Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab tujuh
Caroline tersenyum sambil melihat ke arah kiri. Seorang pria tampan dengan hidung mancung dan anting di telinga kirinya tersenyum sambil menyodorkan sebuah anggur ke arahnya.
"Nona Caroline bagaimana?"
Caroline merasa hidupnya saat ini berada di surga. Bagaimana tidak bahagia? Kini ia memiliki enam pria tampan yang melayaninya saat ini.
"Nona saya akan memijat anda," ucap seorang pria berambut pirang.
Caroline mengangguk, makan buah dilayani, minum pun di layani dan ada yang memijatnya. Hidupnya berpisah dengan Jake bukan sengsara, tapi bahagia.
Sementara itu, Jake menerima sebuah telpon dari seseorang. Jake langsung naik pitam. Selang yang berada di lengannya, ia lepas dengan paksa dan bergegas turun.
Darahnya mendidih mendengarkan Caroline berada di bar dengan dilayani oleh enam pria.
"Jake kau mau kemana?" Tanya Aurora.
Begitu pula dengan Tommy yang terkejut melihat Jake keluar.
"Aku harus menemui Caroline." Jake melangkah dengan lebar tanpa memperdulikan Aurora yang tampak cemburu.
Tommy melirik Aurora. Ia merangkul tubuh Aurora. "Kakak pasti berniat memarahi Caroline. Wanita itu pasti membuat masalah lagi." Ia berharap Aurora tidak marah.
"Kakak tunggu, aku akan ikut dengan mu." Tommy melepaskan pelukannya yang menenangkan Aurora dan memilih mengejar Jake.
Aurora yang di tinggal sendirian pun tak punya alasan untuk diam. Dia memilih mengikuti kedua pria kembar itu.
...
Brak
Awan hitam seakan mengelilingi Jake. Tubuhnya terliuat mengepul. Matanya nyalang dan tajam melihat suatu penampakan yang hanya berjarak beberapa meter saja dari hadapannya.
Langkah tegas itu mampu membuat orang-orang merinding mendengarkannya namun tidak bagi Caroline justru dia mengabaikannya.
"Caroline!" Teriak Jake.
Caroline memberi kode pada Jake dengan mendekatkan jari telunjuknya ke bibirnya. "Ssuttt, apa yang kau lakukan? Kau berisik sekali Jake. Lihatlah, aku sedang bersenang-senang."
Caroline mencubit manja salah satu dagu pria tampan yang melayaninya. "Jangan takut sayang. Layani aku,"
Jake menarik kerah baju pria yang melayani Caroline itu. Lalu mendorongnya dengan kesal dan kasar.
"Pergi! Kalau tidak pergi aku patahkan kedua kaki kalian."
Jake berteriak membuat ruangan itu seolah bergetar. Keenam pria itu pun pergi dengan menunduk pada Caroline.
Aurora dan Tommy baru saja sampai dan mereka melihat keenam pria tampan itu pergi melewatinya.
Caroline duduk dengan santai dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Caroline bisa kau menjelaskan semua ini?" Tanya Jake.
Caroline merasa lucu dengan perkataan pria di hadapannya. Apanya yang perlu penjelasan, mereka sudah bercerai.
"Jake apa aku perlu mencari seorang dokter memeriksa otak mu? Oh Tommy, kau perlu menjelaskan semuanya. Kau mewakili Jake bercerai dengan ku."
Tommy pun tak kalah kesalnya. "Caroline kau wanita ... sebaiknya kau diam saja di rumah dan jadilah Caroline yang penurut."
Caroline berdecak pinggang. "Jake kita sudah bercerai. Aku bebas melakukan apa pun. Tidur dengan pria mana pun terserah ku."
Aurora tersenyum licik. "Kakak apa yang kamu katakan? Kau sama saja membuat Jake malu."
"Dari mana datangnya suara keledai itu?" Caroline mencari-cari seolah suara Aurora seperti suara keledai.
Aurora kesal dan menunjuk Caroline. "Kau ..."
Caroline menunjuk dada Jake. "Jake aku tidak mempermasalahkan mu membohongi ku. Aku tidak meminta penjelasan pada Tommy. Aku wanita yang baik hati. Jadi jangan ikut campur dengan urusan ku. Terserah dirikulah mau apa."
"Caroline kau berniat meminta para pria itu memuaskan mu?" Tanya Tommy.
"Tentu saja, pelayan mu di ranjang tidak membuat ku puas. Apa-apaan milik mu terlalu kecil." Ejek Caroline.
"Dan kau Jake, milik mu terlalu besar. Aku katakan milik kalian berdua tidak bisa memuaskan ku. Satunya kecil dan satunya besar, bukan tipe ku." Imbuhnya lagi.
Jake dan Tommy merasakan kedua telinganya panas. Wajahnya bagaikan kepiting rebus. Bukannya marah, tapi ia justru malu dengan ucapan Caroline.
Wanita itu suka berterus terang dan membuka aibnya.
"Caroline kau ingin kami puaskan?" Tommy tidak tahan dengan penghinaan Caroline. "Aku akan memuaskan mu."
Dengan langkah tegas, Tommy memasang dada di depan Caroline. Dia menarik pinggang Caroline dan mencium bibirnya.
Jake membuka kedua matanya dengan lebar. Seakan di hantam oleh besi yang panas. Hatinya terasa terbakar.
Jake menarik lengan Caroline dan kemudian menghajar Tommy. Adiknya itu sungguh gila. Padahal ia masih berdiri di hadapan mereka.
"Bangsat! Kau menodai kakak ipar mu sendiri Tommy. Aku masih berada di hadapan mu. Beraninya kau mencium Caroline." Teriaknya menggema di ruangan itu.
Buk
Jake memukul wajah Tommy hingga sudut bibirnya berdarah. "Kau tidak pantas melakukannya. Apa kau sudah gila hah?"
Tommy mengusap sudut bibirnya. Seharusnya Jake tidak marah, tapi pria itu memukulnya tanpa segan dan tanpa ampun. "Kakak aku hanya ingin membuktikannya bahwa aku bisa memuaskannya."
Plak
Darah Jake begitu mendidih mendengarkan ucapan Tommy. "Kau pikir siapa. Aku masih suami Caroline dan kau Caroline, yang menandatangani surat perceraian itu adalah Tommy bukan aku."
Caroline terkekeh, ia melihat ke arah Aurora. Kedua pria itu seolah lupa bahwa masih ada Aurora. "Aurora kau lihat. Bukan aku yang ingin mempertahankannya, tapi mereka."
Tommy dan Jake tersadar. Kedua pria itu menatap Aurora dengan perasaan bersalah.
"Aurora maafkan aku. Bukan maksud ku, tapi aku kesal karena dia meremehkan aku." Tommy tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Benar Aurora. Aku melakukannya hanya untuk kakek."
"Menjijikkan." Gumam Caroline. "Tomny, Jake aku tidak mempermasalahkan kalian membawa Aurora ke rumah, tapi ingat aku tidak ingin kalian juga ikut campur ursan ku."
"Apa kau gila? Bagaimana kalau kakek dan nenek tau?" Tanya Jake. Ia tidak suka banyak pria yang mengelilingi Caroline.
Caroline duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. "Seharusnya kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku. Khawatirkan saja diri kalian sendiri. Sudahlah, sebaiknya kalian bawa Aurora dan pergilah dari hadapan ku."
Muak sekali ia melihat si kembar itu berada di hadapannya.
Jake tidak terima. Ia menarik lengan Caroline dan membawanya keluar. "Aku akan mengurung mu. Kau harus intropeksi diri. Setelah kau mengakui kesalahan mu. Aku akan mengeluarkan mu dan memaafkan mu."
....
Jake mendorong tubuh Caroline ke atas kasur empuk itu. Dia membuka dasinya dan menindih tubuh Caroline. Satu tangannya menekan kedua tangan Caroline ke atas kepalanya.
"Caroline kau yang meminta ku untuk menunjukkan bagaimana aku memuaskan mu."
Jake mencium leher Caroline dan Caroline memberontak. "Brengsek kau Jake. Lepaskan aku!"
Aurora menganga, tubuhnya terasa panas dan hatinya terasa sakit. Hatinya seperti di remas dan di tusuk-tusuk.
Tommy melirik Aurora dan menariknya agar tidak melihat adegan dewasa itu.
"Aurora percayalah kakak melakukannya hanya untuk menakuti Caroline."
Aurora menggigit bibjr bawahnya. Air matanya keluar dan ia langsung memeluk Tommy. "Iya aku percaya. Jake hanya menjadikan Caroline sebagai pemuas hasrat saja. Dia tidak akan mengkhianati ku. Selama ini kalian selalu menyayangi ku."
Tommy mengusap punggung Aurora. "Iya, percayalah pada kami. Kami hanya balas dendam."
Sementara itu, Jake menerima sebuah gigitan di bibirnya hingga berdarah dari Caroline.
Jake mengusap bibirnya dan menatap lekat Caroline yang masih berada di bawahnya. "Caroline selama ini aku terlalu memanjakan mu."