NovelToon NovelToon
Shen Yu Jalan Melawan Langit

Shen Yu Jalan Melawan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.

Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Cermin Bayangan

Surga Pertama - Reruntuhan Sekte Penelan Era.

Angin tidak berhembus di dalam kawah purba ini. Debu-debu perak yang berterbangan di luar batas reruntuhan seolah menabrak dinding kaca yang tak kasat mata, menolak untuk menodai tempat peristirahatan sekte yang pernah mencoba menelan aliran zaman.

Shen Yu berdiri di pelataran batu yang retak, pandangannya menyapu pilar-pilar raksasa yang menjulang menembus kebekuan. Pasukannya yang terdiri dari tiga ratus kultivator fana menjatuhkan diri ke lantai, terengah-engah mencari udara setelah lolos dari kebinasaan.

"Bangunkan formasi pertahanan dari sisa-sisa pilar ini," perintah Shen Yu dingin tanpa menoleh. Suaranya membelah keheningan absolut reruntuhan. "Jangan ada satu pun dari kalian yang melangkah melewati batas kawah. Jika pasir waktu di luar sana memanggil kalian, aku tidak akan memungut abu kalian."

Shen Yu memberi isyarat pada Lin Xue. Keduanya melangkah maju, menaiki anak tangga pualam hitam yang sebagian telah runtuh, menuju sebuah bangunan utama yang menyerupai piramida terbalik. Di atas pintu masuknya yang terbuka lebar bak rahang monster, terukir aksara purba.

Begitu mereka melangkah melewati ambang pintu, udara di dalam aula terasa setebal rawa. Tidak ada obor, namun ruangan itu diterangi oleh cahaya perak redup yang memancar dari sebuah jam pasir raksasa di tengah ruangan. Jam pasir itu terbuat dari kristal hitam, dan pasir di dalamnya sama sekali tidak menetes ke bawah. Waktu di ruangan ini benar-benar dibekukan.

Di bawah jam pasir raksasa tersebut, terdapat sebuah pelataran meditasi berbentuk diagram Yin-Yang yang terbuat dari logam bintang.

"Pusat dari formasi waktu reruntuhan ini," gumam Lin Xue, mata ungunya memantulkan cahaya perak. "Guru, Dao Kehidupan-ku bisa merasakan sisa-sisa kehendak yang sangat kuat di pelataran itu. Ini bukan sekadar pusaka, ini adalah warisan. Tuan Muda Tanpa Wajah tahu tempat ini memiliki kunci untuk melawan Pengadilan Langit."

Shen Yu menyeringai tipis. "Sebuah sekte yang menantang hukum waktu Alam Atas dan berujung pada kebinasaan. Mari kita lihat apakah warisan mereka layak untuk digunakan oleh Malam Abadi."

Tanpa ragu sedikit pun, Shen Yu dan Lin Xue melangkah bersamaan ke atas pelataran Yin-Yang.

Seketika, jam pasir hitam raksasa di atas mereka berderit. Pasir perak di dalamnya tiba-tiba mulai jatuh setetes demi setetes.

BZZZZZT!

Ruang di sekitar mereka terdistorsi dengan hebat. Pandangan Shen Yu menjadi gelap gulita, dan hawa keberadaan Lin Xue di sisinya lenyap tanpa sisa. Mereka tidak lagi berada di aula yang sama, melainkan ditarik ke dalam celah dimensi kesadaran yang terpisah.

Alam Kesadaran Waktu Shen Yu.

Saat pandangan Shen Yu kembali jelas, ia tidak berdiri di atas reruntuhan. Ia berdiri di sebuah puncak gunung es yang menembus awan. Di bawahnya, terhampar lautan mayat yang jumlahnya miliaran pasukannya, sekutunya dari dunia fana, dan wujud-wujud tak bernyawa dari mereka yang pernah tunduk padanya.

Langit di atasnya terbelah, memperlihatkan mata raksasa berwarna emas yang menatapnya dengan pandangan merendahkan.

Terdengar suara dentingan rantai.

Shen Yu menoleh. Sepuluh langkah di depannya, duduk sesosok pria berambut putih panjang di atas takhta yang hancur. Pria itu mengenakan jubah hitam yang sama dengannya, namun tubuhnya ditusuk oleh ribuan pedang emas. Tangan dan kakinya diikat oleh rantai hukum alam yang memancarkan cahaya menyilaukan.

Itu adalah dirinya sendiri. Sosok Shen Yu dari masa depan yang telah hancur.

"Lihatlah ujung dari arogansimu," bayangan masa depan itu berbicara, suaranya parau dan dipenuhi keputusasaan yang tidak pernah dikenal Shen Yu. "Kau menantang Tiga Puluh Tiga Surga. Kau mengira Ketiadaan bisa menelan segalanya. Tapi pada akhirnya, kau hanya akan menjadi anjing penjaga mereka, dikunci dalam siksaan abadi sementara dunia fanamu dijadikan bahan bakar tungku mereka."

Bayangan itu mengangkat wajahnya yang penuh luka, menatap Shen Yu dengan mata yang memohon. "Menyerahlah. Jangan melangkah lebih jauh di Alam Atas. Putar balikkan waktu, dan jadilah serangga yang bersembunyi di bawah tanah."

Ini adalah ujian terberat bagi seorang kultivator: menghadapi keputusasaan mutlak dari takdir yang diklaim tidak bisa diubah.

Namun, ekspresi Shen Yu sama sekali tidak berubah. Tidak ada ketakutan. Tidak ada keraguan. Mata hitam legamnya menatap bayangan masa depannya sendiri dengan rasa muak yang luar biasa.

"Menyedihkan," bisik Shen Yu dingin. "Sekte Penelan Era ini memiliki pemahaman waktu yang luar biasa, namun mereka tidak mengerti apa artinya menjadi tiran."

Shen Yu mengangkat tangan kanannya. Sabit Penebas Langit bermanifestasi dari kehampaan, bilahnya berdengung haus akan darah.

"Takdir adalah cerita yang ditulis oleh mereka yang takut pada kematian," Shen Yu melangkah maju, membiarkan aura Dewa Fana Tahap Menengah-nya meledak dan menghancurkan lautan mayat ilusi di sekitarnya. "Jika masa depan menuliskan bahwa aku akan berlutut..."

Shen Yu mengayunkan sabitnya dengan kekuatan penuh, menebas ilusi dirinya yang terbelenggu itu tepat di lehernya.

"...maka aku akan menghapus masa depan itu dari eksistensi."

SRAAAAASH!

Sabit Ketiadaan itu merobek bayangan masa depan tersebut. Ilusi itu tidak memudar, melainkan ditelan habis oleh kegelapan. Langit emas hancur berkeping-keping. Ruang waktu di sekitarnya meledak menjadi serpihan cermin perak. Shen Yu telah menghancurkan hukum takdir dengan kekejaman absolut.

Alam Kesadaran Waktu - Ujian Lin Xue.

Di tempat yang berbeda, Lin Xue berdiri di tengah lautan teratai yang layu. Udara dipenuhi bau pembusukan. Tubuhnya terasa sangat ringan, namun sangat kosong. Dantiannya yang berisi Dao Kehidupan telah mengering.

Di hadapannya, berdiri bayangan dirinya sendiri, mengenakan mahkota teratai yang telah menghitam.

"Kau adalah tungku," bayangan itu berbisik, meneteskan air mata darah. "Tidak peduli seberapa banyak nyawa yang kau cabut, sifat alami dari Dao Kehidupan-mu adalah memberi. Alam Atas akan terus mengurasmu. Cintamu pada Sang Kaisar Malam hanya akan mempercepat kebinasaannya karena mereka akan memburumu tanpa henti."

Bayangan itu mengulurkan tangannya yang keriput. "Lepaskan segel terataimu. Biarkan dirimu layu di sini, di ruang tanpa waktu ini. Itu adalah satu-satunya cara untuk melindunginya."

Lin Xue menatap bayangan rapuh itu dalam diam. Angin puyuh menerbangkan kelopak layu di sekitarnya.

Dulu, ia mungkin akan goyah oleh pemikiran mengorbankan diri demi orang yang ia cintai. Tapi ia telah melewati lautan darah dari dunia fana hingga ke Surga Pertama. Ia bukan lagi gadis penyembuh yang bersembunyi di belakang punggung gurunya.

Lin Xue mengangkat wajahnya. Mata ungunya memancarkan dominasi seorang Ratu.

"Dao Kehidupan-ku memang memberi," Lin Xue menghentakkan kakinya. Teratai es raksasa mekar seketika dari bawah telapak kakinya, membekukan lautan kelopak layu di sekitarnya. "Tetapi akulah yang menentukan siapa yang berhak menerima kehidupanku, dan siapa yang nyawanya harus kurampas."

Lin Xue menusukkan pedang teratainya tepat menembus dada bayangannya sendiri.

"Aku tidak akan layu untuk melindunginya. Aku akan mekar dan membantai siapa saja yang berani menatapnya," desis Lin Xue mutlak.

Pedangnya menyerap sisa-sisa energi ilusi tersebut. Bayangan itu hancur menjadi pusaran cahaya perak, dan kegelapan alam bawah sadar pecah menjadi debu bintang.

Shen Yu dan Lin Xue membuka mata mereka secara bersamaan. Keduanya masih berdiri kokoh di atas pelataran Yin-Yang. Jam pasir hitam raksasa di atas mereka kini berhenti berderit, seluruh pasir peraknya telah jatuh ke dasar.

KRAAAK!

Kristal hitam jam pasir itu retak dan meledak menjadi debu. Dari pusat ledakan itu, melayang setetes cairan berwarna perak murni Esensi Waktu Purba, warisan sejati dari Sekte Penelan Era.

Cairan perak itu melesat turun, lalu terbelah menjadi dua. Setengahnya menyerap masuk ke dahi Shen Yu, dan setengahnya lagi meresap ke dahi Lin Xue.

Mata kiri Shen Yu seketika berubah warna. Pupil hitam legamnya kini dikelilingi oleh cincin perak berpendar. Dao Waktu tidak menggantikan Ketiadaan-nya, melainkan melebur menjadi satu.

"Menghapus ruang, dan kini menunda waktu," gumam Shen Yu, merasakan pemahaman baru yang luar biasa mengalir di meridiannya. Kini, ia mampu memadatkan Ketiadaan untuk 'menghapus' satu detik dari serangan musuh sebelum serangan itu tiba.

Di sebelahnya, pedang es teratai Lin Xue kini memancarkan aura perak pucat. Ia bisa mempercepat atau memperlambat laju Dao Kehidupan pada pedangnya, membuat setiap luka yang ia goreskan tidak akan pernah sembuh termakan waktu.

"Guru," panggil Lin Xue, pandangannya beralih dari telapak tangannya ke arah belakang aula.

Sebuah lorong batu yang sebelumnya tertutup dinding rapat kini bergeser terbuka, memperlihatkan susunan pemindah dimensi purba yang masih utuh. Ini adalah jalan keluar yang sengaja disembunyikan oleh sekte masa lalu.

"Rute pelarian kita," Shen Yu menyeringai, melangkah turun dari pelataran.

Namun, sebelum mereka bisa melangkah menuju lorong tersebut, suhu di dalam aula turun hingga puluhan derajat dalam sekejap. Sisa-sisa pilar retak di luar bangunan tiba-tiba dilapisi oleh es abadi yang membekukan bahkan pasir perak di sekitarnya.

Sebuah suara dingin, tanpa emosi, dan setajam silet terdengar bergema dari luar kawah, menembus dinding tebal aula.

"Mata Kompas Purba membukakan jalan melewati pasir waktu. Namun tidak ada yang memberitahumu bahwa jalan itu juga membuka pelacakanku."

Shen Yu dan Lin Xue berbalik serentak, menatap ke arah pintu masuk balairung yang terbuka.

Di luar sana, melayang di atas pusaran debu perak, berdiri seorang wanita berambut putih panjang dengan mata yang dibalut kain perak. Ia memegang sebilah pedang panjang yang memancarkan hawa sedingin kematian bintang.

Itu adalah Penguasa Pedang Musim Dingin, Bai Ku, pimpinan dari Kuil Pedang Salju Pucat.

"Aku tidak peduli dengan Pengadilan Langit, dan aku tidak peduli dengan Perjamuan Bulan Darah," Bai Ku mengangkat pedangnya perlahan, ujungnya terarah tepat ke wajah Shen Yu. "Aku hanya ingin menguji, apakah sabitmu yang katanya memotong ketiadaan... bisa memotong musim dinginku yang abadi."

Shen Yu tidak terkejut. Sang Tiran hanya memutar lehernya, mata dengan pupil perak terbarunya berkilat haus darah.

"Kalau begitu," Shen Yu memanggil sabitnya, membiarkan Api Ketiadaan berkobar menyelimuti bilahnya. "Mari kita lihat siapa yang akan menjadi abu di makam waktu ini."

1
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka...
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Bambang Widono
👍👍🙏🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏
Bambang Widono
mantab lanjut Thor 👍👍💯💯💯💯👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
aleena
semua karyamu pasti bagus bagus
💪💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih 🙏
total 1 replies
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!