Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Api dan Air Mata
Api berkobar di Aula Utama.
Lidah-lidah jingga menjilat langit malam, menerangi kegelapan dengan cahaya neraka. Suara kayu berderak, batu pecah, dan jeritan dari dalam bercampur jadi simfoni kematian.
Hyerin berlari. Aku mengejar.
"HYERIN! BERHENTI!"
Dia tidak mendengar. Atau tidak peduli.
Di ambang pintu yang terbakar, dia berhenti. Panasnya begitu hebat hingga rambut di pelipisku mulai menggulung. Tapi dia tetap berdiri, menatap ke dalam.
"Ayah!" teriaknya. "AYAH!"
Dari dalam, suara samar. Suara Patriark Gong.
"PERGI! BAWA... HYERIN... PERGI!"
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN TINGGALKAN AYAH!"
Dia melangkah maju. Aku meraih pinggangnya, menariknya mundur.
"LEPASKAN! AKU HARUS SELAMATKAN DIA!"
"KAU AKAN MATI!" Aku berteriak di telinganya. "DIA MAU KAU HIDUP! Dengar? DIA MAU KAU HIDUP!"
Dia meronta. Menangis. Memukul dadaku. Tapi aku tidak lepas.
Di dalam, suara Patriark terdengar sekali lagi.
"Jin Tae-kyung... jaga anakku... jaga... klan ini..."
Lalu suara gemuruh. Atap runtuh.
Hyerin menjerit. Jeritan yang memecah malam. Jeritan yang akan menghantuiku sampai mati.
---
Kami tersungkur di halaman, memeluk erat.
Di sekeliling kami, pertempuran masih berlangsung. Pasukan Klan Selatan dan pengkhianat pimpinan Tetua Jang bertempur dengan sisa pendekar Klan Gong yang setia. Suara pedang beradu, teriakan kesakitan, perintah-perintah keras.
Tapi aku dan Hyerin seperti berada di dunia berbeda. Dunia yang hanya berisi api dan tangis.
"Oppa..." isaknya. "Ayahku... ayahku..."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya memeluknya erat.
---
Gong Jinsung merangkak mendekat. Lukanya parah, tapi dia masih hidup.
"Tae-kyung... kau harus pimpin... sisa pasukan..."
Aku menatapnya. "Aku?"
"Kau... menantu Patriark... pewaris sah sekarang... Hyerin masih syok... aku lumpuh..." Dia terbatuk, darah muncrat. "Pimpin mereka... sebelum Klan Selatan habisi kita..."
Aku melihat sekeliling. Pertempuran mulai condong ke arah musuh. Pendekar Klan Gong kalah jumlah, kalah semangat. Mereka butuh pemimpin.
Aku meletakkan Hyerin perlahan di tanah.
"Jaga dia," perintahku pada dua prajurit wanita yang berlari mendekat. "Jangan biarkan dia ke mana-mana."
Lalu aku berlari ke tengah pertempuran.
---
"PASUKAN GONG! KEPADAKU!"
Suaraku menggema di tengah kekacauan. Beberapa menoleh. Ragu.
"Aku Jin Tae-kyung! Menantu Patriark! SESUAI PERINTAH PATRIARK TERAKHIR, AKU YANG MEMIMPIN! KEPADAKU!"
Mereka mulai berkumpul. Bukan karena karismaku—tapi karena mereka butuh seseorang. Siapa pun.
Tiga puluh orang tersisa. Terluka, kelelahan, tapi masih bisa bertarung.
"Formasi lingkaran! Lindungi yang terluka! Jangan maju, bertahan dulu!"
Mereka menurut. Formasi mulai terbentuk.
Di hadapan kami, pasukan Klan Selatan dan pengkhianat berjumlah lebih dari seratus. Mereka tertawa, yakin menang.
Tapi mereka tidak tahu apa yang kubawa.
---
Aku meraih tas di pinggangku. Bom. Masih ada sepuluh buah. Juga senapan genggam—hanya dua, tapi cukup.
"Pasukan! Mundur perlahan ke arah gudang selatan!"
"Tuan, di sana buntu!" teriak seorang prajurit.
"IKUTI PERINTAHKU!"
Kami mundur, menarik perhatian musuh. Mereka mengikuti, percaya diri.
Saat sampai di area gudang, aku berteriak, "BERHENTI!"
Semua berhenti. Pasukan Gong di belakangku. Musuh di depan.
Aku melangkah maju. Sendirian.
Pemimpin pasukan Selatan—seorang jenderal tinggi besar dengan jubah hitam—tersenyum sinis.
"Menyerah, bocah? Kau tahu kau kalah."
Aku tersenyum balik. "Kau tahu apa yang ada di gudang ini?"
Dia mengerutkan kening.
"Mesiu. Dua ton mesiu."
Wajahnya berubah.
"KALAU AKU LEDAKKAN SEKARANG, KALIAN SEMUA IKUT MELEDAK!"
Diam. Semua diam.
"Kau gila!" teriaknya. "Kau akan mati juga!"
"Mungkin. Tapi kalian akan mati lebih dulu." Aku mengeluarkan bom dari tas, menyulut sumbunya. "Hitung mundur, Jenderal. Sepuluh detik."
Api merambat di sumbu.
"MUNDUR! MUNDUR SEMUA!" teriaknya.
Pasukan Selatan kocar-kacir mundur. Tapi aku tahu ini hanya sementara. Mereka akan kembali, dengan strategi baru.
Aku memadamkan sumbu. Berbalik pada pasukanku.
"Angkat yang terluka. Bawa mereka ke lorong rahasia di belakang gudang. CEPAT!"
---
Lorong rahasia itu adalah peninggalan lama—terowongan bawah tanah yang menghubungkan gudang dengan hutan di luar markas. Hanya beberapa orang tahu, termasuk aku, karena Hyerin pernah menunjukkannya.
Kami menyusuri lorong gelap itu dalam diam. Hanya suara erangan yang terluka dan langkah kaki. Di belakang, suara gemuruh—pasukan Selatan mulai menjarah.
Satu jam kemudian, kami keluar di hutan. Jauh dari markas, jauh dari api.
Aku menghitung sisa pasukan: dua puluh tujuh orang. Hyerin masih dalam gendongan dua prajurit wanita, pingsan karena kelelahan dan kesedihan. Gong Jinsung digotong empat orang, lukanya parah tapi masih hidup.
"Arahkan ke desaku," perintahku. "Ke desa Jin. Mereka akan terima kita."
---
Perjalanan ke desa memakan waktu semalam.
Saat fajar menyingsing, desa kecil itu mulai terlihat. Baek Dongsu—yang sudah pulang dari Timur dan sembuh dari lukanya—berlari menyambut.
"Tuan! Ada apa? Tuan kenapa...?"
"Klan Gong diserang. Patriark tewas. Markas jatuh." Aku turun dari kuda, hampir roboh. "Kami butuh tempat. Butuh obat. Butuh makanan."
Baek Dongsu tidak bertanya lagi. Dia segera mengatur penduduk desa untuk membantu.
---
Tiga hari berlalu dalam kekacauan.
Yang terluka dirawat. Yang sehat berjaga. Aku mengirim utusan ke klan-klan sahabat, meminta bantuan. Juga ke Klan Utara—surat untuk Kang Dae-ho, menjelaskan situasi.
Hyerin baru sadar di hari kedua. Tapi dia tidak bicara. Hanya diam, menatap kosong ke langit-langit. Makan jika disuapi. Minum jika diberi.
Aku duduk di sampingnya setiap malam, menggenggam tangannya, bercerita apa pun. Kadang tentang duniaku dulu. Kadang tentang masa depan yang mungkin. Dia tidak merespons. Tapi aku tahu dia mendengar.
---
Hari keempat, Gong Jinsung memanggilku.
Dia terbaring di rumah Baek Dongsu, lukanya mulai membusuk. Tabib desa sudah berusaha, tapi infeksi terlalu parah.
"Tae-kyung..." suaranya lemah. "Mendekatlah."
Aku duduk di sampingnya.
"Kau tahu... kenapa aku bisa selamat... sementara Patriark tewas?"
Aku menggeleng.
"Karena dia... mengorbankan diri... memberiku waktu lari... Dia tahu... kau satu-satunya harapan... untuk Hyerin... untuk klan ini..."
Dia terbatuk. Darah.
"Jangan bicara. Istirahat."
"Tidak... waktuku sebentar... Dengar... Tetua Jang... dia bukan hanya pengkhianat... dia agen Klan Selatan... sudah lama... Ini bukan serangan mendadak... ini rencana bertahun-tahun..."
Aku mengepal. "Aku akan cari dia. Aku akan bunuh dia."
"Bunuh... tapi sebelum itu... kau harus tahu... ada sesuatu... di markas... di ruang rahasia Patriark... dokumen-dokumen... daftar agen... bukti pengkhianatan... kau harus ambil... sebelum mereka temukan..."
"Di mana?"
"Di belakang... singgasana... tekan ukiran naga kiri... tiga kali..."
Dia terbatuk lagi. Lebih parah.
"Jaga Hyerin... jaga klan ini... jangan biarkan... pengorbanan mereka... sia-sia..."
Matanya mulai terpejam.
"PAMAN! PAMAN, JANGAN!"
Tapi Gong Jinsung sudah pergi.
---
Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai.
Hyerin masih di kamarnya, dalam keadaan yang sama. Aku tidak bisa memberitahunya. Tidak sekarang.
Di luar, Baek Dongsu menungguku.
"Tuan, ada utusan dari Utara."
Aku menegang. "Surat?"
"Bukan. Orangnya datang langsung."
---
Kang Dae-ho duduk di rumah sederhana Baek Dongsu, dikelilingi pengawal pribadinya. Saat melihatku, dia berdiri.
"Tae-kyung! Aku dengar kabarnya. Aku langsung datang."
Aku mengangguk lemah. "Terima kasih sudah datang."
"Ini bukan masalah jarak. Ini masalah saudara." Dia meraih pundakku. "Ceritakan semuanya."
Aku menceritakan. Serangan. Pengkhianatan. Kematian Patriark. Kematian Gong Jinsung. Hyerin yang hancur.
Dia mendengarkan dengan serius. Lalu berkata, "Klan Selatan... mereka memang ambisius. Tapi aku tidak menyangka mereka seberani ini."
"Mereka punya orang dalam."
"Tetua Jang. Pengkhianat."
"Kau tahu?"
"Sudah kuduga sejak lama. Tapi tidak pernah cukup bukti." Dia menatapku. "Sekarang kau punya misi, Tae-kyung."
"Apa?"
"Ambil dokumen itu. Buktikan pengkhianatan mereka. Lalu... balas dendam."
Aku diam.
"Aku akan bantu. Pasukanku siap. Tapi kau yang harus memimpin. Ini klanmu. Istrimu. Masa depanmu."
---
Malam itu, aku duduk di samping Hyerin.
Dia masih diam. Tapi kali ini, ada sedikit perubahan. Matanya tidak lagi kosong—mereka menatapku.
"Oppa."
Aku terkesiap. "Hyerin? Kau... kau bicara?"
"Ayah... Paman... mereka mati."
"Aku tahu, Sayang. Aku tahu."
Dia meraih tanganku. Genggamannya lemah, tapi pasti.
"Aku mau balas dendam."
"Hyerin..."
"Aku mau ikut. Aku mau bunuh mereka. Semua."
Aku menatap matanya. Di sana, tidak ada lagi air mata. Yang ada hanya api.
Api yang sama yang membakar Aula Utama.
---
[Bersambung ke Bab 21]