Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Makan
Di dalam kamarnya yang mewah, Adrian berbaring menatap langit-langit dengan senyum yang sulit hilang dari wajahnya.
Pelukan di taman tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang diputar berulang-ulang. Ia masih bisa merasakan kehangatan tubuh Aurora dan aroma rambutnya yang menenangkan.
Baginya, balasan pelukan dari Aurora—meskipun dilakukan dengan hati-hati—adalah bukti tak terbantahkan bahwa perasaan gadis itu belum sepenuhnya mati.
"Dia masih sayang padaku. Aku tahu itu," gumam Adrian pelan pada kegelapan kamar.
Rasa percaya dirinya melambung tinggi. Ia merasa berada di atas angin, jauh melampaui posisi Firan yang menurutnya mungkin hanya sekadar pelarian atau teman dekat di saat Aurora sedang terpuruk.
Adrian mulai membayangkan bahwa besok, di perjalanan menuju Danau Toba, ia akan melihat pemandangan yang paling ia dambakan: Aurora mengenakan kalung emas pemberiannya di lehernya yang jenjang.
Baginya, jika Aurora mengenakan kalung itu besok, itu adalah sinyal hijau bahwa ia memiliki kesempatan besar untuk merebut kembali takhta di hati sang mantan kekasih.
Saking antusiasnya, Adrian bahkan mulai merencanakan kata-kata apa yang akan ia ucapkan saat mereka berdua saja di tepi Danau Toba nanti.
Di sisi lain, Sherly yang tidur di kamar sebelah sempat terbangun dan merasa curiga karena mendengar gumaman pelan Adrian dari balik dinding, namun ia terlalu lelah untuk bangkit.
Adrian pun akhirnya terlelap dengan mimpi-mimpi indah tentang masa depan barunya bersama Aurora, tanpa tahu bahwa di kamar lain, Aurora justru sedang memantapkan hatinya untuk pria yang baru saja ia telepon.
Malam itu berlalu dengan penuh harapan di satu sisi, dan ketetapan hati di sisi lain.
Semua rahasia tersimpan rapat di balik megahnya rumah Aurora, menunggu fajar menyingsing untuk memulai perjalanan panjang menuju Parapat.
...
Udara subuh yang dingin di kota Medan tidak menyurutkan semangat Aurora.
Sekitar jam tiga pagi, ia sudah berkutat di dapur mewahnya yang bersih. Ia sengaja bangun lebih awal untuk menyiapkan segala sesuatunya sendiri, sebuah kebiasaan lama yang kembali muncul saat ia merasa bersemangat.
Aurora membuka kulkas besar di sudut dapur, mengeluarkan bahan-bahan segar hasil perburuan mereka di pasar kemarin.
Ia mulai menyusun potongan roti gandum untuk membuat sandwich dengan berbagai varian isian—mulai dari telur mayo yang lembut hingga daging asap pilihan.
Tidak lupa, ia meracik salad segar menggunakan selada lettuce iceberg yang masih sangat garing, memberikan tekstur crunchy yang nikmat sebagai penyeimbang bekal mereka.
Aroma gurih mulai memenuhi ruangan saat Aurora mulai menggoreng cumi dan udang dengan tepung krispi yang bumbunya meresap sempurna.
Ia juga menyiapkan tempe mendoan hangat, camilan yang selalu menjadi favorit dalam perjalanan jauh.
Untuk menu sarapan utama sebelum berangkat, Aurora memilih menyajikan Nasi Mandhi khas Timur Tengah.
Aroma rempah kapulaga, jintan, dan kayu manis menguar kuat, berpadu sempurna dengan potongan daging sapi segar yang kemarin dibelikan oleh Adrian. Daging itu ia masak hingga teksturnya begitu lembut, seolah lumer di mulut.
Sembari menunggu nasi matang, Aurora mulai melakukan packing untuk acara malam bakaran yang sudah direncanakan di Danau Toba nanti.
Ia menyiapkan daging steak kualitas premium lengkap dengan bumbu marinasi dan kondimen pendamping seperti saus jamur dan sayuran yang sudah dipotong rapi agar aman selama perjalanan.
Sebagai pelengkap terakhir untuk camilan di dalam Mobil Hiace nanti, Aurora mengukus dimsum ayam yang padat serta menggoreng beberapa dimsum isi keju yang lumer saat digigit.
Semua makanan itu ia susun rapi ke dalam wadah-wadah kedap udara yang higienis.
Tepat saat adzan subuh berkumandang, semua hidangan telah tersaji rapi.
Aurora menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya, merasa puas melihat hasil karyanya.
Dari kejauhan, ia mulai mendengar suara pintu kamar terbuka satu per satu, menandakan rombongan mulai terbangun karena aroma masakan yang begitu menggoda dari arah dapur.
"Selamat pagi semuanya! Wah, sudah bangun ya? Kebetulan sarapan sudah siap, tapi sebaiknya kita sholat subuh dulu," sapa Aurora dengan senyum yang sangat manis, wajahnya tampak segar meski ia sudah berkutat di dapur sejak jam tiga subuh.
Ibu Adrian menatap meja makan yang penuh dengan kagum.
"Ya ampun Aurora, ini kamu masak semua sendiri sayang? Jam berapa kamu bangun?"
"Hehe, dari jam tiga tadi Bu. Mumpung lagi semangat. Oh iya, silakan ke mushola dulu ya, Aurora mau bersih-bersih sebentar dan ganti baju, nanti Aurora menyusul untuk sholat jamaah," jawabnya lembut sambil melepas celemeknya.
Suasana sholat subuh berjamaah di rumah itu terasa sangat menyejukkan.
Ayah Adrian menjadi imam, sementara yang lain mengikuti dengan khusyuk. Setelah salam, mereka sempat berbincang ringan di atas sajadah.
"Rasanya tenang sekali ya bisa sholat bareng begini di rumah yang asri ini," ujar Ayah Adrian sambil melipat sajadahnya.
"Iya Om, Medan kalau subuh memang udaranya masih segar sekali," sahut Rico yang juga ikut bergabung.
Beberapa menit kemudian, Aurora yang sudah tampil rapi dengan setelan santai namun elegan mengajak mereka semua ke meja makan.
"Ayo, semuanya duduk. Ini ada Nasi Mandhi, daging sapinya pakai yang dibeli Adrian kemarin di pasar. Harus dicoba ya!"
Baru saja mereka hendak menarik kursi, seorang ART Aurora masuk dengan terburu-buru.
"Permisi nona rora, di depan ada Pak Firan sama Pak Bram sudah sampai."
Mata Aurora langsung berbinar.
"Oh, mereka sudah datang? Cepat sekali. Sebentar ya semuanya, Aurora jemput mereka dulu," ucapnya seraya bergegas berdiri dan berjalan menuju pintu depan dengan langkah ringan.
Di meja makan, suasana mendadak berubah bagi Adrian. Ia yang tadinya sangat bersemangat ingin pamer soal daging sapi pilihannya, langsung melengos kesal.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar, matanya menatap tajam ke arah pintu.
Sialan! umpat Adrian dalam hati. Ini namanya double kill! Kenapa harus ada Firan dan Bram sekaligus? Memangnya mereka tidak punya pekerjaan apa sampai harus ikut ke Danau Toba segala?
Rico yang melihat ekspresi wajah Adrian hanya bisa menahan tawa sambil menyenggol lengan Siska.
"Eh Sis, lihat deh, ada yang wajahnya mendadak mendung padahal di luar lagi cerah," bisik Rico pelan.
"Hust! Jangan berisik," balas Siska pelan meski ia sendiri ingin tertawa melihat Adrian yang terus berkicau dalam diam, tampak sangat terganggu dengan kehadiran dua pria yang dianggapnya sebagai penghalang besar itu.
Tak lama kemudian, Aurora kembali masuk ke ruang makan bersama Firan dan Bram.
Firan tampak sangat berwibawa dengan kaos polo hitam yang memperlihatkan lekuk tubuh atletisnya, sementara Bram dengan gaya santainya menyapa semua orang dengan ramah.
"Selamat pagi Om, Tante. Maaf kami datang kepagian," sapa Firan dengan suara baritonnya yang tenang, matanya sempat melirik Adrian sebentar sebelum beralih menatap Aurora dengan tatapan yang sangat dalam.
Meja makan yang luas itu kini terasa sangat padat dengan energi yang berbeda-beda.
Firan dan Bram duduk dengan santai tepat di sisi kanan dan kiri Adrian, seolah sedang mengepung singa yang kehilangan taringnya.
Sementara itu, Aurora duduk tepat di seberang mereka, tampak tenang dan berwibawa memimpin suasana pagi itu.
"Wah, aromanya luar biasa. Kamu masak sendiri, Ra?" tanya Bram sambil memperbaiki posisi duduknya, membuat Adrian harus sedikit bergeser karena bahu Bram yang lebar.
"Iya, dibantu sedikit oleh ART tadi pagi. Ayo, silakan dinikmati. Bram, ini ada dimsum keju kesukaanmu juga," jawab Aurora ramah.
Adrian hanya bisa menunduk, menyendok nasi mandhi ke piringnya dengan kasar.
Bagus sekali, sekarang aku diapit dua bodyguard ini. Satunya sok berwibawa, satunya sok asik. Kenapa tidak sekalian saja panggil seluruh staf kantor ke sini? gerutu Adrian dalam hati sambil memberikan wajah kusut yang sulit disembunyikan.
"Adrian, kamu kenapa? Wajahmu ditekuk begitu, nasinya tidak enak?" tanya Ibu Adrian yang menyadari kegelisahan putranya.
"Enak kok, Ma. Cuma... masih agak mengantuk saja," bohong Adrian ketus.
Di sela-sela denting sendok dan garpu, tiba-tiba Sherly yang sedang mengunyah dengan lahap bersuara.
"Gila sih, ini nasi mandhi terenak yang pernah aku makan! Dagingnya beneran lumer banget, bumbunya nendang sampai ke ubun-ubun!"
Seketika Rico dan Siska meledakkan tawa. Rico hampir tersedak air putihnya.
"Ciee... akhirnya ada yang mengakui kehebatan dapur Aurora! Tadi katanya nggak lapar, tapi piringnya paling bersih ya, Sher?" ledek Rico telak.
"Ih, apa sih Rico! Aku kan cuma jujur," balas Sherly dengan wajah memerah, yang justru membuat suasana semakin cair karena tawa yang lain.
Di tengah riuhnya tawa itu, Adrian sempat terdiam saat Aurora sedikit membungkuk untuk meraih teko air.
Gerakan itu membuat kerah baju Aurora sedikit terbuka, dan saat itulah mata Adrian menangkap kilauan emas yang sangat ia kenali.
Sebuah liontin indah melingkar manis di leher jenjang Aurora—kalung yang ia berikan kemarin sore di taman.
Seketika, rasa sesak di dada Adrian menguap. Insecurity yang tadi memuncak karena diapit Firan dan Bram seolah terobati dengan obat penenang dosis tinggi.
Dia memakainya... Dia benar-benar memakainya, batin Adrian dengan sorot mata yang mendadak cerah.
"Ra," panggil Adrian tiba-tiba, suaranya kini terdengar jauh lebih percaya diri.
"Kalungnya... bagus sekali. Sangat cocok dengan bajumu hari ini."
Firan yang sedang menyesap kopinya melirik ke arah leher Aurora, lalu beralih menatap Adrian dengan tatapan yang sulit diartikan.
Suasana meja makan mendadak hening sejenak.
Aurora menyentuh liontin itu dengan ujung jarinya, lalu tersenyum tipis ke arah Adrian.
"Terima kasih, Dri. Kalungnya memang cantik, sayang kalau cuma disimpan di kotak, kan?"
Bram menyenggol bahu Adrian dengan ramah namun terasa bertenaga.
"Wah, hadiah dari kamu ya, Dri? Selera kamu lumayan juga untuk urusan perhiasan."
"Tentu saja," jawab Adrian bangga, sambil melirik Firan dengan tatapan seolah ingin mengatakan: Lihat, dia menghargai pemberianku.
Firan meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh nada sombong yang ditunjukkan Adrian.
Ia menyandarkan punggungnya, menatap Aurora dengan senyuman tipis yang sulit diartikan, lalu beralih menatap Adrian dengan sorot mata yang teduh namun mematikan.
"Memang cantik kalungnya," ujar Firan santai, suaranya terdengar berat dan berwibawa di tengah keheningan meja makan.
"Tapi yang lebih membuatku bangga adalah sikap Aurora. Dia benar-benar menuruti arahanku agar selalu menghargai pemberian orang lain dengan cara memakainya, meskipun mungkin modelnya bukan seleranya atau dia tidak terlalu menyukainya."
Kalimat itu bagaikan hantaman godam yang menghancurkan kebahagiaan Adrian dalam sekejap.
Senyum bangga di wajah Adrian luntur, digantikan oleh rasa malu yang menjalar hingga ke telinga.
Ia merasa pemberian tulusnya kini hanya dianggap sebagai benda "formalitas" yang dipakai Aurora karena instruksi pria lain.
"Maksud kamu apa, Firan?" tanya Adrian dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan amarah.
Firan hanya terkekeh kecil, lalu mengusap punggung tangan Aurora yang berada di atas meja dengan sangat alami.
"Tidak ada maksud apa-apa, Dri. Aku hanya senang Aurora tumbuh menjadi wanita yang sangat menghargai niat baik orang lain, sesederhana apa pun itu. Benar kan, ra?"
Aurora hanya tersenyum simpul tanpa memberikan jawaban pasti, membuat Adrian semakin merasa terombang-ambing.
Namun, bukan hanya Adrian yang tersiksa di meja itu. Di sudut lain, Sherly merasa dadanya seperti terbakar.
Matanya menatap tajam ke arah kalung emas yang melingkar di leher Aurora. Selama mereka berpacaran, Adrian tidak pernah memberinya perhiasan emas semahal itu.
Paling-paling hanya makan malam atau tas yang harganya jauh di bawah emas murni.
Brengsek kamu, Adrian! umpat Sherly dalam hati dengan penuh dendam. Selama ini kamu bilang tidak punya uang lebih untuk membelikanku perhiasan, tapi untuk mantanmu ini kamu malah beli kalung mewah? Dasar laki-laki munafik!
Rico yang menyadari perubahan raut wajah Sherly langsung berbisik kepada Siska dengan nada mengejek.
"Siska, lihat deh. Ada yang mukanya merah padam bukan karena sambal, tapi karena cemburu tingkat dewa."
Siska menutup mulutnya menahan tawa. "Ssst, jangan keras-keras. Kasihan, nanti dia makin kalap makannya."
Suasana meja makan yang tadi sempat menghangat kembali terasa tegang dan penuh intrik. Aurora yang menyadari situasi mulai tidak kondusif segera berdiri untuk mencairkan suasana.
"Sudah, sudah. Ayo dihabiskan sarapannya. Kita harus berangkat sekarang supaya tidak terjebak macet di perjalanan menuju Parapat," instruksi Aurora tegas, mencoba mengakhiri perang dingin yang baru saja pecah.
Bram yang sejak tadi mengamati situasi dengan senyum simpulnya, segera mengambil alih kendali sebelum suasana semakin membeku.
Dengan gaya bicaranya yang luwes dan penuh semangat, ia mencondongkan tubuh ke arah orang tua Adrian untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Om, Tante, sepertinya koper buah di bagasi tidak perlu ditambah lagi ya," ujar Bram sambil tertawa kecil.
"Sebab nanti saat kita melintasi Berastagi, pemandangannya bukan cuma gunung, tapi jajaran pedagang buah segar di pinggir jalan sampai ke atas Pasar Gundaling. Kalau kita beli di sana, rasanya jauh lebih manis karena baru dipetik."
Strategi Bram terbukti ampuh. Wajah tegang Ayah dan Ibu Adrian seketika melunak, digantikan oleh binar antusiasme.
"Oh ya? Wah, saya dengar udara di Berastagi itu sangat sejuk ya, Nak Bram?" tanya Ayah Adrian.
"Betul sekali, Om. Bahkan kalau kita beruntung, kita bisa melihat puncak Sinabung dan Sibayak dengan jelas dari pasar itu," tambah Bram meyakinkan.
Nenek Adrian yang sejak tadi lebih banyak diam menikmati nasi mandhinya, tiba-tiba ikut bersuara dengan nada penuh harap.
"Nak Bram, apa di sana masih ada jeruk manis yang tanpa biji itu? Sama satu lagi, Nenek penasaran sekali dengan mangga udang. Katanya itu bintang utamanya dataran tinggi di sini dan tidak ada di kota lain, ya?"
Bram mengangguk mantap sambil memberikan jempol.
"Tepat sekali, Nek! Jeruk madu Berastagi itu juaranya, manisnya asli tanpa bantuan gula. Dan mangga udang... wah, itu memang langka tapi kalau sedang musim, rasanya sangat khas, aromanya harum sekali. Nanti biar Bram yang pilihkan yang paling bagus untuk Nenek."
"Wah, asyik sekali! Ibu jadi tidak sabar ingin segera sampai di sana," seru Ibu Adrian sambil menatap suaminya dengan gembira.
Suasana meja makan kembali mencair. Celotehan Nenek tentang buah-buahan favoritnya berhasil menenggelamkan rasa insecure Adrian dan amarah Sherly sejenak.
Firan pun ikut tersenyum melihat bagaimana Bram mampu menetralkan keadaan dengan sangat cerdas.
"Nah, kalau begitu, ayo kita segera bersiap," ajak Aurora sambil berdiri dari kursinya.
"Rico, tolong pastikan semua keranjang buah yang kosong sudah masuk ke mobil, supaya nanti kita tinggal isi penuh di Berastagi."
"Siap, Bos! Keranjang sudah standby di bagasi!" sahut Rico penuh semangat.
Satu per satu mereka mulai beranjak dari meja makan menuju halaman depan.
Adrian hanya bisa menghela napas panjang, berusaha menelan kekesalannya tadi dan mencoba ikut dalam euforia rencana belanja buah tersebut, meski matanya tetap tak lepas mengawasi pergerakan Firan di dekat Aurora.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...