Kisah cinta Xavier dan Aruna yang harus melewati banyak hal dalam rumah tangga mereka. Xavier adalah tipe suami posesif. sedangkan Aruna adalah istri cuek. sehingga beda sifat mereka kadang membuat mereka berselisih dan berseteru.
Namun hal itu tak membuat cinta keduanya luntur dan menghilang begitu saja. Malah hal itu membuat mereka menjadi semakin saling mencintai.
namun di balik kebahagiaan mereka ternyata ada orang yang ingin memisahkan keduanya. mampukan mereka melewati badai besar dalam rumah tangganya? dan siapakah orang itu....ikuti terus kisah cinta mereka berdua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xavier-Aruna 26
Aura Aruna di dalam ruangan meeting itu terlihat begitu dominan. Semua orang merasakan hal itu, begitupun dengan Danar yang berusaha menyangkal jika Aruna adalah wujud nyata perpaduan Mutiara dan Bima. Memiliki ambisi yang terarah dan juga kecerdasan yang luar biasa. Aura kepemimpinan bisa tak bisa di ragukan lagi, wibawa yang dia miliki seperti kekeknya, Mahardika. Ucapannya lugas, jelas dan tak bertele-tele.
"Maaf Pak Danar, siapa dia orang yang ada di sebelah anda? Apa mereka semudah resmi bergabung di perusahaan Mahardika?" tanya Aruna dengan tatapan tajam ke arah tiga orang depannya.
Mereka menjadi pusat perhatian di sana, walau semua orang tahu jika mereka adalah kedua anak Danar. Akan tetapi selama ini tak pernah sekalipun mereka berdua terlibat dan ikut bekerja di kantor selain datang untuk meminta mengganti mobil.
"Oh iya, saya memang belum bertemu dengan pihak HRD karena harus datang ke sini. Rencananya Revano dan Anastasia akan mulai bekerja di perusahaan. Rencananya Revano akan menjabat Direktur keuangan sedangkan Anastasia akan menjabat Direktur pemasaran," jelas Danar penuh percaya diri.
"Apa kinerja Direktur sekarang tak sesuai atau mereka membuat kesalahan sehingga haru di ganti dengan orang baru yang bahkan belum pernah memiliki pengalaman kerja sama sekali, Pak Danar?" tanya Aruna membuat wajah Danar menjadi pucat seketika.
Dia tak mengira akan di todong seperti itu secara langsung di depan semua orang. Aruna benar-benar mempermalukan mereka. Kedua anaknya memang tak pernah berkata di kantor dan tak memiliki pengalaman apapun. Namun dia memang sengaja menempatkan kedua anaknya di bagian yang strategis. Namun dia lupa kalau ingin mengganti jabatan direktur harus atas persetujuan dari pemilik perusahaan yang memegang kendali di perusahaan Mahardika. Dia tak bisa asal mencopot atau memutasi Direktur sebelumnya demi kedua anaknya.
"Begini maksud saya Bu Aruna ..." ucapan Danar terbata rasanya tenggorokannya tercekat saat matanya beradu pandang dengan tatapan menghujam dari Aruna.
"Maaf pak Revano, Bu Anastasia bisa keluar sebentar? Dan tinggu di depan ruangan HRD jika memang ingin melamar pekerjaan. Lakukan sesuai dengan prosedur yang baru. Di bawah kepemimpinan saya semua orang yang bekerja harus sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Bukan berdasarkan dia anak siapa, atau dia adalah saudara siapa tapi tak memiliki kemampuan sama sekali!" Aruna mengusir kesuanya keluar.
Revano dan Anastasia tak memiliki pilihan lain dan segera keluar dari dalam ruang meeting dengan wajah memerah menahan malu luar biasa.
"Saya sudah mengubah semua sistem di perusahaan yang sebelumnya masih menganut sistem lama yang sudah sangat mudah di gerogoti oleh banyak orang. Saya juga hari ini sudah mendaftar orang-orang yang akan saya pecat secara tidak hormat. Karena mereka sudah berani mencuri di perusahaan ini! Kedepannya saya akan lebih memperketat sistem keamanan dalam segala bidang. Jika di antara kalian ada yang berniat bermain-main di bawah kepemimpinan saya. Siap-siap saja kalian akan kehilangan tangan yang selalu ingin mencuri milik orang lain itu dari tubuh kalian!" Aruna memulai rapat dengan hal yang membuat mereka brigidig negri.
Ngeri sekali melihat kemarahan pemilik perusahaan mereka. Padahal selama ini mereka melihat Aruna terlihat santai dan bahkan tak terlalu banyak berkor-koar. Tapi ternyata dari sikap santainya itu dia sudah berhasil mengobrak-abrik dan menemukan banyak tikus di perusahaan miliknya.
"Di sini ada Pak Elan yang akan menjadi wakil saya! Dia yang akan langsung berkomunikasi dengan saya sebagai perantara nantinya dengan kalian! Dan Pak Danar menjadi wakil kedua saya setelah sebelumnya dia memiliki wewenang penuh. Namun sekarang wewenang dan setiap keputusan ada di tangan saya!" jelas Aruna membuat semuanya menatap bergantian ke arah Pak Elan dan Danar.
Wajah Pak Danar dan beberapa orang yang hadir di sana terlihat pucat, sepertinya mereka adalah salah satu dari orang yang mencoba bermain-main dengan perusahaan Mahardika. Danar merasa di permainan oleh Aruna. Apalagi sekarang dia tak memiliki wewenang penuh di sana. Dia bahkan harus berbagi wewenang dengan Elan. Bagaimana mereka bisa melancarkan rencananya dan membuat kedua anaknya memilki jabatan yang tinggi dan strategis di perusahaan.
"Maaf Bu Aruna, tapi saya di sini memiliki tiga puluh persen saham, seharusnya saya masih memiliki wewenang di perusahaan. Saya harusnya memiliki wewenang lebih besar dari Pak Elan yang sudah anda pilih. Begitupun dengan kedua anak saya yang seharunya memiliki hak khusus dan memilih jabatannya sendiri!" Danar mencoba untuk bisa mencari celah agar bisa kembali berkuasa di sana.
"Dari awal saya sudah katakan Pak Danar, jika saya sudah mengubah semua sistem di perusahaan dengan sistem yang baru. Jika memang anda tak terima dengan sistembyang saya terapkan tak masalah, itu urusan anda. dan untuk semua orang yang ingin menduduki jabatan tinggi sekarang tak asal-asalan. Saya tak mau menghancurkan perusahaan sebesar ini karena keteledoran dan bahkan ada ribuan nyawa bergantung pada perusahaan ini. Jangan menjadi manusia egois dan kurup di perusahaan ini. Karena Aku akan mengejarnya sampai lubang semut!" jawab Aruna membaut Danar mengepalkan tangannya di bawah sana menahan amarah.
Bagaimana dengan kedua anaknya agar bisa lolos mendapatkan jabatan yang tinggi. pasti akan sangat sulit kalau Aruna menerapkan sistem berlapis untuk setiap tingkatan jabatan di perusahaan dari terendah sampai tertinggi. mereka seolah di awasi selama bekerja di sana oleh Aruna.
Kepala Daner berdenyut nyeri. Meeting berjalan Dua jam, Aruna menjelaskan segala sistem dan maslaah di dalam tubuh perusahaan Mahardika. Semua orang di buat melongo melihat kehebatan dan ketelitian Aruna dalam menemukan setiap celah dan kebobrokan di perusahaan. Selama ini mereka merasa aman-aman saja, namun ternyata banyak kebocoran di sana-sini.
"Saya akan memutus rantai kebiasaan perusahaan yang bobrok selama ini. Jika yang tak suka dan tak tahan dengan sistem baru yang saya buat saat ini. Silahkan kirimkan surat pengunduran diri kalian! Berlaku untuk semua karyawan sampai ke jajaran terendah. Saya akan umumkan nanti kepada semuanya! Rapat selesai, silahkan kembali bekerja!" ucapan penutup dari Aruna membuat lemas lurus mereka semua.
Pemimpin baru mereka yang selama ini terlihat cuek ternyata sangat mengerikan saat dia benar-benar fokus dengan perusahaan. Mulai sekarang mereka tak bisa berleha-leha dan meminimalisir kesalahan apapun. Keluar dari dalam ruang meeting merek semua memegang pelipis masing-masing karena sakit kepala.
hidup apa ada nya tp tenang n nyaman, tanpa tekanan ,,, semangat rexa
babang Xavier kau dmn, bantai habis tuh anggara family, krn mrk udh berani menghina menantu hananta
Xavier kasian rexa, d bantu ya