NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKSI NEKAT DI PAGI HARI

Malam itu, Arini merebahkan tubuhnya di kasur, namun matanya gamau terpejam.

Langit-langit kamarnya seolah berubah menjadi layar yang memutar ulang kejadian di rumah Rian tadi sore.

Senyum tipis terus menghiasi bibirnya saat mengingat tingkah konyol Rian dan sambutan hangat dari Bundanya.

"Kalau dipikir-pikir, Rian itu humoris juga orangnya. Lucu tapi romantis," gumam Arini pelan pada bantalnya. "Apalagi kemampuannya meramal itu... yang katanya turunan dari Bundanya. Haha!"

Tiba-tiba wajah Arini memerah saat teringat pengakuannya sendiri. "Tapi kenapa aku tadi bisa keceplosan ya? Bilang kalau aku suka sama dia juga.

Selama ini kan aku tidak percaya sama ramalannya, padahal semuanya hampir benar.

Tapi aku benar-benar suka dengan cara dia menatap dan perhatiannya. Huhh, Rian seolah nggak mau lepas dari pikiran!"

Ting!

Notifikasi ponsel Arini berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor Bunda Rian.

Pesan: "Arin, jangan tidur malam-malam ya. Besok kamu sekolah, dan aku tahu kamu sedang memikirkan aku, kan? Salam cinta dari Rian."

Arini tertawa kecil membaca pesan itu sambil memeluk gulingnya. "Ih, apa sih! Lucu banget. 'Jangan tidur malam-malam, besok sekolah'... memangnya aku anak kecil diingatkan begitu? Dan juga, dari mana dia tahu aku lagi memikirkan dia?"

Arini memutuskan untuk tidak membalas pesan itu, mengingat itu adalah ponsel milik Bunda Rian.

Namun, ia memejamkan mata dengan hati yang berbunga-bunga, merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Sementara itu, di rumahnya, Rian tampak sedang berdiskusi serius dengan Bundanya di ruang tengah.

"Bun, besok aku mau sekolah. Mau jemput Arin," ucap Rian

Ibu Rian menatap putranya dengan khawatir. "Kamu yakin? Kamu kan masih sakit, lukanya juga belum kering kan,"

"Nggak apa-apa kok, Bun. Aku sudah mendingan," Rian mencoba berdiri dan berjalan beberapa langkah untuk membuktikan ucapannya. "Nih, lihat... sudah bisa jalan, kan? Nggak apa-apa ya, Bun? Boleh, ya?"

Ibu Rian menghela napas panjang, akhirnya luluh melihat semangat anaknya. "Ya sudah, iya. Terserah kamu. Tapi kamu harus hati-hati, jangan sampai nabrak lagi. Oh iya, motor kamu yang rusak kemarin belum Bunda perbaiki. Kamu pakai motor Ayah saja dulu ya,"

Mata Rian berbinar. "Iya, Bunda! Terima kasih ya, Bun. Bunda itu memang yang paling mengerti Rian, hehe,"

"Emang dasar ya anak muda. Kalau jatuh cinta, sehari nggak ketemu rasanya hampa kali ya? Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Bunda juga mau tidur," ucap Ibu Rian sambil beranjak menuju kamarnya.

"Iya, Bunda!" jawab Rian semangat. Ia merebahkan dirinya kembali, membayangkan Arini

Pagi harinya, suasana di rumah Rian tampak sibuk. Meski kakinya masih terpincang-pincang, Rian memaksakan diri untuk bersiap ke sekolah setelah menghabiskan sarapannya.

"Bun, kalau gitu Rian berangkat dulu ya, sekalian mau menjemput Arin," pamit Rian sambil menyambar kunci motor milik ayahnya.

Ibu Rian menatap putranya dengan cemas. "Kamu yakin mau berangkat sekolah? Kaki kamu masih sakit begitu, Bunda takut kamu kenapa-napa nanti di jalan,".

"Sudah tidak apa-apa kok, Bun. Rian kan kuat" jawab Rian penuh percaya diri.

"Ya sudah kalau kamu memaksa, tapi hati-hati ya, jangan sampai menabrak lagi," pesan Ibunya pasrah. "

"Iya, Bun," jawab Rian patuh.

"Satu lagi," seru Ibu Rian menahan langkah anaknya.

"Apa lagi, Bunda?".

"Nanti pulang sekolah, ajak Arini ke sini saja. Kita makan siang bareng," ucap Ibu Rian dengan senyum.

"Iya, siap Bunda! Tapi kalau Arininya mau ya," jawab Rian senang.

"Ya pasti mau dong, harus mau!" goda Ibunya. "Ya sudah, sana berangkat.".

"Assalamualaikum!".

"Waalaikumsalam," jawab Ibu Rian sambil melepas kepergian anaknya.

Sesampainya di depan rumah Arini, Rian segera memarkirkan motornya dan mengetuk pintu dengan pelan.

Tok... Tok... Tok....

Di dalam rumah, Ayah Arini yang sedang menyeruput kopi menoleh ke arah pintu. "Mah, siapa itu yang datang pagi-pagi?" tanya Ayah Arini heran.

"Nggak tahu, Yah. Sebentar ya, Mama lihat dulu," jawab Ibu Arini sambil melangkah ke depan.

Begitu pintu terbuka, Ibu Arini terkejut melihat sosok pemuda tampan berdiri di depannya. "Loh, Rian? Kamu mau sekolah? Memangnya kamu sudah sembuh? Bukannya kemarin kamu habis kecelakaan?" tanya Ibu Arini.

Rian tersenyum sopan. "Sudah sembuh kok, Bu,".

"Tapi kamu jalan masih kelihatan sakit loh, Rian," sahut Ibu Arini sambil memperhatikan kaki Rian yang masih agak kaku.

"Tidak apa-apa, Bu. Rian ke sini mau mengajak Arini berangkat sekolah bareng. Arininya ada?" tanya Rian.

"Ada, tapi Arininya masih mandi, belum sarapan juga dia. Ayo, kamu tunggu di dalam saja dulu," tawar Ibu Arini ramah.

"Nggak usah, Bu. Rian tunggu di sini saja. Tadi juga Rian sudah sarapan," jawab Rian sungkan.

"Eh, tidak apa-apa. Ayo masuk, tunggu di dalam saja supaya enak duduknya," bujuk Ibu Arini lagi.

"Benar, Bu, di sini saja sudah cukup nyaman kok," Rian tetap menolak halus.

"Ya sudah kalau begitu, Ibu panggilkan Arininya dulu ya. Kamu duduk dulu di kursi teras ini,".

"Iya, Bu. Terima kasih ya," ucap Rian sambil duduk perlahan.

Ibu Arini segera masuk ke dalam dengan langkah terburu-buru. "Arini! Cepat mandinya, Sayang! Ada Rian itu di depan menunggu!" teriak Ibunya dari depan kamar mandi.

Ayah Arini yang mendengar nama itu pun kaget. "Ada si Rian, Mah?".

"Iya, itu katanya mau menjemput Arini berangkat bareng," jawab Ibu Arini bersemangat.

"Wah, kenapa nggak disuruh masuk?" tanya Ayahnya lagi.

"Sudah Mama suruh masuk tapi dia tidak mau, sungkan katanya," jelas Ibu Arini.

Sementara itu di dalam kamar mandi, Arini yang mendengar teriakan ibunya langsung panik. Ia menyiram tubuhnya dengan cepat hingga air memuncrat ke mana-mana.

"Rian? Ngapain dia ke sini? Bukannya dia masih sakit? Dan dia juga kan masih masa skorsing sekolah!" gumam Arini dalam hati dengan perasaan campur aduk. "Ah, ya sudah, aku harus buru-buru saja deh, kasihan dia menunggu lama di luar dengan kaki sakit begitu,".

Setelah selesai mandi dan bersiap dengan kilat, Arini keluar dari kamarnya. Ia mengenakan seragam sekolah yang dipadukan dengan jaket Levis biru—penampilan yang sama persis seperti pertama kali Rian melihatnya dan jatuh hati.

"Rian ada, Mah?" tanya Arini sambil merapikan tas sekolahnya dengan terburu-buru.

"Ada, itu sudah menunggu kamu di depan dari tadi," jawab Ibu Arini sambil tersenyum melihat kegugupan putrinya.

"Ya sudah, kalau begitu Arini langsung berangkat ya!" seru Arini hendak melangkah keluar.

"Eh, sebentar! Kamu kan belum sarapan. Ini bawa roti cokelatnya, makan di jalan ya," potong Ibu Arini sambil menyodorkan tempat makan kecil

"Iya, Ma. Ya sudah, aku jalan ya. Dah!" Arini mengambil roti itu dan segera berlari kecil menuju teras.

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!