NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Kenyataan yang Dihadapinya

Perjalanan tanpa skuter lebih lama rasanya jika harus pulang ke rumah di malam hari. Aku turun dari mobil yang mengantarku dan tertegun melihat Fedi dan skuternya yang sudah tinggal di halaman dengan manis. Aku masih berat untuk melangkah menghampirinya, namun harus aku lakukan.

“Hai, Najma.”

“Jadi, gimana? Apa yang salah?”

“Najma, look, gue akan jelaskan hal yang nggak pengen lo dengar. So please, dengarkan sampai selesai ya.”

Aku diam dan terus berdiri menatapnya yang sedang duduk di jok skuternya.

“I am seriously in love with you, Najma.”

Aku tetap diam menunggunya kembali bicara sambil sekuat tenaga menahan degup jantung yang semakin kencang bunyinya.

“Lo berhasil buat gue merasa bahagia akhir-akhir ini. Gue sangat senang ketemu lo dan mengalami banyak emosi yang biasanya nggak pernah gue rasakan sebelumnya. Tapi, gue nggak sadar bahwa ternyata gue membuat lo dalam bahaya. Gue pikir, as long as you’re with me, lo akan baik-baik saja. Tapi, ketika lo bersama gue pun, lo tetap celaka. Nggak terhitung berapa banyak air mata yang keluar karena gue, Najma. I made you cry a lot.”

“Fedi…”

“Sebentar, gue belom beres kan?” lalu Fedi menarik nafas sejenak, “…gue selalu bingung dan sebal sebelumnya sama orang-orang yang menjauhi gue hanya karena diancam sama Vanya. Gue pikir, mereka bukan teman yang cukup bisa diandalkan karena memilih untuk menjauhi gue hanya karena bualan anak ABG. Tapi, sekarang gue lega mereka melakukan hal yang benar. Gue nggak pernah kira Vanya akan melakukan hal yang sangat menyakitkan lo hanya karena gue, Najma.”

Aku diam saja, tapi mataku basah lagi. Aku tak tahan melihat Fedi yang cerewet dan seenaknya menjadi sedih karena aku.

“Vanya sakit, dia punya Anti social disorder sejak remaja. Tapi, nggak ada yang ngira efeknya akan seperti ini. By the way, kalau lo penasaran, sekarang dia udah dibawa pengobatan ke Sydney sama orang tuanya. Dia nggak akan ganggu lo lagi, gue jamin untuk itu.”

Aku mengangguk sambil menghapus air mataku yang tumpah ruah.

“Gue sangat merasa bersalah sama lo sampai gue nggak berani untuk melihat wajah lo lagi. Walau gue sangat ingin ketemu lo, tapi gue takut. Gue nggak pernah ngebayangin, orang yang paling ingin gue lindungi malah celaka karena gue. Ketika gue ngelihat lo nggak sadarkan diri, gue takut lo nggak bangun lagi. Gue takut lo kayak Bima. Gue takut kehilangan lo, Najma.”

Aku memeluknya. Aku tak tahan melihatnya menangis seperti ini.

“Tapi gue di sini, Fedi. Gue sehat dan masih bisa berlari ke arah lo, walaupun masih pelan-pelan.”

Fedi melepaskan pelukanku.

“Gue rasa kita perlu waktu masing-masing untuk menyembuhkan diri. Lo perlu sehat dan enerjik lagi seperti biasanya, dan gue perlu jadi diri gue sendiri lagi karena gue merasa gue sudah berubah menjadi pengecut kelas kakap, pas setelah melihat lo dan Vanya ribut di jalan. Gue bahkan nggak bisa mencegah lo berdua.”

Aku menghapus air mata di kedua pipinya bergantian. Aku menunduk karena kecewa Fedi akan meninggalkanku dengan segera.

Apakah kamu akan pasrah, Najma? Pasrah saja menerima apapun yang Fedi lakukan terhadapmu?

“Bye, Najma.”

Aku hanya menontonnya dalam diam hingga Fedi tak terlihat lagi batang hidungnya di depan mataku. Aku membiarkannya pergi begitu saja tanpa menahannya dan mengatakan bahwa aku juga tak mau kehilangannya. Aku diam saja tanpa berusaha mengubah apapun.

**

Aku sudah sampai di kota terakhir untuk kegiatan roadshow AMD Sambung. Karena ini adalah acara terakhir dari rangkaian kota yang direncanakan, maka persiapan yang dilakukan tidaklah banyak. Mas Isa, Icana, dan beberapa kru sudah di hotel untuk bertemu dengan semua klien Sambung, sedangkan aku sengaja tidak datang ke hotel terlebih dahulu. Aku meminta izin untuk pergi sebentar dengan alasaan ingin membeli suatu barang yang sebenarnya tidak aku perlukan.

Kenyataannya, bertemu dengan Fedi kini jauh lebih berat dibanding persiapan mental untuk bertemu Vanya di zaman dahulu.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

Aku menghampiri kedai jus buah di samping gerobak gorengan yang terlihat sangat sibuk dibanding semua pedagang gerobak yang ada di seantero bumi. Sadar aku memperhatikan pergerakannya yang lincah, abang gorengan menoleh padaku dan tersenyum memamerkan giginya. Aku tercengang dan hanya membalas senyum seadanya sejenak kemudian. Aku pun memesan jus semangka tanpa susu untuk kuminum di tempat.

“Hai, Mbak. Apa kabar?” seru abang gorengan ramah. Suaranya cukup lantang mengingat ia harus bersaing dengan suara gas dan minyak panas yang begitu ribut berbunyi di sekitarnya.

“Baik.” Jawabku lalu menerima jus semangka dari Mbak di dalam kedai. “Abang sendiri gimana?” tanyaku balik. Aku tak menyangka aku malah mengajak ia ngobrol.

“Baik, Mbak. Terima kasih.”

Aku sibuk menyeruput jus semangkaku hingga kosong isi gelasnya tanpa sadar karena terus memperhatikan abang gorengan yang begitu aktif melayani pelanggannya dengan senyum ceria di wajahnya.

“Saya lihat Mbak merhatiin saya aja dari tadi nih. Naksir, ya? Hehe.” Sahut abang gorengan sambil duduk di sampingku. Aku agak menggeser sedikit karena jaraknya terlalu dekat.

“Hehe. Abang kok sok tahu?” tanyaku balik sambil memandanginya yang cukup berpeluh di wajah. Ia sibuk menghapus keringat di seluruh muka dan tengkuk lehernya. Kuperhatikan lagi, Abang gorengan ini lumayan juga.

“Soalnya dari semua perempuan yang lihat saya, pasti merhatiin. Pas saya tanya naksir, mereka jawab nggak. Hehe.”

“Ahaha. Si Abang bisa aja.”

“Maaf ya, Mbak. Karena saya sibuk jualan jadi ini salah satu cara saya punya teman banyak. Biar nggak bosan di tempat kerja. Maklum, pengusaha.”

“Pengusaha gorengan ya, Bang?”

“Pengusaha gerobak.”

“Ahaha. Jadi jualan gorengan apa gerobak nih?”

“Jual hati saya aja deh, buat Mbak. Hehe.”

Aku mengenyeritkan dahi ke arahnya. Tapi, anehnya aku tetap merasa ia menyenangkan.

Seperti Fedi.

“Maaf, Bang. Aku udah punya pacar.”

“Ah, pasti masih gantengan saya.”

“Iya sih, Abang ganteng juga. Tapi, saya nggak bisa suka sama dua orang sekaligus, Bang.”

“Hahaha. Enak kali punya pacar kayak Mbak, ya. Setia.”

“Ahaha. Iya, dia juga. Dia nggak cuma indah dipandang, Bang. Tapi juga menyenangkan untuk diingat dan dirindukan. Dia nggak pernah ngasih aku kenangan sedih, pasti senang terus. Dia selalu ada di saat aku merasa sangat kesepian. Dia tuh…” Aku terdiam sejenak. Abang gorengan yang sadar akan perubahan ekspresiku yang berubah drastis. Abang gorengan terus menatap wajahku dengan bingung dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan mengibaskan tangannya di depan wajahku.

“Bang, saya pulang dulu. Sekarang saya tahu, saya harus kejar dia.”

“Apanya tuh?” tanya Abang masih tak paham.

“Terima kasih, Bang! Semoga Abang punya pacar kayak saya ya!” sahutku berteriak sambil berlari dan melambaikan tangan kepada abang gorengan yang juga hanya terpaku kebingungan akan sikapku hingga kini.

**

Sudah sampai di lobi hotel. Langkahku terdiam dan berusaha untuk mencari keberadaan Fedi saat itu juga. Kulihat Mas Isa dan semua kru sibuk membawa barang produksi ke arah lift untuk diangkut di mobil barang yang sudah diparkir di basement. Aku juga melihat Mbak Esya dan Icana sedang sibuk bercengkrama sambil sesekali mencatat sesuatu dalam laptop yang dipegang Icana di pangkuannya. Aku melihat semua manusia hilir mudik di sekitarku dan mulai kelimpungan mencari Fedi yang tak kunjung terlihat batang hidungnya. Aku menutup mata dan mengepal kedua tanganku, berharap kekuatan telekinesis tiba-tiba keluar dari tubuhku untuk membuat seantero lobi beku. Ketika kedua mataku terbuka, kulihat Fedi tengah berjalan ke arahku dengan tergesa-gesa. Ia melihatku yang kini mematung menatapnya dan berharap bahwa ia akan menarik tanganku dan membawaku ke angkasa. Terbang bersama awan dan menggodaku dengan tatapan menyebalkannya di sana.

Tapi tidak, ia hanya menunduk dan melewatiku begitu saja. Sesingkat itu mengacuhkanku sehingga semua orang kembali bergerak normal seperti seharusnya. Aku berbalik cukup lama setelah mengumpulkan keberanian untuk memanggilnya, namun kurasa Fedi juga telah berbalik menoleh kearahku tapi urung untuk menyapaku dan kembali melangkah maju keluar tanpa sedikitpun ingin menyapaku.

Apakah aku akan menyerah?

Tentu saja tidak.

**

Keesokan harinya, di mana kegiatan AMD terakhir akan dilakukan di kampus yang sangat besar ini, aku begitu lelah secara batiniah karena gemas kepada diriku sendiri. Kenapa sampai sekarang aku belum berhasil mengajak Fedi bicara? Kenapa sampai sekarang aku masih tidak bisa menyela setiap langkah Fedi yang berusaha menghindariku di kota asing ini? Aku tidak ingin Fedi bersikap begini lagi.

Aku tak akan menyerah hingga Fedi mau menarik tanganku lagi.

Sesaat kemudian, aku melihat Fedi dari kejauhan. Ia tampak sibuk mengatur koordinasi dengan Mas Isa dan semua kru yang terlibat di satu tenda permainan yang sedang diatur ketersediaan barang-barang di dalamnya. Kini, acara sudah dimulai dan menuju ronde tiga sehingga para peserta yang berkurang drastis sedang bersiap untuk ronde akhir. Aku berdiri di sudut yang paling mudah untuk Fedi lihat di ujung sana dan aku bersiap untuk memberi senyum terbaikku. Aku ingin Fedi melihatku bahwa aku sudah sembuh dan kembali enerjik sehingga ia bisa berlari lagi ke arahku dan menjadi dirinya kembali.

Ia tidak melihatku. Jaraknya tertutup oleh salah satu kru bertubuh gempal di depannya. Aku kesal tidak terkira.

Percobaan berikutnya.

Aku pergi ke ruang panitia dan berusaha mencari Fedi yang ada di sana. Menurut informasi dari agen terpercaya, Fedi kini sedang istrirahat makan siang bersama teman-temannya. Aku tak peduli jika nanti pengakuan cintaku akan menjadi tontonan publik dan tersebar luas di kantor Sambung di kemudian hari. Fokus utamaku adalah mendapatkan Fedi kembali. Aku harus menggapainya apapun yang terjadi.

Aku sudah sampai di ruang panitia yang cukup besar di tenda sarnafil putih. Kubuka tirai dan kutelusuri semua orang yang hadir di ruangan itu. Namun, sungguh naas nasibku. Fedi tidak ada di situ. Sungguh baru kumerasa sepatah ini karena Fedi. Apakah memang ia begitu enggan melihat wajahku lagi? Aku pun keluar dari tenda dan menyesali keadaan yang ada. Bahkan ketika Icana tidak sengaja menubrukku karena ketergesaannya berlarian di tengah lapangan, aku benar-benar tidak merasakan sakit di tubuhku lagi. Semua terasa kebal dan mati rasa. Aku pun memberanikan diri menatap ke depan.

Di sana, ada Fedi sedang berdiri memandangku. Ia diam dan mengamatiku. Karena keterkejutanku yang jelas terlihat dari air mukaku, Fedi pun tersenyum kecil kepadaku. Ia tersenyum kepadaku!

Tapi bodohnya aku, karena sudah membeku atas kejadian fantastis ini aku hanya bisa diam membisu tanpa melakukan apapun padanya. Akhirnya Fedi pun pergi karena Mas Isa memanggilnya.

Aku gagal lagi.

Aku pun teringat bahwa di akhir acara akan ada acara tambahan dari pemenang yang akan menjadi duta produk untuk AMD Sambung. Mungkin benar, aku butuh orang untuk menjadikan impianku menjadi nyata. Di saat seperti ini, aku butuh bantuan yang bisa membuat usahaku menjadi lebih mudah. Aku pun mencari tenda khusus penilaian dan mencari tahu siapa yang kiranya bisa menjadi tangan kananku atas misi rahasia paling penting untuk hidupku.

Setelah mendapat akumulasi nilai kemungkinan pemenang, aku mencari calon kompeten yang kumaksud untuk kutanya terhadap kesediannya untuk membantuku. Bahkan jika ia tidak mau, akan kupaksa ia untuk menolongku. Aku takkan keberatan untuk berhutang nyawa padanya jika itu yang memang ia inginkan.

Aku pun menemukannya. Aku menemukan calon pemenang yang sekiranya bisa membantuku mendapatkan Fedi dan menjadikannya milikku lagi.

“Hai, I need your help.” Ujarku langsung duduk didepannya. Ia hanya diam kebingungan karena aku muncul begitu saja.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!