karyawan tersenyum. “Lengkap, Mas. Mau langsung ditaruh bagasi?”
“Iya, tolong rapiin ya,” jawab Danu.
Bagasi mobil dibuka, satu per satu kantong dimasukkan dengan hati-hati. Setelah semuanya beres, Danu menutup bagasi pelan, menarik napas panjang, bukan karena capek, tapi lega.
“Terima kasih ya, Mas” kata Danu sambil menyerahkan tip kecil.
Karyawan itu mengangguk sopan “Sama-sama. Semoga lancar acaranya, Mas”
Danu tersenyum kecil. “Amin.”
Danu kemudian ke restoran mall tempat Ara menunggu. Ara duduk di dekat jendela dengan segelas teh hangat, sesekali melirik ke arah pintu dan ponselnya.
Tak lama, Danu muncul.
Ara tersenyum. “Udah beres?”
“Udah, semua aman di mobil,” jawab Danu sambil menarik kursi dan duduk. “Maaf ya, lama.”
Ara menggeleng. “Nggak, aku santai kok.”
Pelayan datang membawa menu. Danu melirik Ara. “Mau makan apa? Aku yang traktir.”
Ara terkekeh. “Dari tadi kamu yang bayar semua, Mas Danu.”
Danu mengangkat bahu ringan. “Hari ini aku nggak keberatan bayar apa pun.”
Ara menatapnya agak lama. “Kamu serius banget ya.”
Danu membalas tatapan itu dengan suara tenang. “Karena aku serius sama kamu.”
Ara terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Kalau gitu… aku pesan yang ringan aja.”
Mereka makan sambil sesekali saling cerita hal-hal kecil. Danu berkata pelan, “Nanti kita bilang ke Ibu sama Ayah ya, biar mereka tau apa aja yang kita beli.”
Ara mengangguk mantap. “Iya.”
Setelah selesai makan, mereka pulang. Mobil melaju perlahan meninggalkan mall. Udara malam terasa sejuk saat sampai di rumah Ara.
Danu ikut masuk sebentar untuk menurunkan barang-barang seserahan dari mobil. Beberapa kantong besar dan kotak belanja ditata rapi di ruang tamu.
“Ini nanti jangan dibuka dulu ya,” kata Danu sambil meletakkan kotak terakhir. “Biar besok EO yang ngambil, sekalian dimasukin ke box hantaran mereka.”
Ara mengangguk. “Iya, tadi EO juga bilang gitu. Biar seragam dan rapi.”
Ibunya Ara keluar dari kamar, melirik deretan tas belanja itu, lalu tersenyum kaget. “MasyaAllah… banyak juga.”
Danu tersenyum canggung. “Masih jauh dari cukup, Bu.”
Ibunya Ara mengangguk paham. “Yang penting niat. Nanti besok ibu yang koordinasi sama EO-nya.”
Ara menoleh ke Danu. “Makasih ya… kamu mikirin sampai sedetail ini.”
Danu menatapnya lembut. “Biar kamu tinggal santai”
Barang-barang itu kemudian ditutup kembali dan dirapikan di sudut ruang tamu, aman menunggu untuk diambil EO keesokan harinya dan dimasukkan ke box hantaran sesuai konsep yang sudah mereka pilih.
Sebelum pulang, Danu menoleh ke arah Ara. “Makasih ya, Dek… sudah nemenin hari ini.”
Ara membuka pintu, lalu menoleh. “Makasih juga untuk semuanya.”
Danu mengangguk. “Istirahat yang cukup. Besok kita lanjut lagi pelan-pelan.”
Ara mengangguk, senyum tipis masih di wajahnya. “Iya, hati-hati di jalan.”
Danu menyalakan mobil dan pergi, meninggalkan rumah Ara dengan rasa lega. Malam itu, deretan seserahan yang tersusun rapi bukan sekadar barang tapi tanda bahwa semuanya sedang dipersiapkan, perlahan tapi pasti, menuju hari yang mereka nantikan.