NovelToon NovelToon
GOD OF RINGS

GOD OF RINGS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:552
Nilai: 5
Nama Author: Rein.Unknown

MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.

Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.

Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.

Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lantai 2, Part 1 [TERBENTUK NYA GUILD RRX]

Suara sistem masih menggema di telinga mereka, tiga pasang mata tertuju pada jendela biru transparan yang mengambang di tengah-tengah mereka.

"PEMBUATAN GUILD DIKONFIRMASI."

"SILAHKAN MASUKKAN NAMA GUILD: …....."

Kursor terus berkedip, menunggu untuk memasukkan nama GUILD.

"Jadi… nama Guild kita apa nhe?" Kaela membuka pembicaraan. Matanya beralih dari Marva ke Red, lalu kembali ke Marva. "Ini kayak tentuin nama tim kelompok di sekolah kan?" lanjut Kaela.

"Tapi nggak asal pilih nama donk, harus keren!" Red menyela. "Ini kesempatan kita agar semakin dikenal! Nama harus bagus, memorable, dan bikin orang lain… Respect!"

Marva menghela napas panjang. Tangannya terus memegang erat Cincin nya, hangatnya menenangkan di tengah kekacauan pikiran yang mulai mereda. Dia melihat ke arah Red, yang matanya berbinar seperti anak kecil di toko mainan, lalu ke Kaela yang berdiri tenang meski masih terlihat lelah.

"Kita adalah yang pertama," ucap Marva perlahan, tapi perkataan itu lebih kepada dirinya sendiri.

"Pertama yang akan membuat Guild di Menara ini."

"Betul!" Red nyerocos lagi. "Makanya namanya harus berkelas! Misalnya… 'Red Calder Guild atau The Protectors Of Tower'! Atau 'The Unbreakable Trio of Destiny'! Atau—"

"Jangan ngawur Red," potong Kaela yang agak kesal. "Nama guild itu harus mewakili kita bertiga. Bukan cuma kamu, apalagi aneh begitu namanya."

"Hehehehehe… Ya maap," jawab Red.

Marva mengabaikan ucapan-ucapan itu. Pikirannya mulai fokus. Mereka bukan sekadar bertiga. Mereka adalah simbol dari sesuatu yang baru. Dari kekacauan total—112 kematian di hari pertama—mereka berdiri bersama. Sebuah awal. Sebuah permulaan dari segala sesuatu yang akan datang.

"Kita memulai sesuatu yang baru di sini," ucap Marva, kini lebih keras. Matanya menatap serius.

"Era baru."

Kaela mengangguk pelan, seolah memahami apa yang tidak terucap. "Era baru."

Red, yang tadi tidak diam, tiba-tiba terlihat penuh inspirasi. Bibirnya berkomat-kamit mengulang kata itu. "Era… Era… Rex! Pakai Nama sekolah kita aja"

Marva dan Kaela lalu menatap Red dengan pandangan serius.

"Eh, nggak boleh pakai nama sekolah ya?" ucap Red yang lagi-lagi menggangap itu mungkin saja salah dan tidak diterima.

“Menarik!” tanggap Kaela.

"ERAREX! Era Rex! Simple tapi sepertinya Keren," ucap Marva.

Marva menatap tajam Red sebagai tanda menerima nama yang diucapkan, lalu memandang Kaela. Kaela hanya mengangkat bahu, sedikit senyum tergelitik di ujung bibirnya. Nama itu… Lucu. Tapi terdengar keren. Mereka lalu sepaham pada satu pemikiran yang sama dan bersepakat.

"Erarex," ucap Marva, mengulangi nama itu lagi.

"GUILD ERAREX."

Tanpa berlama-lama lagi. Jarinya langsung mengetik cepat nama itu pada layar holografik.

"NAMA GUILD: ERAREX."

"NAMA GUILD DIKONFIRMASI."

[GUILD ERAREX]

MEMBERS : 3 Players

LEADER : Marva Ravara (Lv.12)

ANGGOTA : Kaela Naradis (Lv.4)

ANGGOTA : Red Calder (Lv.7)

"Sebagai guild pertama maka kita juga akan menaiki Lantai ke-2 sebagai yang pertama," ucap Marva dengan penuh semangat.

"Let’s Go Lead," jawab Red.

"Oke Dokkie...." sambung Kaela.

Setelah berada di pintu untuk menuju Lantai 2, Marva dan Red lebih dulu masuk. Namun, saat Kaela akan melewati pintu, tiba-tiba alarm berbunyi dan sebuah notifikasi muncul.

[WARNING] [WARNING] [WARNING]

"REQUIREMENTS : LEVEL 5"

"Loh, kamu belum lv. 5, Kaela?" tanya Red.

Kaela lalu buru-buru memeriksa layar statusnya dengan ekspresi fokus. “Sepertinya iya guys, maaf ya.” jawab Kaela setelah memastikan statusnya.

“Ya udah, kalau begitu kita farming aja dulu. Biar aku yang gendong kalian, mungkin aku juga harus terbiasa menggunakan kekuatan Ring of Leo” tegas Marva kepada tim nya.

"Ah, ide menarik Lead. Numpang EXP ya Bos. Hehehehehe....." tanggap Red. Dia tahu setelah berada dalam satu guild, maka setiap Player akan menerima EXP yang merata dari orang yang sedang farming, kendati dia sendiri nggak ngapa-ngapain.

"Dasar orang kaya." sindir Marva yang sudah terbiasa dengan sifat anak orang kaya.

Red hanya bisa merespon dengan tatapan malu-malu tapi butuh. Mereka kembali ke area hunting lantai 1 dan Marva mulai memburu para monster. Satu persatu monster dikalahkan dengan mudah olehnya.

[ACTIVATED: RING OF LEO]

SREEET—!

Angka besar muncul di atas kepala Ember of Salamander:

-68! HIT! -50! HIT! HIT! HIT!

Poison Mushroom:

-45! CRITICAL! 52! HIT

Honey Bee, Crystal Ant :

-72! BIG HIT!

-66! CRITICAL

"EXP DIDAPATKAN! EXP DIDAPATKAN! EXP DIDAPATKAN!"

"EXP DISTRIBUTED."

MARVA : + 150 EXP

KAELA : + 150 EXP

RED : + 150 EXP

“Semangat Bos, kalau ada apa-apa, panggil saja aku.” Ujar Red sambil duduk manis dan terus mengunyah makanan sementara Kaela sibuk memungut Item Drop dari setiap monster yang dikalahkan Marva.

Perlahan lv. mereka terus meningkat dengan signifikan, hanya dalam beberapa menit. Notifikasi terus bermunculan.

[LEVEL UP]

[LEVEL UP]

[LEVEL UP]

Setelah mengalahkan selusin Honey Bee dan juga Poison Mushroom (Kini nama Monster berubah menjadi warna Hijau dan Putih), mereka mulai menemukan ritme. Setiap Monster yang namanya berwarna Merah, akan memberikan tantangan yang lebih sulit. Jika nama monster berwarna Kuning, maka pertarungan akan imbang atau setara. Apabila nama monster telah berubah menjadi Hijau apalagi Putih, berarti lv. monster berada jauh dibawah mereka dan lebih mudah untuk dikalahkan.

Berkat skill pasif Heart of Flame, serangan-serangan kecil dari monster yang bertipe api tidak terasa menyakitkan. Apalagi Skill Area Lion’s Roar sangat membantu Marva.

Di tengah-tengah pertarungan itu. Player yang lain mulai berdatangan dan memperhatikan Marva, termaksud Elrian Vox. Apalagi area tempat Marva farming, nyaris monster nya tidak lagi respawn terus-menerus karena di habisi oleh Marva dengan sangat cepat.

“Hey, liat bocah miskin itu. Seenaknya saja memonopoli area ini. Player lain jadi sulit untuk naik lv. gara-gara dia.” Hasut Elrian pada yang lain.

“Betul juga” jawab seorang Player.

“Dia hanya beruntung karena mendapatkan item langkah. Kita juga bisa, kalau punya item sekuat itu.” Lanjut Player lain yang juga termakan omongan Elrian.

Elrian lalu mendekati Marva diikuti beberapa Player yang lain.

“Bagus, bagus!!!” ucap Elrian sambil bertepuk tangan. “Habiskan saja semua monster, sampai tidak ada yang tersisa”.

“Apa maksudmu Elrian?” Kaela merespon untuk membela Marva.

“Iya, Apa maksudmu!” Red ikut-ikutan.

Marva ikut menjawab: “Area ini sangat luas, seharusnya kalian bisa farming dimana saja.”

“Dasar Bocah miskin! Sudah mulai sok pintar kamu.” Bantah Elrian. “Ingat! Berada di menara ini, tidak lantas merubah jati dirimu!”.

Kaela lalu menarik Marva. “Lv. ku sudah lebih dari seharusnya. Sebaiknya kita langsung saja naik ke Lantai 2, meladeni mereka tidak akan membuahkan apa-apa”.

Marva mengganguk tanda paham dan setuju dengan perkataan Kaela. Mereka segera pergi dan menghindari mereka.

“Ya, Pergilah Bocah miskin! Tempatmu bukan disini,” Elrian tertawa lepas, Player lain juga ikut tertawa.

“Maaf atas perkataan mereka Marva,” ucap Kaela dengan tulus sambil menenangkan Marva. Dia mengatakan itu, karena sadar, Kaela dan Red sendiri berasal dari keluarga kaya. Selama di sekolah, Marva selalu menjadi sasaran bully.

“Iya, Lead. Kami memang 1 golongan dengan mereka tapi orang bodoh mana yang sempat-sempatnya mengungkit soal status sosial pada kondisi seperti ini,” lanjut Red membenarkan perkataan Kaela.

“Nggak papa kok, sudah biasa,” jawab Marva, walaupun dalam hati kecilnya, dia sakit hati dan tentu saja tidak tahan selalu dikatain seperti itu.

Mereka lalu kembali ke pintu menara dan menuju ke lantai dua. Akhirnya—

[ENTRY PERMITTED]

Notifikasi muncul. Kini Guild pertama telah naik ke lantai dua.

Lantai 2 menyambut mereka dengan situasi yang berbeda.

Lebih gelap.

Lebih suram.

Udara lebih berat.

Tidak ada lagi padang hijau.

Yang ada adalah Labirin Besar, seolah-olah ruangan itu tidak ada batasnya. Monster berkeliaran dimana-mana dan penampilannya jauh lebih menakutkan.

Nama-nama merah dan kuning lebih sering muncul.

Red langsung ciut dan bersembunyi di belakang Marva. “Oke. Ini sepertinya tidak cocok untukku.”

Kaela mengangguk. “Apakah akan lebih sulit?”

Marva maju dengan gagah berani. “Saatnya Guild ERAREX beraksi!”

[LANTAI 2: INFINITE LABYRINTH]

Dan langkah pertama pun dimulai, mereka kini resmi berada di lantai dua—

[BERSAMBUNG]

1
Ara putri
bagus ceritanya
Rein Unknown: Terimakasih Kak sudah support dan mampir 😇😇😃😃
total 1 replies
Ara putri
Hay kak jika berkenan saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Rein Unknown: okok Kak, sudah mampir ya😇🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!