Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Tahta dan Darah yang Terhina
Pintu jati ruangan Sean tidak hanya terbuka, tapi seolah terlempar menghantam dinding. Nyonya Elgar melangkah masuk dengan keanggunan yang mematikan, diikuti oleh Celia yang memasang wajah penuh kemenangan di belakangnya.
Lyra yang masih duduk di pangkuan Sean langsung tersentak kaget. Ia mencoba berdiri dengan terburu-buru, namun tangan Sean justru semakin erat melingkar di pinggangnya, menahan Lyra untuk tetap di sana.
"Sean! Apa-apaan pemandangan memuakkan ini?!" suara Nyonya Elgar menggelegar, tajam dan dingin.
Sean tetap tenang, bahkan tidak melepaskan pelukannya pada Lyra. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran CEO-nya. "Selamat siang, Mama. Aku tidak ingat menjadwalkan pertemuan denganmu hari ini."
"Kau tidak butuh jadwal untuk bertemu ibumu! Tapi kau jelas butuh otak untuk menyadari siapa yang sedang kau pangku!" Nyonya Elgar melangkah mendekat, matanya menatap Lyra dengan kejijikan yang tak ditutup-tutupi. "Turun dari sana, Gadis Murahan. Kau pikir dengan menjebak putraku di atas ranjang, kau bisa menjadi ratu di sini?"
"Mama, jaga bicaramu," potong Sean, suaranya rendah dan penuh peringatan.
"Menjaga bicaraku? Sean, kau menikahi bibit wanita jalang!" Nyonya Elgar menuding wajah Lyra yang kini sudah pucat pasi. "Kau tahu siapa dia? Dia anak dari Kirana, suster yang tidak tahu malu itu! Wanita yang hamil tanpa suami dan membesarkan anak haram di lingkungan kumuh. Kau ingin mengotori darah Elgar dengan keturunan seperti dia?!"
Lyra merasakan dadanya sesak, air mata mulai menggenang. "Nyonya... tolong, jangan bawa-bisa ibu saya..."
"Jangan bawa-bawa ibumu? Kenapa?" Celia menyela dari belakang dengan tawa sinis. "Karena kenyataannya menyakitkan? Kau itu noda, Lyra. Ibumu jalang, dan kau adalah produk dari kejalangannya. Kau hanya menggunakan tubuhmu untuk merayu Sean agar bisa keluar dari kemiskinanmu, kan?"
"CUKUP!"
Sean berdiri dengan sentakan yang begitu kuat hingga kursinya terdorong ke belakang. Aura di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat mencekik. Sean menarik Lyra ke belakang tubuhnya, menyembunyikan istrinya yang sedang terisak di balik punggungnya yang kokoh.
"Dengarkan aku baik-baik, Nyonya Elgar," Sean melangkah maju, menatap ibunya tepat di mata dengan sorot yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Wanita yang kalian maki-maki ini adalah istriku. Nyonya Elgar yang sah. Satu milimeter saja kalian menyentuh harga dirinya, itu artinya kalian sedang menggali kuburan kalian sendiri."
"Kau membela anak haram ini di depan ibumu sendiri?!" Nyonya Elgar berteriak histeris. "Sean, kau kehilangan akal sehatmu karena wanita jalang ini!"
"Dia bukan anak haram! Dia adalah wanita paling terhormat yang pernah aku temui!" Sean membentak, suaranya menggetarkan kaca-kaca di ruangan itu. "Dan soal ibunya... Kirana adalah wanita yang lebih baik dari kalian semua. Dia membesarkan Lyra dengan keringatnya sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Sedangkan kalian? Kalian hanya sekelompok parasit yang hidup di balik nama besar Elgar!"
"Sean! Beraninya kau—"
"Keluar," perintah Sean singkat, dingin, dan mematikan.
"Apa kau bilang?" Nyonya Elgar ternganga.
"Aku bilang, KELUAR!" Sean menunjuk pintu dengan jari gemetar karena menahan amarah yang meledak. "Bawa wanita ular di belakangmu itu pergi dari sini. Mulai detik ini, Mama dilarang menginjakkan kaki di kantor ini maupun di apartemenku. Dan jika Mama berani menemui ibu Lyra atau mengganggunya lagi, aku tidak akan segan-segan mencabut seluruh fasilitas dan saham Mama di perusahaan ini. Aku tidak bercanda."
"Kau... kau mengusir ibumu demi dia?" Nyonya Elgar gemetar karena malu dan marah.
"Aku mengusir orang yang menghina istriku. Dan kebetulan, orang itu adalah Mama," jawab Sean tanpa ragu sedikit pun. "Pergi sekarang, atau aku akan memanggil keamanan untuk menyeret Mama keluar di depan semua karyawan."
Celia menarik lengan Nyonya Elgar, wajahnya pucat karena ketakutan melihat Sean yang benar-benar lepas kendali. Nyonya Elgar menatap Sean dengan kebencian mendalam, lalu melirik Lyra yang masih menangis di belakang Sean.
"Kau akan menyesal, Sean. Darah tetaplah darah. Suatu saat, noda itu akan menghancurkanmu," desis Nyonya Elgar sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dengan langkah penuh amarah, diikuti Celia yang tak lagi berani bersuara.
Pintu tertutup. Hening yang mencekam menyelimuti ruangan. Sean berbalik, langsung memeluk Lyra dengan sangat erat, menenggelamkan wajah istrinya di dadanya.
"Maafkan aku... Maafkan aku, Lyra..." bisik Sean, suaranya kini bergetar penuh penyesalan.
"Sean... dia benar... aku hanya noda..." rintih Lyra di sela tangisnya. "Aku tidak pantas untukmu... aku hanya akan membuatmu dibenci keluargamu..."
"Diam, Lyra! Jangan pernah katakan itu lagi!" Sean menangkup wajah Lyra, mencium kening dan matanya yang basah dengan intensitas yang hampir menyakitkan. "Kau adalah segalanya bagiku. Aku tidak butuh keluarga yang hanya bisa menghina. Aku hanya butuh kau. Kau paham?"
Sean menggendong Lyra menuju sofa panjang di ruangannya, tidak membiarkan sedikit pun jarak di antara mereka. Ia mencium bibir Lyra dengan panas, sebuah ciuman yang mencoba menghapus semua kata-kata kasar ibunya tadi.
"Malam ini, aku akan membuktikan padamu siapa yang paling berharga di dunia ini," bisik Sean di telinga Lyra, tangannya mulai membuka kancing kemeja istrinya dengan posesif. "Aku akan memilikimu hingga kau lupa siapa namamu, hingga kau hanya ingat bahwa kau adalah milikku, seutuhnya."
Di bawah dominasi Sean yang meluap-luap karena emosi dan cinta yang menyimpang, Lyra hanya bisa pasrah, menyadari bahwa meskipun dunia membencinya, Sean Nathaniel Elgar akan selalu menjadi pelindung sekaligus penjara paling indah baginya.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...