"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelesaian (ending)
Raline menarik napas panjang, mencoba menghentikan getar di bahunya. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Kaisar yang masih basah.
"Pertama. Gue gak mau kasih anak ini ke orang lain. Gue akan rawat dia sendiri meski tanpa lo. Dia anak gue, darah daging gue. Apapun risikonya, gue bakal rawat dia sebagai seorang ibu," ucap Raline tegas.
Pak Umar, Bu Esta, dan Bu Dinar tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut Raline. Ada rasa sesak sekaligus haru yang merayap di dada mereka. Mereka tak menyangka, di balik tubuhnya yang gemetar dan air matanya yang terus mengalir, Raline memiliki keberanian sebesar itu untuk melindungi janinnya.
"Kedua," lanjut Raline, suaranya kini lebih stabil. "Gue pengen lo tanggung semua kebutuhan gue selama gue jadi istri lo. Apapun itu, semua harus lo yang tanggung, karena sejak lo nikahi gue, kewajiban bapak gue pindah ke lo."
Kaisar mengangguk cepat, tanpa ragu.
"Ketiga. Gue pengen lo bisa memperlakukan gue sebaik-baiknya selama jadi istri lo. Lo gak perlu effort atau cinta sama gue, yang penting lo perhatiin janin yang gue kandung. Gue pengen anak gue bisa merasakan kasih sayang ayahnya meski sebentar."
Hati Kaisar mencelos mendengar syarat ketiga itu. Rasa bersalahnya semakin menggunung.
"Keempat. Gue pengen dibawa pergi dari sini. Kemana pun itu, asalkan gue bisa tetap sekolah sampai perut gue benar-benar kelihatan gede dan harus berhenti. Gue pengen tinggal jauh dari lingkungan orang tua gue, supaya mereka gak jadi bahan omongan tetangga. Masih di kota ini, tapi gue tetap bisa sekolah seperti biasa."
Pak Umar menunduk dalam, tangannya mengepal menahan perih di hati karena sang putri harus memikirkan martabat keluarga di tengah kehancurannya sendiri.
"Terakhir," pungkas Raline, matanya kini melirik sekilas ke arah Bu Esta. "Gue gak mau lo, atau orang tua lo ngomong yang gak baik terhadap orang tua gue. Gue pengen hubungan dua keluarga terjalin dengan baik, meski dimulai dengan sesuatu yang buruk."
Suasana kembali hening. Semua syarat itu terdengar begitu masuk akal sekaligus menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya. Kaisar masih bersimpuh, menatap Raline dengan penuh kesungguhan.
"Gue janji, Lin. Gue terima semua syarat lo," jawab Kaisar mantap, tanpa berpikir panjang. Ia lalu menoleh ke arah ibunya, meminta dukungan bisu atas janji yang baru saja ia buat.
Bu Esta mengangguk. Tatapan matanya lembut terhadap Kaisar.
Kaisar merasa lega. Ia kembali menatap Raline tanpa melepaskan genggamannya.
"Gue bersungguh-sungguh, Lin," ucapnya serius. Air matanya telah dihapus, sebuah senyum kecil tergambar jelas di wajahnya. "Lo mau jadi istri gue, kan?"
Raline menatapnya dalam, mencari keseriusan di mata Kaisar. Di tengah keraguan yang menghimpit, ia akhirnya mengangguk pelan. Ia menerima lamaran itu dengan berat hati; bukan karena cinta, melainkan demi menyelamatkan sisa nama baik orang tuanya serta agar Kaisar tidak terus-menerus memikul beban rasa bersalah yang menghancurkan hidupnya sendiri.
"Iya, gue mau," bisik Raline nyaris tak terdengar. "Yang penting syarat-syarat itu terpenuhi."
"Gue janji."
Kaisar mengembuskan napas panjang seolah seluruh beban di pundaknya luruh seketika. "Makasih banyak, Lin. Makasih banyak karena lo udah kasih gue kesempatan," ucapnya tulus, masih dengan posisi bersimpuh.
Melihat itu, Pak Umar perlahan duduk kembali di tempatnya. Meski rahangnya masih mengeras dan matanya menyiratkan amarah yang belum sepenuhnya padam, ia sadar bahwa Raline telah memberikan jawaban. Dan sebagai ayah, ia harus menghargai keputusan putrinya demi masa depan cucu yang dikandungnya.
"Karena Raline sudah menerima lamaranmu dan memutuskan untuk menikah, saya tidak bisa menolak meski saya tidak suka," kata Pak Umar akhirnya dengan suara berat.
Ia menatap Bu Esta sesaat, seolah sedang melakukan negosiasi tanpa kata, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kembali ke arah dua remaja di hadapannya.
"Kita akan lakukan pernikahan antara mereka. Tapi secara privat. Tidak ada tamu undangan ataupun pesta. Semua harus digelar secara tertutup dan rahasia agar tidak ada desas-desus di luar sana."
"Pastikan setelah menikah, Raline di bawa pergi," lanjutnya. "Bukan maksud ingin menyingkirkan anak kami, tapi saya hanya ingin apa yang telah Raline putuskan tidak menjadi pengorbanan yang sia-sia."
Bu Esta mengangguk setuju, menanggapi dengan nada bicara yang kini terdengar lebih tenang dan bijak. "Baik, saya setuju. Kita lakukan pernikahan besok malam. Lebih cepat, lebih baik untuk semuanya."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini suasananya berbeda. Ada kesepakatan pahit yang telah tercapai, sebuah awal baru yang dipaksakan oleh keadaan.
Namun meski demikian, Raline mencoba untuk ikhlas menerima takdirnya. Ia yakin, semua akan indah pada waktunya.
Ia percaya, Tuhan tak akan pernah membiarkannya hancur lebur jika ia benar-benar bertaubat pada-Nya.
*****
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya